Senin, 30 Juli 2007

Menangani keseimbangan hidup.

Manusia menjalani hidup dengan berbagai kecenderungan dan hasrat. Kduanya merupakan software penting bagi manusia yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT sehingga perlu adanya keseimbangan antara berbagai aktifitas.

Manusia mempunyai rencana dan cita-cita. "Cita-cita adalah keinginan yang tidak terbatas", demikian ungkapan Asy-syahid Imam Hasan Al-Bana dan cita-cita tersebut harus direalisasikan secara adil, proporsional dan seimbang. Istilah keseimbangan biasa diartikan dengan istilah "Tawazun" yang berasal dari kata "Al-waznu (=keseimbangan, pelurusan dan kesungguhan) dan istilah "At-tanazu" (=ketertarikan, hasrat, merindukan atau condong pada sesuatu). Jadi tawazun bisa diartikan "memberikan sesuatu haknya tanpa ada penambahan dan pengurangan" (Aqil Musa, 2001:1)

Ibnu Jauzi mengomentarinya :"Betapa sulitnya melanggengkan qiyamulail sambil mewujudkan pola sifat wara dan tetap mengeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan berkreasi. Betapa menyesalnya ketika aku tidk mampu menyempatkan dri berkholwat menyendiri bermunajat kepada Allah karena disbukan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan sesama manusia. Betapa lemahnya nilai wara ketika bercampur dengan mencari nafkah untuk berkeluarga. padahal aku telah merelakan tersiksa karenanya.."

Seorang Aktifis gimana bisa skala prioritas.
Aktifis sebagai seseorang yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan suatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. mereka selektif dalam memilih organisasi, bukan sekedar mencari kegiatan semata tapi didlaamnya harus ada nilai yang bisa memperkokoh pribadinya. lalu seimbangakan berbagai aktifitas sesuai dengan skala prioritasnya dengan berbagai kecenderungan :
  • Kecenderungan menutut ilmu, seorang aktifis harus menjaga keseimbangan antara semangat menuntut ilmu dengan menyucikan hati. sebab bila tidak seimbang bisa menyebabkan jiwa ekstrim, pemberontak dan terlalu percaya diri sehingga akan melupakan konsep spiritual. Sebaliknya terlalu tekun untuk menghaluskan hati akan mewarisi sifat penakut dan malas bahkan merasa puas dengan apa yang diterimanya.
  • Kecendrungan beribadah dengan aktifitas sehari-hari. sangat riskan aktifis tidak pernah mengkaji ilmu agama dan menyepelekan ibadah sehingga berakibat hatinya hampa.
  • kecenderungan berorganisasi tetapi melupakan hak-hak orang disekeliling kita. keluarga harus dipenuhi haknya untuk mendapat perhatian dan keluarga bisa dijadikan sebagai motivator dan alat kontrol keseimbangan aktifitas kita.
  • kecenderungan akan popularitas dengan keharusan tanpil sebagai pemimpin, hal ini berkaitan dengan nilai keikhlasan dalam berorganisasi.
Beberapa kaidah bagi seorng aktifis :
pertama, persipan pribadi yang jelas visi dan misi dalam berorganisasi dengan modal seperti : proaktif, displin dalam komitmen, selalu menghatur strategi, mau mengoreksi dan dikoreksi, tegas dan banyak aksi, bisa menjadi contoh prilaku, bertanggungjawab dan optimis serta memahami agama dengan baik.
kedua, memahami kemampuan dan keterbatasan sendiri (kemmpuan inteletual dan emosional perlu dibina dengan melakukan sesuatu sesuai dengan batas kemapuan)
ketiga, optimalkan pengunaan waktu dan cita-cita tinggi (permasalahan awal dari ketidakmampuan adlah buruknya manajemen waktu dan rendhnya dorongan berprestasi, rasa puas dan cukup dengan kondisi keimanan dan kualitas diri)
keempat, mengetahui skala prioritas (mengetahui urutan maal dan prioritas serta mengklasifikasikan berbagai masalah sehingga terhindar dari ketidakteraturan kegitan)
kelima, tidak terburu-buru menghadapi sesuatu segera terwujud. (harus dibedakan antara tergesa-gesa dan semangat, militansi dan etos kerja)
keenam, melihat secara utuh persolan( setiap orang menginginkan keseimbangan dalam hidupnya, ia harus menyelmatkan akalnya dari cara pandang sempit sebab akan melemahkan fungsi akal sendiri, mematikan daya kreatifitas manusia, menyeret kejalan latah serta menghalang untuk memperoleh manfaat orang lain)

Seorang aktifis bila digambarkan seekor elang maka kepakan sayapnya adalah cermin kekhusuan, paduan antara keseriusan, kerja keras, kesungguhan dan konsentrasi yang mendlam. Tak ada ruang kosong antara idealisme dan realisme karena ujung tali kedunya telah tersimpul oleh ikatan thumuh. thumuh mereka telah menjelma menjadi padang luas yang kelelahan mengitarinya. "Bila jiwa itu besar, raga akan lelah mengikuti kehndaknya" Ibnu jauzi mengingatkan " sesunguhnya ada sebagin kaum yang tidak rela pad dirinya, kecuali harus mencpai seluruh keutaman, mereka bersungguh-sungguh dalam setiap ilmu, ibadah, sabar dn istiqomah. ketika fisik telah lelah, maka semnaagt yang ad dihati merekalah yang menggnatikanya dan mereka saling berlomba dalam hal itu"

Referensi :
Manajemen tawazun dalam kehidupan muslim, Muhamamad bin Hasan bin aqil Musa, Al-Itishom, Jakarta, 2001.
Fiqih prioritas urustan amal yang terpenting dari yang terpenting, Dr Yusuf Qordhowi, Gema Insani press, jakarta, 2000.
Sabili no 5 th VIII, tanggal 23 agustus 2000
Al-Izzah no 20 th II, agustus 2001

Jumat, 20 Juli 2007


Mahasiswa versus kekuasaan.

Yang pernah mengalami pahitnya belenggu kekuasaan terasakan betapa susahnya dan idealismenya angkatan 66 yang melahirkan tokoh nasional dalam perpolitikan terutama dari HMI dan kita lihat pergerakan mahasiswa era 80-an dimana kekuasaan orde baru masih dominan, tapi militansi gerakan mereka jauh lebih bersemangat dan kemudian dilanjutkan era reformasi tahun 1999 dan berhasilkan merontokan sang penguasa dominan dari tambuk kekuasaan. Suatu pergerakan yang luar biasa yang tertulis dalam sejarah pergerakan mahasiswa walaupun harus
Namun pra reformasi kekuatan itu semakin berkurang, suara mahasiswa nyaris hilang seiring para aktifis tahun 1999 sudah masuk birokrasi kekuasaan dan era kepartaian yang menghilangkan idealisme dan militansinya. Tapi pendewasaan aktiftas mahasiswa terlihat saat mulai keluar dari kancah aktifis kampus dimana idealisme berubah menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dan rekruitmen dari mantan aktifis yang dilakukan para parpol masa kampanye pemilu 2004 terasa deras, tapi entahlah menjelang pemilu 1999 dimana sisa-sisa mahasiswa yang aktifis mau kemana arahnya. Mahasiswa memang identik dengan kekuasaan dan idealisme harus dipertahankan walaupun bukan lagi aktifis , tapi sikap kritis harus terus pandang mundur.

Senin, 16 Juli 2007

Silabus perkuliahan Pengantar manajemen

Pertemuan 1 : Pengertian manajemen

  • Definisi manajemen
  • definisi manajer
  • Fungsi manajemen
  • kualifikasi seorang manajer
Pertemuan 2 : Perkembangan ilmu manajemen
  • Fredrich Winslow taylor
  • Henry Fayol
  • Robert Owen
  • Charles Babage
  • Henry Metcalfe
  • Henry Robenson Towne
Pertemuan ke 3 : Fungsi manajemen :"Fungsi perencanaan"
  • Batasan perencanaan
  • unsur-unsur perencanaan
  • Tujuan perusahaan
  • perencanaan efektif
  • proses pembuatan rencanaan
Pertemuan ke 4 : Pengorganisasian
pertemuan ke 5 : Departementasi
pertemuan ke 6 : Staf dan panitia
pertemuan ke 7 : delegasi
pertemuan ke 8 : Rekruitmen pegawai
pertemuan ke 9 : Reward & funishment
pertemuan ke 10 : teori motivasi
pertemuan ke 12 : memberikan perintah
pertemuan ke 13 : Funsi pengawasan
pertemuan ke 14 : proses pengawasan

Referensi : Dasar dasar manajemen, Drs HM Manulang

Senin, 09 Juli 2007

MEMBANGUN KONSEP DIRI POSITIF**

Banyak orang gagal bukan karena tidak punya potensi dan kemampuan, tetapi Kegagalan sering terjadi akibat kesalahan konsep diri. Sadarilah bahwa diri kita unik dan Allah menciptakan manusia berbeda satu sama lainnya dan memiliki keunikan tersendiri. Sehingga be yourself - jadilah diri sendiri, ‘gheano seathon’ – kenalilah diri sendiri dan janganlah meniru orang lain yang penting adalah jujur pada diri sendiri, sadari tujuan, keinginan, kekuatan dan kelemahan diri. Apa yang telah saya lakukan untuk memaksimalkan kemampuan saya ? apa yang telah saya lakukan untuk membantu mengerjakan semua yang saya bisa? Tetapkan standar internal anda dalam rangka menjadi sosok manusia yang dicita-citakan, sosok aktifis yang tangguh, sosok kader Muhammadiyah yang militant dan penuh girah..

PEMAKNAAN ISTILAH KONSEP DIRI DAN KONSEP DIRI SEORANG MUSLIM.

KOnsep diri sering diidentikan dengan istilah penghargaan diri (self esteem) yang sebenarnya sudah ada sejak lahir dengan fitrahnya seperti bayi yang polos dan self esteem kita berkembang seiring berkembangnya interaksi dengan orang lain.

Dale Carnegie (1993:31) mengartikan sebagai “suatu gabungan-suatu montase- dari semua gambaran mental yang anda ambil untuk diri anda - gambaran fikiran tentang bagaimana anda bertingkah laku.”

Definisi self esteem yang diungkapkan seorang psikolog, Dr. Palladino (1994) secara lengkap mendefinisikan sebagai :

  • Kepercayaan terhadap diri sendiri.
  • Kemampuan untuk melihat posisi diri dunia ini secara realistis dan optimis
  • Keyakinan akan kemampuan dalam membuat perubahan dan menghadapi tantangan hidup.
  • Kapasitas untuk memahami kelemahan diri dan berusaha memperbaiki diri
  • Pengetahuan tentang dri sendiri serta penerimaan akan pengetahuan tersebut.
  • Kemampuan untuk mengakui keunikan diri dan berbangga terhadap apa yang membuat diri kita unik
  • Keperacayaan akan nilai diri dan penghargaan akan kemampuan yang dimiliki
  • Kepercayaan tentang apa yang kita dapat lakukan, cara pandang positif dan keyakinan diri untuk melakukan sesuatu yang baru.
  • Kemampuan untuk untuk menggali dan menerapkan keterampilan dalam prilaku positif
  • Pemahaman bahwa kita berharga bagi diri sendiri dan orang lain
  • Mengetahui siapakah saya ?, Apa yang saya dapat lakukan serta bagaimanakah memproyeksikan pengetahuan ini lewat tindakan nyata.
  • Mencintai diri sendiri, bagimanapun juga penampilan diri dimiliki
  • Menyukai diri sendiri, menghargai diri sendiri dan mau mengahadapi resiko dan kegagalan yang mungkin menghadang.
  • Menerima diri saya apa adanya dan memiliki kekuatan untuk mendesain kehidupan yang saya inginkan.

Bagaimana dengan Konsep diri seorang muslim ?

Konsep diri seorang muslim penulis artikan sebagai: “Suatu potensi yang dimiliki manusia sebagai mahluk pribadi dan mahluk social dalam mengkomunikasikan dengan permasalahan hidup melalui pencerahan spiritual, kepribadian dan pengolahan daya fikir sehingga memantapkan pola tindakan secara benar dan bisa mengsinergikan dengan aktifitas sehari-hari secara seimbang antara pekerjaan, organisasi dan pergaulannya dengan manusia lainnya dalam kerangka nilai Islami” Atau bisa juga bisa diartikan sebagai nilai-nilai yang mampu merubah dan memberikan kekuatan pribadi sehingga bisa tetap survival dalam mempertahankan keimanannya dan fiqrahnya dan siap menerima perbedaan dengan fiqrah lainnya tanpa menghujat tapi tidak toleransi dengan penyimpangan dan tidak merasa paling benar tapi bersifat
tegas mempertahankan sesuatu yang prinsifil (qoth’i) dan tetap menjalin ukhuwah walau berbeda prinsip dengan kita.

KONSEP DIRI RENDAH = SELF ESTEEM RENDAH

Seringkali kita memandang diri kita rendah dan tak berguna. Cara pandang negative terhadap diri sendiri dan selalu diiringi persepsi negative terhadap orang lain, adalah cirri rendahnya self esteem alias penghargaan diri.

Bahaya kurangnya self esteem yang rendah akan memicu dua sikap ekstrim yang merugikan.

Pertama, sikap pasif yaitu tidak tegas dalam melakukan berbagai tindakan akibata adanya rasa takut membuat orang lain tersinggung, merasa diperintah atau merasa digurui yang akan membuat mereka membenci dan mengucilkan kita. Padahal ketegasan adalah kunci kedisiplinan yang merupakan modal penting bagi keberhasilan diri dan aktifitas kita.

Kedua sikap agresif, memaksakan gagasan, tidak mau menerima masukan dari orang lain dan cenderung mengundang perdebatan disbanding penyelesaian masalah. Padahal sikap menentang dan mengabaikan ide-iide orang lain berarti menghambatkan tercapainya keputusan yang tepat dan akurat. Juga berarti merugikan dri sendiri, orang lain dan organisasi dimana kita ingin tetap eksis didalanya. Ciri-ciri konsep diri yang rendah

1. Kesalahan persepsi terhadap diri sendiri dibandingkan orang lain : anggapan bahwa orang lain lebih baik penampilannya, lebih cemerlang idenya, lebih diperhatikan banyak orang dan akhirnya kita merasa tertinggal jauh dan untuk merubahnya tidak mampu akhirnya tidak punya keinginan untuk berubah atau menrima tantangan.

2. Koncep diri yang rendah dipengaruhi cara berfikir tentang persepsi orang lain terhadap anda : penuh prasangka dengan apa yang dibicarakan teman tentang diri anda, kritikan dianggap sebagai cemoohan, iri hati dan usaha menjatuhkan diri anda dimuka public, akhirnya tidak pernah mempercayai orang lain, apalagi berintropeksi terhadap apa yang telah dilakukan.

BAGAIMANAKAH MEMBANGUN SELF ESTEEM ?
  • Belajar menyukai diri sendiri.

Menyukai diri sendiri bukan berarti sombong tapi selalu memiliki perasaan positif dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Bukan berarti malas melainkan menorong diri kita untuk terus berjuang untuk menjadi pribadi yang sholeh secara emosional maupun secara spiritual.

  • Kembangkan pemikiran positif
  • Cara berfikir kita mengendalikan hidup kita. Bila kita berfikir sesuatu dapat terjadi maka itu akan terjadi karena tindakan kitalah yang membuatnya terjadi. Pemikiran positif inilah mendorong sikap optimis, berjiwa pememang, keberanian mengahdapi tantangan dan resiko.
  • Perbaiki kualitas hubungan interpersonal.
    Disaat kita krisis kepribadian seperti minder, tidak berguna, pesimistis, maka dukungan orang lain sangat dibutuhkan. Bersilaturahmilah, tingkatkan keakraban dengan teman dan saudara kita dan mintalah kritk dan tausiyah akan mendorong kita memahami apa yang harus segera dibenahi. Berorganisasilah, kita adakan dapat wawasan dan menmukan figure positif, kehangatan hubungan sosisal sehingga meningkatkan semangat hidup.
  • Bersikap proaktif.

Proaktif berarti berani mengambil tanggungjawab dan tidak menyalahkan orang lain jika gagal. Kemduaian mau berlatih membuat keputusan efektif dan perencanaan strategis, cepat menangkap peluang, berinisiatif dan tidak menunggu-nunggu orang lain. No lucky for the jobless.

  • keseimbangan hidup

Konsep diri rendah karena kita tidak bisa menyeimbngkan diri dalam mengelola waktu, energi dan emosi kita. Buatlah prioritas antara aktifitas belajar/kuliah/kerja dengan aktifitas dirumah/keluarga; prioritas kehidupan pribadi dan kehidupan social; antara aktifitas fisik dengan aktifitas ruhiyah kita. Buatlah visi, misi dan target hidup anda baik jangka panjang maupun jangka pendek. Buatlah evaluasi (muhasabah) harian atau mingguan secara teratur.

  • Ubah cara berkomunikasi.

Ucapan ibarat pedang yang kalau tidak hati-hati akan menebasnya, sehingga ubahlah cara komunikasi diri (self talk) dengan mengubah ungkapan negative menjadi ungkapan positif :

a) Selalu menggunakan kata ‘saya’ jangan aku atau anda agar tidak terkesan tinggi hati atau menggurui.

b) Gunakan kalimat yang menjelaskan situasi sekarang bukan masa lalu atau angan-angan.

c) Katakan apa yang anda inginkan, bukan apa yang anda tidak inginkan.

d) Hindari perkataan ‘jangan’ atau julukan negative kepada diri sendiri dan orang lain, sebab akan melemahkan semangat dan menjatuhkan citra diri.

e) Simaklah dulu ucapnnya sebelum menyimpulkan atau memvonisnya.

f) Berikan umpan balik positif kepada orang lain dengan menggunakan kata :”saya menghargai, saya memahami, saya percaya anda orang baik, dsb”

g) Biarkan bahasa tubuh anda positif, walau anda sedang sedih, marah dan suntuk. Just keep smiling.

BAGAIMANAKAH MENATA KONSEP DIRI SEORANG MUSLIM ?

A. Penataan spiritual religuitas (salimul aqidah, sahihul ibadah & matinul khuluq).

a) Pemahaman Aplikatif aqidah/ keyakinannya (eksistensi Allah, nilai kebenaran, nilai kritis, nilai kerja, nilai pergaulannya dan nilai hubungan) yang teraplikasi dalam cara ibadah, cara bekerja, cara berorganisasi dan cara berpola fikir yang melahirkan konsistensi (istiqomah).

b) Konsistensi pribadi ini akan melahirkan konsep diri positif, keberanian, rasa percaya diri, ketenangan jiwanya terhadap berbagai permasalahan hidup.

c) Strateginya adalah kenali diri sendiri, kemudian binalah diri (tarbiyah zakiyah) atau menej diri sendiri dengan aktifitas harian kita yang menularkan virus baik bagi teman dan sekitarnya.

B. Penataan kematangan pribadi (mujahidu linnafsi).

Penataan spiritual akan berpengaruh pada tingkat kematangannya sebagai manusia, tapi perlu adanya keuletan manusia untuk melatih dan mengasah, antara lain

a) Penataan kekuatan pola berfikir (mutsaqol fikri)

b) Sinergitas diri, pekerjaan, dakwah, organisasi dan pergaulan (tarbiyatul jakiyun)

C. Konsep diri dengan orang lain

a) Memperbaiki Komunikasi dan relationshif

b) Membangun hubungan Keluarga

c) Membangun komitmen dengan tim.

d) Regenerasi

e) Sinergitas

Demikianlah membangun konsep diri bukanlah hal yang mudah membutuhkan adanya proses konsisten dalam berbagai hal yaitu adanya Pembina, pembinaan rutin dan adanya control dan adanya mediator pembinaan. Tapi ada yang lebih praktis kosnep diri bisa dibentuk sendiri melalau pembinaan dan memenej diri sendiri dengan teratur.

MAROZI :

MEDIATOR PEMBINA :

a) ILNA LEARNING lembaga pembinaan pribadi remaja yang berpusat di Bogor.

b) Lembaga Manajemen Terapan TRUSTCO, dibawah pimpinan Bambang Sutrisno Wibowo, seorang pakar kesehatan masyarakat yang terkenal dengan sharpening our concept tools (SHOOT).

c) ESQ LEARNING, lembaga manajemen model ESQ dibawah seorang praktisi Ari Ginanjar Agustian yangterpokus pada pembinaan emosional spiritual berdasarkan konsep rukun iman dan rukun islam

d) Managemen qolbu, dibawah bimbingan KH Abdullah Gymnastiar, dll.

SUMBER :

a) BS Wibowo, SHOOT, TRUSTCO, PT syamil cipta media, Bandung, 2002.

b) Dale Carnegie, bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain, Jakarta, 1993.

c) Dvid J swartz, berfikir dan berjiwa besar, Jakarta, 1999.

KEBERHASILAN USAHA

Apa yang membuat sebuah perusahaan berhasil?

Pengumpulan pendapat terbaru mengenai manajemen menghasilkan rating berikut :

  1. Sebuah prasangka terhadap tindakan lakukan, perbaikan, coba
  2. Bentuk sederhana dan staf sedikit
  3. Kontak yang berkesinambungan dengan konsumen
  4. Otonomi operasional untnk mendorong semangat usaha
  5. Tekanan pada nilai bisnis kunci
  6. Sikap BISA DILAKUKAN
  7. Komitmen untuk mencapai kepuasan konsumen
  8. Fleksibilitas dalam memenuhi permintaan khusus (dapatkah Anda mengirimkan hari ini’—“ya”, -“tidak”- “maaf”, truknya telah berangkat, terlalu sibuk”, dsb.)
  9. Tanggapan pada permintaan khusus
  10. Hal-hal yang amat baik (outsome) jika diperlukan
  11. Tempatkan hadiah pada jasa
  12. Memonitor aktivitas pesaing
  13. Menapak teknologi terbaru
  14. Menjadi yang terbaik
  15. Berpusat pada pelayanan konsumen

Mereka mungkin bisa juga akan menambahkan-‘tetaplah pada tema dasar’ atau ‘bisnis inti’ Jadilah yang paling lengkap

Buatlah bisnis Anda sebagai yang :

  • Paling seksama
  • Memiliki persediaan terbaik
  • Memliki profil tertinggi
  • Merupakan benchmark yang menjadi ukuran untuk bisnis saingan lain

Juga:

  • Jangan hidup mengikuti kriteria—ciptakan kriteria itu!
  • Desain produk Anda dengan lebih baik
  • Tampilkan dengan lebih baik
  • Sediakan instruksi yang lebih baik
  • Sediakan pendukung penjualan yang lebih baik

Manajemen Waktu

“Saya harap saya memperoleh waktu, untuk mengikuti Kursus Ma­najemen Waktu”

1. Manajemen waktu memiliki tiga komponen—kebutuhan untuk :

  • Prioritas yang mapan
  • Menggunakan penjadwalan atau pemrograman yang realitas
  • Belajar membuat keputusan dasar dan bertindak sesuai keputasan tersebut

2. Manajemen waktu yang efektif mengenai :

  • Merencanakan dan menyusun prioritas
  • Apa hal paling penting untuk dilakukan hari ini?
  • Apa yang harus dikerjakan hari ini?
  • Daftarkan sesuai urutannya dalam agenda harian atau selembar kertas
  • Dan kerjakan sesuai urutannya

3. Mengelola prioritas

Klasifikasikan tugas-tugas dalam kelompok, seperti :

  • Kategori A—prioritas utama, memerlukan perhatian pribadi Anda
  • Kategori B—penting, namun bukan prioritas utama
  • Kategori Cdapat dikerjakan setelah selesai dengan kategori A dan B
  • Kategori D—delegasikan pada orang lain

4. Banyak manajer bisnis kecil menganggap penting hal-hal :

  • Membuka surat
  • Mengerjakan pekerjaan sehubungan dengan kegiatan perbankan sehari-hari
  • Hal-hal ini merupakan bagian dari hal-hal biasa yang dapat dan sebaiknya didelegasikan pada seorang yang bertanggung jawab mengenai administrasi

5. Alokasikan waktu rutin setiap hari untuk tugas-tugas tertentu, contohnya :

  • Rapat-rapat
  • Wawancara
  • Korespondensi
  • Percakapan telepon—masuk dan keluar

6. Apakah Anda proaktif atau reaktif?

  • Apakah Anda menghabiskan waktu memadamkan api? (reaktif)
  • Atau mengisi waktu merencanakan dan mencapai target? (proaktif)

7. Tetap terfokus

Tataplah pada tugas yang menjadi prioritas- jangan terkecoh menger­jakan hal lain

  • Tangani dokumen-dokumen sekali saja
  • Putuskan tindakan yang diminta dan bertindaklah menurut keputusan itu
  • Jangan menangani dokumen setiap hari selama berminggu-minggu

Keberhasilan adalah Mengenai Pengembangan Kualitas Pelayanan. Ini menyangkut:

  • Dapat dipercaya (dapat diandalkan dan konsisten)
  • Responsif (berkemauan dan sigap)
  • Kompeten (keterampilan dan pengetahuan)
  • Akses (mudah dicapai)
  • Sopan santun (sopan, penuh perhatian, hormat , bersahabat)
  • Komunikasi (mudah dimengerti dan dihubungi)
  • Kredibilitas (jujur, dapat dan layak dipercaya)
  • Keamanan (tidak berbahaya, berisiko, atau meragukan)
  • Pemahaman (pengertian kebutuhan konsumen)
  • Nyata (bukti dari pelayanan)
  • Fokus, Fokus, Fokus
  • Memenuhi Standar Kualitas Manajamen Total atau direncanakan untuk Memenuhi Tuntutan Tersebut

Resiko

  1. Tertawa berisiko tampak bodoh.
  2. Mengisak berisiko tampak sentimentil.
  3. Merggapai orang lain berisiko keterlibatan.
  4. Mengekspersikan perasaan beresiko menampilkan diri Anda yang sebenarnnya.
  5. Hidup berisiko kematian
  6. Berharap beresiko patah harapan
  7. Mencoba berisiko gagal
  8. Namun resiko harus diambil karena bahaya terbesar dalam hidup adalah tidak memiliki resiko
  9. Dirantai oleh kepastiannya, ia adalah seorang budak : ia telah mengorbankan kebebasannya.
  10. Hanya orang yang memiliki resikolah yang bebas.


Bagaimana Jika Kita Menaikkan Harga?

Banyak perusahaan menggunakan harga sebagai taktilk keberhasil­an. Mereka menurunkan harga untuk menyaingi harga pesaing. Ini dapat menjadi siklus ganas yang mengurangi margin keutungan semua perusahaan.

Bagaimana jika perusahaan menaikkan harganya?

Staf penjalan mungkin akan memprotes betapa banyak bisnis akan dirugikan secara nyata hanya dalam semalam karena tidak menggunakan harga yang mengikuti pola ‘saya juga’

Bayangkan sebuah kasus hipotesis saat produk dijual $100 dengan variabel biaya $75 dan dengan demikian memiliki kontribusi margin 25%. Manajemen ingin menaikkan harga sebanyak 15%, melawan protes keras seluruh staf penjualan yang meyakinkan bahwa volume penjualan akan jatuh. Manajer penjualan dipanggil oleh manajemen untuk menghitung berapa banyak bisnis yang hilang dengan kenaikan harga yang diajukan, dan kemudian meminta tim penjualannya untuk menyediakan laporan perkiraan angkanya.

Pada saatnya, manajer penjualan menyampaikan manajemen bahwa rata-rata, volume penjualan akan jatuh sebanyak 22% dengan 15% kenaikan. Manajer memiliki angka untuk melakukan prakiraan sederhana.

Ia mengalikan harga (100). Dengan persentasi kenaikan harga (15) untuk hasil 1500. Ini dibagi persentase kontribusi (25). Ditambah persentase kenaikan harga (15), menghasilkan kenaikan harga hingga 40. Bagi 1500 dengan 40 dan hasilnya merupakan volume kehilangan kritis sebanyak 37,5%.

Jadi, penjualan akan turun sebesar 37,5% ; lebih dari perkiraan para staf penjualan, sebelum keuntungan dari kenaikan harga ini mencapai titik impas.

Ini berarti, penjualan perusahaan akan turun 37,5% sebelum keuntungan kenaikan harga itu mencapai titik impas.

RUMUSNYA ADALAH :

X = Penurunan atau kenaikan harga dalam persentase

C = Persentase kontribusi

100 kali X dibagi X + C = CVL ( critical volume loss = volume kehilangan kritis)

sebagai persamaan untuk mengukur kapan Anda ingin memotong harga,

100 kali X dibagi C - X = CVG ( volume perolehan kritis)


Citra diri

Kesan pertama sangat penting dan benar-benar diperhitungkan. Citra macam apa yang telah atau akan diproyeksikan oleh perusahaan atau produk baru Anda? Cara penampilan dan citrra perusahaan dan pro­duk Anda dapat dan mungkin akan, memiliki efek yang penting dalam peningkatan penjualan.

  • Apakah toko atau kios Anda memiliki KONSEP TOTAL?
  • Bagaimana produk Anda dikemas?
  • Dapatkah kemasan produk Anda diperbaiki
  • Apakah bisnis anda memiliki brosur perusahaan yang menarik, yang dapat Anda berikan pada prospektif klien Anda?
  • Apakah itu memaparkan pengalaman, ketrampilan, kualifikasi, produk, jasa, garansi, spesialisasi, fitur, keuntungan perusahaan Anda?

Pertimbangkan ini!

Saat-saat serang konsumen membuka surat atau menerima literaturr promosi dari perushaan Anda :

  • Apakah itu ditampilkan secara baik pada kertas berkualitas dan tercetak baik?
  • Apakah perusahaan dan produk Anda terwakili secara baik?

Saat seorang konsumen menerima invoice dari perusahaan Anda :

  • Apakah mudah dibaca dan dimengerti?
  • Apakah itu mudah dikenali di timbunan invoice lainnya?
  • Apakah tampilannya mendorong konsumen untuk membayar?

Apakah Anda menggunakan daerah penerima tamu untuk :

  • Menonjolkan dan memajang produk perusahaan Anda
  • Memamerkan kualifikasi khusus
  • Memamerkan penghargaan perdagangan dan industri
  • Memajang literatur perusahaan
  • Apa yang Anda dapat dengan menghadirkan citra yang lebih baik?
  • Berapa yang harus Anda keluarkan untuk menghadirkan citra yangl ebih baik?

Pelajaran Dari Masa Lalu

Ini tahun 2008, apa yang akan Anda investasikan? Maukah penanam modal mendukung ide Anda?

  • Toko komputer pribadi
  • Tempat sampah plastik beroda
  • Minuman botol
  • Warung telekomunikasi
  • Bengkel
  • Bengkel spesialis
  • Bisnis franchise

Mengapa ide-ide di atas berhasil?

  • Fokus, nengidentifikasi kebutuhan pasar, da menyediakan kebutuhan itu dalam bentuk yang diterima konsumen
  • Benang merah semua bisnis ini adalah beroperasi dalam produk spesialis yang dihantarkan dengan baik dan mudah diakses

Audit Pemasaran

  1. Kuesioner awal
  2. Anda sebenarnya ada dalam bisnis apa?
  • Apa sasaran bisnis Anda?
  • Apa sasaran pribadi Anda?
  • Aria kekuatan bisnis Anda’
  • Apa kelemahannya?
  • Apa kesempatan yang dimilikinya?
  • Apa ancaman yang ada sekarang dan di masa depan?
  • Apakah bisnis Anda musiman?
  • Apakah Anda menindaklanjuti konsumen dengan menanyakan apakah mereka cukup puas?
  • Berapa penjualan rata-rata Anda sehari-hari?
  • Apakah ada produk yang secara menonjol lebih mengun­tungkan dari yang lain?
  • Apakah ada produk yang secara menonjol kurang mengun­tungkan?
  • Apa isu kritis yang sekarang ini mempengaruhi bisnis Anda?
  • Periklanan?
  • Promosi?
  • Distribusi?
  • Pelayanan apa yang akan menjadi keuntungan khusus?
  • Apa yang membuat Anda kompetitif?
  • Posisi?
  • Harga?
  • Perhatian?
  • Kualitas?
  • Keunikan?
  • Pengalaman?
  • Kontak?
  • Jangka waktu pembayaran?
  • Garansi?

Pertimbangan lain :

  • Apa yang mernbuat para pesaing Anda menonjol?
  • Siapa yang memerlukan Anda?
  • Bagaimana konsumen menilai Anda?
  • Bagaimana konsumen menilai para pesaing Anda?
  • Apakah Anda menawarkan potongan harga?
  • Apakah produk baru yang dapat Anda tawarkan?

Periklanan —10 butir Kiat

  • Apa yang Anda iklankan?
  • Apa yang seharusnya menjadi pesan sentral?
  • Apakah iklan kooperatifnya sesuai?
  • Haruskah anda menggunakan iklan yang sama di semua media?
  • Apakah iklan itu menarik dan menahan perhatian?
  • Apakah iklan itu memiliki headline yang menarik?
  • BARU, GRATIS adalah kak-kata yang bagus untuk digu­nakan pada salinan Anda.
  • Beberapa foto dan garnhar menambah daya tarik.
  • Pemilihan media sangat penting.
  • Promosi integral apa yang dapat Anda lakukan sabagai pendukung?

Aturan lama

Kontak terbaik dengan pembeli potensial adalah kontak personal.

Aturan Baru

Kontak terbaik dengan pembeli adalah kontak yang efektif.

Inovasi

Inovasi yang membuat perubahan pada struktur industri efektif khususnya jika industri jika industri dan pasarnya di’dominasi oleh satu pro­dusen atau supplier yang sangat besar, atau oleh hanya sedikit produsen saja. Bahkan jika bukan benar-benar merupakan monopoli, produsen dan supplier besar dan dominan ini telah mengalami sukses dan tak tertandingi selama bertahun-tahun, cenderung menjadi arogan.

Di mana Anda Akan Bertemu?

Anda akan pergi ke kota yang asing dan baru untuk menemui orang­-orang, untuk pertama kalinya, yang tertarik untuk berbisnis dengan Anda.

Sebagai seorang pengusaha, seperti biasa, Anda memiliki sedikit uang dan tidak mampu menginap di hotel bintang lima—tingga Anda menginap di sebuah motel murah di daerah pinggiran.

Orang-orang yang akan Anda temuii untuk pertama kalinya bisa jadi sangat penting untuk bisnis Anda dan merupakan keharusan bagi Anda untuk membawakan ‘kesan yang tepat’ pada pertemuan ini. Jelaslah bahwa orang-orang yang akan Anda temui juga akan meng­ukur Anda, dan akan meninggalkan pertemuan kali ini dengan me­nyimpan kesan yang baru saja didapat.

Keberhasilan usaha

Apa yang membuat sebuah perusahaan berhasil? Pengumpulan pendapat terbaru mengenai manajemen menghasilkan rating berikut :

  • Sebuah prasangka terhadap tindakan lakukan, perbaikan,
  • coba Bentuk sederhana dan staf sedikit
  • Kontak yang berkesinambungan dengan konsumen
  • Otonomi operasional untnk mendorong semangat usaha
  • Tekanan pada nilai bisnis kunci
  • Sikap BISA DILAKUKAN
  • Komitmen untuk mencapai kepuasan konsumen
  • Fleksibilitas dalam memenuhi permintaan khusus (dapatkah Anda mengirimkan hari ini’—“ya”, -“tidak”- “maaf”, truknya telah berangkat, terlalu sibuk”, dsb.)
  • Tanggapan pada permintaan khususHal-hal yang amat baik (outsome) jika diperlukan
  • Tempatkan hadiah pada jasa
  • Memonitor aktivitas pesaing
  • Menapak teknologi terbaru
  • Menjadi yang terbaik
  • Berpusat pada pelayanan konsumen

Mereka mungkin bisa juga akan menambahkan-‘tetaplah pada tema dasar’ atau ‘bisnis inti’ Jadilah yang paling lengkap Buatlah bisnis Anda sebagai yang :

  • Paling seksama
  • Memiliki persediaan terbaik
  • Memliki profil tertinggi
  • Merupakan benchmark yang menjadi ukuran untuk bisnis saingan lain
  • Jangan hidup mengikuti kriteria—ciptakan kriteria itu!
  • Desain produk Anda dengan lebih baik
  • Tampilkan dengan lebih baik
  • Sediakan instruksi yang lebih baik
  • Sediakan pendukung penjualan yang lebih baik

Manajemen Waktu

Saya harap saya memperoleh waktu, untuk mengikuti Kursus Ma­najemen Waktu”

1. Manajemen waktu memiliki tiga komponen—kebutuhan untuk :

  • prioritas yang mapan
  • menggunakan penjadwalan atau pemrograman yang realitas
  • belajar membuat keputusan dasar dan bertindak sesuai keputasan tersebut

2. Manajemen waktu yang efektif mengenai :

  • merencanakan dan menyusun prioritas
  • apa hal paling penting untuk dilakukan hari ini?
  • Apa yang harus dikerjakan hari ini?
  • Daftarkan sesuai urutannya dalam agenda harian atau selembar kertas
  • Dan kerjakan sesuai urutannya

3. Mengelola prioritas

Klasifikasikan tugas-tugas dalam kelompok, seperti :

  • Kategori A—prioritas utama, memerlukan perhatian pribadi Anda
  • Kategori B—penting, namun bukan prioritas utama
  • Kategori Cdapat dikerjakan setelah selesai dengan kategori A dan B
  • Kategori D—delegasikan pada orang lain

4. Banyak manajer bisnis kecil menganggap penting hal-hal :

  • Membuka surat
  • Mengerjakan pekerjaan sehubungan dengan kegiatan perbankan sehari-hari
  • Hal-hal ini merupakan bagian dari hal-hal biasa yang dapat dan sebaiknya didelegasikan pada seorang yang bertanggung jawab mengenai administrasi

5. Alokasikan waktu rutin setiap hari untuk tugas-tugas tertentu, contohnya :

  • Rapat-rapat
  • Wawancara
  • Korespondensi
  • Percakapan telepon—masuk dan keluar

6. Apakah Anda proaktif atau reaktif?

  • Apakah Anda menghabiskan waktu memadamkan api? (reaktif)
  • Atau mengisi waktu merencanakan dan mencapai target? (proaktif)

7. Tetap terfokus
Tataplah pada tugas yang menjadi prioritas- jangan terkecoh menger­jakan hal lain

  • Tangani dokumen-dokumen sekali saja
  • Putuskan tindakan yang diminta dan bertindaklah menurut keputusan itu
  • Jangan menangani dokumen setiap hari selama berminggu-minggu

Keberhasilan adalah Mengenai Pengembangan Kualitas Pelayanan. Ini menyangkut:

  • Dapat dipercaya(dapat diandalkan dan konsisten)
  • berkemauan dan sigap
  • Kompeten(keterampilan dan pengetahuan)
  • Akses mudah dicapai
  • Sopan santun(sopan, penuh perhatian, hormat , bersahabat)
  • Komunikasi (mudah dimengerti dan dihubungi)
  • Kredibilitas (jujur, dapat dan layak dipercaya)
  • Keamanan (tidak berbahaya, berisiko, atau meragukan)
  • Pemahaman (pengertian kebutuhan konsumen)
  • Nyata (bukti dari pelayanan)
  • Fokus, Fokus, Fokus
  • Memenuhi Standar Kualitas Manajamen Total atau direncanakan untuk Memenuhi Tuntutan Tersebut

Resiko

  1. Tertawa berisiko tampak bodoh.
  2. Mengisak berisiko tampak sentimentil.
  3. Merggapai orang lain berisiko keterlibatan.
  4. Mengekspersikan perasaan beresiko menampilkan diri Anda yang sebenarnnya.
  5. Hidup berisiko kematian
  6. Berharap beresiko patah harapan
  7. Mencoba berisiko gagal
  8. Namun resiko harus diambil karena bahaya terbesar dalam hidup adalah tidak memiliki resiko
  9. Dirantai oleh kepastiannya, ia adalah seorang budak : ia telah mengorbankan kebebasannya.
  10. Hanya orang yang memiliki resikolah yang bebas.


Bagaimana Jika Kita Menaikkan Harga?

Banyak perusahaan menggunakan harga sebagai taktilk keberhasil­an. Mereka menurunkan harga untuk menyaingi harga pesaing. Ini dapat menjadi siklus ganas yang mengurangi margin keutungan semua perusahaan.

Bagaimana jika perusahaan menaikkan harganya?

Staf penjalan mungkin akan memprotes betapa banyak bisnis akan dirugikan secara nyata hanya dalam semalam karena tidak menggunakan harga yang mengikuti pola ‘saya juga’

Bayangkan sebuah kasus hipotesis saat produk dijual $100 dengan variabel biaya $75 dan dengan demikian memiliki kontribusi margin 25%. Manajemen ingin menaikkan harga sebanyak 15%, melawan protes keras seluruh staf penjualan yang meyakinkan bahwa volume penjualan akan jatuh. Manajer penjualan dipanggil oleh manajemen untuk menghitung berapa banyak bisnis yang hilang dengan kenaikan harga yang diajukan, dan kemudian meminta tim penjualannya untuk menyediakan laporan perkiraan angkanya.

Pada saatnya, manajer penjualan menyampaikan manajemen bahwa rata-rata, volume penjualan akan jatuh sebanyak 22% dengan 15% kenaikan. Manajer memiliki angka untuk melakukan prakiraan sederhana.

Ia mengalikan harga (100). Dengan persentasi kenaikan harga (15) untuk hasil 1500. Ini dibagi persentase kontribusi (25). Ditambah persentase kenaikan harga (15), menghasilkan kenaikan harga hingga 40. Bagi 1500 dengan 40 dan hasilnya merupakan volume kehilangan kritis sebanyak 37,5%.

Jadi, penjualan akan turun sebesar 37,5% ; lebih dari perkiraan para staf penjualan, sebelum keuntungan dari kenaikan harga ini mencapai titik impas.

Ini berarti, penjualan perusahaan akan turun 37,5% sebelum keuntungan kenaikan harga itu mencapai titik impas.

RUMUSNYA ADALAH :

X = Penurunan atau kenaikan harga dalam persentase

C = Persentase kontribusi

100 kali X dibagi X + C = CVL ( critical volume loss = volume kehilangan kritis)

sebagai persamaan untuk mengukur kapan Anda ingin memotong harga,

100 kali X dibagi C - X = CVG ( volume perolehan kritis)


Citra

Kesan pertama sangat penting dan benar-benar diperhitungkan. Citra macam apa yang telah atau akan diproyeksikan oleh perusahaan atau produk baru Anda? Cara penampilan dan citrra perusahaan dan pro­duk Anda dapat dan mungkin akan, memiliki efek yang penting dalam peningkatan penjualan.

- Apakah toko atau kios Anda memiliki KONSEP TOTAL?

- Bagaimana produk Anda dikemas?

- Dapatkah kemasan produk Anda diperbaiki

- Apakah bisnis anda memiliki brosur perusahaan yang menarik, yang dapat Anda berikan pada prospektif klien Anda?

- Apakah itu memaparkan pengalaman, ketrampilan, kualifikasi, produk, jasa, garansi, spesialisasi, fitur, keuntungan perusahaan Anda?

Pertimbangkan ini!

Saat-saat serang konsumen membuka surat atau menerima literaturr promosi dari perushaan Anda :

Apakah itu ditampilkan secara baik pada kertas berkualitas dan tercetak baik?

Apakah perusahaan dan produk Anda terwakili secara baik?

Saat seorang konsumen menerima invoice dari perusahaan Anda :

Apakah mudah dibaca dan dimengerti?

Apakah itu mudah dikenali di timbunan invoice lainnya?

Apakah tampilannya mendorong konsumen untuk membayar?

Apakah Anda menggunakan daerah penerima tamu untuk :

Menonjolkan dan memajang produk perusahaan Anda

Memamerkan kualifikasi khusus

Memamerkan penghargaan perdagangan dan industri

Memajang literatur perusahaan

- Apa yang Anda dapat dengan menghadirkan citra yang lebih baik?

- Berapa yang harus Anda keluarkan untuk menghadirkan citra yangl ebih baik?

Pelajaran Dari Masa Lalu

Ini tahun 1973, apa yang akan Anda investasikan? Maukah penanam modal mendukung ide Anda?

Toko komputer pribadi

Tempat sampah plastik beroda

Minuman botol

Warung telekomunikasi

Bengkel

Bengkel spesialis

Bisnis franchise

Mengapa ide-ide di atas berhasil?

Fokus, nengidentifikasi kebutuhan pasar, da menyediakan kebutuhan itu dalam bentuk yang diterima konsumen

Benang merah semua bisnis ini adalah beroperasi dalam produk spesialis yang dihantarkan dengan baik dan mudah diakses

Audit Pemasaran

Kuesioner awal

Anda sebenarnya ada dalam bisnis apa?

Apa sasaran bisnis Anda?

Apa sasaran pribadi Anda?

Aria kekuatan bisnis Anda’

Apa kelemahannya?

Apa kesempatan yang dimilikinya?

Apa ancaman yang ada sekarang dan di masa depan?

Apakah bisnis Anda musiman?

Apakah Anda menindaklanjuti konsumen dengan menanyakan apakah mereka cukup puas?

Berapa penjualan rata-rata Anda sehari-hari?

Apakah ada produk yang secara menonjol lebih mengun­tungkan dari yang lain?

Apakah ada produk yang secara menonjol kurang mengun­tungkan?

Apa isu kritis yang sekarang ini mempengaruhi bisnis Anda?

Periklanan?

Promosi?

Distribusi?

Pelayanan apa yang akan menjadi keuntungan khusus?

Apa yang membuat Anda kompetitif?

Posisi?

Harga?

Perhatian?

Kualitas?

Keunikan?

Pengalaman?

Kontak?

Jangka waktu pembayaran?

Garansi?

Pertimbangan lain :

Apa yang mernbuat para pesaing Anda menonjol?

Siapa yang memerlukan Anda?

Bagaimana konsumen menilai Anda?

Bagaimana konsumen menilai para pesaing Anda?

Apakah Anda menawarkan potongan harga?

Apakah produk baru yang dapat Anda tawarkan?


Periklanan —10 butir Kiat

Apa yang Anda iklankan?

Apa yang seharusnya menjadi pesan sentral?

Apakah iklan kooperatifnya sesuai?

Haruskah anda menggunakan iklan yang sama di semua media?

Apakah iklan itu menarik dan menahan perhatian?

Apakah iklan itu memiliki headline yang menarik?

BARU, GRATIS adalah kak-kata yang bagus untuk digu­nakan pada salinan Anda.

Beberapa foto dan garnhar menambah daya tarik.

Pemilihan media sangat penting.

Promosi integral apa yang dapat Anda lakukan sabagai pendukung?

Aturan lama

Kontak terbaik dengan pembeli potensial adalah kontak personal.

Aturan Baru

Kontak terbaik dengan pembeli adalah kontak yang efektif.

Inovasi
Inovasi yang membuat perubahan pada struktur industri efektif khususnya jika industri jika industri dan pasarnya di’dominasi oleh satu pro­dusen atau supplier yang sangat besar, atau oleh hanya sedikit produsen saja. Bahkan jika bukan benar-benar merupakan monopoli, produsen dan supplier besar dan dominan ini telah mengalami sukses dan tak tertandingi selama bertahun-tahun, cenderung menjadi arogan.

Di mana Anda Akan Bertemu?

Anda akan pergi ke kota yang asing dan baru untuk menemui orang­-orang, untuk pertama kalinya, yang tertarik untuk berbisnis dengan Anda.Sebagai seorang pengusaha, seperti biasa, Anda memiliki sedikit uang dan tidak mampu menginap di hotel bintang lima—tingga Anda menginap di sebuah motel murah di daerah pinggiran.
Oangng-orang yang akan Anda temui untuk pertama kalinya bisa jadi sangat penting untuk bisnis Anda dan merupakan keharusan bagi Anda untuk membawakan ‘kesan yang tepat’ pada pertemuan ini. Jelaslah bahwa orang-orang yang akan Anda temui juga akan meng­ukur Anda, dan akan meninggalkan pertemuan kali ini dengan me­nyimpan kesan yang baru saja didapat.

FAJAR KEWIRAUSAHAAN

Tahukah Anda, ditaksir, populasi dunia mencapai enam miliar di akhir 1999 dan tahun 2020, angkanya melonjak menjadi delapan miliar! Apakah pemerintah bisa menyediakan pekerjaan untuk sedemikian banyak orang? Faktanya, ’privatisasi’ menjadi begitu populer pada dekade lalu, menunjukkan bahwa mereka ”mencuci tangan” dari tugas menciptakan pekerjaan yang mengerikan itu.

Fakta lainnya, merger, akuisisi, dan restrukturisasi dalam sektor swasta lebih sering membuahkan PHK masal. Lalu siapa yang mendapat beban menciptakan lapangan kerja? beban itu harus dipikul INDIVIDU-nya sendiri. Setiap orang, menciptakan sendiri pekerjaannya! Setiap orang, siap atau tidak, kondisi mendorongnya menjadi wirausaha.

Mau pilih yang mana: segera menyiapkan mental dan ketramplan kewirausahaan atau, saatnya nanti, terpaksa serabutan, mencoba-cobamenjadi wirausahawan setelah ”terdepak” dari posisi ”orang gajian”!

Saran kami, dan itu tugas buku ini pula, segeralah belajar mengambil inisiatif, inovatif, berani dan kreatif. Mulailah mempromosikan dan menampilkan ide Anda. Anda harus mulai hidup ”sedikit bersusah-payah”, jangan menunggu gaji bulanan Anda, dan mulai menunda kepuasan Anda.

Sadarilah, fenomena ini. Bahwa kewirausahaan, yang tidak dikenali seperempat abad lalu, saat ini diajarkan sebagai mata kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Amerika Serikat saja, ratusan perguruan tinggi mengajarkan itu. Apakah ini benar-benar fenomena baru?

Tidak persis demikian. Kita sebenarnya dilahirkan sebagai wiirausaha. Keberanian, kreativitas, dan inisiatif – semuanya adalah sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir. Itu alami, melekat dalam diri Anda! Tinggal masalahnya, buatlah kemampuan itu muncul dan bekerja optimal! Bayi manapun di dunia ini, sebelum mereka dibanjiri nilai-nilai dan peraturan masyarakat, tanpa perlu ikut seminar tentang ”berjalan”, ia belajar berjalan sampai bisa. Anda, pembaca, dulu juga bayi yang merangkak pun belum bisa. Setiap kali si bayi yang belajar berjalan itu tersandung, ia bangkit lagi. Bayi itu pun belajar berbicara tanpa perlu menghadiri kelas bahasa. Sayangnya, semua kelebihan itu hilang ketika ia memasuki institusi yang kita sebut sekolah.

Cobalah jawab pertanyaan kami.

Adakah institusi di dunia ini, tempat Anda bisa mempelajari cara menjalankan bisnis Anda sendiri?

Saya yakin Anda mulai menyebut beberapa kursus atau jurusan bisnis dengan nama-nama tetentu yang ditawarkan oleh universitas atau sebuah lembaga kursus. Terus terang, itu semua tidak mengajarkan Anda bagaimana menjalankan bisnis untuk diri Anda sendiri. Mereka hanya mengajarkan Anda bagaimana menjalankan bisnis untuk orang lain! Kalau Anda mengikuti kursus akuntansi, yang diajarkan adalah bagaimana Anda menghitung uang orang lain.

Bukan masanya bicara tentang kelebihan teknologi. Mari, kita bicara kelebihan kewirausahaan. Kita memerlukan wirausaha untuk menciptakan perusahaan yang besar dengan teknologi temuan terbaru!

Sejumlah pakar, praktisi, orang sukses, Anda yakini bakal mengatasi tugas menciptakan pekerjaan untuk orang banyak. Mengapa harus orang lain? Mengapa harus mereka, bukan Anda sendiri? Bukankah mereka yang sukses, sudah tak punya masalah lagi dalam menciptakan lapangan kerja, karena mereka sudah di sana, sementara Anda, mungkin masih mencari terus bisnis apa yang pas Anda jalankan sendiri.

Mari kita amati tren 1000 tahun terakhir. Di sana kita lihat perpindahan kekuasaan pada kelompok orang atau individu tertentu .

Tahun 1000

Kekuasaan berada di tangan kaum rohaniwan yang secara kebetulan adalah beberapa orang yang mampu membaca dan menulis

Tahun 1455

Penemuan mesin cetak yang memungkinkan pengetahuan lebih bisa disebarkan kepada lebih banyak orang. Dengan demikian kekuasaan bergeser dari agama ke politik

Tahun 1555

Politisi mulai lebih berkuasa dan untuk mempertahankan kekuasaan itu, birokrasi dibuat

Tahun 1970

Penemuan microchip memungkinkan informasi lebih tersebar kepada keompok orang yang lebih besar. Kekuasaan bergeser perlahan dari politik ke ekonomi

Tahun 1995

Ekonomi sekarang begitu penting sehingga menjadi sebab jatuhnya banyak pimpinan politik (mis.Presiden Soeharto dari Indonesia, Perdana Menteri Chavalit Yongchaiyudh dari Thailand) selama masa yang sangat singkat

Tahun 2020

Keseimbangan kekuasaan bergeser perlahan dari birokrasi menjadi kewirausahaan. (Bill Gates dipilih sebagai orang paling berkuasa di Inggris)

Telah diramalkan bahwa selama 25 tahun, individu birokrat akan bersikap defensive, mencari cara untuk mempertahankan status keamanan yang sudah ada dari standar hidup mereka, sedangkan individu yang berjiwa wirausaha akan bersikap ofensif, mencari cara memperbesar kesempatan mereka, kemampuan mereka dan kualitas hidup mereka yang meningkat.

"Karena perkembangan dinamis bakat kewirausahaan, Amerika Serikat mampu mewujudkan lebih dari 15 juta pekerjaan dalam tempo 7 tahun."

Sumber : Dare to Fail by Billi P.S. Lim

Telah diramalkan bahwa selama 25 tahun, individu birokrat akan bersikap defensif, mencari cara untuk mempertahankan status keamanan yang sudah ada dari standar hidup mereka, sedangkan individu yang berjiwa wirausaha akan bersikap ofensif, mencari cara memperbesar kesempatan mereka, kemampuan mereka dan kualitas hidup mereka yang meningkat.

“Karena perkembangan dinamis bakat kewirausahaan, Amerika Serikat mampu mewujudkan lebih dari 15 juta pekerjaan dalam tempo 7 tahun.”

Benar, pembaca. Sekilas angka dan fakta ini, adalah fenomena merekahnya fajar baru kewirausahaan. Anda, mungkin sedang menapaki jalan di dalam terangnya fajar ini.

Entrepreneurship

Kreatiftas tiada henti

Kalau Anda berani tanpil beda,
itu berarti Anda memiliki jiwa entrepreneur

KUTIPAN di atas, sangat mungkin, mengundang senyum meremehkan. Masa, berbeda saja, sampai menjadi ciri jiwa enterpreneur. Kalimat itu terasa berlebihan. Pembaca, entrepreneur sendiri adalah dunia yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreativitasnya, tak mustahil akan terbukti bahwa ía betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang. Karenanya, ia pantas dikagumi, dan selanjutnya diikuti.

Menjadi entrepreneur kreatif di saat krisis ekonomi, tentu saja tantangan yang sangat berat. Siapa saja yang mencoba terjun menjadi entrepreneur kreatif, ia harus bekerja 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Ini masih harus dijalankan sedikitnya untuk kurun waktu sekitar dua tahun pertama. Sebuah babak baru yang berat, berjuang tanpa henti dengan berbagai tekanan fisik maupun psikis.

Bisnis modern? Apalagi! Ia boleh dikatakan, mustahil bisa eksis dan berkembang tanpa kemampuan menciptakan sesuatu yang baru pada setiap harinya. Berpikirlah kreatif setiap hari. Dari mana ia datang? Dari mana saja, dari siapa saja. Interaksi sosial Anda, menjadi stimulan munculnya ide inovatif. Memang, tak mudah melahirkan sesuatu yang orisinal atau sama sekali baru. Bisa saja, ia adalah kombinasi “sentuhan baru” pada karya-karya yang sudah ada. Kesan, aksentuasi disain, modifikasi, adalah bagian dari proses kreatif.

Milik siapakah kemampuan ini? Apakah ini hanya dimiliki pribadi tertentu? Tegas, kami nyatakan: tidak. Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda-beda.


Kemampuan kreatif itu terdistribusi hampir secara universal kepada seluruh umat di muka bumi ini. Kreativitas, bak sebuah mata air, jangan biarkan sumbernya mengering. Agar tetap berair, gali terus, agar “mata air kreativitas” kita tetap berair.
Raudsepp, peneliti dari Princeton Research Inc.

Kreativitas: Keharusan dalam Kewirausahaan

Jangan terpaku saja melihat gemerlap perubahan! Anda, satu di antara sekian orang yang sanggup menghadirkan hal baru! Pikirkanlah hal ini sebagai kebiasaan. Karena Anda hidup dalam abad kreativitas. Kreatif adalah, kunci memenangkan kompetisi. Ada banyak konsep kreativitas. Salah satunya, mengambil inspirasi dari dunia musik, tepatnya, musik jazz. Dalam musik jazz, ada istilah jam session, saat pemusik tidak memainkan lagu tertentu, tapi alat musiknya mengalunkan paduan nada tanpa terikat lagu, bebas-mengalir saja. Jamming, menjadi inspirasi John Kao menuangkan teorinya dalam buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, “Jamming: Seni dan Disiplin Kreativitas Bisnis”.

Kalau jamming bisa menggelitik telinga dengan alunan musik indah, bisnis pun, amat mungkin mengambil langkah alternatif di luar yang biasa berlaku. Hasilnya, seperti jamming dalam jazz, tetap “berirama dan enak didengar”. Begitulah analogi teori Kao dalam dunia bisnis.

Jamming dalam bisnis, adalah ikhtiar kreatif. Ada imajinasi, totalitas berkreativitas, menyerap pendar-pendar inspirasi dari mana-mana. Dari sana tercipta ide-ide kreatif dalam pengembangan bisnis­. Siapa “sparing partner” seorang wirausahawan dalam mengeksplotasi gagasan kreatifnya? Ia bisa sesama wirausahawan, meskipun tak ada salahnya dengan orang lain yang sangat berbeda dunia kerja (bukan wirausahawan).

Bekerja “serba rutin”, “manut pakem”, di level pengambilan keputusan tertinggi, terutama sebagai pusat penyikapan terhadap realitas bisnis, diyakini merupakan sebuah sikap berbahaya bagi keberlangsungan usaha. Rutinitas, pakem-pakem itu, menjadi belenggu bagi kemajuan. Namun begitu, jangan salah memaknainya. Manajemen kreativitas, bukan “anti aturan”. Aturan tertentu, harus tetap ada, tetapi keberadaannya tidak memasung kreativitas. Ada yang “ekstrim” dalam kasus pembaharuan ini. Misalnya, produsen piranti keras komputer yang mendunia, Intell. Intell, secara berkala selalu menghancurkan produk lama mereka setelah memproduksi produk baru hasil kreativitas timnya. Langkah yang serupa, meskipun “tak sengaja” dialami perusahaan Unilever. Begitu produk barunya muncul, produk lama Unilever “otomatis” dikalahkan produk barunya sendiri.

Kalau ada contoh Intell dan Unilever di bagian ini, dua dari sekian big corporate dunia, sejatinya kreativitas tidak menjadi monopoli korporat besar. Dalam sektor usaha kecil pun, ide kreatif muncul dari perenungan dan perbincangan akan hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Justru dalam usaha kecillah, kreativitas seharusnya lebih berkembang, karena biasanya usaha kecil, punya sumber daya insani tak banyak. Ini poin lebih sehingga usaha kecil relatif lebih kompak orang-orangnya, sehingga transfer kreativitas baru bisa lekas merata. Dalam usaha berskala kecil transfer kreativitas lebih pendek jalurnya. Seorang inovator dalam tempo pendek ia bisa langsung mentransfer temuan barunya kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Bukan mustahil, proses mentransfer temuan baru itu, sekaligus bisa memicu tumbuhnya kreativitas.

Luwes Menyikapi Peluang
Jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, di mana orang lain tidak melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif, bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.

Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan Anda, jangan takut diremehkan atau dihina orang. ‘Ide gila” yang Anda sampaikan, boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Begitu Anda mulai menuai sukses, barulah orang akan berguman, “Mengapa itu tak terpikirkan oleh saya sejak dulu, ya?”

Kalau Anda berani tampil beda, itu berarti Anda berjiwa entrepreneur. Saya setuju pendapat yang mengatakan, keberhasilan entrepreneur ibarat kesabaran dan ketenangan seorang aktor akrobatik meniti tambang tipis hingga sampai ke tujuan. Ia tidak menghabiskan waktunya dengan perasaan khawatir, tapi konsentrasinya tertuju pada tujuannya. Tak kalah pentingnya, jangan malu akan kesalahan yang kita buat. Seorang entrepreneur memang tidak menyukai kesalahan, tapi ia tetap akan menerimanya sepanjang hal itu dapat memberikan pelajaran berharga. Ia harus mampu meloloskan diri dari situasi-situasi yang hampir mustahil bisa diatasi. Dalam era global sekarang ini, kegiatan usaha yang kita jalankan hampir 90% justru tidak sesuai rencana.

Karena itu, kita harus luwes dengan rencana yang telah kita buat. Bersiaplah berpindah dari satu rencana ke rencana lainnya. Seorang entrepreneur juga tidak boleh mudah berputus asa. Ia harus yakin dengan kreativitasnya. Selalu ada jalan yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Proses Kreatif Berwirausaha
Kita berani berpikir kreatif.


Itu berarti kita sudah berani mengambil risiko
SALAH satu tugas kita sebagai pengusaha, selain memiliki ketrampilan interpersonal, leadership, dan managerial, juga harus mampu melakukan tugas kreatif. Kreativitaslah, unsur penting eksis dan berkembangnya sebuah usaha. bagi entrepreneur, seolah tiada hari tanpa kreativitas. Saatnya kita terus kreatif. Apalagi, kalau di bagian sebelumnya, kerap disebut-sebut angka luar biasa pertumbuhan kewirausahaan di Amerika Serikat, di Indonesia sendiri, keragaman usaha maupun jumlah wirausahawannya, belum sebanyak di Amerika Serikat ataupun di negara lain.

Di Amerika Serikat misalnya, ada bisnis yang masih langka dan belum memasyarakat di Indonesia, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi. Jadi sebenarnya banyak macam usaha yang bisa kita kerjakan, asal kita mau kreatif. Dalam hal apa saja, kita harus kreatif? Kreatiflah dalam beberapa hal, antara lain, memilih jenis usaha dan memilih waktu untuk memulainya.

Maka, jangan ragu menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap unsurnya bisa kreatif. Jadikan setiap sudut, setiap suasana dalam usaha Anda, kondusif bagi munculnya ide-ide kreatif. Kreativitas itu sendiri, memang memerlukan proses, yakni proses kreatif. Jadi pada awalnya, untuk kreatif itu perlu persiapan, meski secara tidak formal. Tinggal, bagaimana kita sendiri membuat suasana kerja itu kreatif.

Dalam prosesnya, ternyata kreatif itu juga membutuhkan konsentrasi kita. Padahal, yang kerap terjadi, saat kita melakukan konsentrasi, malah menemui jalan buntu. Akibatnya, kita tak bisa berbuat apa-apa, dan berangsur-angsur menjadi frustrasi. Dan, sebenarnya frustasi itu merupakan bagian dari proses kreatif itu sendiri.

Dalam kondisi inilah, menurut saya, sebaiknya kita tidak menyerah atau putus asa. Jangan berhenti sampai di situ. Yakinlah, pada saatnya, wawasan atau iluminasi akan muncul. Kemudian, kita melewati proses kreatif berikutnya: inkubasi atau pengendapan masuk ke dalam alam bawah sadar. Pada saatnya, yaitu pada kondisi yang tidak disengaja, bisa saja muncul iluminasi itu artinya ide kreatif telah kita temukan.

Langkah penting untuk ini, mengolah atau menjalankan ide kreatif menjadi konkret, demi kemajuan bisnis kita. Bahkan menurut kami, demi kepuasan pelanggan pun, perlu pendekatan kreatif. Kreatif, juga kata kunci dalam urusan mencari modal atau dana pengembangan usaha, peningkatan kegiatan produksi, perbaikan desain, pemasaran, dan lain sebagainya.

Orang kreatif, adalah orang yang berani mengambil risiko. Hanya tinggal seberapa besar sebenarnya kualitas kreativitas itu akan mempengaruhi risiko usaha yang dijalankan. Bahkan, seseorang yang berani berpikir kreatif, berarti dia sudah berani mengambil risiko. Kami pun yakin, hanya pengusaha yang berani mengambil risiko itulah yang usahanya dapat berkembang maju, baik untuk saat ini ataupun untuk masa depan.

Entrepreneurshif

”BERANI”, MODAL AWAL ENTREPRENEUR

Kami yakin, kalau entrepreneur berani memiliki visi, maka akan lebih dapat menciptakan kekuatan positif di dalam pikirannya. Sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup kita. Karena ini saya sangat yakin dengan ungkapan berikut ini: “Hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan”

Presiden RI pertama, Ir. Soekamo, pernah bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Visi itu memang bisa mensugesti orang. Dan, semua langkah kita akan kita arahkan kesana. Apalagi entrepreneur ini biasanya seorang pemimpi. Maka mimpi tentang perusahaan, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat mempengaruhi para pengikut yang dipimpinnya.

Anda “juru penerang”, mengusir gelapnya pikiran orang lain yang Anda pimpin. Ini prinsip kepemimpinan. Wirausahawan yang memiliki visi, adalah penerangan bagi para bawahannya, anggota “tim sukses”nya dalam bisnis. Wirausahawan dengan visi besar, merangsang terbangunnya atmosfir bisnis penuh kreativitas dan inovasi.

Bahkan orang meyakini, jiwa wirausahawan itu, dekat sekali dengan dunia pengkhayal. Apa susahnya, berkhayal? Berkhayal adalah aktivitas yang “murah”. Bagaimaan tidak, karena berkhayal tidak memerlukan fasilitas khusus, apalagi ongkos. Sekarang juga, Anda pun bisa berkhayal. Tentu saja, khayalan seorang wirausahawan, bukan sembarang berkhayal. Bahkan, di zaman susah, dengan tumpukan persoalan hidup yang harus dipikul, bisa membuat orang pun tidak berani berhkayal. Anda akan tercenung, kalau kami katakan, “Berkhayal pun, perlu keberanian!”

Mengapa? Khayalan yang memicu keberhasilan, atau minimal, keberanian berbuat dan berkreativitas, dihambat pandangan lama yang cuku berurat-akar dalam benak kita, bahwa orang sukses harus ditopang pendidikan dan gelar formal. Sebetulnya, keyakinan ini bisa dipatahkan dengan mudah. Misalnya, hadirkan saja, beberapa nama orang sukses yang lulus SMA pun, tidak. Sejumlah wirausahawan, memulai dari khayalan. Dan ia mulai kembangkan khayalannya, dari nol sampai akhirnya terwujud.

Bill Gates mengimpikan, personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, ia drop out dari studinya, memilih menekuni Microsoft-nya. Ia berhasil. Kini, ia salah satu orang terkaya dunia.

Michael Dell, punya impian menakjubkan: mengalahkan perusahaan komputer raksasa IBM. Ia juga berhasil menjadi orang pertama yang memasarkan komputer pribadi dengan strategi direct marketing. Usahanya yang dirintis tahun 1984 berhasil, penjualan Dell Computer laris manis. Bahkan Dell dalam usia 34 tahun berhasil menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Serikat.

Contoh lainnya, Jeff Bezos. Mimpinya, menjadi pengusaha sukses di dunia e-commerce, perdagangan melalui intemet. Meski baru tahun 1995, yaitu di saat usianya 30 tahun, ia nyemplung ke dunia maya, mendirikan Amazon. com. Situs itu melejit menjadi situs paling banyak dikunjungi orang, untuk mendapatkan informasi atau membeli buku-buku bermutu dari seluruh dunia. Mimpinya terwujud. Ia pun tercatat sebagai miliarder di negeri Paman Sam itu.

Berani Mencoba
Andai kita berani mencoba, dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti kegagalan tak pernah ada

Bisnis modern akan berhenti berputar kalau sikap berani mencoba itu lenyap. Memang, banyak orang yang gagal dalam usahanya, putus asa tanpa, tak berani mencoba lagi. Ini bukan bukan saja merugikan aspek materi atau finansial saja, tapi juga aspek psikologis. karena itu, sekalipun krisis, tetaplah menjadi entrepreneur dengan semangat kewirausahaan tinggi. Sesungguhnya tidak ada yang gagal dalam berbisnis, yang ada hanya karena ia berhenti mencoba, berhenti berusaha. Berani mencoba, lebih tekun dan ulet, kegagalan takkan pernah ada.

Beranilah mencoba. Sebab, tidak satu pun di dunia ini, termasuk di dalam dunia entrepreneur yang dapat menggantikan keberanian mencoba dengan bakat bisnis. Sebagus apa pun bakat seseorang, tidak akan sukses tanpa mulai mencoba. Bagaimana dengan kejeniusan seseorang? Juga tidak. Kejeniusan terpendam, sama saja dengan omong-kosong. Pendidikan terbaik? Juga bukan jaminan. Dunia ini sudah penuh dengan pengangguran berijazah sarjana. Dan ternyata, sekali lagi, keberanian mencoba dan mencoba itulah penentu kesuksesan bisnis kita.

Berani Merantau
Keberanian merantau, membangun percaya diri dan kemandirian

Ingat tragedi Sampit? Semua bersedih, karena sebagian pengusaha sukses etnis Madura, ikut hengkang dari Sampit, Kalimantan Tengah. Kami bukan menyoal tragedinya, tetapi dari aspek kewirausahaan. Madura dan Kalimantan, jelas bukan seperti antar rumah di sebuah kampung. Ini dua pulau yang berbeda dan berjauhan. Tapi, berapa banyak orang Madura yang masih kelahiran Madura, lalu merantau ke Sampit. Banyak, bahkan banyak sekali dan kemudian anak-turunnya lahir di Kalimantan.

Sebagian dari mereka, sukses, meskipun awalnya dari nol. Kami hanya mau mengatakan, mereka “dari bukan apa-apa”, merantau, lalu sukses. Etnis lainnya yang fenomenal, orang Jawa asal Tegal. Ibukota saja, mereka taklukkan. Kalau mau menghitung jumlah warung “beridentitas daerah” paling banyak yang mana, jawabannya: Warung Tegal. Di sektor makanan rakyat, ada penjaja bakso keliling. Banyak di antara mereka, mengusung identitas daerah. Seperti bakso Malang , bakmi Wonogori, Pecel Lamongan, atau rumah makan Padang.

Yang lebih fenomenal, dan ini juga lebih global, perantau Cina pun yang sukses di negeri yang mereka datangi. Bukankah Anda yang sering bepergian lintas daerah, pernah mendengar, transmigran petani Jawa atau bali, banyak yang sukses sebagai transmigran di Sumatera, atau Sulawesi? Sukses dalam usaha, juga disokong sebuah keberanian: merantau.

Merantau, punya makna sosial tersendiri. Ia berarti “jauh dari keluarga” yang memicu terbangunnya jiwa kemandirian. Tak bergantung pada keluarga, berarti mulai melangkah menjadi dewasa. Di rantau, apalagi di lingkungan yang tak tahu siapa kita sebelumnya, Anda bisa menjadi pribadi yang baru.

Kebaruan ini, sarat tantangan. Merantau, menyadarkan kita apa kelebihan dan kekurangan kita karena kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan baru. Merantau, membuat seseorang relatif tangguh, karena diterjunkan dalam situasi serba baru.

Perantau, umumnya segan minta tolong. Di situlah, kemauan menjadi lebih termotivasi. Perantau, rata-rata enggan berutang budi. Justru, karena ia orang baru, seorang perantau cenderung menanam jasa untuk banyak orang. “Investasi sosial” ini, pada saatnya berbuah kebaikan. Siapa sangka, banyak orang yang menyukai kepribadian kita, bernagsur-angsur, menjadi pendukung setia langkah kita menganyam kesuksesan. Jadi? Cobalah merantau, temukan jatidiri Anda yang tangguh, kreatif, dan cerdik menangkap peluang


Berani Gagal
Hanya orang yaug berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini ada benarnya. salah satu dari kami, membuktikannya. Gagal total, itu karier bisnis , Purdi E.Chandra dalam bukunya “Menjadi Entrepreneur Sukses” bertutur : “Akhir 1981, merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan saya meninggalkan kampus. Saat itu saya pikir, gagal meraih gelar sarjana, tapi bukan berarti gagal mengejar cita-citanya. Tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama. Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Pada awalnya, sepi peminat, cuma dua orang! Saat ini, wow, peminatnya membludak, sampai-sampai Primagama membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia”.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses daripada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, jangan harap orang akan memuji Anda; orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal; Anda tidak disalahkan; semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda; Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain; Ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara; Apalagi ini: bank akan memberikan pinjaman selanjutnya! No way!

Mengapa gambaran seorang entrepreneur yang gagal, kami gambarkan begitu buruknya? Itulah masyarakat kita. Kita cenderung memuji yang sukses dan menang, dan mudah menghujat yang kalah dan gagal. Sebaiknya, setiap kita mulai mengubah budaya itu, beri kesempatan kedua bagi setiap orang.

Menurut pengalaman kami, apabila orang gagal, tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Kegagalan seharusnya membuat enerpreneur sejati tertantang untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali. Tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian, memang banyak. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Seorang entrepreneur, harus berani menghadapi kegagalan, dan memetik hikmahnya. Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah tatkala lengah. Menjadi berani ketika kita takut. ltu sebabnya, kita bisa sepakat pada pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood,”Kegagalan itu penting bagi karier siapapun.”

Mengapa? Banyak orang membuat kesalahan yang sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Sebaliknya. kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan. tapi mengapa seseorang gagal dalam bisnis. Ada beberapa sebab umum.

Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha. Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Buat kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kita bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.


Berani Sukses

Seberapa besar rezeki yang kita inginkan, itu sama dengan seberapa besar kita berani mengambil risiko

SUKSES adalah proses. Ia dicapai dengan pengorbanan. Salah satunya, tidak cengeng dengan kegagalan. Sukses, pikirkanlah sebagai keseharian Anda. Keyakinan bisa sukses, selalu dibangun setiap saat. Karena itulah, jangan biarkan Anda kehilangan motivasi untuk sukses, dan terus membangun keyakinan itu dalam sanubari.

Buanglah semua alasan, Anda gagal karena kelemahan dari diri Anda. Kurang cerdas, kurang fit, sudah terlalu tua, dan segudang “rasa kurang”, bukanlah alasan Anda gagal. Sukses memerlukan keberanian tanpa henti, mempelajari kemunduran bisnis.

Hadapkan setiap problem dengan perjalanan sukses wirausahawan lain yang serupa usahanya dengan Anda. Bahkan, Anda simak mereka yang gagal, dan temukan jawabannya mengapa dia gagal. Kesiapan pribadi seorang wirausahawan menghadapi perubahan, juga dipermantap. Jangan mudah dikejutkan perubahan.

Pelajarilah kesuksesan orang lain, himpun semua “sebab-sebab sukses” itu, temukan kelebihan-kelebihan itu, dan mulai mencoba menyusun apa kelebihan Anda, apa kebaruan yang bisa ditelurkan dari proses membandingkan dengan usaha orang lain.

Seorang wirausahawan, adalah yang selalu “melek” dan “buka telinga” terhadap setiap peluang. Sukses wirausahawan, bukan sekadar “rezeki dari langit”, tapi juga kejelian membaca/menangkap peluang. Dan ini memerlukan stamina usaha yang tinggi. Jangan ketakutan lebih dulu, seakan-akan wirausahawan itu orang yang tidak pernah beristirahat. Tidak! Secara fisik, istirahat perlu, tapi sebagai wirausahawan, pikiran “tetap jalan” dalam arti, keseharian kita dibiasakan terus memikirkan, kebaikan-kebaikan apa yang bisa dibangun berdasarkan peluang yang kita hadapi setiap saat.

Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti hanya hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani. Dengan demikian sukses berarti self respect, merasa terhormat, terus-menerus merasa bahagia, dan merasakan kepuasan dari kehidupannya. Itu artinya, kita berhasil berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat. Dengan kata lain, sukses berarti menang. Namun sayangnya, diera globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua entrepreneur berani menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan.

Menurut kami, sebagai wirausahawan, jangan segan Anda nyatakan: hari ini saya sukses. Dengan begitu, rasa percaya diri itu pun terbangun. Kepercayaan diri yang besar itu, membangkitkan semangat untuk meraih kesuksesan. Dan kesuksesan itu, juga berarti perlu dibagi kepada sesama pebisnis. Betapapun sibuknya wirausahawan yang sukses, dalam dirinya ada jiwa sosial saat diminta membantu wirausahawan lain yang belum sesukses dirinya. Yakinlah, dalam jiwa seorang wirausahawan sukses, ada keyakinan: Allah itu kekuatanNya besar yang mendorong umatnya, termasuk para wirausahawan, untuk tidak egois. Karena pribadi yang senang melihat orang lain “gagal melulu”, sejatinya sedang menanti gelombang kegagalan menerpanya. Jadi, beranilah berpikir sukses!

Berani Berbeda
Munculkanlah keberanian berpetualang di zaman baru, kendati untuk itu kita siap membayar harga orang yang menertawakan, mengejek, dan mengkritik kita.

Mengapa orang menertawakan kita? Atau lebih enteng dari itu, mengapa orang meremehkan kita? Karena kita berbeda. Tapi, apa salahnya jika kita berbeda? Kenyataaannya, menjadi berbeda sudah terjadi sejak kita lahir. Setiap individu di dunia ini berbeda. Tak ada seorangpun yang 100 % sama dengan lainnya. Sidik jari kita cukup membuktikan fakta ini – tak ada dua sidik jari yang sama di dunia. Setiap orang dari kita berbeda – UNIK. Dan keunikan kita memisahkan kita satu dengan lainnya.

Bila kita benar-benar ingin berhasil dalam hidup ini, munculkanlah bakat ini dari dalam diri, biarkan ia bersinar begitu terang. Orisinalitas gagasan, di mana Anda menampakkan “sesuatu yang baru dan terang”, akan membuat keberbedaan itu, memberi nilai lebih bagi pribadi Anda.

Lebih baik kita berani berbeda. Dan, perbedaan kita dari yang lain, adalah wujud ketekunan kita menjadi LEBIH BAIK. Seorang diri, menjadi lebih baik, di antara banyak orang yang berpikiran nyaris sama tentang suatu hal, lalu keberbedaan Anda, diterima banyak orang dan diterima dunia. Luar biasa, bukan.Mari, gunakan energi Anda menghasilkan perbedaan yang bertenaga. Perbedaan yang bernilai.

“Pengusaha swasta memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dunia. Pengusaha kecil telah merampas multi miliaran dolar dari bisnis besar.”

John Naisbit

Entrepreneurshif

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PENGUSAHA

Definisi Pengusaha

J.B. Say seorang ekonom Peracis pada awal abad 19 dihargai secara umum dengan mengenali bahwa seorang pengusaha dalam masyarakat kapitalis adalah sumbu dan semua hal berbalik. Definisi terkini mengenai seorang pengusaha adalah: Orang yang membentuk ulang atau mevolusir pola produksi dengan memanfaatkan suatu penenmuan atau, secara lebih umum, sebuah kemungkinan teknologis yang belum pernah dicoba untuk rnenghasilkan suatu komoditi baru ataupun memproduksi suatu bentuk lama dengan cara baru. Tindakan ini akan membuka suatu sumber baru yang menyediakan bahan atau outlet baru untuk pro­duk dengan mengorganisir ulang suatu industri


Apakah Anda memiliki atribut-atribut ini?

Pengerahan Diri

Pendisiplinan diri dan secara menyeluruh merasa nyaman bekerja untuk diri sendiri.

Pengasuhan Diri

Antusiasme tak terbatas untuk ide-ide Anda saat tak seorang pun memilikinya.

Orientasi pada Tindakan
Hasrat menyala untuk memujudkan, mengaktualisasikan dan mengubah ide-ide Anda menjadi kenyataan.

Energi Tingkat Tinggi
Mampu bekerja dalam waktu lama secara emosional, mental dan fisik.

Toleransi atas Ketidakmenentuan
Secara psikologis mampu menghadapi resiko

Beberapa isu kritis untuk dipertimbangkan

Kemampuan Sumber Finansial Ketrampilan-Ketrampilan Manajemen
Banyak Kontak Ketrampilan-Ketrampilan Teknis
Ketrampilan Komersial Kemauan untuk mendengar

(Anda temukan urutannya atau tidak. Yang kalah banyak dan itu sangat menyakitkan. Kemenangan yang diraih membuat semuanya layak diperjuangkan. )

Apakah Anda memiliki atribut-atribut ini?

1. Apakah Anda mendambakan keamanan dari kerumunan?

2. Apakah Anda beroperasi berdasar konsensus dan komite?

3. Apakah Anda mau memberi pengorbanan?

4. Apakah Anda merasa nyaman bekerja 6 atau 7 hari, 60-80 jam seminggu?

5. Apakah Anda mudah dikacaukan saat mengerjakan proyek khusus?

6. Apakah Anda siap untuk melakukan lebih dari yang dilakukan pesaing Anda?

7. Dapatkah Anda membuat keputusan penting?

8. Dapatkah Anda mengendalikan diri saat mereka di sekitar Anda tak lagi mampu?

Entrepreneurshif

APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGHADAPI KEGAGALAN


Calon wirausahawan harus siap gagal. Fahamilah makna kegagalan. Tanpa faham filosofi itu, jangan berpikir mau mengambil jalan menjadi wirausaha. Alasannya, ada yang sukses dalam usahanya, ada yang belum berhasil. Pengusaha mengetahui bahwa ”kegagalan” bukan akhir permainan dan tidak boleh takut mengalaminya. Ia menyadari dengan keberanian, bahwa bisa saja mengatasi sesuatu yang tidak mungkin untuk berhasil.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausahawan. Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental menghadapi kegagalan. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!

Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong pengusaha untuk mencoba pendekatan baru yang belum pemah dicoba sebelumnya. Bagi pengusaha sejati, “Berani Gagal” berarti “Berani Belajar”. Dengan gagal dan dengan belajar, pengusaha bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan belajar bagaimana menciptakan kekayaan sejati. Walaupun pengusaha kehilangan kekayaan materi yang telah mereka peroleh, mereka tahu bagaimana menciptakan semua kekayaan itu lagi. Pelajarannya tidak pemah hilang. Sebaliknya, mereka yang tidak pemah mengalami perjalanan yang sulit dan menemukan kekayaan dengan mudah, tidak akan tahu bagaimana menciptakan kekayaan ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka yang tidak gagal tak akan tahu kekayaan sejati.

Gemerlap materi, pada komunitas bahkan kehidupan sosial yang serba benda (materialistis), lebih banyak memperoleh penilaian tinggi. Sebaliknya, siapa pun mengalami kegagalan, sudah mendapat stempel sosial sebagai manusia yang kehilangan harga. The looser dunia usaha, sering menjadi figur yang menghadapi titik balik sikap sosial terhadapnya. Dulu, saat masih jaya, ia banyak rekan dan kolega, setelah gagal dalam usahanya, hampir semua rekan dan kolega yang dulu mendukungnya, menebar senyum ramahnya, bahkan mengajak bermitra, hilang sudah! Akibat cara pandang seperti ini, banyak wirausahawan yang traumatik terhadap kegagalan. Ini, “awal kematian” benih-benih kewirausahaan. Semua pihak harus mengubah sikapnya: doronglah masyarakat menjadi pihak yang turut membangun keberanian banyak orang untuk respek terhadap ikhtiar orang meraih keberhasilan dalam bisnis. Gagal atau keberhasilan, bukan menjadi satu-satunya alasan menghargai atau meremehkan wirausahawan. Tentu, sembari tetap mentransfer sikap-sikap arif, bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran berharga. Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga kegagalan.”

Kita perlu menggalakkan orang untuk berani mengambil resiko. Hal ini membutuhkan pola pikir yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti mengabaikan peraturan yang telah berlaku baik selama 30 tahun lebih.

Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura

Yang Diperlukan Untuk Menghadapi Kegagalan

Ada banyak pembahasan tentang tips menghadapi kesuksesan. Tetapi bagi kami, sama pentingnya, menyiapkan sejumlah hal untuk menghadapi kegagalan! Billy P.S. Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di Malaysia, pernah menanyakan kepada peserta trainingnya tentang satu masalah menarik. ”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?”

Berbagai jawaban diberikan tetapi yang paling sering ialah ”Dia tak dapat berenang.” Yang hadir heran, karena Lim menyalahkan jawaban itu. Yang hadir mengira, Lim bercanda. Untuk menyakinkan mereka, Lim memberi contoh kejadian orang tenggelam di air sedalam tiga inci. Akhirnya, ia memberitahu jawabannya, yang akan ia berikan kepada Anda sekarang. Kami kutip pendapat Lim: ”Orang tenggelam karena dia menetap disitu dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

So? Berapa kali orang jatuh tak jadi soal. Yang penting kemampuannya untuk bangkit kembali setiap kali jatuh.

Ukurannya, Bangkit Lagi

Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan, mendengar bahwa banyak orang seperti mereka, setelah sekali dua kali gagal, memilih untuk menetap di situ dan akhirnya mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.

Apakah kualitas diri kita akan membantu bangkit kembali setelah kita terjatuh? Kualitas diri sendiri adalah sesuatu yang mesti saya sebutkan, karena kalau tidak, makna buku ini tidak sempuma.

”Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Bakatpun tidak; Banyak sekali orang berbakat yang tidak sukses. Kejeniusanpun tidak; Jenius yang tidak sukses sudah hampir menjadi olok-olokan. Pendidikanpun tidak; dunia ini penuh dengan orang terpelajar. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.”

Ya, ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah terjatuh. Dalam benturan antara sungai dan batu, air sungai senantiasa menang bukan dengan kekuatan tapi dengan ketabahan. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering Anda bangkit kembali.

Apabila Anda dapat terus mencoba setelah tiga kegagalan, Anda dapat mempertimbangkan diri untuk menjadi pemimpin dalam pekerjaan Anda sekarang. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda. Seperti Thomas Alfa Edison, saat ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini menjawab,

”Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”

Sungai Colorado mengalir tabah terus-menerus, melahirkan Grand Canyon. Charles Goodyear yang tekun, membuahkan ban yang memungkinkan kendaraaan melaju kencang. Tabahnya Wright bersaudara membuahkan pesawat terbang. Bethoven, mengisi dunia dengan musik inspiratif, John Milton membuahkan karya puisi indah yang menyejukkan hati, perempuan tuna netra yang tegar Helen Keller, memberikan harapan kepada semua orang cacat, ketabahan Abraham Lincoln membuatnya terpilih menjadi presiden. Dan, tentu, Thomas Alfa Edison, memberi kita cahaya listrik. Kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan. Kurang tabah merupakan salah satu alasan orang gagal dalam bisnis, politik, dan kehidupan pribadi.

Setiap orang sukses menyatakan bahwa kesuksesan hanya berada di luar ketika mereka yakin idenya akan berhasil.”

Dr. Napoleon Hill

Menarik Hikmah, Jangan Menyerah

Anda tumbuh menjadi semakin dewasa dan bijaksana. Dulu Anda menanggung kegagalan secara pribadi. Ketika kulit Anda mulai berkerut sejalan dengan perjalanan usia, Anda cenderung belajar dari kesalahan - kesalahan Anda

Cheong Chonng Kong

Secara sederhana, kegagalan adalah situasi tak terduga yang menuntut transformasi dalam sesuatu yang positif. Jangan lupa bahwa Amerika Serikat merupakan hasil dari kegagalan total. Karena Columbus sebenarnya ingin mencari jalan ke Asia.

Eugenio Barba.

Mengantisipasi bencana sejak dini, karakteristik seorang entrepreneur. Jangan biarkan kebanggaan dan sentimen mempengaruhi keputusan-keputusan Anda. Sebuah gagasan gagal, adalah pelajaran ada saat untuk bangkit kembali untuk mengejar target-target Anda berikutnya.

Babe Ruth, pemain baseball terkenal, tidak hanya mencetak 714 home run, namun dia juga pernah luput (strike out) 1330 kali.

Ray Meyer, pelatih bola basket legendaris di DePaul University telah memimpin timnya memenangkan 37 musim, kompetisi. Saat timnya kalah, setelah kemenangannya yang ke-29, dia ditanya bagaimana perasaannya. “Luar biasa!” katanya. “Sekarang kami dapat mengkonsentrasikan diri bagaimana memenangkan permainan daripada memikirkan kekalahan ini.”

Kegagalan, jangan biarkan sebagai sesuatu yang final. Entrepreneur sejati, memandang kegagalan sebagai awal, batu loncatan untuk memperbaharui kinerja bisnis mereka di masa mendatang. Pemimpin tidak menghabiskan waktunya memikirkan kegagalan.

Untuk memicu kesiapan mental Anda, kita belajar dari cerita tentang seorang eksekutif IBM yang memiliki prospek cerah. Ia baru saja melakukan kesalahan transaksi yang merugikan perusahaan jutaan dollar. Thomas J. Watson, pendiri IBM, memanggil eksekutif muda itu ke kantornya. Spontan eksekutif itu berkata.

“Saya tahu Anda pasti meminta saya mengundurkan diri, bukan?”

”Anda tidak perlu cemas. Kami baru saja mengeluarkan jutaan dolar untuk mendidik Anda!” Begitu jawab Watson.

***

Perusahaan seperti milik kami harus menciptakan suasana di mana orang-orang tidak takut mengalami kegagalan. Ini berarti kami menciptakan sebuah organisasi dimana kegagalan tidak hanya ditoleri tetapi ketakutan dikritik karena menyampaikan gagasan bodoh juga dihilangkan. Jika tidak, maka banyak orang yang merasa cemas dan tidak nyaman. Dan gagasan-gagasan brilian yang sangat potensial tak akan pemah terucapkan dan tak akan pemah terdengar. Kegagalan masih bisa ditolerir selama itu tidak menjadi kebiasaan.

Michael Eisner, Walt Disney Corp.

Jadi? Ya, gagal bukan kiamat bisnis, tapi jangan kelewatan. Apalagi menjadi “kebiasaan”. Kerjakan yang mampu dilakukan, semakin terbatas sumber dana, Anda patut semakin bijaksana. fahami, kapan harus meminimalisasi kerugian.

Bila Jatuh, Cepatlah Bangkit

Di dunia kerja, yang disebut masalah sesungguhnya adalah kesempatan yang menunggu, dipungut.

Henry J. Kaiser

”Bagi saya pribadi, krisis Asia telah berakhir pada saat dimulainya persaingan untuk mendapatkan hotel Regent Bangkok pada bulan Maret 1999. Setelah melewati masa-masa sulit selama dua tahun sebelumnya, mendadak saya memutuskan mengikuti lomba balap Ferari di Perancis serta bersaing di ring dengan Goldman Sachs Co., salah satu bank investasi terbesar dunia.”

William E. Heinecke, konglomerat Thailand

Pembaca, saat banyak konglomerat bangkrut dan bank-bank mengalami kegagalan di Thailand, tujuh hotel milik Heinecke, restoran siap saji dan perusahaan lainnya terus berusaha keras keluar dari krisis serta berusaha mendulang keuntungan di tahun 1998. Meskipun banyak analis meramalkan tentang pertumbuhan ekonomi pada tahun 1999 dan menguji Baht Thailand, tidak banyak perusahaan yang bisa menandingi kemampuan kerja kelompok bisnis Heinceke.

Fantastis, hotel Heinecke mengalami kenaikan 24%, 246 restoran kelompok bisnisnya menarik lebih dari tak kurang dari lima juta pelanggan! Pada tahun 1997 kelompok perusahaan Heineke mengalami kerugian 1 milyar baht, tetapi setahun kemudian tiga perusahaannya yang telah go public, mendapatkan keuntungan bersih 500 juta baht, pada triwulan pertama tahun 1999, keuntungannya lebih banyak lagi.

Belum yakin, kegagalan, hanyalah sebuah tikungan tajam yang menuntut ”kendaraan” usaha, sedikit mengurangi kecepatan, lalu di depan, begitu melihat ”jalan mulus peluang”, Anda bisa menebusnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bisnis Heinecke di Thailand, saat ini benar-benar telah pulih.

Regent Bangkok, salah satu hotel terbesar di Asia, tingkat huniannya tetap tinggi. Saat itu, Regent di bawah kontrol beberapa perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan manajerial seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya di Thailand sehingga mereka berusaha untuk menjual saham Regent. Regent dimiliki oleh Rajadamri Hotel Company yang kemudian 32% sahamnya dimiliki oleh sebuah perusahaan Jepang yang telah bangkrut yang diwakili oleh sebuah bank Jepang yang cukup besar.

Masih ada lagi faktor lain yang lebih penting. Rajadamri Hotel Company juga memiliki 26% saham hotel bintang lima milik Heinecke, di Thailand Utara, Regent Chiang Mai. Heineke enggan menjualnya pada orang asing karena ia tak ingin ada orang asing menguasai tanah keramat itu. Bagi Heinecke, ikut ambil bagian dalam kepemilikan saham Regent Bangkok yang dijual pada awal tahun 1999 merupakan tindakan yang tepat, setelah sebelumnya ia sudah memiliki saham Regent hampir 29%.

Apa kata Heineke tentang pelintasan bisnisnya yang penuh tikungan di masa krisis ini?

“Ini adalah persaingan dimana saya harus mengeluarkan segala strategi dan kemampuan yang telah saya pelajari : mempercayai intuisi, menggunakan jaringan kerja kontrak yang mapan, menggunakan sejumlah pakar dan merencanakan strategi-strategi dalam situasi yang selalu berubah cepat jika diperhatikan, persaingan ini merupakan mikrokosmos semua strategi. Saya berusaha menguji kemampuan saya dengan lawan-lawan yang benar-benar tangguh. Goldman Sachs, salah satu grup investasi terkuat di dunia ini, merupakan pemegang saham individu terbesar Regent Bangkok, tapi itu tidak berarti bahwa mereka bisa berbuat sesuka hatinya. Saya kira bagi seorang yang tidak lulus perguruan tinggi, hasil seperti ini sudah cukup memuaskan”.

Bila Semuanya Gagal

Tekun, mengerahkan segenap daya, dan masih gagal juga. Apa yang harus kita lakukan?

Saat gagal menimpa, kendati lelah dan kecewa berat, jangan matikan energi kreatif Anda. Tetaplah berpikir kreatif. Sempurnakan produk yang ada, atau hasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan.

Jangan terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki, yang terlalu lama bersandar pada lingkungan di mana kita dibesarkan atau selama ini bergulat. Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang dinginkannya di bidang tersebut.

Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat daripada yang lain. Sebagian kurang berisiko tetapi lebih lambat daripada yang lain.

Saran kami, janganlah terlalu kaku mengatakan bahwa Anda tidak bisa berubah. Kami sendiri, kerap berubah seiring dengan perkembangan in put dan stimulasi kondisi di sekitar kami. Tanpa itu, bagaimana mungkin kami menyusun sebuah buku, memberi pencerahan bagi banyak orang?

Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan dan kita mesti menyesuaikan segala keterampilan dan bakat yang tidak kita peroleh dari bidang-bidang usaha di masa lalu. Lalu? Salurkan kekuatan itu di bidang usaha yang baru. Mungkin, kita dipaksa mempelajari keterampilan baru, sebagai konsekuensi menghadapi tantangan serba-baru itu.

Pernahkah Anda bertanya bagaimana orang Jepang bangkit kembali dari kehancuran PD II untuk menjadi pengusaha ekonomi yang unggul saat ini? Dulu, produk Jepang sempat dinilai murahan, tidak berkualitas, dan stigma jelek lainnya. Tapi sekarang, sulit bagi kita untuk hidup tanpa barang-barang buatan Jepang di dalam rumah kita. Ini tidak hanya berlaku di Negara kita saja, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Orang-orang Jepang tidak menciptakan mobil. Tidak juga kamera, kulkas, televisi, AC, mesin cuci, penghisap debu, film atau system perangkat audio berkualitas tinggi. Mereka tidak menciptakan banyak benda. padahal yang mereka lakukan ”hanyalah” meniru.

Hakikat :peniruan ala Jepang”, sarat pesan penting bagi calon entrepeneur. Di sana ada proses penyempumaan tanpa kenal lelah, sampai akhirnya ”tiruannya” lebih baik dari aslinya! Mereka menggunakan ”kreativitas” untuk menyempumakan barang yang sudah ada. Tak ada yang membantah, Jepang meraih suksesnya. Kultur entrepreneurship tumbuh subur di sana, menyebar menguasai dunia.

Jika Anda menyadari bahwa Anda tidak berhasil mencapai tujuan Anda pada suatu pekerjaan di mana Anda telah dilatih untuk melakukannya, latihlah atau lengkapi diri Anda dengan pekerjaan yang memberi peluang meraih yang lebih baik di masa depan. Janganlah gantungkan diri Anda pada satu keterampilan saja. Sebagai manusia, Tuhan memberi kita kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru dan menerjuni bidang usaha lain. Jangan ”hidup-mati” Anda gantungkan pada satu bidang saja. Orang lain bisa sukses. Anda tentu juga bisa. hanya saja, ada yang lekas tercapai, ada yang masih berliku.

”Jangan malu karena gagal, …seperti Christopher Colombus.”

”Ketahuilah apa yang akan Anda lakukan, lakukanlah dan jangan menunda kembali. Jika Anda membuat kesalahan, buatlah kesalahan yang hebat. Seperti orang yang sampai di persimpangan jalan dan bertanya,”Arah manakah yang perlu saya tuju, arah sana atau sini?” Pergi saja! Pilih satu arah dan pergilah. Unsur masa itu pasti ada. Segala sesuatu mempunyai waktu dan tempat yang wajar.”

Gum Rutt

Tengok kiri-kanan Anda. Produk Cina, membanjiri negeri ini. Bayangkan, seperti apa sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang? Akankah ini kita terima sebagai ”keharusan ekonomi”? Tidakkah Anda mulai berpikir hal yang sebaliknya? Anda bisa!

Jumat, 06 Juli 2007

RESENSI BUKU

Judul buku : Manajemen Penelitian

Penulis : Prof Dr Suharsimi Arikunto

Penerbit : Rineka Cipta, Jakarta

Cetakan : VII, April 2005

Tebal : xiv + 504 halaman; 23 cm

Bidang penelitian dewasa ini mendapat prioritas terutama bagi mereka yang menginginkan penemuan-penemuan atau hal yang baru. jika ditelaah lebih jauh, kegiatan penelitian dan segenap unsur yang terkait baik administrasi maupun metode-metode yang digunakan adalah kunci keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan yang diteliti tersebut.
Bab-bab yang dibahas dalam buku ini adalah sama pentingnya antara satu dengan bab lainnya. namun apabila seorang peneliti ingin mengetahui hasil dan kegiatan penelitiannya, maka seorang peneliti hendaklah menggunakan metode-metode yang sudah ada dan hasilnyapun harus dapat dipertanggungjawabkan.
Mengingat pentingnya kegiatan penelitian di Lembaga pendidikan dan pengembangan, maka buku ini kirany dapat dijadikan sebagai referensi atau pedoman teoritis. disamping itu, sejalan dengan SK Menteri apratur Negara No 26 tahun 1989 yang memberikan kesempatan kepada guru untuk kenaikan pangkat berdasarkan angka kredit, maka buku ini sangat membantu nereka dalam mengisi butir kegiatan penelitian. Dengan demikian semua guru, mahasiswa tingkat akhir bisa menggunakan buku karya ahli penelitian ini dan kualitas buku karya Pak Suharsimi ini tidak diragukan sederhana tapi bisa diikuti, bahkan saya menjadikan buku wajib perkuliahan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah metode penelitian, selamat mencoba.







Mengutip sebagian atau keseluruhan isi blog ini ke blog Anda dipersilahkan ASAL menyebut URL sumber tulisan dan/atau permanent link artikel yg dikutip.

Berbarengan Mendekati Konsumen

Gerai Indomaret dan Alfamart banyak menguasai tempat-tempat strategis di sekitar perumahan, pemukiman, dan perkantoran. Gerai keduanya pun banyak berdempetan. Kok bisa?

Pertumbuhan minimarket di Tanah Air cukup fantastik sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan waralaba tahun 1997. Perkembangan minimarket tersebut tidak lepas dari konsep yang ditawarkan para perancangnya yang berusaha mendekati konsumen. Setidaknya, ada dua nama yang terus berkibar dan saling bersaing merebut pasar, yaitu Indomaret dan Alfamart. Berdasarkan data Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) per Juni-Juli 2004, gerai Indomaret mencapai 842 unit sejak didirikan tahun 1998. Sedangkan Alfamart yang didirikan tahun 1999 telah mempunyai 669 gerai.

Menurut Ignatius Didit Setiadi, PR Manager PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), potensi bisnis mimimarket masih sangat besar. Sebagai gambaran, di Jepang perbandingan antara jumlah minimarket dengan total populasi mencapai 1:15.000. Artinya, satu minimarket melayani 15.000 orang. Di Singapura rasionya 1:13.000, sementara di Indonesia 1:35.000. “Dengan rasio seperti itu, bisa dibayangkan besarnya potensi minimarket di Indonesia,” kata Ignatius.

Besarnya pasar minimarket menjadikan dua pemain utama, Indomaret dan Alfamart, semakin mengukuhkan sayapnya di bisnis ini. Seperti Indomaret, Alfamart juga berusaha mendekatkan diri ke konsumen lewat tempat-tempat potensial dari sisi kelayakan bisnis. Hingga saat ini, Alfamart masih melebarkan sayap di Jabotabek, Bandung, Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal yang sama juga disasar oleh Indomaret.

Persaingan keduanya terlihat makin sengit ketika banyak dijumpai gerai mereka yang berdempetan. Di mana ada Indomaret, di situ ada pula Alfamart. Adakah ini menjadi concern dari masing-masing pemain? Menurut Ignatius, pihaknya tidak bersaing dengan cara seperti itu. Yang pasti, katanya, pertimbangan Alfamart dalam memilih lokasi adalah potensi bisnisnya. Menurutnya, lokasi potensial yang dipilih berdasarkan kalkulasi kalau jalan 5 menit dapat 50 rumah. “Kalau kebetulan ada yang berdempetan dengan kompetitor, itu kebetulan saja,” ungkapnya.

Sayangnya, ketika dihubungi, pihak Indomaret yang diwakili oleh PR Manager PT Indomarco Prismatama, A Nenny K, enggan memberi komentar. “Maaf dengan menyesal, kami belum dapat memenuhi permintaan Anda. Mudah-mudahan di lain kesempatan,” kilahnya.

Namun begitu, terlihat bahwa pemilihan lokasi toko mereka dibuat berdasarkan sasaran ke kawasan perumahan, pemukiman, dan perkantoran. Target lokasi inilah yang menjadikan keduanya sering berdempetan.

Tak bisa dimungkiri, persaingan itu memang terlihat dan menjadi sesuatu yang rasional. Misalnya, persaingan keduanya dari sisi layanan. Alfamart tidak hanya menjadikan gerai-gerainya sebagai tempat belanja belaka, tapi juga menawarkan layanan dan kualitas produk. Sebagai contoh, Alfamart menyediakan member card yang memungkinkan anggotanya mendapatkan harga khusus dan layanan personal seperti hadiah ulang tahun. Minimarket ini pun mewajibkan karyawannya melakukan “tatap, senyum, sapa” untuk menjadikan “belanja puas, harga pas” sebagai trade mark Alfamart.

Hal serupa juga tampaknya dilakukan Indomaret. Dengan konsep layanan yang nyaris sama, Indomaret diperkirakan mampu menggaet omzet penjualan dari masing-masing gerai sekitar 10 juta per hari. Dari situ, setiap bulan mereka mampu meraup laba Rp 300 juta. Keuntungan itu belum termasuk pajak dan pembayaran royalti.

Plus minus
Pengamat pemasaran dari Arrbey Indonesia, Handito Hadi Joewono, mengungkapkan, kedekatan sejumlah gerai dari masing-masing pemain merupakan hal biasa sebagai strategi bisnis. Namun, menurutnya, yang menarik dari keduanya adalah latar belakang pendirian dari minimarket dari kedua pemain tersebut. Handito menuturkan, Indomaret didirikan (ketika itu masih grup Salim) dengan tujuan untuk memudahkan penetrasi pasar dari produk-produk Salim Group ke konsumen. Jadi tujuannya waktu itu lebih menyangkut coverage atau distribusi. Sementara Alfamart, yang dimiliki perusahaan rokok Sampoerna, lebih kepada pengembangan bisnis karena distribusi rokok Sampoerna sudah terbilang profesional. Artinya, tidak dimaksudkan untuk mengembangkan distribusi produk sendiri.

Dengan perbedaan latar belakang itu, maka kekuatannya pun berbeda. Menurut Handito, Indomaret lebih kuat di otletnya, di mana tampilan tokonya lebih bagus, lebih terurus, dan item produknya lebih diperhatikan. Sedangkan Alfamart dari sisi gerai tidak sebagus kompetitor. Alfamart, tegas Handito, lebih menekankan kepada bagaimana mengelola supply chain sehingga menjadi tangguh. “Ini menjadi kekuatan Alfa di masa depan dalam menghadapi goncangan,” katanya. (Tajwini Jahari/Rofian Akbar/Majalah Marketing Oktober 04)

Ganti logo: Berharap Berubah

Logo memiliki peran yang sentral dalam mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan. Oleh karena itu, ketika nilai-nilai tersebut sudah tidak dapat dikedepankan oleh logo tersebut, mau tidak mau harus diganti.

Betapa tidak enaknya bekerja di perusahaan yang memiliki imej buruk di masyarakat. Sekalipun kita telah bekerja dengan penuh dedikasi, toh masyarakat melihat kita termasuk bagian dari sebuah institusi yang buruk.

Perasaan ini juga yang dirasakan oleh para petinggi BNI. Merasa membawa “kapal” yang berkesan tua dan sarat penyakit di dalam, manajemen BNI akhirnya sepakat untuk melakukan perubahan logo korporat mereka. Apalagi bank yang sedikitnya memiliki 7 juta nasabah ini baru terkena isu tidak sedap soal pembobolan kredit perbankan. Dengan kejadian ini, apa mereka masih sanggup mempergunakan logo kapal layar sebagai simbol kekuatan dan kepercayaan?

Akhirnya, mereka menempuh waktu empat bulan, waktu yang sebenarnya cukup singkat, untuk mengambil tindakan pergantian ini. Logo yang semula bergambar perahu layar dengan warna hijau diganti dengan warna oranye pada kotak tulisan 46 dan hijau pada tulisan BNI.

Perubahan internal dan eksternal pun dilakukan oleh Excelcomindo. Perusahaan telekomunikasi yang memiliki sekitar 4 juta pelanggan selular ini mencoba menampilkan citra pelayanan yang lebih baik dan peningkatan kemampuan teknologi yang dimiliki. Perbaikan tersebut kemudian dikomunikasikan kepada khayalak melalui perubahan logo.

Tidak hanya di Indonesia, pertengahan September lalu Xerox Corporation di AS mengganti logonya yang baru berusia 10 tahun. Menariknya, logo baru ini lebih berkesan tulisan biasa dibandingkan logo lama yang berkesan digital dan high tech. Seperti dilansir di banyak media di sana, Kara Choquette, juru bicara Xerox mengatakan bahwa logo lama Xerox yang bersimbol huruf X ternyata dianggap sudah tidak dapat memperkuat jasa layanan Xerox yang sudah semakin beragam. Untuk kembali memperkuat awareness merek ini sebagai perusahaan konsultan, jasa manajemen dokumen dan teknologi digital, mereka kemudian mengembalikan kata “Xerox” ke dalam logo korporat.

Cermin nilai-nilai baru
Selalu saja yang namanya “baru” menyimpan sebuah optimisme ke depan. Demikian pula dengan penggantian logo perusahaan, terasa ada semangat baru yang ingin dikedepankan. Tidak hanya sign board, kop surat atau tanda-tanda perusahaan lain yang baru. Visi perusahaan pun ikut diubah seiring dengan pergantian tersebut.

Cermin dari pembaharuan itu terlihat dari komponen-komponen logo tersebut seperti warna, bentuk, dan tulisan. Meski banyak orang yang tidak menyadari hubungan antara komponen logo tersebut dengan semangat baru perusahaan, namun kenyataannya sebuah logo seringkali merangsang penglihatan kita untuk mencari tahu apa yang ada di balik logo tersebut. Dalam sebuah literatur pernah ditulis bagaimana 150 orang responden tidak dapat menggambarkan sebuah perusahaan dengan kata-kata, namun kemudian ketika diberikan sebuah logo, ternyata kebanyakan responden dapat mendeskripsikan dengan mudah perusahaan tersebut.

Sayangnya banyak perusahaan juga yang tidak peduli dengan logo. Apalagi untuk perusahaan-perusahaan berskala kecil, logo sekadar menjadi identitas dan penyederhanaan dari merek. Desain logo diserahkan kepada desainer yang tidak memahami nilai-nilai perusahaan dengan baik.

Tidak semua perusahaan memang memahami cara mengembangkan merek dengan baik. Kalaupun mau berkonsultasi dengan pakar, mereka harus keluar biaya yang tidak sedikit. Tidak cukup melalui konsultan lokal, kadang-kadang konsultan luar pun harus dipergunakan untuk sekadar berpikir tentang desain logo. Excelcomindo Pratama misalnya, harus mengelurkan sedikitnya 1 miliar rupiah untuk mengganti logo mereka lewat tangan konsultan asing dari Australia, Cornwell Brand. Prosesnya pun tidak sebentar karena memakan waktu berbulan-bulan.

Bagian dari identitas merek
Apa yang membuat perusahaan-perusahaan tersebut mengeluakan dana yang demikian besar untuk mengganti logo? Apakah sebuah logo mampu menentukan keberhasilan perusahaan?

Memang belum ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan antara kegagalan perusahaan dengan kesalahan mendesain logo, tetapi apa yang dilakukan oleh BNI ataupun Xerox Corporation menunjukkan kekhawatiran manajemen perusahaan akan dampak jangka panjang yang mungkin bisa terjadi jika mereka mempertahankan logo lama. Xerox Corporation cemas bahwa publik tidak akan mengenali Xerox sebagai perusahaan yang telah mengembangkan berbagai jasa tambahan baru jika tetap mempergunakan logo “X”. BNI merasa logo yang lama kurang dapat memenuhi nilai-nilai baru yang ingin dikembangkan. Akan halnya produk, banyak produk yang mengganti logo sebagai bagian dari upaya relaunching. Hal ini dikarenakan produk mereka sudah sulit bertahan di pasar sehingga dengan menciptakan logo baru diharapkan konsumen merasakan sesuatu yang baru dan membuat produknya tidak jadi mati.

Logo sendiri sebenarnya hanya sebagian dari strategi menciptakan ekuitas merek yang kuat. Seperti dikatakan oleh Jovan Tay, Director Brandz, penciptaan logo sebenarnya hanya sebagian dari upaya penciptaan identitas merek. Konsultan merek yang berlokasi di enam negara di Asia ini kini masuk ke pasar Indonesia dengan pertimbangan bahwa pengembangan merek di Indonesia (termasuk di Asia) terbilang belum canggih. Apalagi jika berkeinginan untuk menjadi merek global. Menurut Jovan, merek tidak bisa dibangun secara sembarangan dan logo sendiri sebenarnya hanya sebagian dari output yang dihasilkan dari kegiatan membangun merek.

Dilihat dari kerangka kerja yang dikembangkan oleh Aaker, identitas merek pada dasarnya terbagi menjadi dua lingkaran. Pertama lingkaran dalam yang disebut sebagai “core identity”. Core identity merupakan esensi dari merek yang bersifat jangka panjang dan konstan. Sekalipun merek masuk ke pasar yang baru atau menciptakan merek yang baru, core identity tidak akan berubah. Ia adalah jiwa, nilai-nilai atau kepercayaan yang dimiliki oleh merek tersebut seperti misalnya kepercayaan, kuat, inovatif, kualitas, dan lain-lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan extended Identity adalah elemen-elemen yang memberi gambaran atau cerminan di mana merek tersebut berdiri. Unsur dari extended identity ini bermacam-macam, mulai dari produk, packaging, slogan, karakter, personality sampai dengan logo. Kerangka ini selagi lagi mendukung apa yang dikatakan Jovan bahwa logo hanya sebagian perluasan core identity, atau bisa dibalik bahwa logo merupakan output yang dibangun dari core identity perusahaan. Itulah sebabnya, membuat logo tidak semudah mendesainnya.

Logo memang menanggung beban yang tidak mudah. Sebagai sebuah penyederhanaan dari simbol perusahaan atau produk, logo harus memiliki arti dan dapat diingat. Logo harus dapat menciptakan memory, opini atau rumor. Wing Loke, Founder dari Synzygon, perusahaan konsultan merek, mengatakan bahwa logo itu ibarat kita mengenakan pakaian. Dengan pakaian, kita ingin menampilkan siapa diri kita. Oleh karena itu ketika mempergunakan logo kita mempergunakannya untuk publik dan bukan untuk pribadi.

Logo juga harus dapat mengkomunikasikan apa yang harus dikomunikasikan. Seringkali, logo justru bertolak belakang dengan apa yang harus dikomunikasikan. Misalnya saja, sebuah perusahaan ingin dikenal sebagai perusahaan yang inovatif, tetapi logonya terkesan kuno. Hal ini berakibat sulitnya merek tersebut dipahami oleh orang yang belum mengenalnya.

Keuntungan dengan adanya logo memang bermacam-macam. Logo bisa menyederhanakan nama perusahaan yang panjang. Contohnya adalah Garuda Indonesia yang dilambangkan dengan simbolisasi burung garuda, Bank International Indonesia dengan logo huruf BII atau Integrated Business Machine dengan logo huruf IBM. Di Inggris, National Westminster Bank juga mempergunakan lambang segitiga untuk mewakili nama mereka yang panjang. Logo juga bersifat non verbal sehingga dapat diperbaharui sepanjang waktu, diaplikasikan pada berbagai jenis produk, dan yang penting, diterima oleh berbagai budaya. Lebih hebat lagi, logo bisa berfungsi ketika merek mengalami banyak rintangan. Contohnya ketika rokok dilarang beriklan, perusahaan rokok menyiasatinya dengan menaruh logo mereka di mana-mana.

Salah pengaplikasian
Sayangnya, logo yang telah dibangun dengan susah payah sering tidak berarti banyak ketika sudah diaplikasikan. Budiman Santoso, Dosen IPMI dan juga seorang pengusaha, pernah mengeluh kepada MARKETING tentang sulitnya mempertahankan konsistensi dalam logo di Indonesia. Dia mencontohkan bagaimana sebuah bank memiliki logo yang baik, namun ketika diterapkan pada sejumlah bidang seperti ATM, buku tabungan, iklan dan lain-lain, warnanya bisa berbeda-beda dan tidak keruan. Melihat fenomena semacam ini, Budiman pun siap bermitra dengan konsultan merek dari luar yang juga akan merambah pasar di Indonesia, yakni Brand Nation.

Kenyataan ini menunjukkan sekali lagi bahwa pasar untuk para konsultan merek di Indonesia memang masih sangat besar. Daniel Surya dari Landor memperkirakan ada lebih dari 10 konsultan merek yang muncul di Indonesia. Pemicunya adalah kesadaran perusahaan-perusahaan di Indonesia tentang pentingnya membangun merek. Jadi jangan heran jika beberapa tahun ke depan banyak perusahaan di Indonesia mulai mencoba untuk berganti logo. Seringkali perubahan lingkungan dan tantangan yang harus dihadapi perusahaan membuat perusahaan harus memikirkan ulang strategi merek mereka (termasuk pula logo).

Apakah logo memiliki tren tertentu? Banyak desainer logo, termasuk pula Iwan Ramelan tidak melihat bahwa logo harus mengikuti tren. Namun demikian, memasuki abad 21, sering kita melihat banyak perusahaan cenderung mempergunakan simbol bulat sebagai representasi globalisasi. Dalam buku Strategic Brand Management misalnya, Keller mengatakan bahwa tren logo di awal tahun 80-an cenderung abstrak dan logo-logo kini justru lebih sederhana. Namun demikian, dalam implementasinya, logo yang berbentuk abstrak seringkali kehilangan arti dan kekuatannya.

Penggantian logo korporat sendiri menurut Wing Loke adalah sebuah tren yang muncul dewasa ini. Dahulu merek hanya dilekatkan pada produk, kini perusahaan pun mulai mengembangkan mereknya. Salah satu bentuknya adalah dengan pergantian logo. Seiring dengan proses merger dan akuisisi yang banyak dilakukan, akhirnya juga membuat kebutuhan akan logo baru sangat diperlukan.

Memang tidak ada resep yang mengatakan bahwa perusahaan bisa berhasil jika berganti logo. Arthur Andersen ketika berubah menjadi Andersen dan mengganti logo ternyata akhirnya pun collapse. Perubahan logo tidak akan berarti apa-apa apabila perusahaan tidak menjalankan nilai-nilai yang dimiliki perusahaan dengan baik. Tetapi setidaknya para pemasar bisa sepakat bahwa logo memiliki kekuatan sebagai alat komunikasi yang baik bagi target pasar. Oleh karena itu, menciptakan maupun menjaganya adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh para pemasar.(Majalah Marketing November 04)

Harga Boleh Dipangkas, Tidak Dengan Kualitas

Beberapa perusahaan menerapkan pelayanan istimewa kepada “konsumen pareto”. Bagi perusahaan seperti ini, meski jumlahnya kecil, namun sumbangan mereka pada pendapatan perusahaan jauh lebih besar daripada konsumen kebanyakan. Lantas, bagaimana dengan konsumen kebanyakan?

Jika kini Sari Husada dikenal dengan produk-produk yang terjangkau oleh kalangan menengah-bawah, ada sejarah yang melatarinya. Saat didirikan lima puluh tahun yang lalu di Yogyakarta, perusahaan ini memang didedikasikan pemerintah dengan dukungan Unicef untuk membantu masyarakat Indonesia keluar dari masalah kekurangan gizi. Misi awal perusahaan itu terbawa hingga kini.

Tonggak kedua adalah ketika krisis mulai menghajar negeri ini. Gara-gara harga kebutuhan pokok melejit, daya beli masyarakat anjlok drastis. Jangankan beli susu, untuk mendapatkan beras saja mereka mesti kerja keras. Banyak ibu menyusui yang tidak lagi mampu memberikan susu pada bayinya. Kalau pun mampu, ibu-ibu itu memperbanyak air sehingga susu menjadi encer. Tragisnya, malah ada yang terpaksa menggantikan susu itu dengan air hasil mencuci beras. Padahal, bayi mereka amat membutuhkan asupan ASI.

Tergerak oleh situasi seperti itulah Sari Husada melakukan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tindakan nyata itu berupa penurunan harga produk-produknya. “Itu merupakan komitmen kami terhadap perkembangan anak dan ibu hamil,” cetus Jenny Go, Marketing Director PT Sari Husada Tbk kepada MARKETING.

Komitmen itu dipegang sampai sekarang, bahkan ketika kondisi ekonomi mulai sedikit membaik. Saat kompetitor menaikkan harganya, kata Jenny, tidak demikian dengan Sari Husada. Kalau pun naik, harga yang baru ini hanya “mengembalikan” harga sebelum pemotongan.

Diakui Jenny, sejatinya penurunan harga tersebut tidak menyelesaikan masalah lesunya daya beli masyarakat. Strategi ini hanya sebentuk upaya untuk membantu masyarakat menjangkau produk yang memang mereka butuhkan. Ada yang lebih penting, yakni bahwa kendati pun harga turun, tidak demikian dengan kualitas.

“Memang, masyarakat kalangan ini tidak terlalu menuntut macam-macam pada produk yang mereka beli. Yang penting mereka mampu menjangkau. Namun, kami tetap harus memperhatikan kualitas,” tegas Jenny. Ia perlu menegaskan pernyataan itu mengingat acap terdengar tudingan bahwa produk murah seringkali tidak berkualitas. Penghasil SGM, Lactamil, dan Vitalac ini ingin membuktikan sebaliknya. Bahwa kendati murah, untuk kalangan kebanyakan, kualitas tetap diutamakan. Lima sertifikasi internasional dikantonginya sebagai sebentuk pengakuan atas kualitas tersebut. Di luar itu, beberapa organisasi seperti IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), POGI (Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia), dan IBI (Ikatan Bidan Indonesia), mereka ajak bekerja sama sebagai semacam “key-spoke person” kualitas produk yang akan dikonsumsi masyarakat.

Bentuk lain pelayanan mereka adalah lewat call center. Mystery Shopping MARKETING, pada awal tahun ini pernah menguji call center mereka. Dan memang petugas penerima telepon menjelaskan dengan baik pertanyaan dan keluhan yang diajukan. Namun, mengingat persebaran konsumen Sari Husada yang merata di seluruh Tanah Air, tidak semua dilayani lewat call center. Sebab, sebagian besar masyarakat belum dijangkau layanan sambungan telepon. Nah, kepada mereka ini ditawarkan media lain, yakni surat-menyurat atau kunjungan berupa seminar dan simposium.

Secara keseluruhan, papar Jenny, setiap maksimal tiga tahun sekali diadakan “penyegaran” terhadap setiap produk. Bukan hanya pembaruan packaging atau pemunculan produk baru –sesuai tuntutan life cycle produk jenis ini, melainkan juga penyesuaian formula atas kebutuhan masyarakat seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Semua ini menunjukkan, kendati bukan “konsumen pareto”, konsumen seperti ini tetap membutuhkan pelayanan yang baik.(AA Kunto A, Marketing edisi Agustus 04)


Hospitel, Hospital Dengan Servis Hotel

Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, experience apa yang mereka tawarkan?

Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia.

Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.

Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-red) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.

Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital.

Rumah sakit ini terletak di North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di lobby dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.

Menurut General Manager Corporate Services Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “Hospital with hotel services,” terangnya.

Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat customer based. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama.

Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter & secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.

Saking pengen membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah traveling dan… shopping! Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning & visitor information”. Mau city tour?Free of charge. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat check in di hotel setibanya mereka di sana, disediakan locker room yang dapat memuat tas ukuran besar. Gampang. Bisa mereka atur.

Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.

Pelayanan yang sangat customized ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai the very important person. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah experience-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana.

Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, travel agent yang sukses membuat paket medical check up di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan Tourism Awards dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…(AA Kunto A, Majalah Marketing November 04)

Hospitel, Hospital Dengan Servis Hotel

Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, experience apa yang mereka tawarkan?

Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia.

Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.

Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-red) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.

Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital.

Rumah sakit ini terletak di North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di lobby dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.

Menurut General Manager Corporate Services Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “Hospital with hotel services,” terangnya.

Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat customer based. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama.

Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter & secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.

Saking pengen membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah traveling dan… shopping! Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning & visitor information”. Mau city tour?Free of charge. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat check in di hotel setibanya mereka di sana, disediakan locker room yang dapat memuat tas ukuran besar. Gampang. Bisa mereka atur.

Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.

Pelayanan yang sangat customized ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai the very important person. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah experience-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana.

Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, travel agent yang sukses membuat paket medical check up di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan Tourism Awards dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…(AA Kunto A, Majalah Marketing November 04)

Iklan Produk Turun-temurun

Kepercayaan terhadap kualitas produk menjadi salah satu daya tarik paling mujarab bagi konsumen. Cara yang efektif bisa ditempuh lewat iklan heritage.

“Sudah tradisi...” Demikian kalimat yang dipergunakan oleh biskuit Roma dalam setiap iklannya. Kalimat itu menjadi penguat bahwa produk tersebut sudah dikonsumsi sejak lama dan turun-temurun, mulai dari kakek-nenek, ibu-bapak, hingga cucu atau cicit. Kalimat itu juga mendorong konsumen untuk percaya terhadap kualitas produk karena dikonsumsi terus menerus sejak zaman baheula. Cara yang ditempuh Roma lewat iklan tersebut adalah mewarisi produk kepada turunannya untuk terus dikonsumsi. Inilah yang disebut iklan heritage.

Umumnya, brand heritage dipakai oleh produk jamu. Hal itu sesuai dengan sifat produk jamu yang merupakan warisan yang diturunkan dari nenek moyang. Salah satu contoh paling konkrit adalah perusahaan jamu Nyonya Meneer yang berkembang hingga sekarang karena warisan resep yang diturunkan oleh pendirinya. Produk jamu itu kemudian dipercaya konsumen karena kekuatan warisan (heritage) resep nenek moyang tadi. Lihat saja, logo perusahaan ini yang hingga kini menggunakan foto Nyonya Meneer.

Belakangan, banyak pemain yang menempatkan produknya sebagai brand heritage. Beberapa langkah bisa menjadi acuan dalam menciptakannya. Tapi, satu syarat yang pasti harus dimiliki; produk tersebut harus sudah lama dikenal oleh konsumen.

Menurut Doni Prianto, pengamat periklanan dari Avicom, setidaknya ada tiga cara yang bisa ditempuh untuk mengenalkan produk sebagai brand heritage. Pertama, menggunakan orang yang sudah establish. Maksudnya, menggunakan endorser yang sudah dikenal oleh khalayak konsumen sebagai orang yang kuat untuk mengajak kepada produk yang bersangkutan. Kedua, memakai event seperti lebaran atau perkawinan. Dan ketiga, menggunakan kata tradisi.

Salah satu contoh yang masih anyar mengkomunikasikan brand heritage adalah Woods. Produk yang masuk ke pasar Indonesia sejak 1905 itu menggunakan keluarga penyanyi Katon Bagaskara sebagai endorser. Dalam iklan tersebut, terlihat keluarga harmonis terdiri dari Katon Bagaskara, Nugie dan sang Ibu yang menggunakan Woods jika batuk.

Arwin Hutasoit, Brand Manager PT Kalbe Farma, mengatakan bahwa pihaknya mengusung tema iklan brand heritage sekaligus bertujuan untuk menyampaikan dua jenis penyakit batuk yang obatnya disediakan Wood. “Kami coba mengangkat dalam iklan bahwa Woods ini sudah terbukti dan sudah lama, turun temurun, digunakan oleh konsumen Indonesia,” papar Hutasoit.

Alasan memilih keluarga Katon menurutnya terjadi secara kebetulan. Awalnya, Kalbe Farma bersama agensi Dian Mentari Pratama mencari keluarga artis yang sudah menggunakan Woods untuk menjadi endorser. Waktu yang dibutuhkan cukup lama, hingga akhirnya bertemu dengan Katon dan Nugie yang kebetulan tahu Woods dari ibunya. Jadilah mereka dipakai. Apalagi mereka dinilai cocok untuk dikaitkan dengan ide cerita yang diinginkan Woods. Hasilnya, kata Hutasoit, memang belum terlihat secara signifikan mengingat iklan tersebut baru diluncurkan sekitar dua bulan. Tetapi, dari beberapa riset kecil-kecilan, paparnya, Woods sudah dikenal sebagai obat batuk merek lama dan terpercaya, digunakan oleh keluarga secara turun temurun.

Doni menilai iklan tersebut cukup bagus dari sisi kreatif, yang secara tidak langsung kelihatan heritage-nya terutama dengan kehadiran “ibu” dari Katon dan Nugie. Namun, iklan tersebut di mata Doni belum tentu efektif. Pasalnya, Katon dan Nugie bukan anak-anak lagi, plus tokoh sang ibu yang belum dikenal oleh konsumen. “Apakah tokoh ibu itu benar-benar ibunya Katon-Nugie atau bukan?” tanya Doni.

Menurutnya, membuat iklan heritage memang tidak harus dari keluarga, bisa juga dari figur yang sudah diketahui umum. Untuk yang bukan famili, bisa menggunakan kata tradisi sebagai pesan heritage. (Tajwini Jahari/Rofian Akbar,Majalah Marketing Sept 04)

Menerobos Pasar Yang Penuh “Mitos”

Meskipun pasar obat kuat begitu sesak dan banyak dipengaruhi “mitos”, namun karena cerdik dalam melihat celah pasar dan membangun positioning, tahun lalu X-gra mampu mendongkrak penjualannya hingga dua kali lipat.

Permasalahan seksual terutama disfungsi ereksi adalah momok yang paling menakutkan bagi hampir semua pria di dunia. Belakangan, kasus ini semakin banyak dijumpai terutama di masyarakat perkotaan yang cenderung kompleks gaya hidupnya. Tak heran, fenomena “iklan obat kuat” cukup santer terdengar. Mulai di media cetak, teve sampai di kaki lima. Semuanya jorjoran menawarkan satu hal, keperkasaan.Maraknya fenomena tersebut, juga menggambarkan bahwa persaingan di pasar obat kuat –yang menurut data IMS tahun 2003 sebesar Rp 350 miliar per tahun– ini cukup ketat. Apalagi ditambah dengan merek-merek selundupan yang tanpa ampun ikut membanjiri pasar.Di tengah situasi demikian, seperti diungkapkan Azrudyl Azrul Azwar, Brand Manager X-gra, PT Phapros cukup jeli melirik pasar yang kosong. Ketika banyak merek bermain di segmen bawah, perusahaan farmasi yang berdiri sejak 1954 ini meluncurkan X-gra, obat berbasis agrofarmaka untuk mengatasi “masalah lelaki”, yang membidik segmen menengah atas. ”Kami lihat ada celah yang belum terisi. Rata-rata urusan seks kan terkait sama wanita, dan tidak semua kalangan menengah atas bisa menerima semua itu. Dari situ kami coba cari titik lain, terutama dalam hal positioning,” jelas Azrul.Awalnya, produk yang diluncurkan tahun 2001 ini sempat bermain di pasar ethical (dengan resep). Namun, karena pertimbangan kecepatan pertumbuhan produk yang relatif lambat di sana, sejak 2003 X-gra banting setir –masuk ke pasar OTC. “Di ethical sangat tergantung penetrasi ke dokter, tergantung pada bagaimana kita bisa mempengaruhi dokter. Sedangkan, di pasar OTC selama positioning tepat dan bisa menentukan target secara unik dan beda terhadap kompetitor, pertumbuhan akan cepat,” ungkapnya.Alhasil, di tengah beragamnya merek yang bermain di pasar, pertumbuhan produksi mereka mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Menurut Joko Triyono, direktur pemasaran perusahaan farmasi tersebut, kenaikan produksi X-gra tahun lalu mencapai sekitar 53%.Lantas bagaimana dengan penjualannya? Azrul kepada MARKETING mengatakan, penjualan X-gra meningkat dua kali lipat. Bila tahun 2002 hanya mencapai sekitar Rp 2 miliar, maka tahun 2003 lalu penjualannya bertengger di atas Rp 4 miliar.Sadar akan positioning yang dibangun beda dengan produk kompetitor, Phapros sebagai produsen X-gra sangat berhati-hati dalam promosi maupun sebaran distribusinya. Menurut Azrul, dalam konsep promosi mereka, teve bukan menjadi alat komunikasi utama. Teve hanya untuk mengangkat brand agar orang tahu X-gra. Sementara soal X-gra itu untuk apa, ada edukasi lagi melalui iklan di media cetak, lewat society, gathering, kemudian juga lewat talkshow di radio. ”Untuk iklan teve pun enggak pakai endorser, karena kami enggak mau X-gra diasosiasikan dengan seks dan wanita. Itu akan jadi bumerang,” imbuhnya.Lantaran pasar yang dibidik adalah segmen menengah atas –dengan harga berkisar Rp 110–125 ribu, maka otlet-otlet yang digarap juga tidak sembarangan. Hanya chain store seperti apotik atau toko obat tertentu saja yang dimasuki, seperti Guardian, Century, Boston, Roxy dan Melawai. Hampir 80% otlet modern ter-cover semua, sisanya apotik dan toko obat.Untuk aktivitas penjualan, seperti dikatakan Azrul, selama ini X-gra memang tidak mengandalkan sales force karena alasan image produk. Produk ini perlakuannya sebagai obat, bukan sebagai suplemen atau obat biasa lainnya. Namun demikian, karena belakangan merek impor banyak yang pakai sales promotions girls (SPG) untuk melakukan product switching terutama di otlet modern, X-gra memang agak sedikit terkena dampak. ”Dalam waktu dekat ini kami masih belum pakai SPG, tapi kami coba lihat perkembangannya,” tandasnya.Pangsa pasar X-gra di pasar obat kuat sendiri memang terbilang masih kecil, yakni berkisar 3–4%. Namun, Azrul yakin, ke depan akan meningkat tiga kali lipat, mengingat unique selling point yang dijual X-gra adalah terbuat dari bahan alami tanpa efek samping dan secara medis terbukti bisa menyembuhkan. “Concern kami adalah tumbuh cepat tetapi jangan terlalu cepat. Kenapa? Belajar dari pengalaman merek lain,” ujarnya seraya tertawa lebar.

(Rofian Akbar/Tajwini Jahari, Majalah Marketing Agustus 04)

Serupa Tapi Tak Sama

Pasar seperti sedang ngambek dengan produk yang satu ini. Serapannya melorot cukup signifikan. Bagaimana mendongkraknya sementara semua jalur pemasaran dicegat? Alibi Marketing! Tepatkah strategi ini? Simak laporan berikut.Industri bir di Tanah Air belakangan sedang tidak menggembirakan. Permintaan konsumen akan minuman beralkohol ini selama tiga tahun berturut-turut hingga 2003 turun sebesar 20 persen. Dengan demikian, produksinya pun terpaksa dikurangi.Beberapa penyebab bisa disebut. Salah satunya adalah regulasi pemerintah yang membatasi promosi dan distribusi jenis minuman ini. Di televisi iklannya sama sekali tidak boleh nongol. Pun tidak semua otlet, baik modern maupun tradisional, boleh memajangnya tanpa izin instansi terkait.Sedangkan, dari sisi konsumen, penempatan minuman beralkohol sebagai bagian dari makanan yang haram dikonsumsi juga sangat mempengaruhi. Maklum, di benak masyarakat, telah tertanam image negatif bahwa mereka yang mengkonsumsi minuman beralkohol seringkali bikin ulah.Situasi ini lantas melahirkan ide dari PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MBI). Terjepit dalam arena pertarungan yang tidak menguntungkan, mereka melancarkan satu strategi untuk mendobrak pasar yang lesu. Awal bulan lalu mereka meluncurkan varian baru dari Bir Bintang, yakni Bintang Zero. Uniknya, berbeda dengan bir yang beralkohol, Bintang Zero sama sekali tidak beralkohol.Peluncuran produk baru ini, sebagaimana diungkapkan Marketing Manager PT MBI Indah Soelistyawati, bertujuan untuk memberi alternatif bagi konsumen yang tidak doyan bir. Karenanya, Bintang Zero ditawarkan sebagai minuman malt bebas alkohol. Dengan sasaran konsumen pria-wanita usia 20-30 tahun, minuman ini tidak hendak dikategorikan sebagai minuman ringan (soft drink). Tapi lebih diposisikan sebagai jenis baru yang berada di antara minuman ringan dan minuman beralkohol.Menurut Indah, potensi pasar di Indonesia yang demikian besarlah yang mengantarkan peluncuran varian baru ini. Digambarkannya, konsumsi bir di Indonesia hanya 0,6 liter per kapita per tahun, jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai tingkat konsumsi 10 liter per kapita per tahun. Sedangkan, kapasitas produksi MBI belumlah optimal, yakni baru di kisaran 1 juta kiloliter per tahun.Karenanya, kehadiran Bintang Zero ini diharapkan dapat turut mendorong pertumbuhan konsumsi bir. Ini mengingat bahwa produk ini disasarkan pada pemula yang baru ingin mengenal bir dan tidak mau minuman ringan. Meski belum mengantongi sertifikasi halal, namun kata Indah, diharapkan konsumen Indonesia yang sebagian besar Muslim bisa menerimanya. Sebab, Badan Pengawasan Obat dan Makanan telah memberikan sertifikat bebas alkohol padanya.Hadir dalam dua kemasan, yakni botol ukuran 330 ml dan kaleng ukuran 330 ml, Bintang Zero memang sengaja “mendompleng nama besar Bintang yang sudah sangat dikenal di Indonesia sebagai pemimpin pasar minuman jenis bir. Inilah alasan utama kenapa merek “BintangEyang dipakai, dan bukan menciptakan merek baru. “Brand Bintang sudah sangat kuat di benak konsumen,Etandas Indah.Pemanfaatan brand Bintang itu tampak jelas dalam kemasannya. Sepintas mirip dengan Bir Bintang. Hanya saja, jika pada bir gambar bintangnya berwarna merah, pada Bintang Zero berwarna biru. Dominasi warna ini pun sangat kental. Biru hendak diasosiasikan dengan kesan bebas alkohol.Dengan strategi ini, selain untuk memasarkan dirinya sendiri, Bintang Zero diharapkan dapat mendongkrak awareness dan penjualan Bir Bintang. Dengan visualisasi yang mirip, setelah melihat dan membeli Bintang Zero yang harganya dipatok 30 persen lebih murah dari bir, ingatan konsumen diarahkan pada Bir Bintang.Kini, dengan kehadiran Bintang Zero, media promosi dan distribusi jadi lebih longgar. Di jalanan mulai terpampang reklame yang menekankan semangat 100% Bintang, 0% AlkoholE Iklan di media cetak dan televisi juga cukup gencar. Bersamaan dengan itu, aktivitas below the line juga turut menyertainya.Pertanyaannya, apakah strategi ini bakal mendulang sukses? Kita lihat saja nanti.

(AA Kunto A, Majalah Marketing edisi 08/04)

Menata Organisasi Penjualan Gaya Militer

Dari sekian banyak pengalaman sebagai konsultan yang fokus di bidang distribusi dan penjualan, permasalahan yang selalu timbul dan dibahas dalam selalu itu-itu juga. Intinya terletak pada tidak adanya sistem yang disusun dan dibakukan sebagai standar corporate plan maupun operational plan bagi cabang dan divisi penjualan dari suatu perusahaan.

Pengelolaan divisi penjualan seutuhnya diserahkan kepada tiap kepala cabang dan pimpinan penjualan, yang direkrut dari perusahaan-perusahaan lain, yang “katanya” siap pakai dan punya kompetensi unggul. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika setiap pimpinan wilayah dengan berbagai macam latar belakang tadi membawa pengalaman masa lampaunya masing-masing. Mulai dari pengetahuan yang berbeda, pola manajemen, macam produk yang dipasarkan berlainan pula.

Tidak terlihat adanya pola terpadu dan tersusun khusus untuk mengelola suatu wilayah tertentu. Dan inilah cikal bakal ”malapetaka” yang terjadi, yaitu perubahan berdasarkan selera. Perubahan ini berlangsung tanpa henti sehingga konsistensi tidak pernah terjadi. Hasilnya, ”memble” sepanjang masa!

Kerangka kerja militer

Militer memiliki pola kerja yang cukup baik, solid dan berhasil. Ambil contoh di Angkatan Darat. Satu wilayah dibagi ke dalam beberapa daerah yang lebih kecil, dan di tiap daerah tersebut ditugaskan seorang perwira. Sebagai contoh, Indonesia dibagi ke dalam beberapa daerah militer: daerah provinsi dipimpin Pangdam, resort dipimpin Danrem, distrik dipimpin Dandim, kecamatan dipimpin Danramil, dan kelurahan dipimpin Babinsa. Di mana pun bertugas, masing-masing pejabat militer harus mengikuti suatu pola yang telah tersusun dan dibakukan. Soal masih terjadi penyimpangan itu adalah karena adanya oknum.

Sementara, dalam manajemen penjualan dan distribusi juga dikenal suatu pola komprehensif, di mana setiap wilayah dapat mengikuti sistem terpadu yang disusun untuk kepentingan dan keperluan perusahaan induk. Tujuannya untuk menggarap wilayah-wilayah itu secara efisien dan efektif. Pola ini dikenal dengan nama Manajemen Wilayah Efektif (Effective Territory Management). Namun, sangat disayangkan, banyak perusahaan distribusi dan penjualan yang belum mau menyusun suatu pola penggarapan yang tersusun rapi dan dibakukan di tiap wilayah.

Apa yang dimaksud dengan Manajemen Teritori? “Teritori penjualan adalah suatu susunan dari pelanggan-pelanggan yang saat ini terdaftar dan aktif, di mana seorang eksekutif penjualan ditugaskan khusus untuk melakukan penjualan secara optimal dan berkesinambungan.” Eksekutif penjualan ini bisa seorang kepala cabang, manajer penjualan, penyelia penjualan, atau wiraniaga yang ditempatkan di suatu wilayah.

Setiap eksekutif penjualan harus bertanggungjawab atas penggarapan wilayahnya dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan oleh kantor pusat. Mulai dari wiraniaga yang kecil wilayahnya, manajer distrik, sampai kepala cabang yang menguasai seluruh wilayah; harus mampu membuat rencana terpadu, mengikuti pola yang telah ditetapkan perusahaan induk.

Untuk wilayah terkecil, tanggung jawab diserahkan pada seorang wiraniaga dan atasan langsungnya, yaitu seorang penyelia. Di samping itu, manajer distrik serta kepala cabang juga harus waspada dan cepat tanggap atas segala kejadian di wilayahnya. Dari hal-hal di atas, maka peran dan pola kerja baku masing-masing armada penjual dapat dikategorikan menjadi: mengelola wilayah/rayon, mengembangkan pasar, mendapatkan pelanggan baru, serta pengembangan dan penetrasi produk yang telah eksis maupun produk baru.

Bagi perusahaan yang masih belum membentuk cabang-cabangnya sesuai dengan pola manajemen wilayah yang rapi, ada baiknya untuk mengkaji dulu segala persiapan dan perencanaannya dengan lebih matang guna mendapatkan hasil optimal, dengan filosofi ringan 4AT, yaitu: sasaran harus tepAT, biaya harus hemAT, waktu harus singkAT, dan risiko harus selamAT.
Selamat mencoba. Semoga tulisan yang singkat ini dapat menjadi wacana dan membantu Anda dalam memanajemeni wilayah penjualan Anda!

Mindiarto Djugorahardjo, MBA
Managing Partner FORCE ONE – Selling & Distribution Consultants

SENI MENDENGAR

Dalam sebuah pelatihan diungkapkan :

“… Begitu anda menonton film nanti, perhatikan cara para bintang film berbicara kepada actor lainnya. Untuk menjadi seorang actor yang besar. Seorang harus mampu, baik menjadi seorang pendengar yang ulung maupun pembicara yang efektif. Kata-kata pembicara tercermin dalam wajah pendengarnya bahaikan suatu cermin. Ia dapat mengambil suatu adegan dari pembicara kepasihannya dalam mendengarkan. Seorang sutradara film terkenal pernah mengatakan bahwa banyak actor gagal menjadi bintang film karena mereka tidak pernah mempelajari seni mendengarkan \secara kreatif”.
(Betgerr, 1995:88).

Sedikit bicara banyak mendengar

Berbicara sebagai keterampilan dasar manusia dalam berkomunikasi sering kita bahas, namun sangat sedikit yang mengulas bagaimana cara mendengar yang baik. Rosulullah-pun mengingatkan, barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah dengan kata-kata yang baik ataupun lebih baik diam. Alasannya masuk akal, sebab kata-kata kita kelak akan dipertanggungjawabkan (QS. 50:18), sehingga kita senantiasa dituntut untuk berhati-hati dalam berbicara dan bahkan nabi Musa AS ketika berhadapan dengan Firaun mengungkapkan doa : “…dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku (QS. 20 : 27-28).

Sedangkan mendengar hampir sulit bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, padahal dengan mendengarlah ilmu bisa diserap, sebuah masalah bisa dipecahkan dan sebuah gagasan bisa diwujudkan. Oleh karena manusia diciptakan Allah dengan satu mulut dan dua pendengaran yang seharusnya proporsi mendengar harus lebih banyak daripada berbicara. Rata-rata para pemimpin dunia memiliki kemampuan mendengar yang baik, selain kemampuan berbicara.

Sebagaimana diungkapkan oleh Benjamin Franklin mengungkapkan :

Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperileh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diamdiantara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.(Betgerr, 1995:92)

Sedangkan Frank Betgerr (1996) mengungkapkan bahwa :

dalam pembicaraan, pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut, saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.

Hasil penelitian Rankin (1929) dan Bierker (1980) menunjukan bahwa mendengar merupakan sarana komunikasi yang paling banyak digunakan, dapat lihat table dibawah ini :

Perbandingan skill communication :

No

Skill comunication

1929

1980

1.

Mendengar

45%

53%

2.

Berbicara

30%

16%

3.

Membaca

16%

17%

4.

Menulis

9%

14%

Sumber : B.S.Wibowo,etal, TRUSTCO, 2002 :191.

SENI MENDENGARKAN.

Ketika berbicara, biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima tingkat :
1.
Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya.
2.
mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya
3.
Mendengarkan tapi lebih selektif pada bagian-bagian tertentu dari pembicaraan.
4.
Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan memfokuskan enegi pada kata-kata yang diucapkannya.
5.
Mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.

Dengan melihat tingkatan mendengar diatas maka mendengarkan membutuhkan keterampilan khusus, sebagaimana berbicara.

Karena mendengarkan adalah cerminan pribadi seseorang, sebagaimana diungkapkan oleh David J. Schwartz (1996:154) mengungkapkan bahwa : “… Semakin besar orang yang bersangkutan, semakin cenderung ia mendorong anda untuk berbicara, semakin kecil orang yang bersangkutan semakin cenderung ia mengkhotbahi anda”.
Kebanyakan pemimpin yang baik didalam semua bidang kehidupan menghabiskan jauh lebih banyak waktu meminta nasehat dan meminta pendapat bawahannya daripada banyak berbicara.
Diantara keterampilan mendengar diungkapkan BS.Wibowo,dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenic antara lain :

  • Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
  • Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya.
  • Dengarkan dengan penuh harapam, jangan langsung kehilangan minat
  • Jangan cepat menarik kesimpulan
  • Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
  • Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pembicaraan.
  • Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak.
  • Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah.
  • Kendalikan emosi waktu mendengar
  • Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru.
  • Bernafaslah perlahan dan dalam-dalam
  • Jangan tegang santai sajalah.
Sedangkan menurut James K. Van Fleet (1996:179) dalam bukunya : “Key to Success with people” mengungkapkan seni mendengar yang efektif sebagai berikut :
  • Berikan sepenuh hati pada orang lain
  • Mendengarkan dengan serius
  • Tunjukan minat pada perkataan orang
  • Usahakan bebas gangguan
  • Tunjukan kesabaran
  • Bukalah pikiran anda
  • Dengarkan setiap gagasan
  • Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya.
  • Turunkan senapan anda
  • Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat.

Sedangkan David J Swartz dalam bukunya “The Magic of Thinking Big” (1996: 154) mengungkapkan seni mendengar kedalam tiga tahapan dan untuk menguatkannya dengan cara bertanya dan mendengarkan :

  • Dorong orang lain berbicara
  • Uji pandangan anda dalam bentuk pertanyaan
  • Berkonsentrasilah pada apa yang dikatakan orang lain.

Demikianlah beberapa teknik dalam mendengar yang dalam praktiknya membutuhkan adanya jiwa besar. Mendengar dan bertanya bukan menunjukan kebodohan seseorang tetapi menunjukan kualitas hidupnya, apalagi bagi seorang pemimpin.

Referensi:

B.S. Wibowo, etal, SHOOT, TRUSTCO, Syamil, Bandung, 2002.

James K. Van Kleet. Rahasia kekuatan percakapan, Intimedia, Jakarta, 1984.

David J Swarz, Berfikir dan berjiwa besar, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996.



RESENSI BUKU



Judul buku : Marketing in Venus

Penulis : Hermawan Kartajaya, et.al.

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : II, September 2003

Tebal : xiv + 311 halaman; 23 cm

Sebuah buku cukup fenomenal dibidang marketing yang mengulas trend pemasaran masa depan dengan adanya perubahan pola prilaku konsumen dari hasil pemikiran seorang expert marketing. Herman kartajaya berhasil membalikan anggapan tradisional marketing dengan adanya trend baru dengan mengambil contoh kasus nyata beberapa perusahaan yang terbentuk mengikuti prinsip venus. Tidak salah lagi kalau pakar marketing AS, Dr.Philip Kotler memberikan komentar terhadap pemikiran Founder MarkPlus & Co dan presiden World Marketing Association (WMA) dalam kulit muka buku ini sebagai berikut :

Hermawan Kartajaya, a world class marketing modeler, has blended the latest marketing rend with a conceptual foundation. He show the other side of marketing in this interactive world. The reading is easy, fun anda provocative”

Butir pemikiran Hermawan Kartajaya sebagai kumpulan materi seminar yang terangkum dalam judul The Guiding Principles of Marketing in Venus bersama rekan-rekannya di MarkPlus & Co yang dipublikasikan dalam acara TV Magazine Metro TV bersama Martha Tilaar Group.

Dalam pengantarnya mengulas keberhasilan teknologi ponsel Nokia untuk meraih pangsa pasar Ericksson yang menyebabkan ambruknya perusahaan ponsel sehingga diakuisisi oleh Sonny. Ternyata slaah satu keberhasilan Nokia terletak dalam mengolah dan mengendalikan pola prilaku konsumen yang lebih manusiawi yang menempatkan teknologi yang mampu melayani dan mengakomodasi manusia seutuhnya, bukan teknologi canggih yang diciptakan untuk kecanggihan itu sendiri. Dimana teknologi secara alamiah bias menyentuh sisi kemanusiaannya yang membawa pesan emosional bukan lagi tanggapan rasional lagi. Dapat kita lihat slogan Nokia “Connecting people”-nya jauh lebih emosional daripada “Make your heard”-nya Ericksson.

Apabila dilihat dari karakter konsumen yang emosional jelas diduduki posisinya oleh wanita, tetapi menurut Hermawan dunia sudah terbalik kaum pria ternyata sekarang jauh lebih emosional disbanding wanita. Digambarkan dunia mars yang dihuni lelaki sekarang berubah menjadi Venus yang banyak dihuini kaum wanita. Dari perubahan trend pola prilaku inilah lahirlah fenomena “Metroseksual” dalam trend pemasaran, istilah ini diambil dari penulis Inggeris Mark Simpson yang mengartikan konsumen metroseksual ini sebagai “sosok pria dandy yang mencintai dirinya sendiri (narcisis) dan juga gaya hidup urbannya” Menurut Hermawan fenomena ini lahir akibat banyaknya wanita bekerja disektor yang dahulu didominasi kaum pria sehingga proporsi kerja kerah putih ini semakin bertambah yang menyebabkan pria dituntut tampil menarik dan promosi trend majalah pria yang merubah image pria dandy dan fashionable.

Untuk lebih jelasnya konsepsi Marketing in the Venus ini terangkum dalam The 18 Guiding Principles of Marketing in Venus, antara lain sebagai berikut :

Prinsip # 1 Information technology carries more emotional messages.

Teknologi informasi yang berhasil adalah teknologi yang membawa pesan emosional. Sebagaimana kasus persaingan Nokia-Ericksson, dimana konsumen lebih tertarik dengan perlengkapan teknologi yang dalam pendekatan pemasarannya lebih menekankan sisi emosional ketimbang menawarkan kecanggihan teknologi. Human strategy Nokia ini akhirnya diikuti oleh raksasa ponsel Asia Samsung dengan tagline “DigitAll passion”-nya yang menempatkannya pada posisi ketiga dengan tingkat pertumbuhan 49 % dari pesaingnya.

Prinsip # 2 Most customers in this interactive world are WO-MEN.

Lahirnya orientasi WO-MEN dimana kaum pria berprilaku seperti wanita dan jauh loebih emosional mengikuti hukum wanita-woman always pay attention to detail. Dalam pemasaran modern trend sensitifitas konsumen inilah yang harus diolah secara terperinci dengan memanfaatkan segi emosional konsumen.

Prinsip # 3 Most competitive advantages are from feel benefits.

Konsepsi WO-MEN menyebabkan terjadinya pergeseran dimana keunggulan bukan lagi hanya ditentukan oleh mind, tetapi emotion yang salah satunya orientasi feel benefit.

Prinsip # 4 Customer insight is the best tool to find out customer’s hiddens needs.

Prinsip ini konsumen diusahakan dalam kondisi “feel good” terhadap produk yang kita tawarkan. Kemudian berupaya menggali apa sebenarnya kebutuhan konsumen? Untuk menjawabnya, salah satunya adalah meneliti Customer insight sedemikian rupa dengan menyembunyikan maksud tujuan pada responden.

Prinsip # 5 Be intuitive, not interpretative.

Untuk memahami feel good konsumen seorang pemasar harus menggunakan intuisi dalam membaca perubahan dan dinamika pasar, tak hanya interpretasi semata-mata. Melalui riset ke market place dengan menjaring informasi sehingga menambah reservoir of wisdom dalam mengambil keputusan sehubungan dengan konsumen.

Prinsip # 6 Be proactive not reactive.

Kajian lain dari prinsip venus adalah selalu memperhatikan hal-hal kecil secara proaktif tidak sekedar reaksi. Hermawan menyarankan jangan takut untuk mendobrak aturan yang telah ada, justru buatlah new rules of the games dengan mempelajari hal lain, sehingga tercipta pola baru.

Prinsip # 7 Your brand must have charisma.

Sorotan terhadap brand sebagai bentuk differensiasi dalam perusahaan, maka menurut prinsip venus, brand harus membentuk karisma merek. Tanpa inspirasi, fanatisme dan aura yang melingkupi sebuah merek, para pelanggan di venus tak akan mampu melihat adanya karisma didalam merek dan tanpa karisma anda tak akan mendaptkan loyalitas pelanggan.

Prinsip # 8 Empathy has a significant contribution in service.

Diplanet bumi dimana pria dominan, keandalan produk dan layanan selalu menjadi yang terpenting dalam kualitas layanan alias servqual. Di planet yang emosional ini empati merupakan hal yang terpenting dalam layanan.

Prinsip # 9 Involve your customers in the business process.

Pergeseran era product-centric marketing ke customer-centric marketing menuntut pemasar untuk mau tak mau melibatkan pelanggan dalam proses bisnis, bias melibatkan dalam proses product development, routine order delivery atau customer handling. Pelibatan pelanggan ini akan meningkatkan ownership mereka terhadap produk kita sehingga libatkanlah secara sungguh-sungguh sehingga merek apunya andil dan kontribusi terhadap perusahaan.

Prinsip # 10 View your market dynamically, use invinite segmentation.

Sisi lain dalam prinsip venus ini akan fatal kalau kita mengsegmentasi pasar berdasarkan kondisi geografis. Gunakanlah segmentasi berdasarkan variable psikografis dan prilaku yang jauh lebih baik dan presisi.

Prinsip # 11 Don’t forget t target the heart.

Lepas secara fisik mereka adalah lelaki dan wanita, mereka perlu untuk disentuh hatinya. Kepala mereka telah dipenuhi dengan limpahan informasi yang membingungkan tentang brand yang beragam, sehingga di venus, “encouraging the heart” tak hanya valid untuk pelanggan internal, tapi juga eksternal.

Prinsip # 12 Be credible on your promise.

Kredibilitas dalam memenuhi janji kita kepada pelanggan sangatlah penting di venus. Wanita akan membenci produk anda selamanya, jika anda membohongi mereka, walaupun itu anda lakukan satu kali.

Prinsip # 13 Content is only basic, context is the winning formula.

Untuk memenangkan persaingan di venus, anda harus bermain di konteks- how to offer. Sementara konten what to offer - yang bagus adalah keharusan. Tapi itu saja tidak cukup, karena konten adalah persayaratan dasar. Konten hanyalah tiket untuk masuk dalam arena persaingan, bukan untuk ,memenangkan persaingan. Konteks adalah tiket anda untuk memenangkan persaingan di venus.

Prinsip # 14 Product anda service should be an experience.

Di venus semua produk dan layanan yang anda berikan haruslah mempu memberikan memorable experience kepada pelanggan. Tanpa itu, produk anda akan dianggap sekedar sebagai kmoditi, bahkan jika mempunyai ekuitas merek yang hebat sekalipun.

Prinsip # 15 Pricing must be easy to understand.

Pricing harus gampang dipahami pelanggan venus. Memang harga produk anda tidak boleh murah, namun lebih dari itu kebijakan harga anda tak boleh rumit sehingga sulit dimengerti pelanggan. Harga anda tidak boleh berubah-rubah setiap saat, karena penduduk venus akan bingung, berapa harga sebenarnya. Jika sudah terjadi hal seperti ini, penduduk venus akan berfikir bahwa si produsen sebenarnya menipu dia dengan menerapkan kebijakan harga yang tidak konsisten. Apalagi jika harga yang diberikan tidak sesuai dengan perceived value-nya.

Prinsip # 16 Community is the best channel.

Saluran distribusi yang baik di venus adalah komunitas. Wanita paling suka diasosiasikan dengan sebuah komiunitas. Dan teknologi informasi telah menghasilkan sebuah komunitas dunia yang begitu besar, deimana para anggota komunitas biasa saling ngobrol, bercengkrama, mengagumi, mengkritisi dan berbagirasa selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun.

Prinsip # 17 Personal conversation is the most effective communication.

Karena itu, komunikasi personal, bukannya pengiklanan massal, merupakan media komunikasi yang paling efektif di venus. Di venus pendekatan komunikasi broadcasting menjadi tidak relevan lagi dan karenanya harus diganti dengan pendekaran pointcasting, sehingga interaksi people to people atau peer to peer kemudian menemukan critical mass-nya di venus. Yang terpenting dalam interaksi people to people adalah interaktivitas pada level sejajar dan egaliter.

Prinsip # 18 Relationship is the key of successful selling.

Prinsip terakhir dari the guiding principles of marketing in venus adalah mengenai penjualan atau selling. Dapat dikatakan bahwa pelanggan di venus paling tidak suka digurui dalam penjualan. Mereka lebih menyukai relationship. Ciptakan dan peliharalah relationship jangka panjang, kami yakin anda akan dapat meningkatkan share of wallet dari pelanggan anda.

Pada akhir prinsip ini, biasa dikatakan bumi telah menjadi venus. Dan karena bumi telah menjadi venus, semua pendekatan, model bisnis, strategi dan taktik yang dulunya begitu ampuh di bumi, kini menjadi obsolete, kuno tak memadai lagi, bahkan tak relevan lagi. Dibutuhkan seperangkat pendekatan dan strategi baru yang lebih sesuai dengan kondisi di planet baru ini.

Demikianlah sekilas uraian dari buku “Marketing in Venus” ini yang menguraikan perubahan dan trend baru dalam pemasaran dan diharapakan perubahan ini bisa dijadikan sebagai bahan referensi yang baik dalam merubah kinerja perusahaan dalam meningkatkan kredibilitas perusahaaan dimata pelanggan.

Selamat datang di Venus. Menangkan persaingan dengan the 18 guilding principles of marketing in venus.