Selasa, 29 Januari 2008

Resensi Buku

Kacamata Kuda

Penulis : Ardian Syam
Penerbit : Amara Books
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : 201 hlm

Andrias Harefa (penulis 25 buku laris) dalam endorsment buku ini mengatakan bahwa setiap orang dalam aspek tertentu pastilah memiliki “kacamata kuda”nya masing-masing. Kacamata kuda adalah istilah yang berarti bahwa cara pandang orang umumnya diarahkan oleh orang tua, atasan, guru, dll, seperti kuda yang dipasangi kacamata kuda yang harus tunduk pada arah pandangan yang ditetapkan oleh kusirnya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kitapun memakai kacamata kuda dalam berbagai aspek kehidupan kita, kita terlalu ‘biasa’ menggenakannya sehingga kacamata kuda yang kita kenakan seakan menjadi bagian dari diri kita sehingga tak pernah sedikitpun terbesit untuk mencoba membuka kacamata kuda kita dan melihat berbagai aspek dengan cara pandang baru.

Untuk itulah buku Kacamata Kuda yang merupakan kumpulan tulisan Ardian Syam, penulis kolom di situs Pembelajar.com yang kini bekerja sebagai Bussiness Analyst di divisi I Regional Sumatera, PT. Telekomunikasi Indonesia mengajak pembacanya untuk membuka kacamata kuda-nya dan melihat dengan sudut pandang yang baru.

Buku ini berisi 39 tulisan dalam konteks bisnis, entrepreunership, dan pemasaran yang dibagi dalam enam bab yang masing-masing berjudul : Produsen dan Konsumen, Manajemen Usaha, Pribadi, Produsen dan Konsumen, Lagi, Korupsi, dan Manajemen Usaha, juga.

Pada bab Produsen dan Konsumen antara lain berisi pembahasan mengenai bagaimana hubungan antara produsen dan konsumen dan bagaimana kiat-kiat produsen agar produk-produknya dapat terserap dengan baik oleh konsumen. Dalam artikel yang berjudul Psikografi, dibahas bagaimana sebenarnya pelanggan atau konsumen adalah manusia yang memiliki emosi dan akal sehat, karena setiap produk atau jasa yang tersedia selain harus dipilih berdasarkan akal sehat juga harus mempertimbangkan sentuhan emosi yang diberikan pada konsumen. Di sini penulis memberikan contoh dalam produk mobil-mobil mungil hingga botol-botol shampo dan sabun cair yang saat ini tidak lagi sama bentuknya dalam dengan botol-botol sebelumnya yang berbentuk konvensional. Bentuk produk ini menjadi bagian dari kepedulian produsen terhadap emosi konsumen. Bentuk yang manarik minat berarti bentuk yang menggugah rasa estetika konsumen.

Dalam bab Manajemen Usaha, selain menyajikan bahasan mengenai konsep-konsep manajemen seperti quality time, mitra, budaya dalam organisasi, loyalitas, dll juga dibahas mengenai Seragam. Hal kecil yang setelah dicermati ternyata memberikan pengaruh terhadap manajemen usaha. Penulis berkesimpulan bahwa seragam tidak hanya sekedar menjadi identitas melainkan menjadi uniform. Karena ketika semua orang dalam kelompok tersebut menggunakan seragam, maka hampir tiada perbedaan sikap dan perilaku yang ditunjukkan (hal 191). Hal ini dikarenakan ketika memakai seragam, orang akan cenderung mengikuti perilaku dari teman-teman yang berseragam sama.

Pada Bab Pribadi, dibahas hal-hal yang menyangkut pribadi dalam hal investasi, kesewenang-wenangan, sikap, pengaruh guru, dll. Yang menarik adalah tulisan yang berujudul Investasi, di bagian ini terungkap sebuah penelitian bahwa paling banyak hanya akan ada 6 orang antara kita dengan seorang lain. Dengan kata lain mungkin ada kurang dari 6 orang antara kita dengan Rhenald Kasali. Artinya salah seorang orang yang kita temui mungkin kenal dengan B yang kenal dengan C, C dikenal oleh D, D dikenal oleh E dan E dikenal oleh seorang yang menjadi sahabat Rhenald Kasali. Karena itu penulis menyarankan kita agar selalu bersiap untuk bertemu salah satu dari 6 orang yang akan mempertemukan kita dengan orang yang selama ini kita cari-cari. Caranya dengan selalu melengkapi diri dengan bussines card yang menginformasikan siapa diri kita dan dimana kita bisa dihubungi. Karena siapa tahu orang yang berada di sebelah kita saat kita mungunggu giliran di ruang tunggu dokter, atau seseorang di depan kita yang sedang antri tiket di bioskop adalah orang yang membawa kita pada orang yang kita cari-cari untuk menyukseskan bisnis kita.

Secara keseluruhan, seperti diungkap Edy Zaqeus (editor Pembelajar.com) dalam kata pengantarnya, buku ini akan mengingatkan kita pada gaya penuturan para penulis dalam bidang manajemen dan marketing seperti Hermawan Kertajaya, Rhenald Khasali, Gede Prama, dll. Dimana konsep-konsep majamemen yang aslinya bisa membuat dahi berkerut, di tangan mereka menjadi hal-hal yang mudah dicerna. Ardian melakukan hal yang sama, walaupun tentu saja dengan gaya yang berbeda.

Salah satu yang membuat buku ini berbeda dengan penulis-penulis manajemen lainnya adalah usaha penulis dalam membuat buku ini segar melalui humor-humornya yang menjadi pengantar di tiap babnya.

Jika kita melihat cover buku ini yang berwarna merah dengan ilustrasi kepala kuda yang sedang ‘nyengir’ dan berkacamata, tampaknya sedari awal pembaca diajak menyimpulkan bahwa buku ini bukanlah buku yang ‘berat’. Sayang halaman dalamnya tak didukung dengan ilustrasi-ilustrasi atau karikatur-karikatur segar yang mendukung gambaran bukan buku berat yang dicoba ditampilkan di cover depannya.

Penyajian bab yang unik seperti Korupsi juga menjadi hal yang menarik, di bab ini pembaca akan disuguhkan dengan pandangan-pandangan penulis terhadap praktek korupsi beserta contoh-contoh kasusnya. Entah apa yang membuat bab Korupsi disertakan dalam buku ini, sekilas agak melenceng dari tema utama buku ini yang berbicara dalam konteks manajeman dan pemasaran. Mungkin ini sebuah bentuk kepedulian penulis terhadap praktek korupsi yang sudah menjadi hal yang wajar di negeri ini. Seperti bab-bab lainnya bab inipun menyajikan sudut pandang yang berbeda dan gagasan inopvatif mengenai bagaimana menyadarkan sikap anti korupsi di kalangan kaum terpelajar sedini mungkin.

Setiap tulisan-tulisan dalam buku ini menawarkan berbagai gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif. Tips-tipsnya aplikatif sehingga mudah dicerna oleh siapa saja. Walau kasus atau permasalahan yang diangkat mungkin pernah kita dengar, namun secara cerdas Ardian melihat dan memecahkannya dari sudut pandang yang berbeda. Pembaca akan diajak berefleksi dan berkontempelasi lewat tulisan-tulsiannya sehingga pembaca akan mendapat wawasan baru yang mungkin saja akan menginspirasi pembacanya untuk mengembangkankan bisnis yang digelutinya. Selain itu bagi bukan pebisnis ataupun pelaku menajemen usaha, ulasan-ulasan dalam buku ini tampaknya dapat juga diterapkan dalam pengembangan diri pribadi pembacanya.

Secara keseluruhan rangkaian tulisan-tulisan dalam buku ini menarik dan memberi pandangan baru, sayang tulisan yang dikumpulkan dalam rentang waktu 2004 hingga 2006 ini tak menyebutkan sumber-sumber dimana tulisan ini pernah dimuat, apakah semuanya memang pernah dipublikasikan di situs Pembelajar.com ? atau pernah dimuat di media-media lainnya ? Rasanya tak ada penjelasan eksplisit dalam buku ini. Memang bukan hal yang mutlak namun bagi sebuah buku kumpulan tulisan hal ini wajar untuk diungkapkan.

Akhirnya buku ini memang sangat berpotensi dalam membantu membuka wawasan pembacanya dalam memandang masalah dari sisi yang tidak pernah diperhatikan orang, menerobos pemikiran-pemikiran klise, dan yang pasti membuka (dan membaca) buku ini, berarti Anda sedang membuka “Kacamata Kuda Anda”.

Secara keseluruhan, seperti diungkap Edy Zaqeus (editor Pembelajar.com) dalam kata pengantarnya, buku ini akan mengingatkan kita pada gaya penuturan para penulis dalam bidang manajemen dan marketing seperti Hermawan Kertajaya, Rhenald Khasali, Gede Prama, dll. Dimana konsep-konsep majamemen yang aslinya bisa membuat dahi berkerut, di tangan mereka menjadi hal-hal yang mudah dicerna. Ardian melakukan hal yang sama, walaupun tentu saja dengan gaya yang berbeda. Bacalah buku ini dan bukalah Kacamata Kuda Anda!

Sumber: Hernadi Tanzil. http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/10/kacamata-kuda.html#links



BILL” WILLIAM H. GATES


"One thing I love about this [decade] is this is a period where the reality is driving the expectation."
Bill Gates, 2004

International Consumer Electronics Show Keynote

William Henry Gates III lahir pada tahun 1955, anak kedua dari tiga bersaudara dalam keadaan sosialnya terkemuka di Seattle, Washington. Ayahnya seorang pengacara dengan perusahaan yang punya banyak koneksi di kota, dan ibunya seorang guru, yang aktif dalam kegiatan amal. Bill seorang anak yang cerdas, tetapi dia terlalu penuh semangat dan cenderung sering mendapatkan kesulitan di sekolah. Ketika dia berumur sebelas tahun, orang tuanya memutuskan untuk membuat perubahan dan mengirimnya ke Lakeside School, sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki.

Di Lakeside itulah pada tahun 1968 Gates untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan dunia komputer, dalam bentuk mesin teletype yang dihubungkan dengan telepon ke sebuah komputer pembagian waktu. Mesin ini, yang disebut ASR-33, keadaannya masih pasaran. Pada pokoknya ini sebuah mesin ketik yang kedalamnya siswa bisa memasukkan perintah yang dikirimkan kepada komputer; jawaban kembali diketikkan ke gulungan kertas pada teletype. Proses ini merepotkan, tetapi mengubah kehidupan Gates. Dia dengan cepat menguasai BASIC, bahasa pemograman komputer, dan bersama dengan para hacker yang belajar sendiri di Lakeside, dia melewatkan waktu ber-jam-jam menulis program, melakukan permainan, dan secara umum mempelajari banyak hal tentang komputer. “Dia adalah seorang ‘nerd’ (eksentrik),” sebagaimana salah seorang guru memberikan Gates julukan itu.

Sekitar tahun 1975 ketika Gates bersama Paul Allen sewaktu masih sekolah bersama-sama menyiapkan program software pertama untuk mikro komputer. Seperti cerita di Popular Electronics mengenai “era komputer di rumah-rumah” dan mereka berdua yakin software adalah masa depan. Inilah awal Microsoft. Komunikasi yang sederhana: Paul dan Gates membicarakan coke dan pizza. Tidak ada orang yang memperhatikan sungguh-sungguh pendapat kami. Semuanya berubah dalam dua dekade terakhir.

Gates masih tetap menyukai junk food, tetapi ia juga menghabiskan waktu dua jam sehari membaca dan menjawab electronic mail yang dikirim 15.000 karyawan Microsoft.

Selain itu banyak sekali email dari dari luar Microsoft.

Pertanyaan beragam, mulai dari bagaimana pengalaman orang berkeluarga (menyenangkan!), film apa yang saya sukai (Schindler’s List dan Shadowlands), sampai pertanyaan rumit yang harus membuka dulu buku untuk bisa menjawabnya (dan kebetulan saja juga menulis buku!).

Persoalannya, Gates menghabiskan waktu sepanjang hari menjawab email dan berceramah atau mengelola perusahaanya.

Gates mencoba menjalankan keduanya, tetapi ia tidak berkesempatan banyak berkomunikasi dengan kelompok yang beragam dan banyak sekali email yang tidak sempat dijawab.

Gates senang sekali menulis karena melalui tulisan ini membuatnya bisa berkomunikasi dengan kelompok yang lebih beragam tanpa harus teredit hingga terpotong-potong atau tersaring oleh persepsi seseorang.

Kenyataannya tidak semua pertanyaan diajukan melalui email.

Kadang orang mencegat Gates di Bandar udara atau mendesaknya untuk menjawab pertanyaan di pameran-pameran komputer atau anak Sekolah mengirim surat kepadanya.

Seorang mahasiswa baru-baru ini menanyakan satu pertanyaan yang penting untuk dia. Yang ingin diketahuinya bukanlah sesuatu yang sangat filosofis, seperti yang mungkin anda duga misalnya mengenai ekonomi pasar bebas.

Ia hanya ingin tahu, “apakah Gates sudah terlambat terjun ke industri software dan membangun sebuah perusahaan kemudian menjadi kaya?”.

Gates senang mendapat pertanyaan itu dan jawabannya selalu sama, “Inilah saatnya terjun ke bisnis software.”

Gates tidak mengatakan Anda bisa membangun Microsoft lainnya. Tetapi paling tidak Anda bisa mendapatkan omset penjualan dua juta dollar setahun dengan menjual 10.000 kopi produk senilai 200 dolar AS.

Cukup lumayan dan bisa terjadi kapan saja.

Karena Gates ingat bagaimana menariknya memulai sebuah perusahaan software, ia juga menikmati cerita keberhasilan orang lainnya.

Perusahaan software yang kecil selalu perlahan-lahan mulainya.

Perusahaan dimulai seseorang yang memiliki gagasan. Ia, pria atau wanita, mencari beberapa teman yang tahu bagaimana membuat program dan mereka kemudian menelorkan sebuah produk.

Banyak sekali karya kesenian yang mereka lakukan karena mereka peduli dengan pekerjaan itu.

Biasanya mereka membuat produk untuk satu pelanggan dan karena hasilnya memuaskan, mereka segera mendapat pembeli lainnya.

Jika Anda ingin memulai sebuah perusahaan, strategi utamanya temukan lingkungan sosial yang pas.

Lupakan keinginan menciptakan program pengolah kata untuk menulis, atau program spreadsheet untuk menganalisis keuangan, atau produk utama lainnya yang saingannya sudah banyak.

Sebaliknya, ciptakan produk yang bisa menolong penggunanya mengerjakan pekerjaan spesifik atau bisa memberikan informasi praktis dalam bidang seperti obat-obatan, asuransi, akunting, arsitektur atau bidang pemerintahan.

Software seperti itu mendatangkan peruntungan yang kecil-kecilan.

Jika Anda tidak puas dengan peruntungan yang kecil-kecilan itu, Anda harus sampai pada tahapan peralihan generasi. Kali ini mahal dan berisiko.

Setiap beberapa tahun satu generasi teknologi memberikan jalan baru. Ingat munculnya IBM PC di awal tahun 1980-an.

Microsoft bertaruh IBM PC akan menjadi penting. Kemudian Microsoft menciptakan sistem operasi MS-DOS untuk IBM PC.

Hasilnya Microsoft menjadi pelopor dalam software sistem operasi.

Tidak ada yang pernah mendengar mengenai Lotus sampai satu pemikiran cemerlang melaksanakan perubahan generasi menciptakan Lotus 1-2-3 spreadsheet pertama yang dirancang khusus untuk IBM PC.

Apple’s Macintosh dan Microsoft Windows adalah sang pemenang selanjutnya, ketika dunia menginginkan pengolahan grafik dan meninggalkan program lama yang hanya menampilkan teks.

Untuk mendapatkan kemenangan besar, anda pun harus mengkonsentrasikan diri pada perubahan generasi, sesuatu yang diabaikan perusahaan besar. Dan taruhannya mahal sekali.

Baru-baru ini sejumlah wiraswastawan berspekulasi software yang bisa digunakan pemakai komputer dengan cara menulis dengan tangan – bukan lagi menekan pada huruf – akan menjadi generasi baru software pengolah kata ada spreadsheet.

Mereka memulai menciptakan produk baru yang mereka pikir akan memenangkan persaingan. Mereka salah. Suatu spekulasi besar. Apa yang harus saya anjurkan pada seorang mahasiswa yang ingin menjadi wiraswastawan software?

  1. Pelajari untaian sebuah perusahaan yang sudah ada.
  2. Carilah lingkungan sosial anda sendiri.
  3. Berhubunganlah dengan modal ventura.
  4. Temukan orang yang cerdas.
  5. Dan jangan lupakan coke dan pizza.
  6. Percayalah, akan ada banyak pekerjaan di malam yang larut.

Kolom Gde Prama

Mumpung Masih Diberi Waktu

Oleh: Gede Prama

Setiap mengakhiri sebuah tahun, semua orang dihadang oleh sebuah kenyataan betapa cepatnya sang waktu berputar dan berlalu. Dan secara tiba-tiba, baru sadar ketika ada sahabat atau kerabat yang dipanggil kematian. Di situ kita baru merenung, kita masih diberi sisa waktu.

Mungkin Anda punya kenangan tersendiri dengan tahun 2001, demikian juga saya. Ada sejumlah catatan dan jejak waktu yang tertulis dalam sejarah saya di tahun 2001. Ada kejadian diangkat menjadi presiden direktur sebuah perusahaan swasta dengan dua ribuan karyawan di awal tahun, dan di akhir tahun diangkat lagi oleh sang kehidupan untuk menjadi presiden direktur sebuah perusahaan dengan empat puluh ribuan karyawan. Ada juga catatan-catatan yang menyedihkan seperti pernah diteror orang, didatangi karyawan yang marah sambil mengancam manajernya dibunuh di depan saya. Dan masih ada lagi catatan lain yang terlalu panjang untuk diceritakan. Boleh saja ada orang yang berdecak kagum, atau menyimpan kebencian setelah melihat catatan ini. Namun, bagi saya pribadi ada yang jauh lebih membanggakan dari diangkatnya saya oleh sang kehidupan dua kali di tahu 2001 di posisi tertinggi. Setelah mencoba beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya, baru di tahun 2001 saya berhasil menemani sahabat-sahabat muslim berpuasa sebulan penuh. Inilah prestasi yang paling saya banggakan di tahun 2001.

Mirip dengan kejadian sebelumnya, di mana sejumlah sahabat mengira saya seorang kristiani ketika banyak menulis soal cinta dan kasih sayang, ada juga yang mengira saya seorang buddis ketika mereka tahu kalau saya seorang vegetarian, demikian juga dengan kegiatan berpuasa sebulan tadi. Bawahan di kantor yang biasa melayani saya membelikan makan siang, ada yang berbisik kalau saya sudah menjadi seorang muslim. Tentu saja semuanya hanya saya jawab dengan senyuman. Dan ada yang lebih penting dari sekadar memasukkan kegiatan-kegiatan membanggakan ini ke dalam kotak dan judul tertentu. Yakni, bagaimana sang waktu diisi.

Kadang ada anggota keluarga – terutama isteri – yang kasihan melihat saya menempuh jalan-jalan kehidupan seperti ini. Dulu, ketika berada pada kehidupan yang amat di bawah dan amat jarang bisa membeli daging, bermimpi bisa makan daging setiap hari. Sekarang, ketika membeli daging bukan lagi menjadi sebuah kegiatan yang teramat sulit untuk dilakukan, tiba-tiba saya memutuskan hubungan dengan kegiatan makan daging. Dulu, ketika makan adalah sebuah kemewahan dan hiburan yang amat menyenangkan. Sekarang ketika membeli makanan adalah sebuah perkara kecil, malah berpuasa dalam waktu sebulan. Demikianlah kira-kira isteri saya kadang mengeluh di rumah. Dan semua keluhan ini hanya saya jawab dengan senyuman sederhana plus kalimat sederhana : mumpung masih diberi waktu.

Serupa dengan lagu indah Ebiet G. Ade yang berjudul ‘Masih ada waktu’, hidup memang sebuah perjalanan abadi. Hanya karena kehendakNya, kita masih bisa melihat matahari. Ebiet memberikan kita sebuah alternatif yang layak untuk direnungkan : bersujud. Satu spirit dengan saran bersujud ala Ebiet, Kahlil Gibran dalam The Prophet pernah menulis : ‘your daily life is your temple and your religion’. Kehidupan sehari-hari Anda adalah tempat sembahyang sekaligus ‘agama’ Anda. Sulit membayangkan, bagaimana seseorang yang menyebut dirinya beragama tetapi setiap hari pekerjaannya hanya menyakiti hati orang lain. Susah dimengerti, kalau ada orang yang datang ke tempat ibadah demikian rajinnya, atau menyumbangkan dana besar untuk pembuatan tempat ibadah, tetapi hampir setiap hari mencuri uang orang lain.

Dalam bingkai-bingkai Ebiet dan Gibran, mungkin lebih menyentuh hati orang-orang biasa yang tidak pernah menyumbang, tidak pernah menyebutkan agamanya, tetapi mengisi waktu-waktunya dengan cinta dan kasih sayang. Atau orang-orang yang namanya tidak pernah menghiasi media, tidak dikenal siapapun, namun mengisi hari-harinya dengan senyuman buat kehidupan. Atau orang yang tidak pernah menduduki satu kursi jabatanpun, tidak menyandang gelar apapun, namun menunjukkan keteladanan-keteladanan kehidupan yang mengagumkan.

Terinspirasi dari pemikiran-pemikiran orang seperti Ebiet dan Gibran inilah, saya merelakan diri hidup dalam jalur-jalur yang oleh kebanyakan orang disebut menyengsarakan. Tidak untuk gagah-gagahan, tidak juga karena haus akan pujian, akan tetapi melalui solidaritas, disiplin diri, kesederhanaan saya sedang mengukir sang hidup dengan catatan-catatan waktu. Dan ketika suatu waktu putera puteri saya, atau orang lain membuka serta membacanya, mereka akan tahu, pernah ada seorang ayah atau seorang penulis yang hidup dengan tingkat solidaritas dan disiplin diri tenrtentu. Kemudian, membuahkan kehidupan yang hanya mengenal bersujud di depan Tuhan.

Sebagai orang yang bergaul ke mana-mana, kerap saya diberikan banyak kartu nama oleh banyak orang, lengkap dengan jabatan mentereng di bawah nama yang bersangkutan. Ini membuat saya berimajinasi, kalau suatu saat saya bisa memiliki sebuah kartu nama, di mana di bawah nama saya ada jabatan yang bisa mewakili kesukaan saya untuk bersujud di depan Tuhan. Mimpi ini muncul di kepala karena teringat oleh salah satu tulisan Gibran dalam The Prophet : ‘beauty is life when life unveils her holy face (kecantikan adalah kehidupan yang wajah sucinya terungkap). Dan saya berterimakasih bisa mengetahuinya ketika Tuhan masih memberi cukup waktu.





Resensi Buku


Hermawan On Marketing


Ukuran : 15 x 23 cm

Tebal : 868 halaman

Terbit : Januari 2002

Soft Cover



Sama dengan buku larisnya yang terbit 1996 lalu, Marketing Plus 2000: Siasat Memenangkan Persaingan Global (kini telah memasuki cetakan ketujuh), dalam buku ini pun Hermawan sekali lagi ngomong banyak soal marketing melalui kolom-kolom menggelitiknya. Bedanya, kalau di buku tersebut ia menggunakan konsep Marketing Plus 2000 yang masih sangat sederhana dan tradisional sebagai dasar penulisan kolomnya, maka di buku ini ia menggunakan model yang jauh lebih komprehensif.

Ia menggunakan Sustainable Market-ing Enterprise(SME) model merupakan pengembangan lebih lanjut dari model awal tersebut. Harap diketahui, SME model ini kini sudah menjadi buku yang diterbitkan untuk konsumen Asia berjudul Rethinking Marketing: Sustainance Market-ing Enterprise in Asia, yang ditulis bersama marketing guru, Philip Kotler.

Di model baru ini beberapa submodel ditambahkan. Kalau Marketing Plus 2000 hanya mencakup pembahasan mengenai Sembilan Elemen Pemasaran, maka di dalam buku ini ditambahkan 4C-Diamond(tool untuk analisis lingkungan bisnis); Scorecard (tools untuk mengukur value yang diberikan kepada tiga stakeholder utama perusahaan); Sustainable (tool untuk memahami posisi perusahaan dalam sustainability loop-nya); dan Enterprise (tool untuk perusahaan Visi, Misi, Goal, Business Scope, Corporate Culture, Organisasi, Target, Balance, Result).

Karena konsepnya sudah dikembangkan sedemikian luasnya, tentu saja kolom-kolom Hermawan dalam buku ini juga menjadi lebih kaya, komprehensif, dan sangat kental muatan konsep strategisnya. Dan yang tak kalah penting, lebih deep dan full of wisdom, karena selama enam tahun setelah buku pertama terbit, semakin bertambah klien yang ditangani, semakin bertambah buku yang ia baca, semakin bertambah model-model yang ia bikin, semakin bertambah pula seminar dan workshop yang ia lakukan. ISBN : 979-22-0095-9; 20802036





Selasa, 22 Januari 2008

PUSPO WARDOYO


SUKSES BERBISNIS DENGAN MANAJEMEN KONFLIK

Bicara waralaba ayam bakar, ingat Wong Solo. Berdebat tentang Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Malah dalam banyak hal, nama lelaki ini lebih beken ketimbang rumah makannya. Maklum, keberaniannya membuat acara Poligamy Award di suatu hotel beberapa waktu lalu, menimbulkan pro dan kontra. Apakah ia kebablasan dalam hal personal branding? Tunggu dulu. Ternyata, menurut pria kelahiran Solo 46 tahun lalu ini, apa yang ia lakukan memang disengaja. Kok bisa?

“Saya harus menciptakan konflik terus-menerus di benak orang supaya orang membicarakan saya,” ujar Direktur PT Sarana Bakar Diggaya ini blakbalakan. Bahkan ia mengungkapkan, jika perlu, ia membayar orang untuk mendemo dirinya sendiri. Tujuannya, supaya orang selalu membicarakan dirinya tanpa henti dan polemik menjadi panjang. Contohnya, isu poligami.

Bagi Puspo, apakah orang membicarakan hal positif atau negatif, untuk tahap awal bukanlah masalah. Yang penting, setiap saat orang membicarakan dirinya. Hal ini, dikatakannya, penting untuk bisnisnya. “Ketika orang membicarakan Puspo, itu berarti membicarakan Wong Solo, ” ujar suami dari empat wanita ini. Ia yakin, jika orang kenal Puspo, yang bersangkutan akan men-deliver hal itu ke Wong Solo.

Bagaimana Puspo bisa melakukan ini semua? Diceritakan, ketika pada tahun 1993 memulai bisnis ini, ia belum seterkenal sekarang. Ia memulai perjalanan usahanya dengan modal Rp. 700 ribu. Waktu itu orang mengenalnya hanya sebagai pedagang kaki lima di Bandara Polonia, Medan.

Namun suatu hari pada 1996, Koran daerah Medan, Waspada menulis seputar dirinya. Judulnya, “Puspo Wardoyo, Sarjana Membuka Ayam Bakar Wong Solo di Medan.” Sejak itu, bisnis rumah makannya sukses besar. Omsetnya naik 300%-400%. “Dari sini saya sadar dampak pemberitaan,” ujar mantan guru SMA di Bagansiapi-api, Sumatera Utara ini. Dan ia pun mulai mendekati pers.

Setelah cukup dekat dengan kalangan pers. Puspo mulai memahami cara kerja dunia pers. Antara lain, penting isu dalam pemberitaan. Sejak itu, ia mulai menciptakan isu atau konflik yang berkenaan dengan dirinya. “Isu atau konflik itu penting supaya media mau memberitakannya, tanpa kita memintanya,” ia menjelaskan. Isu-isu yang dibuatnya haruslah mengandung unsur tidak bermasalah. Malah kalau bisa, dengan isu tersebut, ia menjadi pahlawan. “karena seorang pionir adalah seorang pembuka, dan ia bisa disebut pahlawan,” katanya. Target besarnya adalah bagaimana mempromosikan bisnis.

Tentang sosok pahlawan ini, Puspo mencontohkannya dalam hal poligami. Ia memfigurkan dirinya sebagai pahlawan poligami. Sekaligus sebagai pengusaha rumah makan yang sukses dan andal. Di sini ia ingin meruntuhkan mitos bahwa poligami itu tabu.

Isu yang diluncurkan, antara lain sewaktu mendapat penghargaan Enterprise-50. Lalu, saat menerima penghargaan sebagai Waralaba Lokal Terbaik dari Presiden RI Megawati. Dan terakhir yang bikir geger Poligamy Award. Tak tanggung-tanggung, dana tak kurang dari Rp. 2 miliar dikucurkannya untuk acara ini.

Tentang isu poligami, Puspo berujar, “Ini positif dan paling efektif. Karena ada kebenaran, tapi tak semua orang berani mengungkapkannya.” Toh, ia melihat, dari sisi agama, apa yang dilakukannya tak melanggar aturan. Ia sadar, banyak orang yang setuju dan banyak juga yang tak setuju. “Ketika orang bicara poligami, tak akan pernah tuntas,” ujarnya. Hal itu, ia menambahkan, akan memunculkan konflik di antara mereka.

Puspo mengakui ia sangat terkesan dengan isu Poligamy Award. Karena, setelah acara tersebut diselenggarakan, banyak sekali tanggapan dari masyarakat. “Ini puncak promosi saya,” ujarnya bangga. Diakuinya, ini isu yang paling berat dan seru yang pernah diluncurkannya. “Karena isu ini melawan arus,” tambahnya. Isu-isu tersebut ternyata tidak dibuatnya sendiri. Ia membentuk sejumlah tim. Tim yang terdiri dari para wartawan ini tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Badung, Surabaya, Solo, Malang, Bali dan Medan. Namun, ia tak menyerahkan pembuatan isu begitu saja kepada timnya. “Semua tetap di bawah kepemimpinan saya,” katanya. Dua minggu sekali ia mengadakan rapat untuk menetapkan isu dalam satu bulan.

Hasil evaluasinya saat ini menunjukkan, nama Puspo Wardoyo sudah dikenal banyak orang. Adapun dari sisi bisnis, ia merasa relatif berhasil. Saat ini sejumlah rumah makan di berbagai kota besar dimilikinya. Sejumlah proposal kerjasama juga terus mengalir ke mejanya. Namun, kalau dibandingkan dengan rumah makannya, ia mengakui namanya cenderung lebih popular ketimbang Wong Solo. Itulah sebabnya, agar seimbang, kini ia mengupayakan agar nama rumah makannya kian dikenal. Karena hal itu, beberapa langkah kini digodoknya. Caranya? Membuat sejumlah isu baru! Pertama, isu yang berisikan pesan bahwa dirinya adalah sosok yang baik, sabar, penuh kasih sayang dengan keluarga, dan dermawan. “Saya ingin colling down setelah kasus Poligamy Award, untuk meraih simpati,” ujarnya terus terang. Berikutnya, fokus pada product branding. Sejumlah produk unggulan Wong Solo akan segera diluncurkan.

Menurutnya, selama ini Wong Solo dikenal sebagai rumah makan biasa. Padahal, usahanya ini memiliki sejumlah produk unggulan. Contohnya, beras terbaik dari Delangga. Juga, kangkung unggulan yang hidup di air panas dari Cibaya, yang karena daya tahannya yang kuat dinamakannya Kangkung Perkasa. Selain itu, ia juga memiliki beberapa produk unggulan yang namanya nyerempet-nyerempet poligami, seperti Jus Poligami, Jus Dimadu, atau Tumis Cah Poligami. Terlepas dari kontroversi yang ada, suka tidak suka, Puspo adalah salah satu pebisnis yang piawai mem-brand-kan dirinya.





SOICHIRO HONDA

Montir tangguh yang menjadi bos industri mobil Jepang

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru.

Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.”

Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat.

Di majalah itu sebuah bengkel mobil dari Tokyo memasang iklan mencari karyawan. Soichiro buru-buru melamar dan ia diterima. Walaupun ayahnya khawatir, namun Soichiro diantar juga ke kota besar itu.

Honda hampir tidak percaya pada telinganya Honda merasa saat menunggu dipanggil belajar menjadi montir itu benar-benar merupakan ujian ketabahan yang paling berat, yang pernah dihadapinya seumur hidupnya. Di masa-masa setelah itu ia sudah tidak takut lagi menghadapi rintangan apa pun berkat ketabahan yang diperolehnya selama menjadi kacung.

Honda yang selama kariernya tidak tahu banyak mengenai uang, Cuma mendapat keuntungan sedikit sekali tahun pertama itu. Tetapi Honda merasa beruntung karena bengkelnya sukses. Ia memutuskan untuk menabung dan memperkirakan selama masa kerjanya akan mampu mengumpulkan sampai 1.000 yen.

Selama hidupnya Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hal paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama, ditemukannya ialah teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika itu mobil-mobil di Jepang memakai jari-jari kayu yang mudah terbakar. Perusahaan-perusahaan Jepang segera mengekspor jari-jari logam itu sampai ke India. Pada umur 25 tahun ia memperoleh keuntungan 1.000 yen sebulan.

Perusahaan juga menghargai orang-orang muda dan selalu merekrut orang-orang muda untuk memberi “darah baru” dan gagasan segar. Ketika Honda mengundurkan diri tahun 1973, yang dipilihnya sebagai pengganti ialah Kyoshi Kawashima, kepala bagian riset perusahaan Honda. Selama sejarahnya, perusahaan Honda hanya pernah mengalami pemogokan sekali pada tahun 1954. Ketika itu Honda dan manajemen di satu pihak menghadapi pekerja-pekerja dan adik Honda di Pihak lain. Tetapi sebagai layaknya perusahaan di Jepang semuanya itu diselesaikan dengan musyawarah.

Sejak tahun 1973 Honda pindah ke pasaran kendaraan beroda empat untuk bisa tetap mengembangkan jumlah penghasilan perusahaan. Stafnya yang pada masa Honda bertambah 10% setiap tahun. Kalau mereka bertambah tua, artinya beban perusahaan akan bertambah berat. Padahal Honda menghadapi persaingan berat di pasaran dalam negeri dan luar negeri. Untuk bisa tetap menciptakan pasaran baru mereka harus selalu mencari teknik yang unik dan efisien serta menjual produk dengan harga bersaing.

Namun ketika Honda dan Fujisawa mengundurkan diri pada musim gugur tahun 1973, Honda berkata, “Saya bisa mundur tanpa perasaan khawatir, karena saya yakin perusahaan akan terus maju dengan penuh semangat, menanggulangi pelbagai kesulitan dan luwes, tanpa kehilangan kesegarannya.”

“Terus terang saya merasa muda dalam hal mental maupun fisik,” kata Honda. “Saya kira kalian tidak bisa menang dari saya. Namun saya mesti mengakui sekarang saya sering merasa iri hati pada orang muda. Saya diberi tahu bahwa di Amerika pemimpin umum perusahaan berumur 40-an dan perusahaan yang dipimpin orang berusia 60-an tahun sering mengalami stagnasi. Kita sekarang memang memasuki zaman baru yang memerlukan nilai-nilai baru. Walaupun saya dan wakil pemimpin umum merasa kami masih muda, kami kira umur kami sudah lewat untuk memimpin.”

Kalau saya menengok kembali ke belakang, saya lihat bahwa yang saya buat tidak lain daripada kesalahan, serentetan kegagalan dan serentetan sesalan,” kata Honda. “Tetapi saya juga bangga untuk keberhasilan saya. Walaupun saya sering membuat kesalahan dan kegagalan, namun semua itu tidak pernah disebabkan oleh hal sama. Saya tidak pernah mengulangi kesalahan dan saya selalu berusaha sekuat mungkin untuk memperbaiki diri. Dalam hal itu saya berhasil.

“Ia tetap memegang saham terbesar di perusahaannya. Ketika mengundurkan diri tahun 1973 penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun omongannya masih didengar. Katanya, masa depan industri Jepang bukan ditentukan oleh untuk cepat, tetapi oleh mutu barang yang kita buat dan pengaruhnya terhadap kepentingan sesama manusia. Kalau kita membuat barang yang menyebabkan banyak polusi kemungkinan kita akan untung, tetapi hanya sebentar, sesudah itu bangkrut. Kami di perusahaan Honda sering bergurau: Enak juga ada perusahaan-perusahaan besar yang kerjanya hanya memikirkan untung besar saja. Akibatnya perusahaan kecil seperti Honda mendapat kesempatan untuk membuat barang yang baik.

Rahasia Sukses

Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaraan ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda --Soichiro Honda -- selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ''Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,'' tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906
ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.
Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya
itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

''Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, '' ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor-- cikal bakal lahirnya mobil Honda -- itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya.

''ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN.
TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,'' tuturnya. Ia memberikan petuah, ''KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.''

Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin.

Sumber Gambar: http://bmnhy.dieukhien.net/

ABDULLAH GYMNASTIAR (AA GYM)


SUKSES BISNIS DENGAN AKHLAK

Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketika, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”

K.H. Abdullah Gymnastiar.

Sosok kyai muda ini sering kali muncul di acara televisi secara langsung yang selalu dihadiri oleh ribuan massa menjadi ciri khas dan fenomena tersendiri. Beliau adalah K.H. Abdullah Gymnastiar atau biasa dipanggil Aa Gym, pimpinan pesantren Daarut Tauhid Bandung. Aa Gym memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD swasta yang kini sudah dibubarkan. Sekolah ini cukup jauh dari rumahnya, sekitar tiga kilometer. Masa itu, pilihan satu-satunya ke sekolah adalah berjalan kaki. Menjelang naik ke kelas 3 SD, pindah ke KPAD Gegerkalong. Aa Gym pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3. Bakat saya mulai berkembang dan nilai prestasi sekolah pun cukup bagus. Terbukti ketika tamat, beliau terpilih menjadi ranking terbaik II di sekolah dengan selisih satu nilai saja dibandingkan ranking I. Di bidang seni, bakat beliau juga berkembang, seperti menggambar dan menyanyi. Sejak itu pula Aa Gym sering ditunjuk menjadi ketua kelas dan aktif dalam gerakan Pramuka. Jiwa dagang Aa Gym sudah terbentuk sejak TK, terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Misalnya, beliau pernah menjual petasan yang memang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Alhasil, beliau pernah mendapat teguran dan pengurus DKM masjid. Namun, pada waktu itu beliau belum begitu mengerti ilmu agama dengan baik. Setelah lulus SMA dan memasuki kuliah Aa Gym tidak lulus tes Sipenmaru. Aa Gym mencoba daftar ke Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, yaitu sebuah program D3 di Fakultas Ekonomi. Alhamdulillah beliau diterima. Namun, kuliah di sini hanya bertahan selama tahun. Beliau lebih sibuk berbisnis daripada mengikuti kuliah. Teman-teman kuliah pun lebih mengenal beliau sebagai “tukang dagang”. Selepas PAAP, beliau masuk ke Akademi Tekhnik Jenderal Abmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Kampusnya waktu itu sangat sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Maklum, karena pemiliknya adalah Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat. Selama kuliah di ATA, beliau mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah karena benar-benar ingin melatih hidup mandiri. Soal prestasi, banyak yang telah diraih. Beliau mengikuti lomba menggambar, mencipta lagu, baca puisi, sampai lomba pidato. Allhamdulillah, beliau selalu meraih juara, walaupun yang mengadakannya adalah senat mahasiswa dan kebetulan beliau sendirilah ketuanya. Selain menjadi ketua senat, beliau juga menjadi komandan resimen mahasiswa (Mlenwa) di ATA, maklumlah saingan di kala itu sedikit. Kegiatan berbisnis masa kuliah juga semakin menggebu. Beliau pernah membuat usaha keset dan perca kain. Beliau juga jadi penjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda. Aa Gym juga sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini, memang Aa Gym sangat senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapa pun. Selain itu, beliau juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang lainnya. Aa Gym telah menyelesaikan program sarjana muda di ATA walaupun belum mengikuti ujian negara. Berarti, beliau memang tak berhak menyandang gelar apa pun. Bahkan, sampai saat ini ijazahnya pun belum beliau ambil dari kampus. Memang sesudah itu ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1, terutama karena dorongan teman-teman dan beberapa dosen yang baik hati. Beberapa kegiatan perkuliahan pun diikuti. Akan tetapi, setelah menelusuri hati, ternyata hanya sekedar untuk mencari status belaka, dan hal itu tak cukup kuat untuk memotivasi menyelesaikan kuliah. Mungkin hikmahnya untuk memotivasi orang yang belum dan tak punya gelar agar tetap optimis untuk maju dan sukses.

Untuk menyempurnakan ibadah dan melaksanakan sunnah, Aa Gym pun menikah. Tepat dua belas Rabiul Awal tahun 1987 adalah salah satu titik sejarah bagi kehidupan beliau dengan diucapkannya ijab kabul. Gadis yang menjadi pilihan beliau adalah Ninih Muthmainnah. Pernikahan yang dilaksanakan di Pesantren Kalangsari, Cijulang,ini dihadiri oleh banyak ulama karena memang berada di lingkungan pesantren. Beliau menikah dengan resepsi ala kadarnya. Bahkan, untuk menghemat jamuan bagi tamu, digunakan niru (nampan) sehingga satu niru bisa menjamu 8 orang sesudah menikah, kami tinggal di rumah orang tua di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Gegerkalong, Bandung. Aa Gym bertekad untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya. Jelas tak mungkin rumah tangga akan berkah dan bahagia jika ada makanan atau harta haram yang dimiliki. Untuk itu, beliau mulai merintis usaha kecil-kecilan. Usaha-usaha yang beliau rintis antara lain :

1. Buku. Setiap pagi beliau berjualan buku di Masjid al-Furqon, IMP Bandung. Sambil belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, beliau memikul kardus berisi buku-buku agama untuk dijual. Jadi, sambil menuntut ilmu juga mencari rezeki. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang menjadi cikal bakal toko buku dan sekarang berkembang menjadi supermarket yang saat ini sudah dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhid.

2. Handicraft. Sambil mengajar di madrasah KPAD, beliau membuat hasil kerajinan bersama anak-anak pada sore harinya. Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli mesin gergaji. Sejak itu kami banyak menerima order plang nama serta order sablonan. Dari usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan buku. Subhanallah, benar-benar semuanya dimulai dari hal yang kecil.

3. Konveksi. Mengingat istri beliau punya keterampilan menjahit, maka untuk menambah penghasilan keluarga, beliau menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah, order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk ikut bergabung. Kadang seminggu sekali kami berbelanja untuk membeli kain yang dijual kiloan.. Dari kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.

4. Mie Baso. Menjual mie baso, inilah pekerjaan yang paling mengesankan. Beliau mengelola usaha warung baso kecil-kedilan di Perumnas Sarijadi, bekerja sama dengan pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh beliau sudah pergi ke Pasar Sederhana untuk mencari tulang karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum tulang. Aktivitas berikutnya dilanjutkan dengan menggiling daging untuk bahan baso, dan pukul sembilan pagi beliau baru bisa melayani pembeli. Karena beliau tak mau ketinggalan shalat berjamaah, setiap kali adzan, warung baso beliau tinggalkan. Beliau pergi shalat berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, sementara pembeli beliau tinggalkan dan dipersilahkan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Memang tampaknya seperti mengajak pada kejujuran, tapi hasilnya pembeli banyak yang bingung justru yang sering datang adalah yang mau berkonsultasi. Akibatnya, tak jarang saya baru bisa pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Lelah sekali rasanya sementara hasilnya pun tak seberapa. Rupanya masyarakat tak terbiasa dengan cara baru ini. Belum lagi badan yang selalu bau baso karena seharian bergulat dengan baso. Yang menyedih­kan, ternyata istri agak mual dan kurang suka mencium bau baso. Akhirnya, tutuplah warung baso ini dengan segudang pengalamannya.

Menurut Aa Gym seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya. Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu dimudahkan urusan, selalu ditolong, maka bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi orang tua, tanamkan kepada anak-anak kita jiwa wirausaha sejak dini. Didik anak-anak agar mandiri sejak kecil. Latih anak-anak kita untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Orang tua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan segala keinginannya maka akibatnya akan kembali juga kepada orang tua. Beliau pun sempat berjualan semenjak di bangku TK dengan menjual jambu tetangga. Begitu juga ketika di bangku SD dan SMP. Dengan demikian, ketika selesai kuliah, sudah hafal bagaimana cara “bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, dan bagaimana usaha bisa remuk. Selesai kuliah, ijazah tidak diambil sehingga sampai sekarang saya tidak tahu ijazah saya seperti apa. Namun, dengan izin Allah tidak kurang rezeki sampai sekarang. Mencoba mengurus pesantren dengan jiwa wirausaha jadilah pesantren Daarut Tauhid seperti sekarang ini. Hal ini benar-benar membuat sebuah keyakinan bahwa jikalau jiwa kewirausahaan tertanam sejak awal pada diri kita, kita tidak akan pernah takut dengan apa pun. Karena itu, kalau saja bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang berjiwa wirausaha, tidak ada satu pun yang perlu kita takuti dan krisis ini. Hal yang paling tak enak didengar beliau adalah kalau ada yang bertanya, “Berapa sih tarifnva kalau manggil Aa Gym ceramah?” Duh, rasanya sedih sekali dengan pertanyaan seperti itu. Alhamdulillah, bagi beliau berdakwah adalah panggilan kewajiban atas amanah ilmu yang ada. Bisa menyampaikan ilmu saja sudah merupakan rezeki yang luar biasa. Kalaupun ada yang berterima kasih, itu karunia Allah yang tak diharapkan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Itulah sebabnya beliau berusaha sekuat tenaga agar memiliki penghasilan sendiri. Apalagi sesudah regenerasi di Yayasan Daarut Tauhid sehingga beliau lebih leluasa dan sungguh-sungguh untuk membangun MQ Corporation, usaha pribadi yang beliau harapkan menjadi sumber rezeki yang halal serta mencukupi untuk keluarga dan biaya dakwah, sehingga dapat menghindari fitnah dan tak menjadi beban bagi umat. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa bisnis berbasis moral sangat memungkinkan untuk maju, bermutu, dan bermanfaat banyak. Hal ini juga menjadi laboratorium saya untuk berlatih mengelola bisnis yang profesional sebagai bahan untuk berdakwah dan tentunya juga membuat lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya para tetangga, kaum dhuafa, dan orang-orang cacat. Bagi beliau usaha yang ditekuni adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin usaha yang halal dan maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu, dan setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya juga dikeluarkan biaya pendidikan bagi saudara kita yang dhuafa agar bisa maju bersama-sama. Alhamdulillah dengan didukung oleh tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris nihil. Bahkan, sesudah kemam­puan pengelolanya dikembangkan, kinerja perusahaan kian baik dan professional. Dulu beliau berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi kini beliau berpikir sebaliknya. Beliau ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya serta halal dan berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata karena menganggap kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu juga diharapkan bisa sedikitnya memberi contoh bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah. Semoga terpelihara dari fitnah dunia karena memang luas dunia ini amat menggoda dan melalaikan.

Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial, padahal menurut beliau modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya (kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengem­bangkan ilmu, pengalaman, wawasan, sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah bahwa sebelum kita lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya. Kita hanya disuruh menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita. Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi oleh Allah Swt. Adapun keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya. Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantie. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan, dengan bisnis bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahmi, dan dengan bisnis kita semakin banyak orang yang merasa beruntung.

Jadi, walaupun keuntungan finansial tak seberapa didapat atau bahkan tak mendapatkannya, apabila keuntungan seperti di atas sudah didapatkan, beliau tetap merasa sangat beruntung. Beliau yakin pada saatnya Allah akan memberikan keuntungan dunia yang sesuai dengan waktu dan jumlahnya dengan kadar kebutuhan dan kekuatan iman beliau.

Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekedar urusan duniawi. Jika bisnis dijalankan dengan cara yang salah hanya akan melahirkan kerakusan dan ketamakkan manusia. Sebaliknya bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali pahalanya, karena dengan mengokohkan harga diri bangsa. Seperti disampaikan beliau dalam sebuah kesempatan, bahwa perekonomian yang kuat akan berimbas pada tingkat kesehatan yang baik, sehingga akan meningkatkan kemampuan untuk berkarya dengan mengakses ilmu lebih banyak, hingga melahirkan sebuah bangsa yang cerdas.

Visi Aa Gym dalam membantu Pesantren Daarut Tauhid sekaligus dengan beragam kegiatan bisnisnya, tidak lepas dari konsep dasar pendidikan di pesantren ini menyatukan antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Dimensi dzikir ini sangat menekankan pada keikhlasan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Hal ini merupakan sisi penyeimbang hidup, dimana kita dituntut untuk senantiasa menyempatkan waktu, untuk berkontemplasi dan menjadikan setiap detik kehidupan kita bergantung kepada Tuhan. Dimensi fikir menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan kesehatian kita, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Sementara dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhnya dan kerja keras tanpa kenal putus asa. Ketika dimensi tersebut jika dilakukan secara sinergis akan melahirkan pribadi yang unggul dan tangguh dengan tetap dilandasi oleh nilai kearifan.

Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya, hingga telah berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya yang meliputi tiga aspek utama yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme), dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji, manajemen waktu, memiliki fakta dan data yang jelas, terbuka, kemampuan mengevaluasi, rasa tanggung jawab dan pantang putus asa.

Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan yang penting juga adalah pelatihan nyata. Seperti ditulis oleh Syafi’i Antonio dalam artikelnya yang menceritakan tentang riwayat Rasulullah yang telah mendapat pendidikan entrepreneurship sejak usia 12 tahun, ketika bersama pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan bisnis. Pada usia 17 tahun Beliau telah diberi tanggung jawab untuk mengurus seluruh bisnis pamannya, dan mulai merasakan persaingan dengan para pedagang yang lebih professional. Menginjak usia 25 tahun Beliau mendapatkan dukungan finansial dari konglomerat setempat Siti Khadijah yang kemudian menjadi istri Beliau.

Nilai yang ketika yang dikembangkan Daarut Tauhid yang juga dikenal dengan bengkel akhlak ini adalah inovatif. Beberapa aspek pendidikannya antara lain melatih jiwa progressive, dengan menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai kewajiban massal, mengadakan studi banding, melakukan pelatihan-pelatihan dan senantiasa memberikan rangsangan untuk melahirkan sikap kreatif dan inovatif.

Ketiga nilai tersebut telah dilakukan secara integral di Daarut Tauhid. Bisnis bagi Aa Gym akan terasa hambar jika nilai-nilai moral dikesampingkan, hanya akan menjadi materi sebagai dewa yang dikejar dan diagung-agungkan, dan akhirnya akan melahirkan jiwa-jiwa Brutus di setiap pelaku bisnis.

Aspek-aspek modal dalam bisnis sebetulnya telah diajarkan oleh Rasul jauh 15 abad yang lalu, lewat sifat-sifat kerasulan yang dimiliki Beliau yaitu sidiq (benar), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (komunikasi). Nilai-nilai moral ini bersifat general truth, melintasi batas waktu, agama dan budaya. Jika disinergikan dengan strategi bisnis yang tepat akan mampu membangun kepercayaan konsumen yang kuat. Kepercayaan konsumen ini merupakan aset yang tidak ternilai.

Kepemimpinan yang berkembang umum di kalangan pesantren pada umumnya masih tradisional, kyai sentries, komando tunggal, dan iklim demokrasi kurang berkembang sehingga seringkali timbul blind faith di kalangan santri. Fungsi manajemen yang dijalankan pun kurang mendapat sentuhan bahkan cenderung diabaikan. Pola kepemimpinan Darut Tauhid tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral. Aa Gym sebagai pemimpin pesantren hadir hanya karena nilai khusus yang dimilikinya. Meminjam istilah Max Webber, pola kepemimpinan yang lahir seperti ini karena otoritas karismatik. Kepemimpinan di Daarut Tauhid telah menerapkan system pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau melayani, seperti pernah dikemukakan oleh A.M. Mangunhardjana SJ. Bahwa pada intinya pemimpin adalah tugas pengabdian mereka menjalankan the golden rule of leadership yaitu knows the way, shows the way and goes the way. Dari sisi manajemen Daarut Tauhiid telah menerapkan system lebih dari hanya sekedar menerapkan sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen yang berkembang saat ini tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku agar materi dan kapital semakin produktif, tapi juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia. Covey sendiri dalam hal ini telah melakukan terobosan baru dengan mengemukakan gagasannya tentang manajemen berbasis kepentingan yang kental dengan nuansa religius.

Daarut Tauhid sendiri menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ hati adalah fakultas utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri, jika dimanajemeni dan dipimpin dengan benar akan melahirkan manusia paripurna dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam kesehariannya Daarut Tauhid tidak pernah merengek-rengek meminta sumbangan, apalagi dengan menjaring dana di pinggir jalan. Dilihat dari fasilitas dan asset Daarut Tauhid termasuk pesantren yang maju dalam waktu singkat. DT pada awalnya hanya dikenal sebagai bengkel akhlak tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang kami memiliki strategi tersendiri, oleh karena itu visi dan misi Daarut Tauhid sendiri harus dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan Abdullah Gymnastiar.

Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkan Daarut Tauhid sendiri memiliki lima aturan dasar pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berfikir keras, mengenal diri dan potensinya sehingga ia mampu mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya dan menempat dirinya secara optimal. Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya sehingga bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara professional. Ketika, mereka dilatih untuuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar. Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.

Pola MQ sampai sejauh ini telah menghasilkan SDM yang unggul, hal ini terbukti dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadapnya, diantaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan manajemen untuk para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT Kereta Api Indonesia. Mereka tertarik dengan konsep manajemen Daarut Tauhid karena diyakini mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).




Bedah Bisnis Koran Cepat Detikcom (1)


Terjun ke Old Economy
Oleh: Rhenald Kasali

Dalam era Cyber sekarang ini dimana media massa bergairah untuk masuk kedalam new economy dalam bentuk masuk keportal. Tetapi malah sebuah portal news terjun ke bidang old economy dengan menerbitkan Koran Cepat Detikcom. Terbit sejak pertengahan maret lalu Koran Cepat Detikcom meramaikan dunia percetakan bersama koran Tempo yang terbit 2 April 2001.

Terjunnya detik.com ke bisnis media harian ini dilatar belakangi oleh permintaan dari para netter detik.com online. Karena tidak semua dari mereka sempat membuka laptop atau komputer mereka di kantor atau ditempat kerja. Mereka ingin sesuatu yang dapat dibawa kemana-mana dan bisa dibaca dimana saja. Dan tanpa disadari ongkos untuk masuk ke internet lebih mahal dibanding membaca Koran yang harganya dibawah seribu ruiah. Sudah bisa membaca semua berita yang ada di detik.com online. Karena infra struktur telekomunikasi kita belum menunjang. Satu jam paling tidak lima ribu rupiah dan waktu downloadnya lama. Kemudian untuk orang yang gatek atau gagap teknologi tidak mengerti apa itu internet dan sampai sekarang diajarin pun tidak mau. Padahal mereka ingin tahu berita-berita yang paling baru. Begitu cepatnya Koran Detikcom ini terbit tanpa aba-aba terlebih dahulu bukannya tanpa alasan. Mereka melihat permintaan detik.com print out yang makin kuat dan juga ingin memanfaatkan momentum situasi politik. Karena media massa bisa besar kalau momentumnya pas. Seperti Kontan yang berkembang karena dia terbit ketika krismon dan bisa membongkar kasus-kasus yang menarik contohnya kasus Busang.

Koran Cepat Detikcom ini terbit dua kali sehari (edisi siang dan edisi sore). Dari penampilannya di hari-hari pertama terlihat jelas bahwa pengelola KCD menginginkan agar medianya benar-benar menjadi Koran yang menyajikan berita dalam ukuran jam. Berita dari jam dua pagi sampai jam sepuluh langsung terbaca siang hari jam 12 siang. Sedangkan berita sore dapat dibaca pada jam empat sore. Distribusinya dipusatkan pada para agen pengecer dan food court-food court yang dituju ketika makan siang. Untuk menghindari macet dan agar distribusi Koran tepat waktu Koran Cepat Detikcom mengantar menggunakan armada bermotor. Armada ini dilengkapi dengan terpal plastik yang melindungi Koran dan pengendara dari hujan. Memang masalah distribusi ini merupakan masalah utama pada Koran Detikcom. Kalau telat sedikit tidak dibawa pengecer. Sehingga pertimbangan mencetak diluar kota yaitu di Cibubur perlu dipertimbangkan kembali. Pencetakannya sendiri dengan system online.

Sebetulnya Koran Cepat Detikcom ingin terbit tiga kali dengan memasuki pasar koran pagi. Tetapi pasar koran pagi itu banyak sekali lawannya dan ada raksasa-raksasa media didalmnya. Dari segi cost Koran Detikcom lebih unggul karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tak perlu rekrut wartawan baru. Jadi secara teknis tidak ada kesulitan masuk pagi dan materi jauh lebih banyak ketimbang sore dan siang. Tetapi dicoba dulu dua kali sehari baru kemudian dilihat perkembangannya.

Dari tingkat penjualan kalau para pengecer membawa 10-20 eksempelar diatas 50% lakunya. Cetakan pertama 50 ribu eksempelar ditargetkan sampai akhir tahun mencapai 80 ribu eksemplar. Koran ini merupakan Koran 30 menit. Selesai dibaca kira-kira selama 30 menit semua berita telah selesai dibaca. Karena para pembaca memiliki waktu yang sempit. Dengan membaca headline dan berita yang tersaji secara bersifat hard news. Didukung dengan desain yang simple dan uma 2 lembar kertas Koran sehigga gampang dibaca, gampang dibuang dan gampang dibeli. Isi Koran Cepat Detikcom mengambil dari detik.com online dengan sedikit editing.

PT. Koran Detikcom berbeda kepemilikan dengan Detik.com Online. Pemilik PT. Koran Cepat Detikcom adalah PT. AgraKom dan beberapa orang dari kalangan finansial. Dimana skema kerja samanya adalah joint venture dengan bagi hasil keuntungan yuang didapat. Modal awal yang dialokasikan untuk Koran Cepat Detikcom adalah 2 milyar rupiah. Dari segi modal Koran detikcom berhemat 1/20 dibandingkan dengan perusahaan media lainnya. Juga dari segi penghematan Koran Detikcom ini dapat berhemat 1/25.Karena content tinggal diambil dari detik.com online dan tidak perlu rekrut wartawan baru lagi. Kertasnya Cuma 2 lembar jadi ongkos kertasnya sedikit sekali dibandingkan Koran-koran kita yang tebel banget nih. Dengan hitung-hitungan kasar Koran ini seharusnya umurnya lebih panjang dari Koran-koran biasa. Tetapi dengan syarat pertumbuhan penjualan meningkat 5% setiap bulan.Bila tiras yang terjual mencapai 30 ribu eksemplar maka usaha dapat berjalan terus.

Bila Koran Detikcom ini sukses maka peluang ini tampaknya akan dengan mudah di tiru oleh portal news yang lain.





Kolom Rhenald kasali


Rully Membangun Franchise Lokal bernama CMM
Oleh: Rhenald Kasali

Banyak orang yang bisa memasak dengan enak, tapi hanya sedikit yang bisa menjual makanannya sendiri. Rully termasuk yang langka itu. Ia menceritakan perjalanan panjangnya dari awal sampai membuka cabang CMM di kota Padang, kota asal bagi banyak jenis makanan yang enak-enak. Ia menceritakan semua itu kepada Rhenald Kasali pada acara Bedah Bisnis di Radio M97FM, 23 Juli lalu. Seeprti biasa Rhenald ditemani oleh Ifeb alias Febrira Ghalib, penyiar tetap apda radio itu.

Berapa omset sebulan?
Seluruhnya, alhamdulillah, antara Rp 600-700 juta sebulan

Konon kabarnya kalau bisnis makanan marginnya 50% sampai 100% ?
Nggak. Itu kan orang yang ngomong. Kalo warung atau tempat yang nggak perlu sewa mungkin bisa 50 %. Kita bikin usaha, namanya usaha makanan, margin rangenya itu antara 10-20%

Nggak ada rencana IPO?
Belum. Saya franchise.

Sekarang sudah berapa cabang Cwie Mie?
Cwie mie sama Rully’s itu kita ada tujuh, tiga adalah franchise

Dimana aja tuh ?
Jakarta satu, Padang satu, dan Yogya Satu .

Jadi orang padang itu sudah suka Cwie mie?
Itulah yang saya surprise sekali.,Saya tahu bahwa Padang adalah gudangnya makanan, makanan di sana saya anggap enak, dan laku dijual dimana-mana. Kebetulan kenalan saya di sana mau buka Cwie Mie Malang di sana. Setelah saya cek lokasinya , saya setuju buka di sana.

Sudah mulai?
Hampir satu bulan. Penjualannya saya anggap luar biasa.

Seberapa luarbiasanya?
Untuk ukuran warung jangan dibandingkan Mcdonald dan Pizza Hut. Mungkin bisa Rp 8-10 juta per hari. Begini Pak Rhenald, biasanya mereka membuka warung di pasar atau di ruko. Saya beda, di sana ada tanah 1800 meter persegi. Saya kasih taman. Bangunannya dari batang kelapa dan batu bata. Suasananya adem dan kesannya dingin. Lighting kalau malam itu indah sekali. Jadi betul-betul berbeda dengan Kentucky yang ber-AC. Orang betul-betul niat untuk masuk ke sana. Begitu coba, ternyata mereka suka

Kalau saya berminat franchise, apa cukup saya kirim proposal?
Nggak. Datang saja ke tempat saya, ngobrol-ngobrol dengan saya

Jadi dilihat dulu, bisa dipercaya nggak nih orang?
Ya, bisnis adalah trust. Misalnya orangnya doing bisnis nggak. Atau hanya punya duit tapi konsentrasi nggak ke situ, saya nggak mau, nanti jalannya setengah-setengah.

Harus menyiapkan uang berapa sih orang bisa franchise?
Kalau yang namanya food court concept itu dananya tidak begitu besar, Rp 20 juta di luar sewa tempat. Itu modal kerja sudah termasuk equipment sederhana.

Sederhana maksudnya seperti apa?
Misalnya panci stainless steel itu harganya mahal, kita pakai panci biasa. Lebih murah dan tidak mengubah rasa.

Berapa lama kira-kira bisa kembali modal di satu food court?
Nggak lebih dari setahun. Kalau dalam setahun nggak balik modal, berarti ada something wrong.

Bagaimana Cwie Mie bisa diterima dimana-mana apakah ada adjustment terhadap taste?
Betul, tapi basic-nya nggak.Misalnya soal mie, yang enak itu belum tentu yang halus, lembut dan sebagainya. Sebelum saya membuka restaurant ini saya sudah melakukan survey dan riset di rumah. Saya undang orang Chinese, Betawi, Malang, Padang, untuk memilih mie yang paling disukai, ternyata hasilnya yang sekarang ini. Dan itu saya pertahankan sampai sekarang.

Jadi, mie-nya bikin sendiri ?
Iya lah. Kebetulan saya pernah kerja di Indofood, saya banyak kenal temen-temen di sana, mereka juga share knowledge lah, saya selalu tanya, dan saya punya equipmentnya

Coba ceritakan sedikit latar belakang Anda, kelihatannya menarik?
Saya SMA di Malang. Teman-teman mau jadi dokter, insinyur. Pokoknya jadi sarjana doctorandus. Yang milih ke perhotelan itu sedikit sekali, mungkin hanya 1%, termasuk saya.. Saya masuk ke National Hotel Institute Bandung.. Teman saya ngasih saran lebih baik masuk ke bagian makanan, karena koki gajinya gede, akhirnya saya masuk kesitu.

Sebelumnya anda tidak hobby masak?
O, tidak. Waktu kecil saya suka masak nasi goreng, rujak cingur, ibu saya kebetulan punya warung(kantin). Di stadion, kantinnya, ibu saya yang pegang. Kadang-kadang kalau nggak ada pembantunya, saya jualan. Saya bikin rujak di situ.

Tadi latar belakangnya sebagai koki. Sekarang pengalaman kerjanya sebagai apa saja?
Saya pernah kerja di hotel. Pertama, sebagai cook helper tahun 70-an, ketika itu senior sering ngerjain anak baru seperti saya. Disuruh ngupas kentang satu atau dua karung. Lalu di Hilton jadi cook. Trus saya balik lagi sekolah, sampai suatu saat saya inging menjadi raja kecil, saya nggak mau kerja di hotel jadi cook aja, saya ingin menjadi manager waktu itu, setelah selesai sekolah saya menjadi food and bavarage manager di hotel Kemang selanjutnya saya kerja dengan Pak Bob Sadino.

Karena Bob Sadino sering ke Hotel Kemang atau Anda yang sering ke Kemchick?
Saya yang datang ke Kemchick. Lalu saya ngobrol-ngobrol-lah. Saya menjadi Asisten Manager Supermarket, tapi disini tugasnya nggak jelas, karena saya nggak ngerti tugas di supermarket. Background saya itu cook, maka saya olah itu daging. Daging yang segitu banyak akhirnya saya bumbuin, dan saya namain food ready to cook atau apalah itu. Ketika itu Hero dan semacamnya belum ada. Adanya hanya di Kemchick. Di supermarket belum ada salad saya sudah jual salad, jadi saya berjasa lah terhadap pak Bob itu.

Setelah 8 tahun kerja, cukuplah, waktu itu ada lowongan Operation Manager di Burger King, di situ saya mulai belajar franchise. Saya memegang Operation Manager itu 2 s/d 3 tahun. Setelah itu saya pindah ke Indofood. Kurumayan Rudolf restaurant itu ada 10 outlet, di situ saya pegang operationnya 2 tahun lebih. Kalau nggak salah, saya keluar lagi, trus saya kerja sama Rini Suwandi (sekarang Memperindag) untuk pegang bakery café, itu franchise juga di Amerika selama 2 tahun.

Jadi di Obongpang bakery café itu terakhir? Kenapa terus mendirikan Cwie mie?
Begini Pak. Sejak awal kerja saya melihat bahwa saya tidak mempunyai dana pensiun. Saya nggak punya apa-apa. Saya masih dipakai karena saya masih kuat,sehat, tapi setelah itu what next? Saya nggak punya apa-apa. Saya melihat teman-teman yang lain hanya menghabiskan hasil sisa-sisa keuangan mereka. Setahun di Kemchick saya buka Hoka-Hoka Bento. Saya di bagian produksinya. Setelah itu saya keluar, saya bikin usaha sendiri yang saya namakan modif frozen food. Saya bikin sukiyaki di-packaging, yakiniku di-packaging, torinoteba.

Kemudian saya punya teman India. Dia saya suruh telepon ke instansi pemerintah dan lainnya, waktu itu Dharma Wanita lagi ngetrend. Kemudian saya bilang ke dia bahwa saya ada demonstrasi gratis, kita ada perusahaan dari Jepang, kita mau demo masak gratis ke tempat ibu. Kebetulan waktu itu ada arisan, pesertanya 100 orang. Tapi saya hanya punya 30 pack. Akhirnya berbutan.

Jadi konsep jualannya adalah saya telepon ibu-ibu Dharma Wanita, kita dating ke sana, akhirnya mereka beli. Begitu juga saya lakukan dengan Cwie Mie ini, sambil mikirin next-nya bagaimana ?

Jadi Anda masih kerja pada saat membangun Cwie Mie?
Ya, saya masih kerja, artinya saya nggak mau gambling. Kalau misalnya saya gagal disitu, saya masih ada income. Tapi saya tahu, di tempat kerja, future nya kurang menjanjikan, artinya saya harus doing something, saya harus bertahan, makanya saya bikin steak dan Cwie mie itu.





Kolom Rhenald Kasali


Awalnya Selalu bukan Uang
Oleh: Rhenald Kasali

Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.

Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.

Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.

Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.

Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.

Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.

Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.

Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.

Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.

Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?

Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”

Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.

Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.

KONTAN, Nomor 50/V Tanggal 10 September 2001





Kolom Gede prama


Loyalitas Bankir
Oleh: Gede Prama

Kejadian tragis dalam bentuk dilikuidasinya enam belas bank swasta, telah membawa banyak sekali implikasi. Dari digugatnya transparansi pemerintah, menurun drastisnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan, dipertanyakannya nasib karyawan yang terkena likuidasi, sampai dengan kecurigaan jangan-jangan akan ada likuidasi tahap kedua.

Bagi saya, kejadian ini menimbulkan pertanyaan sederhana, kepada siapa sebenarnya loyalitas para bankir diperuntukkan ? Kepada pemerintah, pemegang saham, konsumen, diri mereka sendiri atau karyawan ?

Terus terang, tidak mudah untuk menjawabnya. Hanya saja, rontoknya keenambelas bank swasta tadi memberi beberapa indikasi menarik.

Pertama, rupanya banyak bank yang lebih takut pada pemerintah dibandingkan takut pada supremasi pasar. Buktinya, dengan memasang 'satpam' di atas dalam bentuk menempatkan mantan pejabat tinggi sebagai komisaris, kemudian mereka berani melanggar aturan-aturan pemerintah. Padahal, pemerintah sendiri sedang tidak berdaya menghadapi supremasi pasar.

Kedua, kalau benar sinyalemen Bambang Trihatmojo bahwa sembilan puluh persen bank melanggar kaidah tiga L, tampak jelas bahwa banyak spekulan yang berbaju bankir di negeri ini. Bila spekulan lebih banyak bermain dengan uang sendiri - kalaupun memakai uang orang lain biasanya sepengetahuan sang empu - maka bankir-bankir ini seenak perutnya saja mempermainkan uang orang.

Ketiga, setelah lebih dari sembilan tahun pakto diluncurkan. Tampaknya, upaya pemerintah membuat dunia perbankan yang kokoh dan mandiri, masih jauh panggang dari api. Sebaliknya, malah diisi oleh tidak sedikit pemain 'cengeng' yang setiap kali bertemu kesulitan, lantas menangis ke pemerintah minta perlindungan.

Keempat, dari segi jumlah tenaga kerja yang dibajak dari industri lain. Perbankan bisa dikategorikan sebagai industri yang paling rakus melakukan pembajakan. Nyaris tidak ada industri yang luput dari pembajakan industri perbankan. Yang mengecewakan, kendati membajak tenaga kerja paling banyak, ia malah menyimpan tangis profesionalisme yang paling menyedihkan. Lihat saja PHK masal yang terjadi akibat likuidasi, dan kinerja perbankan kita yang demikian menyedihkan.

Dirangkum menjadi satu, keempat indikasi ini bukannya mempermudah pertanyaan sederhana saya di awal tulisan ini. Bahkan, menjadi semakin tidak jelas kemana loyalitas bankir berjalan.

Dilihat dari cara pemerintah melakukan pembinaan di dunia perbankan, loyalitas bankir diukur lebih banyak dari segi seberapa sering bankir menganggukkan kepala terhadap imbauan pemerintah. Siapa yang mengangguk, ia yang loyal, dan kemudian aman. Siapa yang menggelengkan kepala, apa lagi membangkang, maka tahu sendirilah kemudian nasibnya.

Akan tetapi, kalau kita mau berfikir sedikit lebih dalam, sebenarnya ada satu persoalan mendasar yang tersembunyi di balik pengertian loyalitas terakhir.

Bila di balik anggukan kepala banyak bankir, tersembunyi prestasi bankir yang membanggakan, ini loyalitas yang kita inginkan.

Akan tetapi, jika dibalik badan yang membungkuk tadi, tersembunyi persoalan dan bahkan petaka yang mengejutkan, layak sekali kalau kita bertanya, kemana loyalitas para bankir sedang dibawa ?.

Ibarat pendayung perahu, mereka serius dan patuh sekali mendayung. Akan tetapi, mereka tidak bertanya apakah perahu sedang bergerak ke tempat yang diinginkan atau malah sebaliknya. Kesadaran baru timbul setelah mereka semua mau mati masuk jurang.

Tidak banyak berbeda dengan sekumpulan pendayung perahu yang patuh tadi, bankir kita juga sedang bergerak ke tempat yang sama. Lihat saja, mereka bekerja keras, berani membayar mahal untuk 'menjinakkan' pemerintah, melakukan pembajakan kemana-mana. Namun, dengan kejadian likuidasi ini, adakah yang pernah bertanya kalau mereka sedang pergi ke tempat yang tepat ?

Kalau Anda setuju dengan pengandaian saya tentang sekumpulan pendayung tadi, inilah persisnya yang saya sebut sebagai the disloyalty of loyal bankers.

Mereka loyal, tetapi kepada hal-hal yang keliru. Lihat saja, mereka memilih membungkukkan badan berlebihan pada otoritas moneter, dibandingkan dengan melakukan pembenahan substansial pada sektor kepercayaan masyarakat. Mereka mengalokasikan dana jauh lebih besar untuk menyembunyikan isu, ketimbang melakukan perbaikan mendasar yang memungkinkan hal yang sama tidak terulang kembali.

Dalam keadaan demikian, adakah kontribusi jangka panjang yang bisa diharapkan dari mereka untuk penyehatan ekonomi ? Terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan semendasar ini melalui artikel pendek ini

Mengacu pada hasil penelitian yang pernah dilakukan US News and World Report - sebagaimana dikutip Wilson and Wilson dalam buku berpengaruh mereka yang berjudul Stop Selling Start Partnering - sebab utama (69 %) konsumen menghentikan hubungan bisnis dengan perusahaan atau bank karena mereka diperlakukan buruk oleh karyawannya. Sebagai konsultan manajemen dan pengamat, saya yakin angka ini juga ada gunanya untuk direnungkan buat dunia bisnis kita.

Akan tetapi, di tengah kenyataan seperti ini, kita mesti rela menelan pil pahit bahwa karyawan - yang menjadi sebab utama larinya pelanggan - sering didudukkan dalam urutan prioritas ke sekian dalam bisnis. Biaya pendidikan dan pengembangan mereka, hanya diberi angka basa basi lima persen. Dalam keadaan demikian, salahkah saya kalau bertanya ke mana loyalitas bankir sedang dibawa ?



Kolom gede prama


Kebohongan Terbesar Ilmu Ekonomi
Oleh: Gede Prama


Krisi nilai tukar yang melanda negara-negara Asia telah menghadirkan banyak sekali nuansa. Pengamat barat yang 'sentimen' terhadap nilai-nilai Asia, meragukan kalau ada The Asian Way sebagaimana di-claim banyak pihak. Politisi yang telah lama tertindas, mau memancing di air keruh dengan memanfaatkan suasana. Dunia keilmuan, tiba-tiba diguncang oleh diskursus yang mencurigai mulai matinya ilmu ekonomi.

Menyangkut hal terakhir, disamping baru, sekaligus menggedor kemapanan berfikir dunia praktek sekaligus dunia akademis. Ilmu ekonomi, yang teramat lama diyakini sebagai obat mujarab banyak penyakit peradaban. Dari kemiskinan, keterbelakangan, sampai dengan ketertinggalan. Tiba-tiba saja diumumkan telah mati.

Untuk sampai pada kesimpulan benar atau salah terhadap sinyalemen terakhir, tentu saja banyak hal yang mesti dilakukan terlebih dahulu. Pertama, ilmu ekonomi mana yang dinyatakan mati. Kedua, penelitian empiris mana yang menguatkan atau melemahkan kesimpulan ini. Ketiga, atas dasar konstruksi ide bagaimana penelitian empiris terakhir dilakukan. Keempat, bagaimana dengan metodologinya. Dan masih ada lagi rangkaian pertanyaan sejenis yang mesti diajukan sebelum kesimpulan diambil.

Tidak mudah memang. Namun, diantara demikian banyak konstruksi ide yang dikandung oleh ilmu ekonomi, penempatan dirinya sebagai obat dan resep, bagi saya, adalah yang paling meragukan.

Lihat saja, kalau benar rumus-rumus moneter bisa mengobati keadaan, krisis tidak perlu berlanjut. Jika saja harga betul-betul terbentuk pada titik equilibrium antara penawaran dan permintaan - sebagaimana dimodelkan banyak ekonom - kenapa banyak ekonom yang terkaget-kaget oleh nilai tukar. Seumpama benar model-model ekonometri cukup canggih untuk mewakili keadaan, kenapa banyak ekonom yang dibuat pusing oleh keadaan yang memburuk ? Bila betul kapitalisme adalah obat mujarab peradaban - sebagaimana diyakini banyak ekonom - kenapa kita sekarang dibuat terkaget-kaget oleh mahluk ini ? Seumpama benar globalisasi tidak bisa dihindari, kenapa harga yang mesti dibayar demikian mahal. Dan, masih banyak lagi pertanyaan yang masih bisa dilontarkan.

Dalam pandangan saya, yang paling naif dari upaya penempatan ilmu ekonomi dalam posisi resep, adalah asumsi bahwa masyarakat adalah kumpulan manusia yang hanya bisa mengangguk. Obatnya dipegang oleh ekonom, dan masyarakat hanya boleh meminum. Masalah ada di masyarakat, dan ekonom yang membawa obat. Dulu, mungkin banyak orang yang percaya dengan hal ini. Sekarang, di tengah-tengah kemajuan pendidikan dan teknologi informasi, manusia bodoh mana yang mau larut dalam argumen terakhir ?.

Disamping asumsi tentang masyarakat mengangguk, kenaifan kedua dari ilmu ekonomi sebagai resep adalah keyakinan tentang masyarakat terorganisir. Kemajuan ekonomi - demikian sejumlah ekonom yakin - lebih mungkin terjadi dalam masyarakat yang stabil secara politis.

Dalam banyak studi tentang masyarakat terorganisir, tidak sedikit peneliti yang mulai menempatkan masyarakat terorganisir hanya sekadar fatamorgana. Atau mimpi kosong di siang melompong. Lihat saja, runtuhnya komunisme di Eropa Timur, Soviet, Cina dan bagian lain dunia, yang bermimpi bisa mengontrol semua kegiatan bernegara adalah bukti paling meyakinkan dalam hal ini.

Guru saya di Universitas Lancaster Inggris (Scott Lash dan John Urry), pernah melakukan penelitian melalui analisis ruang, kelas dan budaya terhadap kapitalisme terorganisir di lima negara maju (Inggris, AS, Prancis, Jerman Barat dan Swedia). Hasilnya, sebagaimana telah mereka publikasikan melalui buku 'The End of Organized Capitalism' (Polity Press 1987), kapitalisme di lima negara tadi semakin tidak terorganisir.

Kendati banyak kaum Weberian dan pengikut Marx yang berkeyakinan bahwa kapitalisme semakin terorganisir, kedua peneliti ini sampai pada kesimpulan yang berbeda.

Bukti-bukti pendukungnya antara lain terlihat jelas dalam dekonsentrasi modal dari negara ke masyarakat, pemisahan jelas antara bank swasta dan pemerintah, antara kegiatan swasta dengan pemerintah, dan redistribusi kekuasaan yang lebih merata.

Digabung secara total, asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi mempersyaratkan 'kestabilan politik', lebih-lebih kestabilan yang hanya menguntungkan kaum berkuasa, sekarang sudah kelihatan batas-batasnya.

Kenaifan ketiga dari ilmu ekonomi sebagai resep adalah pola hubungan antara ekonom dengan masyarakat. Mirip sekali dengan hubungan dokter dengan klien, ekonom juga menempatkan masyarakat sebagai klien. Dan, setiap jenis persoalan, pasti ada obatnya di benak sang ekonom. Setelah lama ditimpa krisis, adakah obat ekonom yang belum dikeluarkan ? Saya ragu, kalau mereka masih menyimpan obat dan jurus simpanan. Bahkan, diantara mereka sendiri, sebutlah penulis buku the death of economy, mulai menyadari batas-batas ilmu ekonomi.

Belajar dari ketiga kenaifan ilmu ekonomi sebagai resep ini, mungkin sudah saatnya untuk menempatkan ilmu ekonomi pada proporsinya. Bagi saya, tidak ada ilmu yang secara ces pleng bisa menyembuhkan segala penyakit, sebagaimana di-claim iklan obat balsem zaman dulu.

Sebagai seorang social constructionist, saya meyakini, masalah dan jalan keluarnya, penyakit dan obatnya, adalah hasil konstruksi sosial anggota masyarakat secara bersama. Baik ekonom maupun non ekonom, pemerintah maupun masyarakat terlibat di dalamnya. Pemerkosaan dan penjauhan dari persoalan akan terjadi, bila ada yang meng-claim bahwa salah satu anggota masyarakat (sebagai contoh ekonom dan pemerintah) membawa obat, sedangkan yang lain hanya menimbulkan penyakit.

Dalam bingkai konstruksi sosial, semua orang berpotensi membuat masalah dan menemukan jalan keluar. Dan, hal terakhir ini lebih mungkin ketemu jika terjadi aliansi dinamis yang memungkinkan rekonstruksi terjadi. Bukan dengan menempatkan salah satu pihak sebagai pemegang obat, sedangkan yang lain hanya boleh meminum.

Saya tidak tahu, seberapa kuat keyakinan ilmu ekonomi tentang hal terakhir. Namun, bila ada konstruksi ide dalam ilmu ekonomi yang berkeyakinan demikian, saya khawatir inilah kebohongan terbesar ilmu ekonomi.


Kolom Gede Prama


Dari Krisis Ke Krisis
Oleh: Gede Prama

Beberapa kejadian besar di tahun 1997 ini, memberikan indikasi kuat bahwa kita termasuk bangsa yang hidup dari krisis ke krisis. Jatuhnya pesawat Sempati di Bandung, tenggelamnya kapal feri di danau Toba, terbakarnya ribuan hektar hutan, goncangnya nilai tukar rupiah, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di medan adalah sebagian dari krisis-krisis tersebut.

Jika diamati lebih cermat, sebagian besar dari krisis-krisis tadi sudah pernah terjadi sebelumnya. Kendati dalam skala dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bila benar pendapat sejumlah orang arif bahwa hanya serigala yang masuk lobang dua kali. Saya termasuk orang yang tidak tega menyebut bangsa ini sebagai bangsa serigala.

Jauh dari niat untuk sekadar mencari siapa yang salah, krisis-krisis tadi sebenarnya sebuah pelajaran berguna untuk segera melakukan reorientasi dalam sejumlah manajemen publik. Dikatakan demikian, karena tidak ada satupun anggota bangsa ini yang menginginkan krisis yang sama terulang kembali. Disamping itu, harga yang telah kita bayar untuk itu sudah terlalu mahal.

Salah satu segi dari manajemen publik yang ingin saya ungkap dalam kolom pendek ini adalah public discourse. Ada banyak pakar, manajer, konsultan, pengusaha, pengamat dan aparat pemerintah yang hanya bersemangat bila diajak berdiskusi tentang persoalan-persoalan 'besar'. Lihat saja diskusi tentang gejolak nilai tukar rupiah, kebakaran hutan, dan terakhir jatuhnya pesawat Garuda di Medan. Tidak ada media yang absen dari pemberitaan ini. Hampir semua pakar dan pengamat bersemangat dengan topik seksi ini. Banyak manajer dan pengusaha yang getol sekali membicarakannya. Aparat pemerintah tentu saja tidak pernah ketinggalan dalam hal ini.

Bila saya ibaratkan dengan kebakaran, public discourse kita ditandai oleh lebih banyak diskusi tentang kebakaran setelah rumah kita sebagian besar terbakar. Jarang sekali - kalau tidak mau dikatakan tidak ada - ada diskusi dengan tema-tema kecil yang antisipatif.

Dibandingkan dengan diskusi sebab-sebab kebakaran - apa lagi mencari siapa yang salah - setelah rumah terbakar, jauh lebih berguna berdiskusi tentang bagaimana menggunakan kompor yang benar. Bagaima menghindari korsleting listrik. Bagaimana mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran, dan seterusnya.

Sayangnya, setiap ada upaya melempar tema-tema kecil yang antisipatif - seperti mendidik anak-anak agar sadar akan bahaya kebakaran - tidak sedikit orang yang alergi. Pers menyebutnya tidak memiliki nilai berita. Manajer dan pengusaha menyimpulkan sebagai tidak relevan. Pengamat dan pakar menganggapnya tidak perlu. Pejabat pemerintah merasa terlalu sibuk memikirkan hal-hal 'kecil'.

Sebagai contoh kebakaran hutan. Bila sudah ada sinyal kemarau panjang, kenapa tidak sejak awal ada diskusi tentang bahaya kebakaran hutan yang menyeramkan ini ? Mengenai gejolak nilai tukar rupiah, bila kita sepakat dengan konsep globalisasi, kenapa tidak satupun pihak yang berani melempar isu nilai tukar sebagai konsekwensinya, jauh-jauh hari sebelum kita tenggelam oleh isu mendebarkan ini ?

Sebagaimana pohon besar, ia selalu mulai dengan sebuah biji benih yang kecil. Demikian juga dengan persoalan yang berakhir dengan krisis. Kebakaran mulai dengan percikan api yang kecil. Challenger meledak mulai dengan tidak berfungsinya spare part kecil yang disebut O-ring. Namun, tetap saja kita memiliki keengganan untuk berdiskusi tentang hal-hal kecil yang antisipatif.

Aspek kedua dari manajemen publik yang mau saya angkat ke permukaan setelah public discourse adalah cara berfikir di baliknya. Sebagaimana kita tahu, cara berfikir di balik banyak keputusan manajemen publik kita terlalu banyak bertumpu pada memori. Pada data dan informasi. Pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Ibarat piringan hitam, kita sudah diformat untuk menyanyikan lagu yang sama secara berulang-ulang. Sementara, persoalan yang muncul jarang sekali yang sama. Sebagai bukti, lihat saja diskusi bolak-balik tentang fundamentalisme ekonomi setelah gejolak nilai tukar rupiah. Atau tuduhan kiri kanan terhadap spekulan sejenis Soros. Sebagai hasilnya, bila sering timbul krisis, saya yakin karena banyak diantara kita yang memperkosa persoalan dengan kerangka-kerangka usang.

Padahal, manajemen sebenarnya berkaitan dengan apa yang perlu dilakukan. Bukan berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan. Pengelola publik yang sedikit-sedikit menoleh ke data dan informasi, pengalalaman-pengalaman masa lalu, atau singkatnya pada memori, sebaiknya jadi pengurus museum saja !.

Belajar dari ini semua, mungkin sudah saatnya kita keluar dari segala bentuk kerutinan berfikir, dan mencoba memulai public discourse yang rada berbeda. Karena rutinitas mudah sekali menyebabkan kejenuhan dalam imajinasi, energi dan semangat.

Persoalan-persoalan penting yang membentuk masa depan - setidaknya menurut saya - tidak terdapat pada tema-tema seminar, lokakarya, berita besar media, atau bahan-bahan pidato pejabat. Melainkan tersembunyi di balik hal-hal yang sering kita anggap kecil dan sepele. Bila kita menunggu sampai persoalan dibicarakan secara besar-besaran - sebagaimana kebakaran hutan, gejolak nilai tukar dan kecelakaan pesawat terbang - sebenarnya sudah sangat terlambat. Tanpa ini, saya khawatir kita akan menghabiskan sebagian besar hidup dari krisis ke krisis. Dan kemudian, tegakah kita menyebut diri kita sebagai bangsa serigala ?



Kolom Gede Prama


Berumah Di Langit
Oleh: Gede Prama

Saat mata uang Baht pertama kali guncang, banyak pejabat pemerintah, pakar ekonomi, bankir dan pengusaha yang masih yakin akan kuatnya fundamen ekonomi kita. Sekarang, setelah hampir semua pihak dibuat babak belur oleh nilai tukar rupiah, tidak ada lagi yang berani berargumen demikian. Lebih-lebih, setelah sebagian besar sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak ikut tersentuh. Sebutlah menggilanya tingkat bunga KPR, sektor properti yang meradang, perbankan yang dagdigdug, bayang-bayang kenaikan harga bahan pokok.

Setelah melihat semua ini, saya khawatir apa yang kita sebut sebagai fundamen ekonomi yang kokoh, jangan-jangan hanya sekadar argumen untuk konsumsi politik tingkat rendah saja. Namun, diberikan legitimasi berlebihan oleh mereka yang menyebut diri pejabat, pakar, politisi atau pengusaha. Setelah sekarang megap-megap semua, tidak sedikit orang yang merasa dirinya dikadalin.

Sebagaimana kejadian yang disertai oleh langkanya transparansi, spekulasipun beredar di sana sini. Dari tidak jalannya regenerasi ekonom pada zamannya Widjojo, banyak proyek tidak feasible namun dipaksakan, terlalu banyaknya vested interest dalam banyak kebijakan publik kita, sampai dengan kecurigaan penggembosan menjelang sidang umum MPR 1998.

Terlepas dari semua spekulasi ini, kita - dan juga sejumlah negara Asia Tenggara - sebenarnya sudah terlalu lama dibuai oleh banyak pujian. Baik oleh IMF, bank dunia maupun sederetan lembaga bereputasi internasional lainnya. Disebut sebagai daerah dengan keajaiban ekonomi, daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, dan masih banyak lagi pujian sejenis.

Konsekwensinya, tidak sedikit policy maker kita yang dibuat over optimistic oleh pujian-pujian ini. Seperti seorang anak yang sering dipuji, ia mudah sekali menilai kemampuan dirinya jauh di atas realitas yang sebenarnya. Alias berumah di langit.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa banyak proyek-proyek besar kita seperti berlari cepat, mau melompat, bila mana perlu terbang meniggalkan bangsa lain. Yang menyedihkan, kita bersedia membayar sangat mahal hanya untuk mempertahan pujian orang. Urbanisasi yang tidak pernah berhenti, petani cengkeh yang berteriak, petani jeruk yang loyo, nilai tukar barang desa dan barang kota yang cenderung semakin tidak seimbang, kebakaran hutan yang tidak tanggung-tanggung akibat dana reboisasi yang disunat, adalah sebagian kecil contoh dari besarnya biaya yang kita bayar untuk mempertahankan pujian tadi.

Belum lagi kalau bukti-bukti ini digabungkan dengan berbagai kontroversi. Seperti penduduk terbanyak di sektor pertanian, tetapi mengimport buah dan barang pertanian lainnya dalam jumlah yang tidak kecil. Pesawat terbang ditukar dengan barang pertanian yang sebenarnya kita bisa hasilkan sendiri. Teknologi pertanian kita yang tertinggal terus dibandingkan negara lain.

Melihat semua ini, ekonomi kita mirip dengan usaha membuat rumah di langit. Hampir semuanya serba mengambang. Tercabut dari akarnya. Petani yang merupakan mayoritas penduduk kita mau ditinggalkan. Sekarang, di tengah-tengah gejolak nilai tukar yang tidak menentu, tiba-tiba orang banyak mesti merogoh kantong untuk membayar bunga KPR yang melangit. Berdebar melihat harga kebutuhan pokok menaik secara pasti. Agaknya, tidak berlebihan kalau hal ini disebut sebagai harga mahal yang harus dibayar untuk mempertahankan pujian orang lain.

Sebagaimana rumah, kita bisa hidup tanpa langit-langit. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa tanah dan bumi yang kita injak setiap saat. Perekonomian juga - saya kira - sama saja.

Merebaknya akibat yang ditimbulkan oleh krisis nilai tukar rupiah, mungkin merupakan saat yang tepat untuk segera melakukan koreksi. Bila anak-anak yang terlalu banyak 'bermandi' pujian, kedewasaannya sering terhambat. Perekonomian juga sama saja. Sebagai kumpulan manusia, kita tentu saja membutuhkan pujian. Akan tetapi, perlu diwaspadai bahwa tidak ada pembunuh kewaspadaan yang lebih sadis dari pujian orang lain.

Kalau mau jujur, early warning system dalam perekonomian kita sudah lama dibuat tidak berfungsi. Bukan oleh ketiadaan ekonom kaliber, tetapi oleh perasaan mabok dipuji orang lain.

Bagi saya, dibandingkan dengan hidup mentereng tetapi pada saat yang sama menginjak hidup banyak saudara, masih jauh lebih arif tampil sederhana namun hidup bahagia bersama saudara yang lain.

Dengan spirit ini, mungkin sudah saatnya melakukan evaluasi ulang terhadap kedewasaan perekonomian kita. Pertama-tama tentu saja mewaspadai pisau pembunuh kewaspadaan yang paling sadis yang bernama pujian. Kemudian, belajar hidup lebih realistis. Jika tanah tempat kita berdiri penuh dengan kebakaran hutan - bahkan sampai mengganggu tetangga - mari kita alokasikan energi untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Bila kebanyakan dari saudara kita menggantungkan hidup dari tanah dan pertanian, mari kita bangun kemajuan di atas apa yang kita punya. Jika banyak orang menjerit karena ketiadaan pekerjaan, mari kita upayakan cara biar mereka bisa menjadi manusia lebih bermartabat.

Keengganan untuk memperhatikan hal-hal terakhir ini. Apa lagi secara over optimistic beranggapan bahwa kita bisa melompat tanpa harus bertumpu pada apa yang kita punya, hanya akan membuat kita sebagai kumpulan manusia yang berumah di langit. Sayangnya, ia tidak pernah nyata. Berawal dari mimpi dan berakhir dengan mimpi serupa. Yang lebih menghawatirkan, kita harus membayar mimpi tadi dengan harga yang teramat mahal.

Sebagai salah satu komponen kecil bangsa ini, saya akan senang sekali kalau kita bisa berumah di langit. Akan tetapi, kalau ongkos yang harus dibayar demikian mahal. Lebih-lebih sangat tidak jelas kapan kita bisa berumah di sana. Saya memilih untuk berkesimpulan : 'langit memang bukan rumah kita'.



Kolom Gede Prama



Bali : Bagian Atas Licin
Oleh: Gede Prama

Dalam urusan gangguan rambut, saya sering diledek sudah sampai di tingkat satu : agus (agak gundul sedikit). Di tingkat dua, nama berganti menjadi robert (rontok berat). Berikutnya, bermetamorfose menjadi umar bakri (untung masih ada rambut belakang kanan dan kiri). Kemudian sebutannya wagub (wah gundul banget). Selanjutnya menjadi gunawan (gundul namun menawan). Dan yang paling parah, diberi nama bali (bagian atas licin).

Mencermati skandal drama panjang Bank Bali, yang disertai banyak plintat-plintut, maju-mundur, sana-sini, bohong membohongi, sehingga demikian menjengkelkan, saya teringat lagi dengan penyakit rambut yang paling parah tadi : bagian atas licin.

Bagaimana tidak licin, mereka yang berada di pucuk piramida skandal, tidak hanya lihai, licik dan tidak tahu malu. Namun juga demikian lincahnya, sampai-sampai menteri sekretaris kabinet, yang nota bene secara formal berada amat dekat dengan pusat kekuasaan, dan dijabat bukan oleh orang bodoh, didikte harus membacakan surat pernyataan, yang kemudian di depan DPR disangkal oleh Rudi Ramli.

Ibarat menempuh perjalanan, aktor-aktor skandal bank Bali telah memilih jalan yang amat licin. Sebagaimana nasehat orang tua, bila bermain air basah. Bermain api terbakar. Ada saatnya mereka yang menempuh jalan licin pasti akan terpeleset.

Lebih-lebih berjalan licin dilakukan oleh manusia-manusia yang dibuat gelap oleh nafsu, keinginan dan keserakahan kekuasaan. Lihat saja pada catatan sejarah. Tidak ada satupun penguasa licin dan licik yang tidak berakhir di jurang kekuasaan yang mengenaskan. Marcos, Pinochet, Mugabe adalah sebagian kecil dari manusia yang mengambil jalur licin dan licik, dan berakhir menyedihkan.

Sayangnya, sejarah hanya menjadi pelajaran yang amat berguna setelah tragedi terjadi pada diri kita sendiri. Ini juga yang menyebabkan, kenapa setiap era selalu memproduksi pemain-pemain kekuasaan yang licin dan licik.

Mungkin saja saya sejenis manusia yang amat naif. Akan tetapi, berspekulasi hidup di jalan licin, adalah satu hal yang tidak pernah saya coba. Oleh karena itulah, saya menaruh sangat sedikit respek pada manusia-manusia licin ala pemain skandal bank Bali. Lebih-lebih, kalau mereka menyandang predikat sebagai pemimpin. Disamping membohongi diri sendiri, ia juga meracuni masyarakat.

Coba perhatikan secara lebih cermat, bagaimana orang-orang biasa yang berjalan di jalan yang amat licin. Hidup akan senantiasa dibayangi ketegangan dan katakutan terpeleset. Situasi damai, tentu saja jauh dari jangkauan orang-orang terakhir. Ini tentu saja normal, wajar dan biasa. Yang tidak normal dan kurang ajar, bila ada orang yang berjalan di jalur amat licin, tetapi tenang, tegar, tidak pernah dihantui ketakutan, dan bahkan berani mengancam orang lain.

Piramid bagian atas dari skandal bank Bali, dihuni oleh manusia-manusia jenis terakhir. Orang-orang seperti ini, kala berada di kursi pemimpin, memang akan mendemokratisasikan banyak hal. Dan yang paling menonjol, meminjam argumennya Syahrir, mendemokratisasikan korupsi. Wajah korupsi, sebagaimana kita alami sekarang-sekarang ini, memang hingar bingar. Kalau di zaman orde baru, korupsi dilakukan secara tersembunyi, tidak ada yang berani malu mengembalikan uang jarahan. Di zaman reformasi ini, uang jarahan dikembalikan di depan umum, oknum yang sudah jelas-jelas tidak mengenal malu akan korupsi, justru berdiri pongah dengan bintang maha puteranya.

Inilah zaman yang amat licin. Demikian licinnya, sampai-sampai publik terpeleset dengan banyak sekali kebingungan. Hari ini Rudy Ramli mengumumkan catatan harian, beberapa minggu kemudian dibantah dengan surat bermeterai yang diumumkan mensesneg. Tak lama kemudian, di depan anggota DPR yang terhormat, surat bantahan terakhir tidak diakui oleh Rudy Ramli sendiri.

Hebohnya, segala bentuk kelicinan tadi semuanya dilakukan oleh piramida atas kekuasaan negeri ini. Persis seperti akronim bali (bagian atas licin), negeri ini bagian atasnya diisi sebagian oleh manusia-manusia berlidah dan bermulut licin.

Namun, dengan kepala sedikit jernih perlu dicermati, nasib kita sebagai bangsa tidak ditentukan oleh orang-orang yang kita lengserkan, namun didikte oleh manusia yang kita biarkan bertahan di atas.

Belajar dari sini, dibandingkan teramat sibuk melengserkan orang pasca Suharto, akan jauh lebih berguna dan produktif memikirkan manusia yang akan kita angkat.

Saya menghargai sekali rekan-rekan yang berjuang keras menuntaskan skandal bank Bali. Apa lagi rekan lain yang punya misi membersihkan negeri ini dari korupsi. Namun jangan pernah lupa, nasib kita lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang tidak kita lengserkan dari atas.

Bila agenda diskursus publik kita dihabiskan hanya untuk melengserkan orang, jangan-jangan kita akan berputar di lingkaran sejarah yang sama. Melengserkan orang, melengserkan orang dan terus menerus melengserkan orang. Betapa licinnya sejarah bangsa ini. Sama licinnya dengan skandal bank Bali.



Kolom Gede Prama


Babu Edan
Oleh: Gede Prama

Dalam sejarah perbankan kita, mungkin tidak akan ada lagi merger bank dengan nilai sebesar merger Bank Mandiri. Baik dari segi jumlah manusia yang dimerger, jumlah masalah kredit yang ditinggalkan, maupun aktiva yang digabungkan, semuanya menunjukkan jumlah yang besar. Kalau benar logika sapu lidi yang terlalu sederhana, di mana semakin banyak unsur yang bergabung akan membuat sapu semakin kuat, betapa dahsyatnya kekuatan bank hasil gabungan ini.

Sayangnya, sebagaimana dituturkan oleh sejarah merger banyak perusahaan, merger tidak sesederhana logika sapu lidi yang naif. Semakin banyak manusia yang berkumpul, bisa semakin kuat, bisa juga semakin hancur. Semakin banyaknya harta yang digabungkan, bisa membuat produktivitas aktiva semakin baik, atau malah menimbulkan godaan korupsi yang menghancurkan. Semakin banyak persoalan yang dikeluarkan dari organisasi, bisa membuat beban organisasi lebih ringan, bisa juga membuatnya lumpuh tidak bisa bergerak. Demikian juga dengan kehadiran hero leader. Ia bisa memperbaiki keadaan, bisa juga menjadi sumber demotivasi yang meruntuhkan.

Dilihat dalam perspektif terakhir, masa depan Bank Mandiri, tentu saja masih tanda tanya. Justru di situ indahnya kehidupan. Jika sudah tahu apa yang akan terjadi, tentu saja tidak enak bangun di pagi hari.

Titik berangkat merger yang dilakukan Bank Mandiri sebenarnya sudah tepat. Dari dikeluarkannya beban kredit bermasalah, dipilihnya pemimpin ‘diktator’ yang akan menyetrika bagian-bagian lecek dari organisasi, komitmen pemilik yang amat tinggi, sampai dengan persiapan dari sisi teknologi informasi.

Benar kata seorang penulis, bahwa permulaan yang tepat adalah sebagian dari keberhasilan, namun membiarkan merger Bank Mandiri berjalan alami tanpa rekayasa ekstra, agaknya akan mengembalikan merger ke titik semula. Bahkan, bisa lebih buruk.

Pengalaman saya menjadi konsultan merger sejumlah perusahaan, memberi saya sejumlah titik krusial dalam merger. Titik krusial pertama adalah kampungan tidaknya pemilik. Titik krusial kedua, habisnya sebagian energi untuk menunjukkan bahwa punya kami lebih baik dari punya mereka. Titik krusial ketiga, lama dan rumitnya proses membangun trust sebagai lem perekat organisasi.

Kita mulai dengan titik kritis pertama sekaligus yang paling utama. Sudah menjadi kenyataan yang sulit dibantah, bahwa pemilik adalah kekuatan yang maha dahsyat dalam kehidupan bank. Betapa jelas dan hebatpun konsultan bekerja, namun bila ada satu saja pemilik yang tidak rela dengan perubahan, maka rumitlah cerita.

Bagi Bank Mandiri, titik krusial pertama ini menjadi lebih rumit, karena pemilik terpecah dalam beberapa kekuatan. Dari departemen keuangan, BPPN, BI, kantor menneg BUMN sampai dengan pemilik-pemilik tidak kelihatan lainnya.

Munculnya ke permukaan skandal piutang Bank Bali yang menghebohkan beberapa waktu lalu, adalah salah satu indikasi yang amat kuat, bahwa Bank Mandiri sedang berhadapan dengan sepasukan pemilik yang tidak mudah diatur. Demikian hebatnya skandal terakhir, sampai-sampai dikaitkan dengan perebutan kursi orang nomer satu di republik ini.

Bayangkan, hero leader mana yang berdaya untuk menghadapi kekuasaan korup yang sudah demikian menggurita ? Peraturan mana yang tidak bisa ditemukan celahnya oleh pengusaha ?. Pegawai profesional mana yang tahan dengan todongan pistol ke kepala anak ?.

Titik krusial kedua berkaitan dengan mentalitas kami-mereka. Sudah menjadi cerita klasik hampir setiap merger, kalau organisasi pasca merger dipecah-pecah kedalam kelompok identitas lama. Lebih-lebih bila tercipta banyak manusia tertindas, atau dipimpin oleh manusia super diktator.

Lingkaran-lingkaran manusia terpecah dan saling menarik, terutama di awal merger, sulit dihindari. Kecurigaan mudah sekali timbul. Bahkan oleh persoalan sepele sekalipun. Faktor kepemimpinan memang amat menentukan.

Titik krusial terakhir, dan di sini tampaknya Bank Mandiri memiliki modal yang amat besar adalah kepercayaan. Pemerintah sebagai lembaga jaminan, kepemimpinan yang baru, titik berangkat yang sudah tepat, adalah serangkaian faktor yang membuat kepercayaan mudah diraih. Setidak-tidaknya kepercayaan dari luar seperti nasabah, kreditur dan debitur, lebih mudah diraih. Lain halnya dengan kepercayaan dari dalam. Interaksi antara pemilik yang rumit, dengan tarik menarik kepentingan di dalam yang menyengsarakan, membuat kepercayaan di dalam tidak cepat tercipta.

Saya tidak tahu bagaimana prediksi Anda tentang pemerintahan ke depan, namun memperhatikan permainan di Komisi Pemilihan Umum, mencermati skandal Tanjung Jati B dan Bank Bali, dan masih kokohnya gurita rezim lama, membuat saya pesimis. Apa lagi memperhatikan warisan orde bau (meminjam istilah usil Hartojo Wignjowijoto) yang masih tersisa di mana-mana.

Saya doakan Bank Mandiri agar berhasil. Namun ciri-ciri pemilik seperti di atas, bukan tidak mungkin membuat bank terakhir menjadi Babu Edan (bank bumi daya, eksport import dan dagang negara). Cirinya dua, terpecah-pecah kembali seperti sedia kala, bahkan bisa lebih buruk. Dan, menjadi babu bau bagi pemiliknya yang belum menunjukkan sinyal-sinyal perubahan.



Rabu, 16 Januari 2008

Sastra dan literatur

The Davinci Code sebuah novel misteri

Ketika berada di Paris dalam rangka urusan bisnis, ahli simbol Universitas Harvard bernama Robert Langdon menerima telepon penting saat larut malam yang mengabarkan terbunuhnya seorang kurator museum terkenal Louvre.

Didekat tubuh pria tua itu, polisi menemukan sejumlah simbol yang tidak bisa dijelaskan. Kontan, Langdon langsung menyelidiki kasus aneh tersebut dan ia sangat terkejut saat mendapatkan bahwa semua itu berhubungan dengan sejumlah petunjuk yang mengarah pada lukisan Mona Lisa karya maestro Leonardo da Vinci.

Selidik punya selidik, di balik lukisan tersebut terdapat sejumlah kode sandi yang mengarah pada rahasia besar di masa lalu yang berhubungan dengan sebuah kontroversi terbesar sepanjang sejarah.

Belakangan, Langdon bergabung dengan seorang ahli bahasa kuno Sophie Neveu dan berhasil menemukan bahwa kurator yang ditemukan meninggal tersebut berhubungan dengan organisasi rahasia berumur ratusan tahun Priory of Sion yang sejumlah anggota terkenalnya adalah ilmuwan terkenal dunia seperti Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Da Vinci sendiri.

Dalam petualangannya menyusuri jalan-jalan kota Paris dan London, keduanya harus berpacu dengan seorang musuh misterius yang terus mengikuti tiap langkah mereka. Satu-satunya harapan adalah membuka rahasia dibalik rahasia semua misteri tersebut, atau seluruh rahasia dibalik Priory dan lukisan Da Vinci bakal musnah selamanya.

Selain menjadi salah satu film paling ditunggu di tahun 2006, Da Vinci Code yang diambil dari novel karangan Dan Brown tersebut juga menjadi film paling kontroversial yang di beberapa negara telah dilarang peredarannya karena dianggap menghina ajaran Kristiani.

Padahal, sejumlah bintang terkenal ikut meramaikan film satu ini, mulai dari si peraih dua piala Oscar Tom Hanks sebagai tokoh utama, Audrey Toutou yang tampil mengagumkan di Amelie, Ian McKellen (trilogi The Lord of the Rings), Alfred Molina (Spiderman 2), hingga Paul Bettany dan Jean Reno.

Sang sutradara adalah Ron Howard yang sebelumnya sukses menggarap Cinderella Man, dan novelnya telah dibaca puluhan juta orang di seluruh dunia. Penasaran, tunggu kehadirannya dalam waktu dekat..(berbagai sumber/mdL).





Senin, 14 Januari 2008

Marketing self Image


Self Marketing dalam pilkada kota Bekasi.

Dinamisasi politik setelah adanya pemilihan langsung melibatkan berbagai unsur media promosi dan pemberdayaan public relation dan peningkatan ekonomi masyarakat dengan berbagai macam atribut pilkada dan perang opini yang meningkat pada perang propaganda yang sangat berpengaruh sekali terhadap peningkatan citra diri calon kandidat.

Branch image sang kandidat secara positif bisa menarik konsituen. Kita lihat promosi luar biasa Mochtar Mohammad dalam pilkada kota Bekasi dengan menggunakan media Badan Narkotika Nasional kota Bekasi yang kebetulan beliau menjadi ketuanya, plus posisi birokrasi sebagai wakil wali kota bekasi memberikan efek negatif dan positif yang tergantung pada pemahaman masyarakat terhadap sorang figur.

Efek negatifnya jelas persepsi masyarakat dengan menggunakan fasilitas nasional jelas menjadi bumerang dan menjadi sasaran empuk kompetitor lainnya untuk memanfaatkan kelemahan birokrasi. Plus dengan slogan yang muluk-muluk jelas sangat mempengaruhi penurunan self image dan kapabilitas personalnya. termasuk salah satu kekuatan persaingan itu, adanya propaganda yang harus dkemas dengan baik sehingga bisa dipersepsikan langsung oleh masyarakat. Dengan menggunakan etika propaganda yang tidak bermaksud menghancurkan pesaing, apalagi black compaign yang berhubungan dengan ideologi, sara dan personal, kalau tidak dinalisa dengan baik bisa jadi pemicu rasa penasaran para pemilih lain dan berujung pada pembelokan pilihan bagi para konsituent yang ragu-ragu. Isu sara sempat dilontarkan pada pendukung WIRO dari partai demokrat H. Awing Asmawi dan Ronny Hermawan, SH. Label H dipropagandakan sebagai Henrikus telah dibantah langsung oleh partai demokrat sebagai seorang Haji. atau isu ras karena kebetulan Ronny Hermawan seorang Chines, Lebih parah lagi kalau PKS anti muluddan, anti tahlilan dan anti yasinan yang dibantah langsung dan langsung menantang siapa diatara 3 kandidat yang paling pasih dan paling hapal baca yasin.
Lain halnya branch image yang dilontarkan Ahmad syaikhu yang seorang akuntan dan seorang ahli keuangan karena beliau bekerja di departemen keuangan yang plus dengan tingkat keulamaan dan kesholehannya hampir tidak ada cacat, apalagi track record partai keadilan sejahtera siapa yang meragukan partai dakwah ini?, tanpa slogan muluk-muluk bisa memberikan suasana baru bagi perbaikan masyarakat dengan dakwah bilhal-nya.

Kekuatan kader muda yang independent dan sangat cerdas dalam menganalisa pasar dengan cantiknya PKS menyandingkan wakil wali kota mengambil dari orang asli Bekasi untuk memenuhi nilai jual bagi masyarakat awam dengan issu asli penduduk pribumi yang memang masih terpatri untuk pilkada lokal dimanapun berada. PKS mengandeng Drs. H. Kamaluddin Jaini seorang birokrasi yang terlihat masih bersih dan mempunyai pengalaman birokrasi yang baik jelas memberikan nilai positif bagi para pemilih SUKA. Kelemahan PKS terletak pada sumber finansial yang hanya didapatkan dari para kader militan-nya dan kelemahan sekaligus ciri khas PKS yang tidak bisa diikuti oleh partai lainnya yang berprinsip ada uang ada pendukung, tidak ada uang tidak mendukung. Tinggal bagaimanakah pemberdayaan public relation dan tentu saja yang masyarakat harapkan adalah pilkada damai dan memilih pemimpin yang bisa menjawab permaslahan sosial masyarakat, bukan sekedar janji palsu semata.