Rabu, 20 Februari 2008

Resensi Buku

The Starbucks Experience
(Lima Prinsip untuk mengubah hal Biasa menjadi Luar biasa)

Pengarang : Joseph A. Michelli
Penerbit : Esensi Erlangga group
Tebal buku : 233 hal

Dari Asal-usulnya yang sederhana sampai menjadi nama yang identik dengan kopi, Starbucks adalah salah satu perusahaan yang berkembang hebat saat ini. Walau sebagian sejarah awal Starbucks telah diceritakan dalam berbagai publikasi, sedikit sekali yang bisa menggambarkan dengan tepat bagaimana Sturbucks merevolusi industri kopi-dan, dalam proses tersebut, juga mengubah banyak aturan-aturan “konvesional di bidang manajemen”.

The starbucks Experience menelaah kinerja dalam sebuah perusahaan yang telah mengolah suatu produk yang biasa dan mengubahnya menjadi kesuksesan bisnis yang luar biasa. Penelitian ke dalam tubuh Sturbucks ini telah menghasilkan lima prinsip utama yang menjadi landasan bagi kejayaan Sturbucks. Prinsip-prinsip tersebut semuanya berorientasi pada hasil dan bisa sangat kuat ketika diterapkan: Lakukan dengan cara Anda, Semuanya penting, Surprise and Delight, Terbuka Terhadap Kritik, Leave Your Mark

Prinsip-prinsip ini menunjukan bagaimana semangat kewirausahaan dan kemampuan memimpin yang luar biasa dapat mengembangkan sebuah produk atau pelayanan dan bahkan mengubah cara menyajian produk atau pelayanan itu.

Prinsip #1 lakukan dengan cara anda, Kepemilikan materi vs. lakukan dengan cara Anda. Sekarang ini, para pemimpin bisnis menginginkan karyawan mereka terlibat penuh dalam tugas-tugas yang mereka kerjakan.Tidak hanya mengerjakannya dengan baik dan benar. Para karyawan seringkali tidak melihat bagaimana kerja keras mereka dapat membantu kesuksesan perusahaan. Demikian pula, karyawan juga tidak bisa melihat hubungan antara kesuksesan bisnis dengan diri mereka. Biasanya, putusnya hubungan ini terjadi karena kegagalan manajemen senior dalam menunjukkan pada karyawandampak konstruktif yang dapat mereka berikan terhadap orang-orang yang mereka layani.

Seperti kebanyakan perusahaan Starbucks telah bergelut dengan banyak cara untuk mendorong para mitranya agar benar-benar mengeluarka gairah dan bakat yang mereka miliki setiap hari di setiap interaksi di tempat kerja. Mencari keseimbangan antara dua tanggung jawab kepemimpinan yang penting, dan terkadang bertolak belakang. Ini bisa menjadi tugas yang aneh. Namun melalui Prinsip ini Starbucks telah berhasil menciptakan sebuah model unik yang mendorong mitra pada semua tingkatan untuk menuangkan energi kreatif dan dedikasi mereka ke dalam semua yang mereka lakukan.

Tidak ada manajer yang bisa memberitahu karyawannya cara untuk mengeluarkan individualitas mereka sembari berfungsi secara efektif terkait dengan prioritas bisnis: tidak ada pendekatan layanan pelanggan tertulis yang bisa mewujudkannya. Namun para pemimpin di Starbucks telah menyediakan sebuah Struktur yang memungkinkan mitra untuk membenamkan diri mereka sendiri ke dalam pekerjaan, sehingga mereka bisa mengilhami pelanggan dengan cara-cara legendaries. Para pemimpin menyebutnya Lima Kiat Sukses”: Ramah, Tulus, Perhatian, Berwawasan, Peduli.

Untuk memperkuat konsep-konsep ini, manajemen Starbucks menciptakan sebuah pamphlet yang muat dimasukan ke dalam kantong celemek mitra sehingga cocok jika disebut Green Apron Book (kitab celemek hajau).yang berisi tentang ide-ide konkrit tentang bagaimana menciptakan hubungan yang personal dengan pelanggan dengan cara memberi, dan meningkatkan interaksi pelanggan.

Sementara kebanyakan orang tidak pernah berfikir mengundang tamu kerumahnya hanya untuk dicuekin,banyak pemimpin bisnis yang gagal menanamkan prinsip yang sama kedalam perusahaan mereka. Di Starbuck, “Ramah” adalah cara utama menjadikan kunjungan pelanggan sebagai permulaan yang positif. Hal itu juga merupakan landasan untuk menciptakanlingkungan yang hangat dan nyaman. Keramahan memungkinkan mitra untuk membentuk ikatan dengan pelanggan sehingga pelangganbiasa menjadi pelanggan tetap, dan banyak diantaranya menjadi pelanggan seumur hidup.

Pada manajemen Starbucks, hal-hal tersebut merupakan perhatian utama bagi tiap orang yang menjadi konsumen dari sebuah perusahaan. Manajemen Starbucks mendefinisikan ramah sebagai “menawarkan rasa memiliki pada semua orang” para pemimpin menegaskan bahwa para mitra bisa dan hendaknya menggunakan bakat serta wawasan individual mereka untuk menciptakan sebuah tempat di mana orang-orang merasa bahwa mereka adalah prioritas dan dimana mereka bisa merasakan kegembiraan, setidaknya untuk sesaat.

Prinsip #2 Semuanya Penting Para pemimpin Starbucks paham bahwa kapal kesuksesan mereka bisa tenggelam jika mereka gagal menangani baik komponen-komponen “bawah geladak” (factor-faktor tak terlihat) maupun “atas geladag” (terkait langsunng dengan pelanggan) dalam pengalaman pelanggan.Apapun alasannya, dalam dunia bisnis semuanya penting.ketika anda berfikir ada sesuatu yang tidak penting…bersiaplah untuk menanggung resikonya.

Perhatian terhadap detail dilakukan dengan perencanaan, tidak muncul begitu saja, sebagian kesuksesan Starbucks dikaitkan dengan kemampuan luar biasa para metra dalam memperhatikan detail-detail terkecil yang sangat penting bagi konsumen. Pendek kata, para Pemimpi Starbucks peduli terhadap berbagai hal seperti pentingnya lingkungan fisik, mutu produk, perlunya penyusunan prioritas kerja, pentingnya reputasi perusahaan di dunia luar, dan bahkan budaya yang menyengangkan.

Prinsip #3 Surprise and Delight. Sesuatu yang bisa diprediksi menghasilkan kesenangan pelanggan. Orang-orang senang kalau mereka tahu bahwa sebuah perusahaan akan menyjikan apa yang dijanjikan. Dan meski ada kesalahan, seorang pegawai atau manajer masih bisa menyenangkan pelanggan dengan berusaha lebih keras untuk memperbaiki keadaan. Kesenangan adalah hasil dari komitmen yang teguh untuk menciptakan hubungan pelanggan yang nyaman dan bisa dipercaya.

Prinsip #4 Terbuka Terhadap Kritik. Jangan keberatan jika dikritik. jika tidak benar, Abaikan saja. Jika tidak adil, jangan tersinggung. Jika tidak beralasan, tersenyumlah. Jika terbukti, itu bukan kritik, maka pelajarilah.

Prinsip #5 Leave Your Mark. Dengan mendorong pegawai untuk menjadi sukarelawan/wati, pemimpin bisnis bisa memberikan dampak langsung yang nyata dan berbiaya rendah pada masyarakat sekitarnya. Para eksekutif starbucks mendukung kesukarelawan di semua level, termasuk program “ make your mark”. Konsisten dengan konsep “peduli” salah satu lima kiat sukses yang dijabarkan dalam prinsip 1, Starbucks menantang anggota stafnya untuk meninggalkan warisan mereka sendiri di tempat tinggal mereka. Untuk mendukung hal ini, Starbucks menyediakan konstribusi sebesar 10 dollar per jam, hingga 1000 dollar per proyek, pada organisasi yang memenuhi syarat, di mana mitra nya menjadi sukarelawan/ wait.

KESIMPULAN

Menurut saya sebuah usaha tidak hanya cukup dibangun oleh adanya modal yang besar tetapi niat dari masing-masing orang yang ingin membuka usaha dan juga manajemen yang baik sangat menentukan kesuksesan dari usaha tersebut. Dan Ketika mendapatkan masukan negative dari pelanggan, ketahuilah bahwa anda memiliki kesempatan untuk benar-benar memperkuat hubungan dengan pelanggan tersebut. Dengan pertama-tama berterimakasih terhadap pelanggan dan menghargai kekecewaan mereka…kemungkinan anda akan mampu mempertahankan pelanggan tersebut sekaligus memperoleh masukan berharga untuk memperbaiki bisnis anda.Ketika pegawai melihat bahwa manajemen benar-benar memedulikan masukan positif atau negative mereka juga akan peduli. Ketika mereka melihat bahwa manajemen secara pribadi berkomitmen untuk menghadapi masalah,atau memperkokoh hubungan.Tidak ada satu hal pun di dunia yang tumbuh tanpa melewati rintangan. Terbuka terhadap kritik melibatkan seperangkat keahlian lengkap yang bisa menjadikan bisnis dan individu mampu menciptakan peluang bisnis dan hubungan ketika mereka dihadapkan pada keraguan, gangguan, atau kecurigaan Untuk menangani kritikan dengan efektif, harus membedakan antara orang-orang yang ingin masalahnya diselesaikan atau orang yang hanya ingin mengeluh. Meskipun menghindari kontak dengan pengkritik adaalah hal yang alami, banyak yang bisa diperoleh dengan mengundang mereka ke dalam tahap awal diskusi yang berfokus pada masalah. Ketika Masalah pengkritik teratasi, para pengkritik tersebut bisa menjadi pendukung paling bersemangat.





Resensi Buku

RAHASIA BISNIS ORANG JEPANG

Penulis : Ann Wan Seng
Penerbit : Hikmah ( PT Mizan Publika) Jakarta
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 301 halaman


Setelah bom atom Amerika menghunjam Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan jantung kota Jepang tahun 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan Jepang akan segera mengalami kebangkrutan. Namun, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang ternyata mampu bangkit dan bahkan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya. Terbukti, pendapatan tahunan negara Jepang bersaing ketat di belakang Amerika Serikat. Apalagi di bidang perteknologian, Jepang menjelma menjadi raksasa di atas negara-negara besar dan berkuasa lainnya. Dengan segala kekurangan secara fisik, tidak fasih berbahasa Inggris, kekurangan sumber tenaga kerja, dan selalu terancam bencana alam rupanya tidak menghalangi mereka menjadi bangsa yang dihormati dunia.

Buku ini mencoba menyingkap gaya hidup, gaya bekerja, semangat kerja pasukan, dan prinsip orang Jepang yang membuahkan hasil mengagumkan perekonomian negaranya. Buku ini tak hanya memberi kita teknik dan rahasia bisnis orang Jepang tetapi juga memberi inspirasi agar kita mau berubah.

Ann Wan Seng, pengusaha sukses dan kolumnis ternama di Malaysia. Ia juga penulis buku bestseller Rahasia Bisnis Orang Cina.

Dahulu Jepang bukanlah negara maju yang patut diperhitungkan dan ditakuti di dunia. Tapi siapa yang menyangka bahwa setelah mengalami kehancuran yang dahsyat pada Perang Dunia II dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mampu bertahan dan bahkan bangkit dengan kekuatan yang sangat luar biasa menjadi suatu negara maju di kawasan Asia Timur, dan mampu menempatkan negara dalam posisinya dalam jajaran negara-negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Hal ini dibuktikan pada pertengahan era 1990-an, Product National Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar atau 337,5 triliun rupiah, yang sekaligus menempatkan Jepang pada posisi ke-2 setelah Swiss yang memiliki PNB tertinggi di dunia. Selain itu Jepang merupakan negara yang tidak memiliki utang luar negeri. Jepang dikenal sebagai negara yang mempunyai banyak kekurangan antara lain dari segi fisik orang Jepang rata-rata berpostur kecil, wilayah teritorial yang sempit, dari segi tata letak geografis negara Jepang terletak di jalur lempeng pergeseran kerak bumi yang berpotensi rawan gempa bumi, sumber daya alam yang terbatas, dan masih banyak kekurangan yang lain. Tapi mengapa negara dengan banyak kekurangan ini mampu bertahan dan bangkit menjadi negara maju didunia? Apa keajaiban yang terjadi?

Jepang adalah negara yang tidak memiliki hasil dan sumber daya alamnya sendiri. Oleh karena itu, Jepang bergantung pada sumber-sumber dari negara lain. Negara tersebut tidak hanya mengimpor minyak bumi, biji besi, batu arang, kayu, dan sebagainya. Bahkan, hampir delapan puluh lima persen sumber tenaganya berasal dari negara lain. Hasil pertanian Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Selain itu, Jepang juga mengimpor tiga puluh persen bahan makanan dari negara lain untuk memenuhi konsumsi makanan penduduknya. Namun, di Jepang pertanian masih menjadi sektor utama meskipun telah dikenal sebagai negara industri yang maju. Dengan kondisi tersebut bagaimana atau apa yang menjadi rahasia sehingga Jepang bisa menjadi penguasa ekonomi nomor satu didunia?

Mengapa negara Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, Singapura, dan Indonesia tidak dapat menjadi seperti Jepang? Apakah karakter bangsa Jepang tidak dimiliki bangsa lain? Padahal, berdasarkan ciri fisik dan keadaan geografis, setengah negara tersebut yang lebih baik daripada Jepang. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menjelaskan hal tersebut. Objek penelian adalah pada sistem penggajian, etos dan budaya kerja orang Jepang. Pada dasarnya, etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh beda dengan bangsa Asia lainnya. Jika mereka disebut pekerja keras, maka bangsa Cina, Korea dan bangsa Asia lainnya juga pekerja keras. Namun, mengapa bangsa Jepang yang lebih berhasil dan maju dibandingkan dengan bangsa Asia lainnya? Semua dijelaskan dalam buku ini.

Dalam sistem pengelolaan organisasi bisa dibilang organisasi Jepang berbeda dengan sistem pengelolaan organisasi yang dianut oleh bangsa maju lainnya seperti Amerika. Perbedaan inilah yang membuat organisasi Jepang menjadi unik tapi banyak dicontoh oleh negara-negara berkembang di dunia. Dalam organisasi Jepang pengelola berawal dari posisi bawahan, oleh karena itu pengelola organisasi Jepang lebih akrab dan memahami bawahannya. Sikap terus terang mengurangi konflik antara pihak pengelola dan bawahan. Tim kerja merupakan pondasi dasar dalam organisasi Jepang untuk membentuk interaksi antara anggota tim dan bawahan. Fakta-fakta menarik yang yang dapat kita amati dari sistem pengelolaan organisasi Jepang antara lain: bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka sebagai anggota organisasi dan perkumpulan tertentu jika memperkenalkan diri daripada memperkenalkan diri berdasarkan asal negara dan keturunannya. Mereka bangga jika dikaitkan dengan organisasi besar dan berprestasi, tempat mereka bekerja. Kemauan bangsa Jepang menjadi hamba organisasinya merupakan faktor kesuksesan negara itu menjadi penguasa besar dalam bidang ekonomi dan industri. Sikap ini ditunjukkan dengan cara mengorbankan pendapat pribadi, masa istirahat, gaji dan sebagainya untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan organisasinya. Sikap ini berbeda dengan bangsa barat yang memberikan ruang sebesar-besarnya kepada anggota organisasi untuk berpendapat dn mengemukakan pandangan. Dalam sistem pengelolaan Jepang ini individu tidak penting jika dibandingkan dengan perkumpulan dan organisasi.

Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan. Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada tahun 1992 jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun). Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja (hlm.70). Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat. Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting, malas dan tidak produktif. Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi.

Keberhasilan Jepang mempertahankan statusnya sebagai “Bapak Naga Asia” banyak dibantu oleh budaya kerja dan perdagangan rakyatnya. Agar produk mereka mampu bersaing di dunia Internasional, Jepang tidak hanya memperbaiki dan meningkatkan kualitas produknya, melainkan juga menciptakan berbagai barang lain yang diperlukan konsumen baik ditingkat mikro maupun makro. Sehingga perusahaan Jepang bersedia menghabiskan jutaan rupiah (sekitar 45 persen dari anggaran belanjanya) untuk membiayai penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan inovasi dan mutu produk. Selain itu mereka juga meletakkan kepercayaan dan jaminan kualitas sebagai aset terpenting pemasaran dan perdagangan (hlm.152). Tidak salah beberapa produknya menduduki posisi pertama dan menjadi pilihan konsumen karena lebih ekonomis, bermutu, mudah digunakan dan memiliki berbagai fungsi. Seperti Matsushita yang merupakan contoh terbaik perusahaan yang berhasil memecahkan dominasi dan monopoli perusahaan Barat. Begitu juga Walkman produk Sony yang menimbulkan fenomena luar biasa dikalangan remaja pada era 1980-an. Produk itu juga mencetuskan revolusi baru dalam perkembangan elektronik dan Audio visual.

Sikap patriotisme bangsa Jepang juga menjadi salah satu faktor yang membantu keberhasilan ekonomi negaranya. Bangsa Jepang bangga dengan produk buatan negeri sendiri. Mereka juga menjadi pengguna utama produk lokal dan pada saat yang sama juga mencoba mempromosikan produk made in Japan ke seluruh dunia dari makanan, teknologi sampai tradisi dan budaya. Dimana saja mereka berada bangsa Jepang selalu mempertahankan identitas dan jatidiri mereka.

Minat dan kecintaan bangsa Jepang terhadap ilmu membuat mereka merendahkan diri untuk belajar dan memanfaatkan apa yang telah mereka pelajari. Mereka menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan produk Barat demi memenuhi kepentingan pasar dan konsumen. Bangsa Jepang memang pintar meniru tetapi mereka memiliki daya inovasi yang tinggi. Pihak Barat memakai proses logika, rasional dan kajian empiris untuk menghasilkan sebuah inovasi. Namun bangsa Jepang melibatkan aspek emosi dan intuisi untuk menghasilkan inovasi yang sesuai dengan selera pasar.

Untuk melancarkan urusan pekerjaanya, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian dan perdagangan. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai saat ini. Seperti pahlawan dalam cerita rakyat Jepang, si samurai buta Zatoichi, Jepang harus memastikan segala-galanya, termasuk rakyatnya, senantiasa bergerak cepat menghadapi perubahan disekelilingnya. Jika semuanya berhenti bergerak, maka ekonomi Jepang akan runtuh seperti Zatoichi yang luka dan mati karena gagal mempertahankan diri dari serangan musuh. Karena ia tidak bergerak dan hanya dalam keadaan statis (hlm.292).

Untuk itu, tidak ada alasan bagi Indonesia tidak bisa menjadi seperti Jepang. Indonesia memiliki sumber alam melimpah dari pada Jepang, tenaga manusia murah, infrastruktur yang baik, dan kedudukan geografis yang strategis. Tergantung kemauan, komitmen dan langkah pasti pemerintah serta masyarakatnya dalam mengaplikasikan formula ekonomi yang ampuh tersebut. Jika bangsa Jepang bisa melakukannya, maka tidak ada alasan untuk kita gagal melaksanakannya. Kekuasaan ada ditangan kita dan bukan terletak pada negara.





Budaya Dagang Etnis Tionghoa :

”Dapat keuntungan sepuluh rupiah, yang digunakan dua rupiah”

Benarkah keberhasilan sebagian besar para pengusaha etnis Tionghoa lantaran dekat dengan penguasa?. Bisa benar dan bisa juga salah, karena ada juga yang berjuang tanpa dekat dengan kekuasaan bahkan sangat prihatin sekali, terkadang malah ada diskriminasi ras.

Ada juga yang mengatakan kehidupan mereka maju karena etos kerjanya yang luar biasa, selain itu sejak kecil warga keturunan selalu diajarkan untuk tahu diri. Mereka merasa sebagai kaum minoritas termasuk dalam bertindak tidak boleh terlalu menonjol atau berlebihan dan gampang minta bantuan pada orang lain, sebab kalau minta bantuan biasanya orang yang mau bantu jadi sungkan. Beda kalau bantuan itu diberikan karena kemauan yang membantu, biasanya lebih tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari kalau memiliki penghasilan Rp10, hanya Rp 2 yang biasa digunakan selebihnya mereka tabung. semuanya sudah disosialisasikan sejak kecil dilingkungan keluarga. Sedang dalam kerja, orang tionghoa selalu diajarkan agar tidak tergantung pada orang lain dan harus mampu menguasai jenis pekerjaan dari yang paling mudah sampai yang sulit. Bahkan beranggapan kalau pekerjaan itu tidak permanen seperti layaknya roda berputar, suatu saat diatas, lain waktu dibawah.

Maka modal yang paling penting bagi etnis tionghoa adalah sikap dapat dipercaya. Berapapun uang yang diberikan kalau tidak bisa dipercaya, ya tidak akan berhasil. Begitu juga kalau memiliki usaha sendiri.

Bisnis bagian dari budaya

Prinsip orang Tionghoa, ”Apa yang kami lakukan hari ini, bukan untuk hari ini saja, tapi untuk kedepan” Jadi kedepan untuk apa ? Sehingga perlu modal, modal bukan hanya uang saja, tapi bisa juga keterampilan, semangat dan kepercayaan sehingga harus pandai bergaul serta berkomunikasi. Nah, perdagangan adalah lahan satu-satunya yang paling memungkinkan untuk saling berkomunikasi dan bergaul, saling kenal dan membangun relasi.

Begitu juga menjadi pedagang bukan karena faktor keturunan. Ini lebih berkaitan dengan pendidikan awal di lingkungan keluarga sebagai akar budaya khas, dengan alasan keluarga Tionghoa tidak semudah suku lain sehingga mereka bekerja keras. Lalu kenapa banyak orang Tionghoa jarang menekuni profesi lain? Sebagai kaum minoritas, mereka menyadari akan keterbatasan peluang bagi mereka. Namun setelah reformasi politik sejak mulai priode Gusdur sedikit banyak perubahan paradigma perubahan profesi, banyak orang Tionghoa yang terjun ke dunia politik dan birokrasi. Banyak dari keturunan Tionghoa yang terjun ke politik, kita kenal Kwiek Kian Gie, Alvin Lie, dll. Mungkin yang belum terdengar kalau mereka masuk ABRI atau birokrat, mereka beranggapan masih sulit. Keterbatasan dan diskriminasi inilah yang menyebabkan mereka harus memaksakan diri memilih wiraswasta atau perdagangan. Dan disektor inilah mereka leluasa mengatur hidup. Itulah sebabnya ilmu berdagang ditanamkan dilingkungan keluarga sejak kecil yang akhirnya menjadi bagian dari budaya khas dan mereka jauh lebih survival hidupnya dibandingkan dengan penduduk peribumi. "Janganlah kebencian kepada suatu kaum menyebabkan kita berlaku tidak adil terhadap kaum tersebut", mungkin kata yang pantas kita ungkapkan pada kita.





Rabu, 13 Februari 2008

Rahasia Manajemen Tim Yang Sukses

Judul Buku: The Secrets of Successful Team Management - How to lead a team to innovation, creativity and success, Prof. Michael West, Duncan Baird Publishers, 160 halaman.

Sejarah kerjasama tim dalam kehidupan manusia hampir setua umur manusia itu sendiri. Kerjasama tim menjadi vital ketika dunia kemiliteran dan bisnis berkembang dengan cepat. Sejalan dengan perkembangan pasar dan teknologi, industri tidak lagi bisa berjalan secara mekanistis. Ia harus bisa bertindak secara fleksibel, dan kebutuhan terhadap kelompok kerja makin terasa.

Para peneliti menemukan bahwa pengaruh kelompok kerja terhadap produktifitas sama besarnya dengan pengaruh seorang manajer. Hanya saja, saat organisasi menjadi semakin besar, para pekerja kesulitan untuk saling berbagi pengetahuan tentang material, proses, dan metode kerja untuk meningkatkan daya saing organisasi. Ini terjadi karena saluran pertukaran ide dan keahlian di antara karyawan mampet.

Inovasi model bisnis berkembang selama masarekonstruksi pasca Perang Dunia II. Jepang memimpin dengan menerapkan etika tim sebagai prinsip-prinsip produksi massal. Karyawan mereka sangat termotivasi, komit terhadap teknologi, dan sangat produktif. Kemudian, perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa mengkopi cara Jepang mengelola pekerjaan itu, sembari menghapus hambatan birokrasi yang sering menghambat inovasi dalam kultur orang-orang Jepang. Upaya mencontoh itu ternyata bukanlah resep yang mudah. Hingga saat ini pun upaya mengadopsi pendekatan tim itu masih menjadi tantangan terbesar pada banyak perusahaan. Direktur HR dari 100 perusahaan paling top di Amerika (Fortune 100) melaporkan bahwa perhatian utamanya tertuju pada upaya membangun struktur berbasis tim agar perusahaan mereka bisa bergerak fleksibel, produktif, tangguh, dan efektif.

Menurut Profesor Michael West, pengarang buku The Secrets of Successful Team Management, upaya membangun tim bukan hanya soal laba dan inovasi, tetapi ia juga penting bagi kesehatan kita. Saat bekerja dalam sebuah tim, kita memiliki hubungan pertemanan yang bagus, dan kita merasa dimengerti dan dihargai. "Kita mempunyai rasa memiliki yang kini semakin hilang di perusahaan-perusahaan besar" ujar professor psikologi organisasi itu. Karyawan melihat adanya gap yang lebar antara retorika sang CEO (yang selalu mengatakan, "...SDM adalah asset utama terpenting") dengan kenyataan yang dihadapi sebagai karyawan. Sebagai akibatnya, karyawan sering merasa tidak dihargai oleh perusahaan dan merasakan minimnya kontrol terhadap kerjanya.

Alienasi semacam itu tercampur saat perusahaan harus merampingkan diri untuk merespons tekanan ekonomi, karena adanya beban pekerjaan berlebihan dan seringnya terjadi pengulangan pekerjaan yang dirasakan karyawan.

Manfaat dari kerjasama tim, menurut penulis, sangat banyak. Biasanya organisasi berbasis tim memiliki struktur yang ramping. Berkerjasama dalam sebuah tim berarti memberi tanggung jawab dan otoritas kepada tim untuk membuat keputusan tentang bagaimana bekerja paling efisien, dan ini menyebabkan jumlah manajer dan level manajer lebih sedikit. Oleh sebab itu, organisasi akan bisa merespons dengan cepat dan efektif lingkungan yang cepat berubah.

Tim bisa melakukan pengembangan dan peluncuran produk dengan cepat. Tim memungkinkan organisasi untuk terus belajar (dan mengambil manfaat dari proses itu) secara lebih efektif. Tim yang melibatkan banyak fungsi akan membantu meningkatkan manajemen mutu. Ia juga mendorong berkembangnya kreatifitas dan inovasi.

Kerjasama tim juga menghasilkan manfaat finansial, termasuk karena kenaikan produktifitas. Begitu pula, perubahan dalam sebuah organisasi lebih efektif bila melibatkan kerjasama tim. Masih banyak manfaat lain dari kerjasama tim.

Selain memberikan analisis teoritis dan praktis tentang manajemen tim, yang menarik dalam buku ini, penulis memberikan kiat atau tips yang amat berguna untuk menghasilkan kerjasama tim terbaik. Penulis menyebut kiat atau tips itu dengan istilah Work Solution, yang berjumlah 23 buah. Penerapan Work Solution ini secara baik diyakini akan melahirkan kerjasama tim yang kuat di perusahaan Anda.

Work Solution 1 mengulas kenapa Anda harus membentuk kerjasama tim, karena tidak semua hal mengharuskan Anda melakukannya. Work Solution 2 berisi cara untuk menelaah kompetensi dari tim. Work Solution 3 menyarankan pembuatan jurnal manajemen waktu. Work Solution 4 mengupas tema "...meditasi pikiran" untuk meresapi tugas tim. Work Solution 5 berisi cara merespons umpan balik formal. Work Solution 6 tentang cara mengatasi anggota tim yang sulit. Work Solution 7, jurus mempersiapkan presentasi dari seorang juru bicara bagi tim. Work Solution 8, tentang seni dari persuasi. Work Solution 9 berbicara tentang penyusunan aturan main. Work Solution 10 berisi klarifikasi peran. Work Solution 11 tentang bagaimana memproses informasi yang berguna. Work Solution 12 mengupas kiat membangun hubungan dua arah. Work Solution 13 tentang cara menyusun objektif.

Work Solution 14 tentang penyusunan agenda. Work Solution 15, bagaimana melakukan debat yang positif. Work Solution 16, analisis tentang stakeholder. Work Solution 17 mengupas cara bertukar pikiran dua tahap. Work Solution 18, mengelola risiko. Work Solution 19 tentang memaksimalkan upaya. Work Solution 20 tentang cara menghadapi hal-hal rutin. Work Solution 21 mengupas tema bagaimana mengevaluasi kerjasama tim. Work Solution 22 tentang pembentukan sebuah tim perubahan. Terakhir Work Solution 24 mengupas hal menghilangkan hambatan keterbukaan.

Sebuah buku yang menarik dan bermanfaat bagi siapa saja pelaku organisasi: eksekutif, manajer, karyawan, dan siapa saja yang mengandalkan kerjasama tim dalam pencapaian hasil.





Senin, 11 Februari 2008

Resensi buku


Rich Dad Poor Dad

Pengarang : Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L. Lechter C.P.A.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta,2007
Tebak buku : 232 Halaman hvs


Apakah sekolah menyiapkan kita untuk menghadapi dunia yang riil
?

Salah satu alasan mengapa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat hutang adalah karena masalah uang diajarkan dirumah, dan tidak disekolah. Kita kebanyakan belajar soal uang dari orang tua kita. artinya apa yang dapat diajarkan oleh orang tua yang miskin kepada anak-anak mereka? mereka hanya mengatakan ,”Teruslah sekolah dan belajarlah yang giat” Sianak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan, tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin. bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana Bankir, Dokter, dan Akuntan yang pandai dan memperoleh nilai yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pemerintah yang berpendidikan tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.
Uang tidak diajarkan disekolah, sekolah berfokus pada keterampilan dibidang pelajaran dan keterampilan professional, dan akhirnya jutaan orang terdidik mengejar profesi mereka secara sukses, tetapi mendapati diri mereka berjuang setengah mati dalam hal finansial. Mereka bekerja keras tetapi tidak maju-maju juga. apa yang hilang dari pendidikan mereka bukanlah cara menghasilkan uang, tetapi bagaimana membelanjakan atau menghabiskan uang–apa yang anda lakukan setelah mendapatkan uang. ini disebut kecerdasan atau bakat finansial–apa yang anda lakukan dengan uang setelah anda mendapatkannya, bagaimana meyimpannya agar tidak di”ambil”orang?

Setiap orang tentu saja sangat memimpikan menjadi seorang yang kaya mempunyai berton-ton uang, mobil mewah, rumah yang indah dan juga kehidupan kelas atas yang dapat mereka beli dengan uang. namun kenyataannya adalah menjadi kaya tidaklah memecahkan masalah.

Banyak orang kaya sesungguhnya lebih menjerit keras karena jiwa mereka lebih miskin. Ketakutan menjadi miskin mendorong mereka untuk menjadi kaya semakin buruk contoh, seorang dokter, karena menginginkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih baik menaikkan tarifnya. Dengan menaikkan tarifnya membuat biaya kesehatan menjadi lebih mahal bagi setiap orang. Hal itu paling menyakiti orang miskin, maka orang miskin kesehatannya lebih buruk daripada orang yang mempunyai uang. Ketakutan kehilangan uang adalah riil, setiap orang punya rasa takut itu, tetapi bukan ketakutan itu yang menjadi persoalan. Masalahnya adalah bagaimana menangani atau mengatasi ketakutan itu,

Banyak yang secara emosional sangat merana, sedih dan neurotis, meskipun mereka kelihatan kaya dan mempunyai uang lebih. tetapi uang yang lebih banyak kerap kali tidak memecahkan masalah kenyataannya hal itu malah mempercepat masalah. Uang kerap memperjelas kekurangan atau kelemahan manusiawi kita yang tragis kebanyakan orang tidak bisa menyadari bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa kita hasilkan, akan tetapi berapa banyak uang yang bisa kita simpan. Emosi adalah hal yang membuat kita manusiawi, membuat kita riil. Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa emosi merekalah yang berpikir, dan mengunakan ketakutan dan ketamakan melawan diri mereka sendiri itulah awal dari kebodohan. Kebanyakan orang menjalani hidup mereka dengan mengejar upah, membayar kenaikan, dan keterjaminan kerja karena emosi keinginan dan ketakutan tidak sungguh-sungguh mempertanyakan kemana pikiran yang digerakan emosi itu menuntun mereka. Itu mirip gambar seekor keledai yang menarik sebuah gerobak, dengan si pemilik yang menjuntaikan sebuah wortel persis di depan hidung si keledai. Sipemilik keledai mungkin bisa pergi kemana saja ia suka, tetapi si keledai hanya mengejar sebuah ilusi besok hanya ada wortel lain untuk si keledai. Apa yang mengintensifkan ketakutan dan keinginan adalah kebodohan. Itu sebabnya orang kaya dengan banyak uang sering mempunyai ketakutan lebih besar bila mereka semakin kaya. Uang adalah wortel.

Lalu apakah orang miskin lebih bahagia ?

Jelas tidak, karena menghindari uang itu sama gilanya dengan terikat pada uang. Sebab utama kemiskinan atau masalah financial adalah ketakutan dan kebodohan atau ketidaktahuan, bukan soal ekonomi, pemerintah, atau orang kaya. Contohnya begitu sering seseorang yang tiba-tiba kejatuhan rezeki nomplok misalnya saja warisan, kenaikan upah yang drastis atau menang lotere segera kembali kekesulitan finansial yang sama, bahkan terkadang lebih buruk daripada keadaan sebelum mereka menerima uang itu.

Uang hanya menegaskan pola arus kas yang mengalir dalam kepala kita jika pola kita adalah menghabiskan segala sesuatu yang kita peroleh, kemungkinan sangat besar dalam uang kas akan berbuntut pada kenaikan dalam pengeluaran. karna itu ada perumpamaan, “orang bodoh dan uangnya adalah suatu pesta yang besar”.

Kita semua memiliki potensi yang luar biasa, dan kita juga diberikan ribuan anugerah. Namun satu hal yang menahan kita semua adalah suatu tingkat keraguan diri. Bukan karena terlalu kurangnya informasi teknis yang menahan kita, tetapi karena kurangnya keyakinan diri. kebanyakan dari kita tahu bahwa yang banyak diperhitungkan bukanlah gelar perguruan tinggi atau ranking yang baik. dalam dunia nyata diluar dunia akademis, sesuatu yang lebih dari sekedar gelar jelas dituntut, Yaitu: keberanian, bernyali, pintar, terampil, cerdik, gigih, dan juga lihai dan factor inilah yang akhirnya menentukan masa depan seseorang ketimbang gelar akademis. Perbedaan utama antara orang kaya dan orang miskin adalah cara mereka mengatasi ketakutan itu. kegagalan memberi inspirasi kepada para pemenang. Dan kegagalan mengalahkan para pecundang, ini adalah rahasia terbesar pemenang inilah rahasia yang tidak diketahui oleh para pecundang rahasia terbesar para pemenang adalah bahwa memberi inspirasi untuk menang
kesimpulan.
Sekolah bukanlah jaminan agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari segi finansial akan tetapi sekolah adalah alat untuk mencapai suatu keberhasilan, sekolah tidak menjamin seseorang menjadi kaya sekolah hanyalah sebatas sarana untuk mencapai kekayaan. Dan hal terpenting yang harus dimiliki oleh setiap orang adalah kecerdasan finansial yaitu mengetahui dengan cermat apa, bagaimana, untuk apa uang itu digunakan dan seberapa bergunanya uang itu, karena menjadi seseorang yang kaya bukanlah jawaban dari segala pergolakan permasalahan, menjadi kaya bukanlah jawaban dari keresahan hati karena kekayaan biasanya malah akan menambah permasalahan baru kalau kita tidak bisa menaggulangi setiap keinginan manusiawi kita. Dan itulah sebabnya sangat dibutuhkan nya kecerdasan finasial karena kita sangat membutuhkan sekali mengelola uang kita sendiri agar dapat menjadikannya sebuah aset bukan liabilitas, karena seseorang yang tidak dapat memanagemen keuangannya akan membuatnya terjerat dengan berbagai permasalahan finansial yang akhirnya akan membuatnya menjadi seseorang yang miskin dan kemiskinan akan membawanya kepada kebodohan dan kebodohan akan membawanya kepada kehancuran karena sekali lagi permasalahan ekonomi bukanlah soal pemerintah,politikus,maupun orang kaya akan tetapi permasalahan ekonomi adalah permasalan individu.





Leadershift

Bagaimana perusahaan terbaik dunia
mengembangkan para pemimpin yang utuh

Para
pemimpin “parsial” umumnya produk program eksekutif tradisional, mungkin berhasil dalam jangka pendek. Namun, perusahaan mereka rugi dalam jangka panjang.

Dilengkapi dengan studi kasus dari berbagai perusahaan, Head, heart, & Guts menggambarkan langkah-langkah serta tidakan spesifik bagi para pemimpin yang ingin tumbuh melalmpaui “zona nyaman kepemimpinan” mereka. Globalisasi, strukstur yang kompleks, dan perubahan konstan dalam dunia bisnis memerlukan para pemimpin yang mampu “mengarahkan dari depan”, menentukan posisi dengan tepat, menciptakan pola hubungan yang peuh makna, dan “memikirkan kembali cara menyelesaikan banyak hal”, sekaligus membangun bisnis dan menunjukkan hasil.

Karyawan menginginkan pemimpin yang autentik; member inspirasi, kepercayaan; dan mematok standar tinggi. Jadi, “pemimpin yang utuh” harus mampu menyeimbangkan antara orang dan kebutuhan bisinis; memotivasi orang lain dari berbagai latar belakang; menciptakan kepercayaan melalui integritas yang kuat; serta secara transparan menyeimbangkan antara risiko dan hasil. Berdasarkan riset dan pengalaman melatih ribuan pemimpin, para penulis menyatakan bahwa pengembangan kepemimpinan tradisional terlalu banyak berfokus pada “kepala”. Mereka mendesak para pemimpin menggunakan kapabilitas lainnya untuk mencapai hasil para era yang penuh paradox, ambiguitas, dan tidak bisa diprediksi ini. Head, Heart, & Guts memang ditujukan untuk individu maupun organisasi yang berusaha menemukan model kepemimpinan baru serta peta arah dan cara untuk meraihnya.

Tidak semua ciri dapat dilatih atau diberikan melalui pendampingan. Misalnya jika seorang pemipin kekurangan kapasitas dan integritas, tidak ada pendekatan, bagaimanapun efektifnya, yang akan membantu anda mengembangkannya. Beberapa ciri hanya dapat muncul setelang orang menjalani serangkaian pengalaman, mengalami beberapa kegagalan, dan belajar dari kegagalan tersebut.


Kepemimpinan menyeluruh

Dalam kepemimpinan meyeluruh dalam dunia bisinis yang bergerak cepat saat ini, banyak faktor-faktor yang mendorong tren kepemimpinan ini. Secara khusus, beberapa pendorong perubahan menuju kepemimpinan menyeluruh seperti ketergantungan global, kompleksitas pelaksanaan yang semakin meningkat, pembangunan, kebutuhan akan inovasi, dan meningkatkan harapan.

Selain pengetahuan, para pemimpin global masa depan juga membutuhkan apa yang mereka sebut “keterampilan dan atribut”. Keterampilan-keterampilan dan atribut ini termasuk keterampilan untuk memberikan umpan balik,mendengarkan dan mengamati. Kualitas-kualitas tertentu seperti penghormatan, rendah hati, dan kepercayaan yang secara tidak sadar dinilai dan diharapkan oleh para pemimpin perusahaan asing. Oleh karena itu, hati merupakan atribut yang penting. Beroperasi secara global lebih besar risikonya dibandingkan dengan beroperasi secara domestik. Kompleksitas dan ambiguitas dalam melaksanakan transaksi internasional atau pekerjaan dalam budaya yang berbeda memiliki arti yang signifikan. Sudut pandang dan pemahaman yang tidak hanya pada persoalan bisnis membuat para pemimpin harus mampu memasukkan masalah tren sosial, politik, dan ekonomi. Para pemimpin perlu membuka wawasan serta menghargai nilai-nilai keragaman budaya dan pola perilaku.

Orang –orang yang rasional sangat mengandalkan” kepala(bertindak cerdas)”, mampu menyelesaikan tugas sebuah organisasi serta memiliki dorongan kuat untuk mengendalikan dan memperkirakan segalanya sehingga dapat mencapai hasil gemilang. Kecerdasan emosional memainkan peran signifikan dalam menyelesaikan tugas. Pelaksanaan tugas membutuhkan kombinasi kekuatan dan pengaruh, risiko dan analisis, pengertian(menguasai pikiran orang lain), serta inspirasi(mengambil hati orang lain).

Pembangunan juga berkaitan dengan risiko. Stagnasi merupakan ancaman nyata bagi perusahaan-perusahaan yang tidak memberikan komitmen,upaya, dan pemikiran inovatif terhadap pembangunan. Para pemimpin harus mendukung dan dapat menerapkan strategi pembangunan yang mereka yakini.

Untuk membuang gagasan yang layak untuk dibuang dan bersungguh-sungguh mendorong pendekatan-pendekatan baru ke level berikutnya, serta menolak gagasan yang kurang potensial memang dibutuhkan keberanian. Para pemimpin juga harus mau bertoleransi pada kegagalan yang masuk akal dan belajar dari kesahalahan mereka. Beberapa gagasan yang sangat bagus berakhir kegagalan, dan para pemimpin harus mengkonsumsikan bahwa sejumlah kegagalan tertentu muncul dalam inovasi.

Para pemimpin global tidak dapat bekerja efektif jika mereka hanya mengadaptasi. Mereka juga haru mepunyai sudut pandang sendiri, memahami nilai mereka sendiri, dan memiliki keberanian dalam diri mereka sendiri. Untuk menghadapi tantangan internasional atau global tertentu, seperti melakukan negosiasi, mengambil keputusan, dan melakukan komunikasi, para pemimpin harus mengintegrasikan tiga kualitas, yaitu menunjukkan keberanian, kecerdasan, dan kecerdasan emosional dalam menghadapi situasi yang absurd, kompleks dan berbeda budaya.

KEPEMIMPINAN KEPALA


Seiring dengan semakin mendesaknya kebutuhan untuk memikirkan kembali kebijakan konvesional, semakin meningkat pula kesulitan untuk mewujudkannya. Meningkatkan kompleksitas, ambiguitas, dan volatilitas dalam bisnis dan kompetisi nyata-nyata menurut perspektif atau cara pandang baru. Kemampuan melakukan pemikiran ulang atau pengkajian tidak termasuk dalam daftar sifat atau ciri kepemimpinan.

Menemukan perspektif baru, lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Sebagian besar pemimpin bisnis menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, mereka harus memiliki perilaku yang modern, inovativ, dan lebih baik daripada sebelumnya untuk memenangkan kompetisi dan melaayani pelanggan. Kesadaran ini jarang diterapkan dalam perilaku kasus baru. Dalam angan, gagasan memikirkan kembali tampak sempurna. Hanya sedikit yang akan tidak setuju bahwa ini perlu. Namun, ketika sampai pada kehidupan nyata yang penuh konsekuensi, mengubah perilaku, strategi, taktik, ritual, dan tradisi akan terasa jauh lebih sulit. Tekanan untuk menunjukkan hasil, kebutuhan akan keberanian, kurangnya waktu untuk berpikir, menanikkan biaya penemuan kembali, kekuan ritual merupakan beberapa faktor yang juga mempengaruhi para pemimpin melakukan pemikiran ulang.

Mengapa sekarang merupakan saat yang tepat untuk memikirkan kembali?
Tanpa kemampuan untuk memikirkan kembali pendekatan konvensional, para pemimpin akan tertinggal.banyak pemimpin yang percaya bahwa model bisnis ada untuk diwujudkan, tetapi mereka tidak mampu dan tidak mau menciptakan lingkungan yang memungkinkanya terwujud.


Batasan-batasan yang ada dalam dimensi dan arah yang berbeda merupakan pengetahuan yang akan membantu para pemimpin mengeluarkan ketakutan dan merevisi persoalan yang ada. Dalam lima jenis batasan-batasan, yakni batasan, eksternal, batasan vertikal, batasan horizontal, batasan geografis dan batasan personal. Banyak manfaat yang tumbuh di organisasi-organisasi ketika para pemimpin dapat mengamati dan membuat ulang kerangka batasan.

Lebih dari sekadar sifat manusia yang mencegah orang paham dan cerdas dari membuat ulang kerangka batasan-batasan. Ada berbagai halangan yang membuat beberapa orang sulit memahaminya, seperti halangan sistem insentif, halangan arogansi dan halangan “meluap-luap”.

Seperti sebagian besar keterampilan kepemimpinan, eksekusi lebih rumit dibandingkan apa yang disarankan oleh pendekatan-pendekatan untuk menyelesaikan tugas yang dimana pemimpin harus mengauasai kompleksitas tugas dan menemukan suatu bentuk pendekatan untuk mengraikan kesulitan yang berkaitan dengan eksekusi hanya mampu dilakukan oleh para pemimpin kepala, hati, dan nyali, karena mereka mengetahui bahwa persoalan-persoalan orang dan risiko dapat membawaa pengaruh unggul.

Mengembangkan dan menyuarakan sudut pandang adalah sesuatu yang juga berharga bagi perusahaan. Sebagian orang gagal mengmbangkan keyakinan dan mengambil pendirian oleh karena gagasan yang keliru bahwa pemimpin harus mewakili pihak organisasi karena lingkungan organisai yang mendorong ketaatan bagi berbagai pihak, terkadang dapat juga dikarenakan oleh keraguan diri tentang kemampuan seseorang dalam membentuk sudut pandang.

Organisasi, karenanya, harus mendorong pengembangan kepemimpinan menyeluruh yang dapat menjelaskan perspektif mereka secara logis. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan memerlukan para pemimpin yang bukan hanya mampu mengkomunikasikannya dengan empati persuasif seperti pengacara yang percaya bahwa kliennya tidak bersalah.

KEPEMIMPINAN HATI

Dibutuhkan hati untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan bisnis. Pemimpin klasik – bersifat pendorong, berorientasi pada angka, berkompetisi, berfokus hanya pada tujuan-tidak pernah mencapainya. seorang pemimpin seperti ini terlalu sering gagal melihat kaitan antara orang dan bisnis yang berkembang. Membuat hubungan yang menghasilkan hati membutuhkan keseimbangan dalam kecerdasan bersaing yang harus diseimbangkan,emosional seorang pemimpin untuk membangkitkan antusiasme, kepercayaan, keyakinan, dan optimisme di antara orang-orang dalam organisasi mereka. Manfaat dari mempertahankan keseimbangan ini, yakni, berkelanjutan, inovasi, dan jaringan kerja.

Mengenali kebutuhan bersaing yang harus diseimbangkan, dan secara konsisten tidak pilih kasih juga merupakan kunci untuk menggunakan pengembangan kepemimpinan atau pelatiahan untuk menyelesaikan masalah. Kualitas hati lainnya sebagai kualitas yang semakin penting dalam perusahaan yang saling bergantung secara horizontal dan bekerja untuk memberikan solusi terpadu bagi para pelanggan dalam basis global.

Kepercayaan sering berbicara sebagai tiga komponen, yakni karakter, kompetensi, dan konsistensi perilaku.mengelola kemampuan juga memerlukan teknik mengajarkan delegasi dengan mempercayai. Membimbing orang melalui visi dan nilai-nilai juga menemukan keseimbangan, membantu para pemimpin merefleksi dan menyuarakan keinginan mereka. Mengelola tuntutan yang semakin meningkat secara horizontal menuntut para manajer tidak hanya menyeimbangkan kebutuhan inheren dalam perusahaan, tetapi juga belajar untuk mengandalkan orang-orang di bagian lain organisasi tersebut, memercayai pemilihan mereka dan kapasitas untuk melaksanakan.

Kemampuan untuk bekerja dan mempercayai orang lain tidak hanya diuji oleh ambiguitas perusahaan antar fungsi-fungsi organisasional, tetapi juga oleh keberagaman budaya di antara unit-unit organisasi dan geografis yang berbeda. Empati menunjukkan peran yang berbeda dengan ltar yang berbeda. Para pemimpin dengan kepala, hati, dan nyali akan mewaspadai percabangannya. Reaksi organisasi monokultural terhadap pemimpin yang tidak simpatik berbeda dengan reaksi perusahaan multikultural. Oleh karena itu, ketika para pemimpin memaksa diri mereka sendiri untuk berinteraksi dalam basis yang lebih dari superficial dengan banyak kolega, mereka secara alami menjadi lebih empatik dan simpatik.


KEPEMIMPINAN NYALI

Para pemimpin mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko seperlunya agar menjadi seorang pemimpin efektif dalam dunia yang ambigu kompleks dewasa ini. Ada banyak cara untuk mengembangkan insting dan intuisi yang memungkinkan para pemimpin untuk mengambil risiko yang dibutuhkan. Beberapa pemimpin organisasi adalah penghindar risiko secara inheren. Tiga pendekatan yang akan membantu mereka bagaimana mendorong orang-orang mengandalkan insting mereka dan juga data yakni berhubungan dengan orang di margin dan mengungkap asumsi tentang keputusan yang mereka ambil.

Ketika mengambil keputusan dalam dunia yang kompleks, para pemimpin harus menyeimbangkan risiko jangka pendek dengan hasil jangka panjang serta menentukan berapa banyak tekanan yang dapat mereka terima dari orang-orang yang harus memikul pengorbanan jangka pendek.

Bagian paling penting dari memimpin dengan nyali (keberanian) adalah karakter. Karakter termasuk mengetahui pendirian para pemimpin dan apa yang ingin didukungnya. Serangkaian nilai personal yang diterjemahkan ke dalam Integritas tujuan yang tidak hanya undergrids, tetapi juga transparan dan menginspirasi orang lain.

KEPEMIMPINAN YANG MATANG

Seorang pemimpin yang memahami pentingnya bertindak secara cerdas dengan kebijaksanaan hati, tetapi tidak dibutakan oleh hati; memiliki keberanian untuk mengahadapi ambiguitas dan kompleksitas kepemimpinan dunia saat ini, tetapi tidak secara membabi buta percaya bahwa jawaban yang tepat adalah bebas risiko dan mudah. Pendeknya pemimpin yang matang adalah seseorang yang ingin memiliki semua kecerdasan, empati, dan cukup keberanian untuk memenuhi tuntuan pada abad XXI.

Sebagian besar organisasi diisi oleh para pemimpin yang parsial, seperti eksekutif super pintar yang tidak pernah mengatakan apa yang ia percaya dan yakini atau wakil presiden senior yang empatik yang tidak mampu menyelesaikan tugas. Apa yang diinginkan adalah para pemimpin serta perusahaan-perusahaan yang secara berangsur sampai pada realisasi bahwa tipe kepemimpinan ini tidak dapat diciptakan di ruang kelas saja.
Secara berangsur, berbagai perusahaan mengidentifikasi dan menempati organisasi dengan orang-orang yang mampu menunjukkan kepala, hati, dan nyali. Sering kali, kita semua akan member kontribusi mengembangkan sarana, pemahaman, dan instrument yang dibutuhkan untuk merekrut, melatih, dan mengembangkan para pemimpin yang utuh sehingga mereka mampu memberikan solusi menyeluruh atas tantangan dunia,tidak dibebani oleh gaya filosofi kepemimpinan parsial. Ketika hal ini terjadi, kita semua akan menjadi lebih bahagia dan dunia akan menjadi tempat yang lebih makmur dan produktif untuk ditempati.


Sumber :
Ringkasan
"Head, heart, & Guts", david L. Dotlich, et.al., Elekmedia komputindo, 2007.

Rabu, 06 Februari 2008

Betina, Wanita, Perempuan:


"Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik"

oleh : Sudarwati dan D. Jupriono

Marilah Kita Dudukkan Masalahnya

Perbedaan makna kata betina dengan wanita atau betina dengan perempuan itu sudah jelas bagi kita. Akan tetapi, apa beda antara wanita dan perempuan ini yang belum jelas!

Telaah ini memang mencoba mendudukkan posisi tiap kata, kapan orang harus menggunakannya sesuai dengan kandungan semantisnya dan maksud yang diinginkan. Dengan demikian, diharapkan segera bisa dijawab saat harus memilih manakah yang tepat: "Darma Wanita" ataukah "Darma Perempuan", "Pemberdayaan Perempuan" ataukah "Pemberdayaan Wanita", misalnya.

Telaah dilakukan berdasarkan arti kata leksikal dasarnya, menurut kamus (semantik leksikal) (cf. Hurford dan Heasley, 1984). Lalu, penjelajahan arti akan dilengkapi dengan memanfaatkan beberapa hasil penelitian yang ada, terutama tentang sejarah perubahan makna kata (semantik historis) (Palmer, 1986: 8-11). Kajian ini juga akan melihat bagaimana arti kata dalam pemakaian (pragmatik). Data dijaring dengan teknik dokumentasi acak dari kamus dan teknik studi pustaka terhadap tulisan yang relatif lama serta teknik rekaman tuturan keseharian. Dengan metode deskriptif, data akan dianalisis dengan teknik eksplanatori-komparatif, yang akan menjelasan perbandingan arti kata antarwaktu.

Apa Arti Betina?

Kata betina diduga kuat berhubungan dengan kata batina dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) ("Kamus Jawa Kuno Indonesia", Mardiwarsito, 1986). Bahasa Kawi sendiri kemungkinan besar menyerapnya dari bahasa Sanskrit (Sanskerta). Relasi fonis batina dengan betina beranalogi dengan relasi fonis mahardika-mardika-merdeka 'bebas'. Mungkin ini juga analog dengan saksama-seksama (?).

Menurut "Kamus Dewan" (KD) (Iskandar, 1970: 114), kata betina merupakan antonim jantan. Dalam pemakaiannya, betina cocok dilekatkan sebagai pemarkah jenis (gender) binatang atau benda yang tidak hidup. Misalnya dalam bahasa Indonesia (Melayu) kita temui ayam betina, singa betina, bunga betina, dan embun betina.

Tidak jauh berbeda dengan KD, "Kamus Besar Bahasa Indonesia" (KBBI) (Tim, 1988: 111) menambahi satu makna lagi untuk betina, yakni 'sanak keponakan dari istri'. Ada dua hal yang dapat dicatat dari tambahan acuan di sini. Pertama, istilah "sanak keponakan" menunjukkan posisi generasi lebih muda. Sebagai yang lebih muda, tentu dia tetap berada di bawah generasi lebih tua. Kedua, pernyataan "dari istri" berarti bahwa yang dipandang bawah, yunior, itu karena istri, dan istri selalu perempuan! Oleh karena itu, ini juga menyiratkan muatan semantis bahwa apa yang datang dari istri (bukan suami) akan ditempatkan di bawah suami.

Sebagai nama jenis kelamin binatang, betina tidak mengundang persoalan; netral saja. Tidak ada muatan nuansa apa pun. Bagaimana seandainya kata ini dipakai untuk manusia? Ini baru masalah! Jika dikaitkan dengan aktivitas, keberadaan, dan sifat manusia, artinya menjadi tidak netral lagi. Peribahasa Melayu "Baik jadi ayam betina sepaya selamat" (Iskandar, 1970: 114), misalnya, berarti 'kita tak usah menonjolkan keberanian sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka'; dengan kata lain, 'sebaiknya kita diam, tak usah macam-macam, hindarilah tantangan'. Dengan demikian "bersikap betina" justru dinilai positif dalam pandangan lama.

Bisa dimengerti, sebagai peribahasa Melayu Kuno, kandungan nilai peribahasa ini juga tradisional, konvensioanl, dan feodal. Dalam pandangan tradisional, sikap individualistik mesti dihindari (cf. Dananjaya, 1984). Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan modern, yang menempatkan eksistensi individu pada tempat yang diakui. Oleh karena itu, penonjolan individu tidak selalu jelek, bergantung pada konteks kepentingannya.

Dalam pemakaiannya sekarang, kata betina yang dikenakan pada manusia akan menemukan makna buruk. Misalnya pada wacana berikut:

(1) Kamu ini kok cerewet banget sih. Urus saja diri sendiri. Ngapain tanya urusan orang segala. Dasar betina!
(2) Winda benar-benar betina, yang nafsunya terlampau besar, hingga tak pernah puas hanya dengan satu lelaki suaminya itu.

Dalam wacana (1), kalimat "Dasar betina" bermakna negatif: 'cerewet, usil, mau tahu urusan orang saja'. Dalam kalimat (2), pernyataan "benar-benar betina", berdasarnya konteks kalimatnya, berarti "minor" juga: 'nympomania'. Di sini Winda digambarkan sebagai perempuan yang bernafsu menggebu-gebu, selingkuh dengan lelaki lain. Pada konteks inilah betina menemukan makna buruknya. Harus diakui bahwa semua pandangan ini tidak pernah bebas dari stereotipe gender perempuan dari masyarakat kita (Kweldju, 1993). Maka, dalam kondisi apa pun tak pernah ada yang senang disebut betina. Dengan demikian, yang muncul adalah Darma Wanita (organisasi ibu-ibu pegawai) dan Bukan Perempuan Biasa dan tentulah tentu bukan "*Darma Betina" atau pun "*Bukan Betina Biasa".

Singkat kata, kata betina memuat makna (1) 'jenis kelamin binatang', (2) 'cerewet, usil, dan (3) 'haus seks', serta (4) 'generasi yunior dari garis istri'.

Apa Arti Wanita?

Sejarah kontemporer bahasa Indonesia, ya sekarang ini, mencatat bahwa kata wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat. Kata ini mengalami proses ameliorasi, suatu perubahan makna yang semakin positif, arti sekarang lebih tinggi daripada arti dahulu ("Kamus Linguistik", Kridalaksana, 1993: 12).

Menurut KD (1970: 1342), kata wanita merupakan bentuk eufemistis dari perempuan. Pada halaman yang sama, dicontohkan frase wanita-wanita genit. Contoh ini paradoksal. Sebab, jika wanita berupakan bentuk halus, mengapa ada kata genit-nya, sesuatu yang jelas tidak halus. Tetapi, ini juga menyiratkan pandangan bahwa kata itu memang khas untuk manusia (perempuan), bukan lelaki, binatang, demit, ataukah benda lain.

Kata kewanitaan, yang diturunkan dari wanita, berarti 'keputrian' atau 'sifat-sifat khas wanita'. Sebagai putri (wanita di lingkungan keraton), setiap wanita diharapkan masyarakatnya untuk meniru sikap laku, gaya tutur, para putri keraton, yang senantiasa lemah gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, mendampingi, mengabdi, dan menyenangkan pria. Dengan kata wanita, benar-benar dihindari nuansa 'memprotes', 'memimpin', 'menuntut', 'menyaingi', 'memberontak', 'menentang', 'melawan'. Maka, bisa dimengeri bahwa yang muncul dipilih sebagai nama organisasi wanita bergengsi nasional adalah "Darma Wanita", sebab di sinilah kaum wanita berdarma, berbakti, mengabdikan dirinya pada lembaga tempat suaminya bekerja. Maka, program kerjanya pun harus selalu mendukung tugas-tugas dan jabatan suami,1) jangan bermimpi bisa independen memang bukan itu misinya.

Dalam KBBI (1988: 1007), wanita berarti 'perempuan dewasa'. Sama seperti halnya KD, meski dengan redaksi lain, KBBI pun mendefinisikan kewanitaan (bentuk derivasinya) sebagai "yang berhubungan dengan wanita, sifat-sifat wanita, keputrian". Muatan makna aktif, menuntut hak, radikal, tak ada dalam arti kata ini.

Berdasarkan "Old Javanese English Dictionary" (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti 'yang diinginkan'. Arti 'yang dinginkan' dari wanita ini sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah 'sesuatu yang diinginkan pria'. Wanita baru diperhitungkan karena (dan bila) bisa dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang "lawan mainnya", ya pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi nihil. Dengan demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki) belaka. Adakah yang lebih rendah dari "hanya menjadi objek"?

Makna wanita sebagai 'sasaran keinginan pria' juga dipaparkan oleh Prof. Dr. Slametmuljana dalam "Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara" (1964: 59--62). Kata wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah (marked) jenis kelamin. Dari bahasa Sanskerta vanita, kata ini diserap oleh bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi dari labiodental ke labial: [v]-->[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap oleh bahasa Jawa (Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Setelah diadopsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata ini mengalami tambahan nilai positif.

Ada juga pandangan lain, yang cukup "menyakitkan", yakni bahwa kata wanita bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir dari proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering disebut gejala bahasa) metatesis2) dan proses perubahan kontoid3) dari kata betina. Urutan prosesnya demikian. Mula-mula kata betina menjadi batina; kata batina berubah melalui proses metatesis menjadi banita; kata banita mengalami proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dari [b]-->[w] sehingga menjadi wanita. Maka, memang aneh bin ajaib, bahwa kata yang demikian kita hormati, bahkan kita letakkan pada tempat tinggi di atas kata perempuan ini, maksudnya ya wanita itu, ternyata berasal dari kata rendah betina.

Mungkin karena itulah, organisasi "Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia" (Iwapi) sering dipelesetkan artinya tentu saja, oleh pria menjadi "Iwak-e Papi-papi", "Dagingnya bapak-bapak" atau "Lauknya Bapak-bapak" seakan wanita itu tak lebih dari "daging" atau "lauk-pauk" yang bisa dikonsumsi oleh pria. Dalam karier militer pun, dipakai wanita. Misalnya saja "Korps Polisi Wanita" (Polwan, 1948), "Korps Wanita Angkatan Darat" (Kowad, 1961), "Korps Wanita Angkatan Laut" (Kowal, 1962), "Korps Wanita Angkatan Udara" (Wara, 1963). Meskipun begitu, pelecehen keterlibatan dan kemampuan wanita dalam tubuh ABRI pun masih terjadi. Terang-terangan memang tidak, tetapi ada dalam bentuk ungkapan humor di masyarakat (Dananjaya, 1984), misalnya berikut ini.

Seorang komandan serdadu pada suatu front peperangan memerintahkan penarikan mundur khusus serdadu wanita. Alasannya, mereka melanggar disiplin medan. Serdadu-serdadu wanita, yang merasa tidak membuat kesalahan disiplin militer, memprotes ramai-ramai. "Kesalahan??? Kesalahan apa itu, Komandan? Ini tidak adil!" Jawab Komandan dengan kalem, "Kamu sih, setiap diberi komando  'tiaraaap ...', ee kamu malah terlentang."

Ini merupakan pantulan realitas bahwa apa pun yang dilakukan wanita tetaplah tak sanggup menghapus kekuasaan pria. Wanita berada dalam alam tanpa otonomi atas dirinya. Begitulah inferioritas wanita akan selalu menderita gagap, gagu, dan gugup di di bawah gegap gempitanya superioritas pria.

Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau keratabasa, kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai 'wani ditoto'; terjemahan leksikalnya 'berani diatur'; terjemahan kontekstualnya 'bersedia diatur'; terjemahan gampangnya 'tunduklah pada suami' atau 'jangan melawan pria'. Dalam hal ini wanita dianggap mulia bila tunduk dan patuh pada pria. Sering ada ungkapan "pejang gesang kula ndherek" (hidup atau mati, aku akan ikut suami), "swargo nunut, neraka katut" (suami masuk surga aku numpang, suami masuk neraka aku terbawa). Ternyata anggapan Jawa ini merasuk kuat dalam bahasa Indonesia. Kesetiaan wanita dinilai tinggi, dan soal kemandirian wanita tidak ada dalam kamus. Karenanya, dalam bahasa Indonesia kata wanita bernilai lebih tinggi sebab, kata Ben Anderson (1966), bahasa Indonesia mengalami "jawanisasi" atau "kramanisasi": kulitnya saja bahasa Melayu yang egaliter, tetapi rohnya bahasa Jawa yang feodal itu.

Dalam persepsi kultural Jawa pulalah, kata wanita menemukan perendahan martabat ketika ia "dipakai" salah satu barang klangenan (barang-barang untuk pemuasaan kesenangan individu). Jargon lengkap populernya adalah harta, senjata, tahta, wanita. Lelaki Jawa, menurut persepsi Jawa ini, baru benar-benar mampu menjadi lelaki sejati, lelananging jagat, bila telah memiliki kekayaan berlimpah (harta), melengkapi diri dengan kesaktian dan senjata (senjata), agar dapat memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, priyayi (tahta), dan semuanya baru lengkap bila sudah memiliki banyak wanita, entah sebagai istri sah entah sekadar selir atau gundik4). Di sini tampak benar bahwa manusia wanita disederajatkan dengan benda-benda mati semacam degradasi harkat martabat salah satu gender5), sekaligus dehumanisasi.

Dengan demikian, untuk sementara bisa segera ditarik kata simpul: wanita berarti 'manusia yang bersikap halus, mengabdi setia pada tugas-tugas suami'. Suka atau tidak, inilah tugas dan lelakon yang harus dijalankan wanita. Apakah memang demikian?

Apa Arti Perempuan?

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna; arti sekarang lebih rendah dari arti dahulu (Kridalaksana, 1993).

Di pasar pemakaian, terutama di tubuh birokrasi dan kalangan atas, nasib perempuan terpuruk di bawah kata wanita, sehingga yang muncul adalah Menteri Peranan Wanita, pengusaha wanita (wanita pengusaha), insinyur wanita, peranan wanita dalam pembangunan, dan pastilah bukan *Menteri Peranan Perempuan, *pengusaha perempuan (*perempuan pengusaha), *insinyur perempuan, *peranan perempuan dalam pembangunan.

Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti 'wanita', 'lawan lelaki', dan 'istri' . Menurut KD, ada kata raja perempuan yang berarti 'permaisuri'. Dengan contoh ini kata ini tidak berarti rendah. Sementara itu, kata keperempuanan berarti 'perihal perempuan', maksudnya pastilah masalah yang berkenaan dengan keistrian dan rumah tangga. Dalam hal ini, meski tidak terlalu rendah, tetapi jelas bahwa kata ini menunjuk perempuan sebagai 'penunggu rumah'.

KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk kata keperempuanan. Menurut KBBI, keperempuanan juga berarti 'kehormatan sebagai perempuan'. Di sini sudah mulai muncul kesadaran menjaga harkat dan martabat sebagai manusia bergender feminin. Tersirat juga di sini makna 'kami jangan diremehkan' atau 'kami punya harga diri'.

Dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki. Ah, masa?!! Ya. Jelasnya begini.

  • Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu gending 'orang yang mahir mencipta tembang'.
  • Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; kata mengampu artinya 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'; kata mengampukan berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu 'penahan, penyangga, penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang' alias 'BH'.
  • Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.

Prof. Slametmuljana (1964: 61) pun mengakui bahwa kata yang sekarang sering direndahkan, ditempatkan di bawah wanita, ini berhubungan dengan makna 'kehormatan' atau 'orang terhormat'. Tetapi, yang dilihatnya di masyarakat lain lagi. Maka, ia pun tidak mampu menyembunyikan keheranannya berikut:

"... Yang agak aneh dalam tjara berpikir ini ialah apa sebab perempuan tempat kehormatan itu semata-mata diperuntukkan bagi wanita, sedangkan hormat dan bakti setinggi-tingginya menurut adat ketimuran djustru datang dari kaum wanita, terhadap suami."

Itulah sebabnya, tidak sedikit aktivis gerakan perempuan baik yang di bawah payung lembaga pendidikan formal maupun yang lebih suka malang melintang di alam bebas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lebih suka memilih kata perempuan daripada wanita untuk organisasi mereka. Misalnya Solidaritas Perempuan (Jakarta), Yayasan Perempuan Merdika (Jakarta), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK, Jakarta), Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA, Yogyakarta), Sekretariat Bersama Perempuan Yogya (Yogyakarta), Forum Diskusi Perempuan Yogya, Suara Hati Perempuan, Kelompok Perempuan untuk Kebebasan Pers (KPKP), dan Gerakan Kesadaran Perempuan--sekadar menyebut beberapa contoh. Menarik untuk dicontohkan di sini bahwa nama jurnal keperempuanan terbitan LIPI adalah "Warta Studi Perempuan" dan bukan *Warta Studi Wanita. Sementara itu, jika dahulu "Women Study" diterjemahkan menjadi "Kajian Wanita", sekarang muncul saingan baru, "Studi Perempuan".

Dari sudut sejarah pergerakan nasional pun, kata perempuanlah yang telah menyumbangkan kontribusi historisnya. Kita ingat, kongres pertama organisasi "lawan tanding lelaki" ini dinamainya "Kongres Perempoean Indonesia Pertama, yang berlangsung pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta (Rahayu, 1996).6) Dalam Kongres I ini disepakati bahwa persamaan derajat hanya dapat dicapai bila susunan masyarakatnya tidak terjajah. Langkah organisasi pertama yang dilakukan adalah membentuk "Perserikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia" (PPPI). Bahwa dalam perjalanan sejarah lahir Kowani, Perwari, Perwani, KNKWI, BMOIWI, Ikwandep perhatikan, selalu ada huruf /W/ setidaknya itulah jejak-jejak historis lingual bahwa kita lebih memilih "wanita", dan bukan "perempuan", sebab yang kita kehendaki bukan perempuan mandiri, melainkan perempuan penurut. (Silahkan pembaca menjawab sendiri, apakah setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan ini kaum perempuan telah mencapai persamaan derajat, seperti impian Kongres I).

Sejak kemerdekaan, seperti disebut di atas, derap Kongres Perempoewan Indonesia sudah (di)musnah(kan) dari peredaran. Muncul pengganti-penerusnya: Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak menjelang kemerdekaan, yang relatif lunak, umumnya terdiri atas para istri pegawai. Mungkin sejak inilah wanita secara resmi menggeser perempuan. Sejak saat itu setiap partai-partai politik di Indonesia juga mempunyai anak organisasi wanita, bukan perempuan, misalnya Wanita Demokrat dan Gerakan Wanita Marhaen (PNI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani, PKI), dan pasca-1965 ada Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), serta Dharma (1974) (Rahayu, 1996: 30-31).

Perempuan Disembah-sembah, Itu Dulu ...

Dahulu sesuatu yang bersifat perempuan dihormati, dijunjung tinggi. Dalam hal ini kita tak lagi mempersoalkan perbedaan istilah wanita, perempuan, betina, atau pun ibu, bunda, mbaktu, biyung, mama, dewi, putri, ratu. Kita bicarakan hal itu secara global saja. Dahulu kaum ibu dikatakan sebagai "tiang masyarakat", diluhurkan sebagai "ratu kehidupan", dan dimitoskan sebagai "danyang kesuburan alam semesta", serta disembah-sembah  sebagai "penentu awal kehidupan manusia di bumi".

Zaman sekarang kaum ibu selalu dituding sebagai sumber kesalahan, terutama berhubungan dengan kenakalan anak-anak. Bukankah mendidikan anak itu tugas seorang ibu, bukan bapak? Karena perempuan mengalami domestifikasi peran, bila terjadi kericuhan keluarga, ibulah yang layak dikorbankan sebagai kambing hitam. "Ini gara-gara terlalu kau manja," atau juga "coba, kalau kamu mendidiknya benar, anak kita tidak binal seperti ini," begitu kata ayah. Dahulu, nasib ibu tidak seburuk ini, tidak dituding sebagai biang kerok perkara. Dia sangat dibela, dibersihkan dari tuduhan. Posisinya sebagai peletak awal kehidupan manusia sangat menentukan, karena dari guwagarba rahimnyalah, manusia di bumi ini berasal. Oleh karena itu, jika ada anak yang nakal, ibu akan dibela, sehingga ungkapan yang muncul adalah "Bukan salah bunda mengandung" dan bukan ungkapan "*Bukan salah ayahnda menghamili" atau "*Bukan salah ayahnda membuahi". Ini bukti pengakuan bahwa mengandung itu lebih bernilai tinggi daripada menghamili (Kweldju, 1991). Karena yang mengandung itu biasanya ibu, ibulah yang lebih diharga.

Pelesetan-pelesetan di masyarakat terhadap kata-kata tertentu juga menggambarkan seberapa jauh nilai dominasi pria terhadap wanita ini hendak menandingi pemahaman masyarakat terhadap hakikat suatu kata. Semula, berdasarkan etimologi rakyat (jarwodosok, keratabasa) Jawa, kata "garwo", misalnya, dipersepsi sebagai "sigaraning nyowo" (belahan jiwa). Di sini, kedudukan seorang istri cukup terhormat, sejajar, sama, segaris, dan komplementer dengan suami; tidak ada nuansa dominasi dan subordinasi antargender. Memang, garwo adalah kata yang netral, egaliter, tidak memihak salah satu jenis kelamin (bias gender). Ia bisa mengacu baik kepada "garwo jaler" (suami) maupun "garwo estri" (istri). Akan tetapi, selanjutnya inilah kurang ajarnya pemahaman terhadap kata garwo telah dipelesetkan sebagai "sigar tur dowo" (terbelah dan lagi panjang), sesuatu yang bisa mengundang kesan porno dan pelecehan. Tidak sulit ditebak siapa pelaku pemelesetan ini: pastilah dari barisan pria.

Tidak hanya persepsi kultural masyarakat, agama pun meletakkan ibu pada posisi sangat terhormat. Dalam Islam, misalnya, ada hadis yang sangat terkenal berkenaan dengan ini, yakni "Surga itu di bawah telapak kaki ibu". Maka, menurut pandangan ini, tempat berbakti adalah ibu, ibu, dan ibu, kemudian baru ayah. Mungkin karena kecemburuan religiusitas-gender, di masyarakat kami pernah mendengar pelesetan sinis terhadap ini tentu saja dari kaum bapak.7) Surah paling Al-Fatihah, saripati dari semua surah dalam Kitab Suci Quran, misalnya, disebut "Ummul Qur'an" dan bukan "Abul Qur'an" (Nadjib, 1996). Dalam agama lain pun kurang lebih sama. Begitulah ...

Perempuan Indonesia, Akan ke Manakah Anda?

Di sini jelas sekali bahwa jika yang kita maksudkan adalah sosok yang mengalah, rela menderita demi pria pujaan, patuh berbakti, maka pilihlah kata wanita. Maka, yang tepat tetaplah "Darma Wanita" memang dimaksudkan untuk berbakti. Tetapi, jika kita berbicara soal peranan dan fungsinya, soal pemberdayaan kedudukan, soal pembelaan hak asasi, soal nasib dan martabatnya, tidak ada jalan lain, gunakan kata perempuan, semisal "peranan perempuan dalam perjuangan", "gerakan pembelaan hak-hak perempuan pekerja". Setuju?

Bisa dipastikan siapa pun akan ragu, jika hati harus lebih berpihak pada perempuan daripada pada wanita. Justru, itulah bukti hebatnya hegemoni patriarki dalam masyarakat mana pun, sehingga jangankan yang menguasai, yakni pria, yang dikuasai pun, yaitu wanita, merasa takut, khawatir, bahkan merasa menikmati "penguasaan" itu. Bagi kelompok terakhir ini, hegemoni kekuasaan pria akan dinikmatinya sebagai "perlindungan" dan "kasih sayang". Ditindas kok tidak melawan. Mengapa? Sulit menjawabnya. Mungkin kaum wanita tergolong makhluk ajaib, yang suka menyiksa diri, menyimpan samudra kesabaran luar biasa, suka berkorban, memang karena tak berdaya, atau jangan-jangan mereka berjiwa masokistis, suatu jenis kenikmatan dalam penindasan. Jiwa mereka berada dalam situasi terpenjara (captive mind). Akhirnya, Perempuan Indonesia, terserah saja, Anda mau ke mana ...?

Catatan

  1. Orde Baru merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban (Pancadarma): (1) wanita sebagai istri pendamping suami, (2) wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda, (3) wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga, (4) wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan (5) wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat. Perhatikan, di sini yang dinomorsatukan adalah kewajiban istri sebagai istri mendampingi sang suami tercinta. Sementara, urusan bergerak di sektor publik (di luar rumah) menduduki nomor bungsu, artinya tidak dipentingkan. Ini terjadi sebab ada anggapan bahwa di luar rumah itu urusan lelaki, sedang di dalam rumah (sektor domestik) inilah tempat tepat wanita. Periksa: Binny Buchori & Ifa Soenarto, "Mengenal Dharma Wanita". Mayling Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Jakarta: PT Gramedia, 1996) hal. 172-193); juga: Ruth I. Rahayu, "Politik Gender Orde Baru: Tinjauan Organisasi Perempuan Sejak 1980-an. Prisma XXV/5, Mei 1996: 29-42.
  2. Metatesis adalah gejala perubahan (pertukararn) letak huruf, bunyi, atau sukukata dalam suatu kata (Kridalaksana, 1993:136). Misalnya rontal menjadi lontar, sapu<-->usap; dalam bahasa Jawa misalnya kelek<-->lekek 'ketiak'. Dalam bahasa Inggris ada flim<-->film, brid<-->bird (Jack Richards, John Platt, dan Heidi Weber, 1987: 176), aks<-->ask (Crystal, 1985: 194).
  3. Proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dalam bahasa-bahasa di Nusantara dirumuskan dalam hukum-hukum perubahan bunyi. Salah satunya adalah perubahan [w] dalam bahasa Jawa atau Jawa Kuno menjadi [b] dalam bahasa Melayu (Indonesia) (Slametmulyana, 1964; Wojowasito, 1965; Keraf, 1987). Misalnya awu-->abu, watuk-->batuk, sewelas-->sebelas, wulan-->bulan.
  4. Raja, sultan, adipati, bangsawan, pada zaman dahulu umumnya memiliki banyak istri dan selir. Misalnya, Paku Buana IV (Surakarta) mengumpuli 25 istri dan selir; Hamengku Buwono II (Ngayogyakarta Hadiningrat) menyimpan 33 istri dan selir. Tujuan memiliki banyak wanita adalah menghindari kejahatan seksual dan mencapai konsolidasi kekuasaan politik untuk mengesankan bahwa pemimpin itu lelaki luar biasa sakti mandraguna (super human). Periksa: G. Moedjanto, "Selir", Basis, Januari 1973; juga Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram (Yogyakarta: Kanisius, 1987).
  5. Tentang konsep degradasi harkat martabat gender feminin, baca: D. Jupriono, "Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki", FSU in the Limelight edisi nomor ini juga.
  6. Lih. Ruth Indiah Rahayu, Opcit., hal. 29-42. Dalam artikelnya, dijelaskan bahwa perempuan dan gerakannya telah lahir jauh sebelum kemerdekaan RI. Aktivitas pergerakan perempuan terus berjalan hingga mencapai puncaknya pada 1965. Sejak itu berlakulah proses domestifikasi (pe-rumah-an) "perempuan" di segala bidang, menjadi "wanita". Tetapi, bersamaan dengan itu, bermunculan juga berbagai organisasi "keras" perempuan bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
  7. Pelesetan itu demikian. "Surga ada di bawah kaki ibu", katanya, "berlaku bagi seorang anak". Bagi seorang ayah, lain lagi, yaitu "Surga itu ada di antara kedua kaki ibu"; "Ooo ... itu sih nerakanya. Setannya ya kita-kita ini. Ha ha ha ...". Bahwa itu hanya kelakar, itu jelas. Tetapi, di sisi lain, ini mungkin saja juga karena tidak tahu (menyadari) bahwa yang mereka pelesetkan adalah sabda Rasul.


Analisa sastra

IDEOLOGI NOVELIS AYU UTAMI DALAM PERSPEKTIF FEMINISME ISLAM**
Oleh: Dina Mardiana, S.Sos
Abstrak

Banyaknya penulis perempuan yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan. Kebebasan berekspresi tersebut tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis. Ayu Utami sebagai novelis perempuan dikatakan sebagai generasi baru sastra Indonesia, yang telah mendobrak serta menerobos mitos-mitos yang cenderung merendahkan atau bahkan menampikkan etika timur. Dengan penolakannya yang tegas terhadap kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas.

Dalam penelitian ini penulis ingin meninjau idologi novelis tersebut dipandang dari persfektif feminisme islam, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, mengekplanasi dan mengkonstruksi ideologi penulis perempuan dalam karya sastranya. Studi kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur adalah metode yang digunakan penulis dalam proses penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan data yaitu lewat studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara mendalam (dept interview).

Sebagai hasil dari kesimpulan penelitian, yaitu adanya gerakan feminisme yang terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan sebagai penuntutan hak asasi perempuan yang terkandung dalam karya sastra novelis perempuan tersebut. pertentangan terhadap dominasi patriarki juga yang membuat wanita ingin dikonstruksi sebagai manusia yang layak menerima peradilan yang seimbang tanpa adanya perbedaan jenis kelamin. Dalam persfektif feminisme tentu saja dari ideologi tersebut, meskipun ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, hubungan sesama jenis, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki
Kebebasan sastra

Demam baru sedang menjangkit kisah dunia sastra di Indonesia. Dapat dikatakan ini terjadi akibat bangkitnya wanita dari keterbelengguannya sejak era Kartini. Dari kacamata sederhana, kebebasan wanita dalam berkarya kini telah menjadi jamur di tengah hujan, dengan banyak penulis-penulis perempuan berbakat yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan.

Tapi terkadang kebebasan berekspresi tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya kesenian atau sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis yang cenderung bermain didalam imajinasi atau gambaran suatu kehidupan yang melampaui wilayah lingkungannnya, dan masuk kedalam gambaran tentang kehidupan dimana dirinya tidak berada dalam geografi yang paling riil (Kompas, 3 April 2005).

Bagian penting dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa yang dijadikan simbol. Pendapat bahwa karya sastra adalah suatu entitas tunggal yang mandiri dan bebas merdeka tampaknya perlu diwaspadai, terutama oleh para pelaku utama seni sastra, yakni para penulis atau sastrawan atau sastrawati. Terlepas dari pandangan peneliti Jerman, Wolfgang Iser, bahwa sastra harus dinilai bukan hanya berdasarkan bentukan tulisan itu semata, melainkan juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen, idealnya para pelaku sastra Indonesia bisa lebih arif melihat kondisi bangsanya sendiri.

Karya-karya sastra biasanya menjelma hampir di semua pembatasan etika kodratnya sebagai perempuan dengan mengatasnamakan kepentingan kaumnya, perempuan itu menuangkan ideologi mereka sebagai bentuk pemberontakan hatinya di tengah sikap ketertindasan sesama kaumnya yang selama ini menjadi euphoria di Indonesia. Karya sastra mereka berperan di masyarakat sebagai pemapanan bagaimana degradasi moral, bagaimana ide feminisme teriritasi.

Sisi feminismepun ditonjolkan dan dinobatkan sebagai acuan primer oleh para novelis perempuan seperti dengan keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks.

Pada zaman sebelum islam, kaum wanita selalu dibawah kezaliman pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak dapat kedudukan dalam masyarakat sebagaimana yang sewajarnya diberikan kepada mereka dan seharusnyadiakui oleh masyarakat. Dalam Islampun feminisme tidak hanya diartikan sebagai sebuah sudut pandang (perspektif) yang memiliki akar sejarah yang berbeda-beda melainkan telah menjadi gerakan dalam sejarah itu sendiri. Ajaran Islampun sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian bentuk-bentuk gerakan perempuan tersebut diatas, terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan. Wanita disimbolkan sebagai Megaloman, Hera atau Xena yang mempunyai kekuatan yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satu wilayah dunia simbolik yang sekaligus menjadi sarana strategi yakni lewat bahasa. Kuncinya adalah bagaimana melihat ideologi itu sebagai pertautan berbagai kepentingan individu atau kelompok dominan yang berbenturan. Dengan demikian, kerja ideologi lewat bahasa itu dipastikan akan menelurkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi dunia sastra dan masyarakat. Dalam feminisme islam sendiripun masih tetap mencari formulai (kosakata) yang simbol dan pemaknaannya lebih islami daripada produk Barat.
Tinjauan hermeneutika
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, hermeneutika disini seperti yang dijelaskan Irfan Safrudin dan H.A Hasan Ridwan dalam wawancaranya dengan penulis, mengartikan hermeneutika sebagai interpretasi terhadap ideologi novelis perempuan dalam karya sastranya. Teori heremeneutika dari Paul Ricoeur adalah pendekatan yang dipakai penulis dimana Paul Ricoeur menguraikan tentang hermeneutika mendalam dalam tiga tahapan, yang terdiri dari pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi, oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.
Dengan pisau analisis diatas, penulis berharap penelitian ini bisa mendalam dan kritis. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terdiri dari 3 tahap, yaitu:”tahap orientasi, eksplorasi dan membercheck” (Nasution,2003:31-36). Proses pengumpulan data sendiri dilakukan dengan jalan studi pustaka, studi dokumentasi juga wawancara mendalam (dept interview).

Untuk membantu pengkajian penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma kualitatif yang multi paradigma, dimana penulis menggunakan beberapa teori untuk menemukan paradigma baru. Selain menggunakan teori hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur juga dilengkapi dengan berbagai perspektif teorikal diantaranya yaitu teori kritis, teori tripartit komunikasi massa dll.

Ideologi Ayu Utami dalam karya sastranya

Pandangan George Lucac, seorang tokoh Marxis memandang Ideologi dapat juga membantu manusia juga ideologi sebagai kesadaran kelas dapat berperan membebaskan kelas tertentu dari penindasan.

Penelitian ideologi yang menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur ini, memiliki perhatian khusus yang secara eksplisit dan sistematis berusaha menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian sosial. Kunci dari arah refleksi ini apa yang oleh Ricoeur disebut dengan hermeneutika mendalam (dept hermeneutics). Ricoeur memproyeksikan bahwa dalam mengelaborasi pendekatan interpretatif dan kritis terhadap studi ideologi merupakan konstribusi terhadap pengembangan suatu hermeneutika kritis.

Dalam concern ideologi, analisa sosial-historis akan mengarahkan pada studi tentang relasi dominasi, maka pada analisa formal atau diskursif ia akan memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna. Ideologi dari komunikator dapat dilihat dengan jalan bagaimana makna melakukan pengakuan yang ditunjukkan oleh suatu teks. Strategi-stretegi dengan penggunaan modus operandi banyak dipakai Ayu untuk mencerminkan hubungan dominasi yang menimbulkan klaim legitimasi yang dapat diekspresikan dalam strategi-strategi kontruksi simbolik tertentu.

Misalnya dalam karya sastra Ayu Utami, ideologi komunikator dimunculkan yakni isme-isme feminis salah satunya melalui strategi rasionalisasi dan narativisasi. Strategi rasionalisasi yang dipakai yaitu dengan menggunakan dua cara yang pertama dengan membuat hubungan sebab akibat (kausalitas) atau membuat prinsip tertentu (appeals to principle). Seperti kutipan dibawah ini:

“Sebab saya sedang menunggu Sihar ditempat ini. Ditempat yang tak seorangpun tahu, kecuali gembel itu. Tidak orang tua, tidak ada isteri. Tak ada hakim susila atau polisi. Orang-orang, apalagi turis, boleh menjadi seperti unggas: kawin begitu mengenal birahi setelah itu, tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada dosa” (Saman:5, cetak tebal oleh penulis).

“Yasmin kemudian memanggilku si Perek........

Julukan itu memang dia ucapkan dengan akrab, sebagaimana yang lain mendapat panggilan masing-masing. Laila dipanggil Peju, Pemudi Jujur. Sakuntala Piktor, Pikiran Kotor. Tapi perek tetap perek...........tapi tidak semua perempuan jadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja. Perempuan eksperimen. Bayangkan! Tak ada yang percaya bahwa perempuan eksperimen berarti bereksperimen. Tapi semua akan mengartikannya perempuan untuk eksperimen. Seperti kelinci percobaan, kelinci buat percobaan. Enggak mungkin kelinci yang membuat percobaan..........kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan , yang juga dilakukan laki-laki, kok kita mendapat cap jelek” (Larung: 83-84, cetak tebal oleh penulis).

……………………………………………………………………………………

“Orangtuaku percaya bahwa pria cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Pria membikin anak dan wanita melahirkan. Maka bapakku mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksakan untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu. (Larung: 136, cetak tebal oleh penulis).

Dalam kutipan teks diatas sudah sangat jelas bahwa isme-isme feminis direpresentasikan Ayu Utami dalam karya sastranya, seperti pembenaran akan perselingkuhan tokohnya Laila dan Sihar yang notabene sudah mempunyai isteri. Ayu Utami mempunyai asumsi bahwa perselingkuhan meskipun tanpa hubungan pernikahan dianggap benar karena diantara mereka ada cinta. Dalam teks tersebut Ayu Utami seakan membela kaumnya bahwa perselingkuhan yang hanya dijadikan salah satu simbol seakan sah saja tidak hanya berlaku bagi laki-laki seperti yang terjadi, tapi kaum perempuanpun mempunyai hak yang sama (wawancara, 12 Juli 2005).

Dan berbagai doktrin lainnya yang digunakan komunikator untuk menentang dominasi patriarki, perbedaan gender, dan ketidakadilan yang selama ini banyak menindas kaum perempuan. Wacana seksualpun tidak luput dituangkan Ayu dalam karya sastranya, seperti Ricoeur jelaskan tentang hermeneutika mendalam, bahwa bahasa menjadi sebuah wacana.dan dengan mengangkat wacana seperti inilah Ayu Utami bermaksud sebagai bentuk pengejekan tentang ketidakadilan masalah seksualitas yang berlaku bagi perempuan, hal tersebut juga menggiring wanita untuk melakukan hubungan sejenis. Dengan isme-isme itulah sisi ideologis komunikator sebagai seorang feminis pun dibeberkan.

Kodrat wanita yang dalam dunia patriarki, lebih pantas bekerja disektor domestik. Yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan “3M”, Manak (melahirkan), masak, dan macak (berhias). Dalam teks diatas merupakan wujud Ayu Utami untuk menumbangkan asumsi diatas, tapi kebudayaan tersebut masih terus berlangsung. Ideologi domestisitas atau domestikasi wanita ternyata tidak hanya melemparkan wanita kedunia dapur, tapi justru dunia dapur itu sudah dibawa kedunia publik dan dengan ini perempuan menjadi bagian penting dari proyek domestikasi ditingkat simbolik. Sisi ideologis Ayu pun dijadikannya sebagai perlawanan (ideology is struggle).

Seperti yang dikatakan Idi Subandi Ibrahim dalam wawancara dengan penulis yang menjelaskan tentang novel-novel yang dijadikan bentuk perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan seperti dibawah ini:

Bisa jadi hal itu sebentuk perlawanan atau pemberontakan terhadap dominasi patriarki. Tapi bisa juga dilihat dari perspektif lain, misalnya, bagaimana suara perempuan kini sudah mendapatkan tempat yang layak dalam “ruang publik” (wawancara tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2005)

Posisi Wanita dalam karya sastra Ayu Utami

Feminisme berasal dari kata femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan. Feminisme diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki dimasyarakat. Dalam prakteknya gerakan feminis menghasilkan beberapa istilah dikalangan akademisi seperti feminisme liberal dan sosialis, feminisme perbedaan, feminisme kulit hitam pascastrukturalis, feminisme islam dll.

Gerakan feminis telah lama mendapat sambutan kuat dalam dunia islam. Jantung diskursus gerakan feminis islam adalah isu reinterpretasi progresif terhadap Alquran. Salah satu kritik utama feminis Islam terhadap feminis barat adalah kecenderungannya kepada sekularisme. Menurut teologi feminisme islam, konsep hak-hak asasi manusia yang tidak berlandaskan visi transidental merupakan hal yang tragis. Karenanya, mereka berpandangan gerakan perempuan Islam harus berpegang pada paradigma islam supaya tidak menjadi sekular.


Streotype perempuan yang dibangun Ayu dalam karya sastranya, dibangun Ayu Utami dengan berbagai stereotype, dimana disisi lain Ayu ingin menggambarkan seorang perempuan Timur yang taat dengan ajaran agama, aturan, patuh, penurut, dengan patuh pada suami dll. Tapi disisi lain, Ayu juga mengkonstruksi perempuan dengan isme-isme ideologinya dimana penentangannya terhadap dominasi patriarki membawa penggambaran sisi lain dari seorang perempuan yang tertuang dalam karya sastranya.

“Cok , pasti elu girang sekali, deh, akhirnya bisa menemukan kelemahan gue berzinah baru sekali.” Enak aja! Sedikitnya elu berzinah dua kali. Pertama dengan Lukas sebelum kalian kawin.

Lihat temanku Yasmin wajahnya yang rupawan, bersih seperti patung marmer. Hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Barangkali aku memang sirik padanya. Atau jengkel atau sekedar jail. Atau gemes. Sebab sejak kecil ia tak pernah bolos. Tak malas kursus piano dan balet. (tapi ia tak sukses menjadi pebalet karena kakinya terlalu ramping). Tak mengerjakan PR disekolah, tak membikin malu orang tua. Tidak bunting diluar nikah. Tak pernah pacaran ditempat gelap–waktu SMA. Dan, waktu sudah tahu seks dengan Lukas, gue kira dia juga nggak bersetubuh ditempat gelap. Ngapain punya badan bagus kalau gak dipamerin. Tapi, selain kepada kami, sahabatnya, mana pernah dia ngaku bahwa dia praktek seks ekstramarital. Noway dia akan terus terang. Pasti dimuka umum dia akan bilang “oh, keperawanan adalah mahkota yang harus dijunjung tinggi”. Dikempit rapat, maksud lu! Bahkan kini, perselingkuhannya dengan Saman hanya dia akui padaku... itulah. Dia munafik . dia selalu tampil kalem dan sopan, seperti karyawati baik-baik yang diidam-idamkan ibu-ibu kos. Tapi gue yakin, didasar hatinya yang paling dalam dia sama dengan aku. Binal. Perhatikan pakaian kerjanya:stelan, blazer dengan bantalan bahu, kayak eksekutif atau penyiar berita teve. Tapi gue yakin beha dan celana dalamnya pasti fansi”. (Larung, 79, cetak tebal oleh penulis).

Salah satu contoh teks kutipan yang penulis kutip diatas menceritakan tentang seorang perempuan Timur yang selalu patuh dan taat, dapat dilihat perempuan dalam hal ini Ayu konstruksi sebagai sesosok manusia yang hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Seperti yang dijelaskan Ayu Utami (wawancara,12 Juli 2005) yang ingin menggambarkan bahwa perempuan adalah wanita yang pintar, aktif dalam segala bidang dan bisa melakukan apa saja, hal tersebut dapat dilihat dari sosok tokoh Yasmin yang merupakan anak orang berada, keluarganya terhormat, setia pada suami dan juga merupakan seorang pengacara, tokoh dalam karya sastra Ayu ini juga merupakan seorang aktivis yang membela orang tertindas dan orang miskin.

Selanjutnya bentuk penentangannya terhadap dominasi patriarki Ayu pun membangun stereotype lain dari sosok seorang perempuan. Dalam kedua novelnya, citra perempuan terlihat kian buruk dengan keterlibatnnya dalam perselingkuhan yang dianggap biasa, seperti perselingkuhan mungkin diibaratkan sebagai perasaan yang dibiarkan mengalir atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan aspirasi religius Yasmin. Dititik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya menjadi judgement dari pihak luar, yaitu cerita Cok bukan suara hati yang mengalami (Yasmin dan Laila).

Lalu citra perempuan Timur pun terkikis dengan cerita tentang kehidupan bebas dengan melakukan seks pra-nikah yang dilakukan antara Yasmin dan Saman, cerita tentang sebuah virginitas, yang seharusnya dijadikan sebagai “mahkota yang harus dijunjung tinggi dan dikempit rapat”, menurut Ayu Utami sendiri penggambaran perempuan yang selalu gonta-ganti pasangan dan seluruh dan magma kultur yang selama ini dibangun masyarakat yang dianggap merugikan wanita. Semua Ayu libas dengan pegucilan sebuah etika Timur yang selama ini terpatri dibenak masyrakat dalam memandang sosok perempuan. Mitos tersebut terkalahkan oleh minimnya sebuah etika dari tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastranya.

Perspektif feminisme Islam

Feminisme dikenal dengan istilah women liberation, suatu upaya kaum Hawa dalam melindungi dirinya dari eksploitasi kaum Adam. Kesadaran untuk bangkit memperjuangkan hak dikalangan perempuan, sebenarnya telah menjadi bagian dari ajaran agama-agama dengan kadarnya masing-masing. Feminisme menjelma menjadi dambaan kaum wanita di dunia dan telah membangun ideologi kewanitaan yang melibas tesis-tesis awal tentang mitos “kepanutan” kaum hawa terhadap kaum adam. Tinjauan emosional perempuan yang tidak bias menerima kenapa perempuan hanya dipekerjakan dalam hal domestik laki-laki tidak, dan hal lainnya yang merespon semangat perempuan untuk mendobrak doktrin formalistik yang selama ini menjadi dominasi patriarki.

Hal inilah yang dibeberkan Ayu Utami dalam karya sastranya, dimana isme-isme gerakan feminisnya dijadikan tombak untuk penolakan-penolakannya terhadap wacana gender yang selama ini menjadi dominasi laki-laki. Dipandang dalam perspektif feminisme islam, isme-isme yang dinobatkan Ayu Utami sebagai bentuk wacana ideologinya, diantaranya Ayu menampilkan sisi feminisme liberal yakni gerakan feminisme yang berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan, ideologi yang Ayu angkat apabila dipandang dalam perspektif feminisme islam banyak yang bertentangan diantaranya ketika Ayu utami menobatkan tentang wacana seksual pra nikah, tentang perselingkuhan, dan prilaku-prilaku amoral lainnya yang Ayu angkat sungguh berbeda dipandang dalam segi feminisme Islam. Islam sendiri mempunyai ajaran yang memfilter agar umatnya tidak berbuat maksiat

Selain itu apabila memandang wanita dalam karya satra Ayu, terlihat dimana wanita sangat rendah, dan Ayu juga meinginkan kesetaraan dalam semua hal. Padahal kalau kita perhatikan dalam perspektif Islam, martabat kaum wanita telah diangkat dan diberikan hak-hak yang sama dengan kaum pria, walaupun sebelumnya telah hancur luluh oleh tradisi-tradisi, fanatisme golongan dan kebangsaan. Kepada kaum wanita telah diberikan peran yang amat besar, yang belum pernah diberikan oleh agama-agama sebelumnya. Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita, terbukti dengan ditetapkannya wanita sebagai salah satu surah dalam Alquran, yaitu surah An-Nisa. Sebagian besar ayat-ayat dalam surah ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, utamanya yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita. Oleh sebab itu, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam ini, dapat dikatakan sebagai hari lahirnya proklamasi kemerdekaan kaum wanita, karena ajaran Islam yang dibawa oleh beliau memberi perlindungan terhadap hak-hak wanita.

Disisi lain ada juga perspektif yang sama dalam memandang wanita yang ditekankan oleh Ayu Utami seperti tergambar dalam tokohnya Yasmin yang dalam sisi lain digambarkan sebagai tokoh Yasmin aktivis yang mempunyai karier sebagai pengacara yang sukses dan merupakan pembela kaum buruh dan ketertindasan wanita. Dimana dalam Islam pun tidak sedikitpun mengeliminir perempuan untuk aktif dalam social masyarakat, Islam menempatkan wanita pada posisi yang paling tinggi dan penuh adil, posisi seperti itupun kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hukum-hukum islam diturunkan kepada manusia dengan melihat sisi kemanusiaan, perbedaan hukum yang berbeda diantara pria dan wanita berdasarkan tabiat mereka masing-masing. Adanya keharusan pembagian tugas masing-masing dan hukum-hukum justru menjaga agar antara laki-laki dan perempuan terjalin kerjasama yang dilandasi kesucian. Maka sangat naif bila masih ada orang yang memiliki pemahaman miring mengenai kedudukan wanita dalam islam. Gambaran bahwa wanita islam adalah wanita yang jumud dan terkungkung karena syara, padahal islam memberikan keleluasaan pada wanita untuk melakukan aktivitas muamalat, memperoleh pendidikan yang tinggi dsb, yang penting prinsip-prinsip aturan sosial dan ajaran Islam harus ditegakkan.

Seperti halnya tentang masalah perkawinan yang ditentang Ayu Utami sebagai penguasaan laki-laki terhadap perempuan, justru dalam perspektif Islam seperti yang tergambar dalam perkawinan Muhammad SAW, yang membela wanita juga memposisikan wanita dalam kedudukannya untuk saling melengkapi. Seibarat pakaian yang saling melindungi bukan berarti dalam konsep penguasaan laki-laki terhadap wanita. Perlu diakui bahwa peran wanita sampai hari ini belum teroptimalisasikan. Teologi yang mengatur posisi wanita bukan produk dan pemikiran murni dari kaum wanita melainkan hasil rekayasa kaum pria. Maka sebebas apa pun kebebasan yang diberikan kepada kaum wanita, jelas-jelas akan dibatasi oleh kepentingan komunitas laki-laki.

Fatwa-fatwa yang berteologi laki-laki mengklaim bahwa kepemimpinan (formal, informal) secara mutlak menjadi hak laki-laki. Klaim ini merujuk kepada pernyataan Alquran yang ditafsirkan bahwa laki-laki berdir di atas (pemimpin) kaum wanita. Pemaknaan ini sepertinya mutlak dan tidak bisa diubah, tanpa melihat perkembangan realitas lebih lanjut, bahwa Allah SWT memberikan potensi yang lebih bagi beberapa kaum perempuan dan bukan mustahil melebihi kapasitas laki-laki.

Ajaran Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk teroptimalisasinya peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT yang dalam beberapa hal berbeda. Sampai kapan pun untuk meneruskan regenerasi kehidupan, sekalipun teknologi rekayasa diciptakan, tetap yang bisa mengandung dan melahirkan hanyalah perempuan, laki-laki tidak. Sikap ramah, halus, perasa dan lunak dengan penuh kasih sayang diberikan Allah SWT kepada wanita, tidak kepada laki-laki. Luar dari kodrat azali, kaum wanita bisa mengekpresikan segala kemampuannya untuk berlomba bersama-sama kaum laki-laki ber-fastabiqul khairat.

Kesimpulan

Ideologi yang direpresentasikan dalam karya satra novelis perempuan yakni Ayu Utami adalah ideologi feminis, hal ini dapat dilihat dari permainan politik bahasa, bentuk-bentuk simbolik yang hasilnya akan mengungkap sebuah relasi dominasi guna mempertahankan ideologi si pengarang. Dalam karya sastra ini, relasi ideologis dibangun Ayu Utami yang terindikasi sebagai seorang feminis yakni tercermin dari teks-teks berbagai penentangannya terhadap dominasi patriarki dan gender, mulai dari wacana tentang seksualitas, virginitas, ayu libas sehingga memperlihatkan sisi ideologis dari pengarang.

Ayu Utami sebagai novelis perempuan mengkonstruksi wanita dari berbagai stereotype. Dengan penggunaan frase-frase, kiasan, simbol-simbol, Stereotype pertama yang Ayu Utami bangun yaitu perempuan itu pintar, aktif dalam berbagai kegiatan, penurut, istri yang baik tapi disisi lain Ayu juga justru lebih banyak mengkonstruksi perempuan dengan stereotype yang buruk. Penggambaran dari kaum ber-fallus ini dibawa Ayu dengan keterlibatan perempuan yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan berbagai lawan jenis, terutama dalam hal seks, cerita perselingkuhan, hubungan seks pra-nikah, penentangan mitos keperawanan sebagai selaput dara dll.

Ideologi yang ditunjukkan Ayu Utami adalah konsepsi feminisme Barat yang nota bene berakar dari tradisi dan budaya hidup yang humanis, bukan berdasarkan konsep agama. Dalam konsepsi feminisme Islam ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki.

*** Pemenang II lomba karya Ilmiah mahasiswa UNISBA tahun 2006

Referensi :

Ansori, S Dadang, Kosasih Engkos; Sarimaya Farida; Membincangkan Feminisme: Repleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997.

Bleicher, Josef, Hermeneutika Kontemporer, Pajar Pustaka, Yogyakarta, 2003.

Dahana, Radhar Panca, Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Indonesitera, Magelang, 2001.

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKIS, Yogyakarta, 2002

Effendy, Onong, Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984.

-------------------------------, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.

Kosasih, Engkos, Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan, Yrama,Bandung, 2004.

Kurnia Anton; Sastra Feminis Dalam Tiga Diskusi, Fokus Sastra Indonesia, 2004.

Luxemburg, Jan Van; Weststejjin, Mieke Bal Willem G; Pengantar Ilmu Sastra, Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Moleong, J. Lexy; Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.

Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001

Mc. Quail, Denis, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 2003.

Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

Rahmat, Jalalludin Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991.

-----------------------, Catatan Kang Jalal:Visi Media, Politik, dan Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.

Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2002.

Sumaryono E., Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.

Sugihastuti, Adib Sofia, Feminisme dan sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang, Katarsis,2003.

Thompson, Jhon B; Analisis Ideologi Kritik Wacana Ideologi-ideologi Dunia, IRCiSoD, Yogyakarta, 2003.

Thompson, Jhon B, Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2004.

Takwin, Bagus, Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.

Utami, Ayu, Saman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.

--------------, Larung, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2001.

---------------, Si Parasit Lajang, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003.

Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta, 2000.

Internet

Nuraini Juliastuti, Kebudayaan yang Maskulin, Macho, Jantan, dan Gagah http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.

Loekito, Medy Asvega; Perempuan dan Sastra Seksual, Galeri Essai, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.

El Khalieqy, Abidah; Perlawanan Perempuan terhadap Ketidakadilan Sosial Atas Singgasana,http://www.gatra.com/2004-05-18/versi_cetak.php?id=37370,2005

Wawancara

Wawancara DR. Irfan Safruddin, M.Ag,13 Juni 2005.

Wawancara Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag. 15 Juni 2005

Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005

Wawancara Tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2004