Jumat, 30 Mei 2008

Enam Kesalahan Penetapan Harga Terbesar

Adapted from content excerpted from the American Express® OPEN Small Business Network
Struktur penetapan harga yang sehat membantu perusahaan menghasilkan penjualan dan membangun kesetiaan nasabah. Struktur penetapan harga yang keliru bisa membuat bisnis bekerja keras untuk melayani nasabah dan mencapai keuntungan. Kalau Anda perlu menetapkan harga yang akan dibebankan untuk produk atau jasa Anda, hindari kesalahan penetapan harga yang umum ini.

Menjual terlalu murah

Untuk menetapkan harga yang realistis, Anda perlu mengetahui seluruh biaya yang terlibat dalam pembuatan produk atau jasa Anda. Ini mencakup kemudahan menelusuri biaya seperti harga suku cadang dan persediaan, dan juga biaya kurang berwujud yang terkait dengan ketrampilan dan pengetahuan yang Anda bawa keatas meja. Sebagian pengusaha menetapkan harga yang tidak memperhitungkan segala pengeluaran ini. Mereka mungkin lupa untuk menambahkan biaya overhead seperti listrik, air atau uang sewa, atau mengalami kesukaran untuk menghargai nilai dari waktu mereka. Salah satu pendekatan bisnis berdasarkan jasa yang digunakan untuk menetapkan harga yang wajar untuk penawaran barang dan jasa mereka adalah menetapkan upah per jam untuk pembebanan jasa. Mereka kemudian mengalikan angka ini dengan jumlah jam yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dalam rangka menetapkan harga keseluruhan proyek.

Mengikuti persaingan

Dengan mendasarkan struktur penetapan harga Anda pada harga pesaing bisa berbahaya karena biaya yang digunakan pesaing menghitung harga mungkin tidak ada hubungannya dengan biaya Anda. Mereka mungkin membayar harga lebih rendah atau lebih tinggi daripada yang Anda lakukan, membeli teknologi yang berbeda, dan mempunyai anggaran pemasaran lebih besar atau lebih kecil. Namun demikian, ada gunanya untuk mengetahui berapa harga yang dibebankan pesaing sehingga Anda dapat menyadari bahwa harga Anda adalah realistis untuk pasar. Jika Anda jumpai bahwa harga Anda jauh lebih rendah dari pesaing, periksalah untuk memastikan bahwa Anda tidak melupakan sesuatu dari persamaan penetapan harga.

Persaingan harga

Penetapan harga semata-mata untuk mengalahkan pesaing adalah usulan yang lemah. Dengan cara ini memang Anda akan menarik pembeli, akan tetapi kemungkinan mereka bukan nasabah yang setia. Jika harga rendah menarik perhatian mereka ke bisnis Anda, mereka mungkin meninggalkan perusahaan Anda begitu ada opsi lebih bagus. Pendekatan yang lebih baik adalah mengadakan perbedaan antara bisnis Anda dengan bisnis pesaing dengan cara-cara yang lain, seperti layanan nasabah unggul, penyempurnaan ciri-ciri khas produk, atau kualitas lebih bagus.

Menunggu terlalu lama untuk menaikkan harga

Permintaan yang meningkat atau biaya persediaan yang meningkat bisa menempatkan Anda kedalam posisi di mana Anda harus memutuskan apakah menaikkan atau tidak menaikkan harga. Beberapa pemilik bisnis menghindari kenaikan harga karena mereka takut nasabah akan bereaksi negatif. Dalam banyak hal, strategi yang lebih baik adalah secara teratur sedikit demi sedikit menaikkan harga daripada membebani nasabah dengan satu kenaikan harga yang besar. Dengan kata lain, kenaikan harga 10 persen kemungkinan mengundang lebih banyak perhatian negatif daripada dua kali kenaikan harga 5 persen.

Menurunkan harga tanpa mengubah pengiriman

Sebagian pelanggan mungkin berusaha secara cerdik mendapat harga yang lebih rendah dari perusahaan Anda. Ini dapat menempatkan Anda dalam posisi yang sukar, terutama jika Anda menjalankan bisnis berlandaskan jasa. Mengirim pesanan yang telah disepakati dengan harga yang lebih rendah bisa mengirim pesan seolah-olah harga awal Anda terlampau tinggi, dan semua bisnis berikutnya akan terbuka untuk negosiasi harga. Pendekatan yang lebih baik adalah menerima harga yang lebih rendah, tetapi mengubah sedikit ketentuan pengiriman. Misalnya, jika Anda sedang merundingkan harga untuk pemasangan teknis selama tiga bulan, Anda bisa menyetujui biaya proyek yang lebih rendah kalau jumlah pertemuan mingguan dikurangi atau laporan bulanan dipersingkat. Opsi lain yang masuk akal untuk pesanan yang besar adalah menetapkan harga yang lebih rendah sebagai potongan harga karena jumlah besar.

Menetapkan harga secara acak

Sebagian nasabah mungkin mendesak untuk mengetahui bagaimana Anda merancang struktur penetapan harga, sehingga adalah penting untuk bisa membenarkan dasar-dasar penetapan harga Anda Tambahan pula kecuali Anda cukup sadar akan bagaimana biaya terkait dengan harga Anda, akan sukar bagi Anda untuk mengenali kapan waktu yang tepat untuk menyesuaikan penetapan harga Anda.





Kamis, 29 Mei 2008

Profesionalisme dalam penjualan

Beberapa persepsi negatif tentang seorang salesman dan salesgirl dimasyarakat menyebabkan profesi ini jarang sekali disukai, terkecauli kalau terpepet dengan kondisi hidup sehingga sales adalah alternatif untuk lepas dari kehiduapan. Padahal aktiftas penjualan ini adalah soko guru perekonomian di negara maju dimana jiwa kewirausahaannya tertanam kuat. Tidak bisa disalahkan karena budaya priyayi sangat mendominasi budaya indonesia yang selalu sekolah orientasi kerja di kantor atau menjadi pegawai negeri dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya. Bagaimana berdagang ? jawabannya masih meragukan, berbeda dengan etnis china alternatif berdagang sangat kuat.

Sekarang tinggal bagaimana merubah paradigma tersebut sehingga dimasa krisis ini jelas posisi berdagang sangat terpukul, tapi bisa mematangkan mental mereka untuk lebih survival, sehingga timbul pertanyaan bagaimana dengan pedagang profesional ? dapat kita lihat beberapa karakteristik dibawah ini.

Karakteristik penjual dan pembeli

Atkinson Patrick (1966) mengganbarkan penjual profesional :

  1. He process a satisfactory amount of basic ability to sell (memiliki kemampuan menjual yang memuaskan)
  2. He consciosly chose the selling field and is proud of it (dia bangga memilih pekerjaan menjual ini)
  3. He is loyal to high ethical standards (dia memiliki standar etika yang tinggi)
  4. He is killed in his work (terampil dalam pekerjaanya)
  5. His knowedge is throught (memiliki pengetahuan)
  6. He is true to his obligations (benar bila berjanji)
  7. He stay up to date because he never stops learning (dia tidak ketinggalan jaman, karena selalu belajar)
  8. He maintains his self-respect and his independence (dia memelihara keutuhan pribadi)
  9. He knows that to sell is to serve (dia mengetahui bahwa pekerjaan menjual artinya melayani)

Sifat-sifat penjual yang disenangi pembeli :

  • Jujur dalam informasi
  • Pengetahuan yang baik tentang barang
  • Tahu kebutuhan konsumen
  • Pribadi yang menarik

Beberapa tipe pembeli :

  1. The decided customer (telah mengetahui dan memutuskan apa yang akan dibeli)
  2. The knows it all customer (pembeli yang mengetahui segalanya)
  3. The deliberate customers (pembeli yang yang menghendaki faktafakta dan advis tentang barang yang baik)
  4. The undecided customer (pembeli yang tidak bisa memutuskan ukuran, warna dari barang yang akan dibeli)
  5. The talkative customer (pembeli senang ngobrol, tapi tidak mengarah pada pembelian)
  6. The silent timid customer (pembeli yang canggung dan merasa takut kurangnya pengetahuan tentang arang akan diketahui kalai ia bertanya)
  7. The decided but mistaken customer (pembeli yang memutuskan mendatangi toko dengan suatu keputusan untuk mebeli suatu barang tertentu)
  8. The I get discount costomer (konsumen yang selalu menghendaki diskon)

Beberapa kepribadian/temperamen seseorang (hippocrates) (Erich Fromm, 1975) :

  1. Choleric (api, panas, cepat dan kuat )= easily angered (gampang marah).
  2. Sanguine (udara, panas dan lembab, cepat dan lemah) = over estimated = terlalu optimis.
  3. Melancholic (bumi, dingin, kering, lemah dan kuat dan pendiam) = kuat dalam kelemahannya yang berdifat pendiam (defressed)
  4. Phlegmatic (air dingin, lembab dan lemah (too slow)

Sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh seorang penjual :

  1. selalu gembira
  2. lurus hati dan disiplin
  3. bijaksana
  4. sopan santun
  5. periang
  6. mudah bergaul
  7. penuh inisiatif
  8. tidak putus asa
  9. ketajaman daya ingat
  10. penuh perhatian

Sebelas prinsip “Costumer is king

  • Pembeli adalah orang penting dalam dunia usaha
  • pembeli tidak tergantung pada kita, justru kita tergantung padanya.
  • pembeli bukan pengganggu terhadap pekerjaan kita tetapi sebaliknya sebagai tujuan usaha.
  • pembeli berbuat pada kita sebagai suatu hal yang menyenangkan janganlah kita berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan.
  • pembeli adalah sebagian dari usaha kita dan kegiatan kita
  • pembeli bukanlah sebuah benda yang beku, tetapi dia adalah seseorang manusia berdarah daging dengan perasaan dan emosi
  • pembeli bukanlah lawan berdebat, tetapi kawan-kawan yang bersahabat
  • pembeli adalah seseorang yang membawa kebutuhan kepada kita dan ini adalah pekerjaan kita untuk memenuhinya.
  • pembeli orang yang dilayani dan dimengerti dengan penuh perhatian yang dapat kita berikan kepadanya.
  • pembeli adalah orang yang memungkinkan membuat keuntungan bagi pendapatan kita.
  • pembeli adalah jiwa penghidupan bagi dunia usaha.

Syarat-syarat untuk menjadi penjual :

1. Syarat fisik

  • Kesehatan
  • Badan tegap
  • Mudah tersenyum
  • Lancar berbicara
  • Muka riang dan peramah
  • Mata jernih
  • Nafas bersih
  • Berpakaian rapih

2. Syarat mental

seksama, waspada, simpati, berinisatif, berkeahlian, optimis, percaya diri, jujur, beranidaya imajinasi, tanggung jawab dan kontrol.

3. Syarat karakter

Kesetiaan, rajin, teliti, tulus hati, hati-hati, sunguhsungguh, tepat waktu dan patuh

4. Syarat sosial

· Pandai bergaul, lancar bicara, sopan santun, bijaksana, halus budi pekerti, toleran, simpati, sikap mau bekerja dan tenang dan tabah

Mengapa ada penjual yang gagal ?

  • kurang inisiatif
  • tidak membuat rencana
  • kurang sunguhsunguh
  • penjual tidak berorientasi pada pelanggan
  • kurang latihan memadai
  • kurang luwes dalam mengikuti keinginan pembeli
  • tidak mempunyai pengetahuan pasar
  • kurang memiliki pengetahuan perusahaan
  • karir penjual kurang menguntungka
  • tidak memiliki pengalaman menjual
  • kurang disiplin
  • kurang menaruh perhatian pada perkembangan dengan pribadiny
  • bekerja dengan tidak penuh perhatian
  • kegagalan dalam mengkuti instruksi
  • kurang percaya diri
  • tidak cakap dalam mengarahkan dan membimbing pembeli ekrah pembelian
  • tak pandai bicara
  • kurang daya imajinasi
  • banyak yang terpengaruh oleh persoalan pribadi
  • kesukaran dalam mengadakan komunikasi
  • kurang bijaksana
  • kegagalan mengatasi keberatan yang diajukan pembeli
  • sikap tidak meyakinkan
  • kurang sopan dan kurang ramah
  • suka berjudi dan minuman keras
  • banyak melamun
  • sering terganggu kesehatan selalu mengeluh





Strategi promosi

Kegiatan promosi bagi perusahaan adalah hal yang sangat fundamental untuk membentuk branch image dibenak konsumen selain sebagai motor penggerak profitability perusahaan, sehingga biaya untuk promosi ini pada tahun pertama pendirian perusahaan sangat besar. Tapi anggaran tersebut dianggap sebagai salah satu investasi yang akan tergantikan setelah produk yang dihasilakan bisa diterima oleh masyarakat konsumen.

Banyak literatur yang mendefinsikan promosi. Ben M. Enis (1974:378), define promotion as communication that inform potential customers of existence of product and persuade them that those products have want satisfying capabilities. Sedangkan menurut, William J. Stanton (1981:445) menyatakan basically, promotion is an execise in information, persuations and conversely, a person who is persuaded is also being informed.

Berdasarkan pengertian promosi diatas dapat disarikan promosi itu adalah sejenis komuniksi yang memberikan penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa dengan tujuan memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen.

Begitu juga william schoell (1993:424) menyatakan promotions is marketers effort to communicate with target audiences. communications is the process of influencing others behavior by sharing ideas, informations or feeling with them. (promosi adalah usaha yang dilakukan oleh marketter, berkomunikasi dengan calon audiens.)

Faktor-faktor promotional Mix
Stanton (1981:461) menyatakan : four factors that should into account in deciding on the promotional mix are :
  1. The amount of money available for promotion
  2. The nature of the market
  3. The nature of product
  4. The stage of the product's life cycle

Sabtu, 24 Mei 2008

Konsep Six Sigma Awareness

Six Sigma merupakan sistem manajemen yang dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan mencapai tujuan bisnis. Dengan Six Sigma kita dapat memahami persoalan paling penting dan kritis yang dihadapi oleh sebuah perusahaan.

Terdapat beberapa pemahaman sistem manajemen yang mendasari Six Sigma, antar lain Konsep, Strategi, Metodologi, dan Manfaat Six Sigma.

KONSEP SIX SIGMA

Konsep Six Sigma dapat dipahami melalui tiga aspek, yaitu :

  • Sistem Manajemen
  • Pengukuran
  • Target

Fokus utama Six Sigma sebagai sebuah sistem manajemen adalah pada tiga hal, yaitu fokus pada konsumen, manajemen proses serta fakta dan data. Dalam Six Sigma, kepuasan konsumen menjadi fokus utama. Manajeman memandang bisnis dan proses sebagai sebuah sistem yang saling mempengaruhi agar dapat memenuhi persyaratan konsumen dan mencapai target. Setiap langkah dalam Six Sigma harus berbasis fakta dan data untuk meningkatkan objektivitas dalam pengambilan keputusan.

Six sigma digunakan untuk mengukur dan membandingkan kemampuan proses denagn persyaratan konsumen yang penting.

Six sigma adalah sebuah target yang mendekati sempurna, yakni 99,9997% memenuhi persyaratan konsumen atau hanya 3,4 kegagalan ( defect ) dalam satu juta kesempatan.

STRATEGI SIX SIGMA

Strategi Six Sigma terdiri atas tiga unsur dasar, yaitu :

  • Process Management
  • Process Improvement
  • Process Design and Redesign

Pada Process Management, Six Sigma memiliki tujuan yaitu,

  • Mengembangkan infrastruktur dan pengetahuan proses.
  • Merampingkan rantai antara konsumen, proses dan pelaku proses.
  • Memastikan pengukuran dan pemantauan untuk respon yang cepat.

Pada Process Improvement, Six Sigma memiliki tujuan yaitu,

  • Mengurangi area dengan kesalahan ( defect ) yang tinggi.
  • Mengurangi biaya yang tidak perlu ( cost of poor quality ).
  • Menjawab permasalahan yang muncul dari sisi bisnis, proses, konsumen dan pegawai.
  • Fokus pada pemecahan masalah.

Pada Process Design and Redesign, Six Sigma memiliki tujuan yaitu,

  • Mengambil manfaat dari kebutuhan baru konsumen.
  • Process Improvement dipandang tidak menjawab permasalahan secara efektif.
  • Memutus cara lama dengan mengurangi biaya, waktu, re-work dan rasa frustasi.

METODOLOGI SIX SIGMA

Metodologi Six Sigma terdiri atas lima rangkaian proses berurutan yang dinamakan proses “DMAIC”, yaitu Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control.

Define

Tahap Define memiliki fungsi antara lain,

  • Menggambarkan proses
  • Mengidentifikasi masalah
  • Menggambarkan peluang dan tujuan

Langkah pertama yang dilakukan dalam tahap Define adalah memilih proyek ( project selection ) dan membuat project charter.

Project charter adalah piagam yang berisikan konteks permasalahan dan rencana project improvement..

Berikut ini kegunaan project charter :

  • Mendefinisikan fokus proyek.
  • Menjelaskan hasil yang dicari.
  • Memastikan nilai terhadap bisnis.
  • Menentukan batas-batas dan sumber daya tim.
  • Mengkomunikasikan target dan rencana.

Sebuah project charter terdiri atas komponen penyusun, yaitu

a. Project title adalah judul dari project improvement yang menggambarkan masalah dan tujuan secara umum.

b. Business case adalah alasan dipilihnya suatu proyek perbaikan yang terdiri atas poin-poin :

  • Pernyataan yang luas mengenai area atau peluang yang dihadapi.
  • Dampak positif potensi perbaikan.
  • Dampak atau risiko jika tidak dilakukan perbaikan.
  • Hubungan dengan strategi dan konsumen.
  • Dimiliki oleh Project Champion/Sponsor.

c. Players adalah pihak-pihak yang terlibat dalam proses Six Sigma, yang terdiri atas :

  • Project Champion/Sponsor.
  • Project Leader
  • Team Member
  • Pelatih/staf konsultan ( Black Belt/Master Black Belt )

d. Problem Statements adalah deskripsi yang tepat dan terfokus pada “ apa yang menjadi masalah “. Berikut ini adalah struktur dari problem statements :

  • Apa yang menjadi masalah ?
  • Di mana kita mengamati masalah ?
  • Kapan kita mengamati masalah ?
  • Seberapa besar masalah yang terjadi ?
  • Apa dampak dari masalah ?

Di dalam problem statements seharusnya tidak menggambarkan sebab, tidak menempelkan tanggung jawab / menyalahkan orang lain, dan tidak mengandung solusi yang sudah dirancang.

e. Goal Statements adalah menemukan target perbaikan, yaitu :

  • Deskripsi tentang apa yang dicapai.
  • Target yang dapat diukur untuk hasil-hasil yang diinginkan.
  • Tenggat waktu proyek dan atau time frame untuk hasil.

f. Scope adalah ruang lingkup area permasalahan di mana solusi-solusi dapat diimplementasikan.

g. Stakeholders adalah pihak-pihak yang terkait dalam proyek perbaikan Six Sigma yang terdiri atas :

  • Supplier
  • Process Owner
  • Konsumen

h. Constraints/Assumptions adalah batasan-batasan dan asumsi yang relevan terhadap usaha tim yang menyangkut sumber daya, waktu dan ruang.

i. Approval adalah persetujuan ( tanda tangan ) dari project champion/sponsor.

j. Preliminary plan adalah rencana waktu penyelesaian dari setiap tahap dalam proyek Six Sigma.


Tim Six Sigma adalah pihak-pihak yang yang terlbat dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan improvement project di perusahaan.

1. Project Champion ( Project Sponsor ) memilki tugas,

  • Sebagai “pemilik” proyek DMAIC pada tingkat bisnis (bukan operasional).
  • Mewakili Black Belt dan tim di Leadership Council.
  • Membantu menentukan dan mengarahkan program improvement, yaitu dengan
  1. Melakukan review secara periodik.
  2. Menyetujui perubahan lingkup/arah apabila diperlukan.
  3. Menyediakan sumber daya dan negosiasi masalah lintas unit.
  4. Bekerja sama dengan pemilik proses untuk memastikan serah terima proyek setelah selesai.

2. Coaches ( Master Black Belt ) memiliki tugas,

  • Seorang ahli dalam metode improvement.
  • Memberikan panduan harian kepada team leader.
  • Membantu dalam pengukuran dan analisis rinci.
  • Meng-coach black belts secara regular untuk memastikan selesainya proyek.

3. Leadership Council memiliki tugas,

  • Terdiri atas tim direksi dan pimpinan divisi.
  • Menciptakan visi dan mengarahkan implementasi.
  • Menetukan para pelaku proses :
  1. Pemimpin dan pelatih (coach) tim.
  2. Sumber daya untuk perencanaan, pelatihan, dan pengukuran.
  3. Identifikasi dan pemilihan proyek.
  • Sebagai atau pendukung champion :
  1. Memilih dan memimpin tim, review hasil.
  2. Identifikasi dan menghilangkan penghalang dalam tim.
  • Komunikasi dan memimpin perubahan organisasi :
  1. Pertemuan tim/cross function (lintas fungsi) tim
  2. Membentuk tim cross-function (lintas fungsi)

4. Process Owner memiliki tugas,

  • Merupakan pemilik atau pelaku proses.
  • Menjelaskan alur pekerjaan : Divalidasi oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut.
  • Memastikan pengukuran yang efektif dan pengamatan aktivitas :
  1. Hasil (output) dan prediktor (input dan proses).
  2. Mengkoordinasi lintas fungsi dan mengelola hubungan dengan proses lain.
  3. Mengidentifikasikan masalah/peluang yang muncul.
  4. Menerima tanggung jawab “serah terima” untuk menjaga hasil perbaikan proyek.

5. Project Leader ( Black Belt / Green Belt ) memiliki tugas,

  • Merupakan pemimpin proyek.
  • Memandu perbaikan/desain sampai selesai.
  • Menjaga komunikasi dengan project sponsor : Menjaga keselarasan dengan kebutuhan bisnis dan prioritas.
  • Membuat dokumentasi dari kegiatan tim :
  1. Laporan kemajuan proyek.
  2. Storyboard.
  3. Memastikan serah terima kepada process owner.

6. Improvement Team ( Green Belt ) memiliki tugas,

  • Terdiri atas gabungan antara pelaku proses dan pemilik informasi/keahlian tertentu.
  • Menjalankan tugas harian selama proyek berjalan.
  • Ikut serta dalam tim :
  1. Menyumbangkan pengalaman dan pengetahuan.
  2. Mendengarkan anggota yang lain dan membiarkan mereka berpengaruh.
  3. Berkomitmen terhadap tujuan dan keberhasilan tim.
  4. Bekerja agar tim berfungsi dengan baik.

Dalam tahap Define ini Voice of Customer dapat digunakan sebagai proses untuk memahami persyaratan dari konsumen terhadap kinerja perusahaan. Voice of Customer merupakan pernyataan yang menggambarkan persyaratan customer terhadap produk atau jasa.

Langkah-langkah identifikasi dan merespons VOC :

  • Perhatian dan sumber daya untuk melkukan “active listening”.
  • Menerjemahkan data kualitatif dan kuantitatif menjadi persyaratan yang dapat didiversifikasi.
  • Memberikan prioritas persyaratan terhadap output dan layanan.
  • Menciptakan usaha terus menerus untuk memantau kinerja dan mengantisipasi perubahan.

Data VOC dapat diperoleh dengan melakukan riset terhadap konsumen. Berikut ini beberapa metode riset VOC :

  • Langsung ( survei, group fokus, interview, dan observasi lapangan ).
  • Tidak langsung ( analisis kompetitor/pasar, studi pustaka, browsing internet ).

Dalam pengidentifikasian proses bisnis terdapat dua proses yang dapat dikembangkan, yaitu

1. Diagram SIPOC

SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer) adalah diagram sederhana yang memberikan gambaran umum (secara high level) untuk memahami elemen-elemen kunci sebuah proses bisnis.

  • Supplier merupakan penyedia input untuk mendukung proses, mis. orang, sistem, ataupun perusahaan.
  • Input merupakan material, manusia, metode dan mesin (4M) yang dibutuhkan untuk jalannya suatu proses.
  • Process merupakan kumpulan aktivitas (baik yang bernilai tambah, maupun tidak bernilai tambah) untuk mengelola input menjadi output yang akan disampaikan kepada customer.
  • Output merupakan produk atau jasa yang diinginkan oleh customer.
  • Customer merupakan pihak yang menggunakan output dari proses.

Manfaat dalam mengidentifikasikan proses dengan menggunakan diagram SIPOC adalah,

  • Menetukan batas/lingkup proses.
  • Mengidentifikasikan output dan gap-nya dengan persyaratan customer.
  • Mengidentifikasi stakeholder proyek.
  • Menghindari detail proses berlebihan.
  • Membantu perencanaan dan sasaran pengukuran.

2. Process Mapping

Process Mapping adalah sebuah flowchart yang menggambarkan alur perkerjaan (aktivitas, informasi, material) dalam sebuah proses.

Manfaat pengidentifikasian dengan menggunakan Process Mapping adalah,

  • Memberikan “gambar” proses baik yang sederhana maupun yang kompleks, yaitu dengan :
  1. Membantu fokus pada bagaimana sebenarnya pekerjaan tersebut dilakukan ( As Is ).
  2. Membantu orang lain memahami proses anda.
  3. Menunjukkan hubungan antara supplier/customer, hulu dan hilir.
  • Membantu apa yang diukur dan di mana pengukuran tersebut dilakukan
  • Bagian penting dari penentuan sasaran rancangan.
  • Kunci untuk merencanakan proses baru atau proses yang lebih baik.

Measure

Tahap Measure memiliki fungsi antara lain,

  • Melakukan validasi masalah
  • Mengumpulkan data
  • Mengukur kinerja dasar

Tahap Measure merupakan tahap pengukuran, dalam memilih pengukuran yang tepat ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan, yaitu

  • Menetukan informasi apa yang benar-benar berguna :
  1. Memantau kinerja persyaratan pelanggan.
  2. Mengukur hasil bisnis/usaha.
  3. Menetukan indikator dan pemandu kinerja.
  • Menetukan sumber daya yang diperlukan :
  1. Sistem versus pengumpulan data secara manual.
  2. Apakah data mudah diperolehdengan biaya yang sesuai ?
  3. Apakah ada pengukuran yang dapat dihentikan ?
  • Ekspresi dan penggunaan pengukuran yang paling tepat :
  1. Variasi dan rata-rata.
  2. Dilaporkan dimana ? Siapa yang melakukan pengukuran ? Berapa sering pengukuran dilakukan ?

Dalam tahap Measure ini pengukuran dilakukan terhadap DATA. Ada dua tipe DATA yang dapat diukur, yaitu

1. Data Continuous adalah semua varibel yang diukur pada skala yang dapat dibagi tanpa batas. Contoh : waktu, nilai rupiah, ukuran, berat, suhu, dan kecepatan, dsb.

2. Data Discrete atau Attribute adalah sebuah hitungan, proporsi atau presentase dari sebuah karakteristik atau katagori. Contoh : jumlah pelanggan, jenis kelamin, daerah/lokasi, jenis cacat.

Langkah selanjutnya adalah membuat Definisi Operasional dari pengukuran tersebut. Definisi Operasional adalah deskripsi yang jelas, dapat dipahami, tidak ambigu, dan mengenai apa yang diukur (unit yang diukur), sehingga :

  • Setiap orang dapat melakukan atau mengukur suatu objek secara konsisten dari waktu ke waktu (repeatability).
  • Hasil pengukuran sama antar pengukur untuk objek yang sama (reproducibility).

Dalam Six Sigma, definisi operasional diperlukan untuk melakukan pengukuran dan menghitung Sigma Level. Langkah-langkahnya adalah :

  • Unit adalah item output yang akan diukur.
  • Defect (cacat) adalah setiap kegagalan memenuhi persyaratan customer (internal & eksternal).
  • Defective adalah sebuah unit dengan satu atau lebih cacat.
  • Opportunity (peluang cacat) adalah jumlah tipe cacat potensial pada sebuah unit output.
  • Defect per Opportunity (DPO) adalah Defect /(Unit x Opportunity).
  • Defect per Million Opportunity (DPMO) adalah jumlah cacat dalam sejuta kesempatan.
  • Proportion Defective adalah Jumlah Defective/Jumlah Unit
  • Yield adalah tingkat kualitas yang dinyatakan dalam persentase.

Dalam pengumpulan DATA, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

  • Menentukan apa yang diukur dan definisi opersionalnya.
  • Menentukan siapa yang melakukan pengumpulan data.
  • Menetukan bagaimana data tersebut diambil, yaitu melalui sampling atau populasi, manual atau sistem.
  • Menentukan periode data yang akan diambil.
  • Menetukan bagaimana menguji validitas data.

Analyze

Tahap Analyze memiliki fungsi antara lain,

  • “Mendengarkan” data
  • Menggunakan data dan fakta untuk mencari akar masalah.

Langkah pertama dalam tahap Analyze adalah melakukan Identifikasi Akar Masalah, yaitu mengenali kemungkinan akar masalah dengan cara :

  • Menemukan kemungkinan penjelasan tentang masalah.
  • Menemukan kejadian di “hulu” sebagai akar masalah (X) yang mempengaruhi hasil (Y).
  • Atau dapat berupa gabungan dari beberapa faktor atau rangkaian penyebab.

Identifikasi Akar Masalah itu sendiri dapat dilakukan melalui beberapa cara :

  • Analisis proses.
  • Analisis sebab dan akibat atau diagram Tulang Ikan (Fishbone/Ishikawa diagram).
  • Analisis data.

Analisis Proses

Analisi Proses adalah aktivitas penyelidikan yang lebih dalam tentang bagaimana pekerjaan dilakukan untuk mengidentifikasi inkonsistensi, diskoneksi, redundansi, bottleneck atau bidang-bidang masalah yang mungkin menyebabkan atau memberikan kontribusi terhadap masalah.

Analisi proses dapat dibedakan menjadi dua jenis :

1. Pemetaan proses yang terperinci/detail

  • Peta proses adalah urutan aktivitas dalam suatu proses secara terperinci/detail.
  • Swinlane adalah peta proses yang mencantumkan pelaku dan urutan waktu untuk setiap langkah proses.

Metode tersebut bertujuan untuk mengetahui aktivitas yang perlu diperbaiki atau bahkan perlu dihilangkan agar proses dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

2. Analisis aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah (Value Analysis).

Value Analysis adalah analisis terhadap jenis aktivitas yang dianggap memiliki nilai tambah (Value Adding), bernilai dukung (Value Enabling), tidak bernilai tambah (Non-Value Adding) bagi customer.

3. Analisis Siklus Waktu (Cycle Time Analysis).

Cycle Time Analysis adalah pelengkap dari Value Analysis. Terdapat dua analisis waktu :

  • Work Time (waktu kerja) Adalah waktu yang sesungguhnya digunakan untuk menyelesaikan suatu proses/aktivitas.
  • Wait Time (waktu tunggu) Adalah waktu di mana suatu proses/aktivitas menunggu sesuatu untuk dikerjakan.

Analisis Sebab dan Akibat

Analisis sebab dan akibat disebut juga diagram tulang ikan (Fishbone/Ishikawa diagram/cause & effect diagram), yaitu grafik visual untuk melihat penyebab potensial dari permasalahan dan menggambarkan hubungan sebab dan akibat.

Analisis Data

Analisis data adalah aktivitas penyelidikan dengan menggunakan ukuran-ukuran dan data yang telah dikumpulkan untuk melihat pola-pola, atau kecenderungan, atau faktor-faktor lain mengenai masalah dan membuktikan penyebab-penyebab yang mungkin.

Analisis data tersebut menggunakan beberapa tools yang berbeda :

  • Pareto chart
  1. Digunakan untuk data diskrit atau kontinu (jika dalam group).
  2. Membandingkan kategori factor (stratified data) untuk membantu memvalidasi permasalahan, memprioritaskan strategi, dan target penyebab.
  3. Prinsip 20/80 yaitu 20% masalah menyebabkan 80% dampak.
  • Histogram
  1. Digunakan untuk data diskrit atau kontinu.
  2. Menunjukkan rentang dan distribusi variasi.
  • Run chart
  1. Digunakan untuk data kontinu.
  2. Menunjukkan perubahan/variasi dan pola dari waktu ke waktu.
  • Scatter Plot
  1. Digunakan untuk data berpasangan dan kontinu.
  2. Menunjukkan hubungan atau korelasi antara dua faktor atau variable.
  • Control chart
  1. Digunakan untuk data kontinu dan atribut.
  2. Menunjukkan kendali proses atau derajat variasi dari waktu ke waktu.

Improve

Tahap Improve memiliki fungsi antara lain,

  • Mengembangkan dan menguji ide solusi.
  • Mengimplementasikan solusi.
  • Merancang proses baru.

Pada tahap Improve ada beberapa langkah yang diterapkan, yaitu

  • Pengumpulan ide-ide solusi
  • Pemilihan ide solusi terbaik
  • Pelaksanaan pilot
  • Konfirmasi hasil project improvement.

Pengumpulan ide-ide solusi

Tahap Improve dimulai dengan mengumpulkan ide-ide solusi, antara lain dengan cara :

  • Brainstorm, Membangkitkan ide-ide solusi dengan memperbesar kembali daftar (pemecahan masalah) yang mungkin.
  • Synthesize, Membuat pernyataan solusi, yaitu sebuah proposal yang jelas mengenai bagaimana ide yang beragam disatukan menjadi satu tindakan perbaikan yang kohesif.
  • Filter, Megubah ide-ide menjadi solusi yang dapay dikerjakan.
  • Refine and Select, Melakukan pemilihan solusi yang terbaik yang akan diterapkan pada proyek.

Brainstorm

Terdiri dari beberapa teknik, antara lain :

  • Anti-Solution, Melakukan brainstorming lawan dari apa yang akan dicapai agar dapat melihat suatu masalah dengan cara pandang lain.
  • Analogy, Mengenali situasi yang mirip (analogi) untuk membangkitkan ide dengan cara mendekati masalah dari perspektif yang lebih kreatif.
  • Chanelling, Mengenali saluran agar tim dapat melakukan pembangkitan ide, masing-masing fokus atau membangun tipe solusi potensial.
  • Billboard, Melakukan brainstorming secara missal, baik dilakukan secara manual maupun elektronik untuk mengumpulkan ide dari banyak orang.
  • Chain Letter, Membangkitkan ide dan meneruskannya ke anggota lain melalui memo atau e-mail untuk mendapatkan sejumlah solusi yang mungkin di luar rapat formal.
  • Assumption Busting, Proses mempertanyakan suatu masalah untuk mengenali dan menghilangkan pemikiran awal yang menghambat solusi.

Synthesize

Teknik yang dipergunakan adalah

Solution Statements, yaitu mengemukakan proposal yang jelas untuk menunjukkan bagaimana ide yang beragam disatukan menjadi satu tindakan perbaikan yang kohesif.

  • Filter

Terdiri dari teknik :

  1. Filter Matrix, Mempersempit dan menyaring ide agar tim berkonsentrasi pada pilihan solusi yang tepat.
  2. Criteria Matrix, Memilih solusi dengan menggunakan kriteria pemilihan, seperti dampak terhadap hasil, biaya, waktu, implementasi, dan risiko.

Refine and Select

Terdiri dari teknik :

  1. “Should be” Map, Membuat peta “yang seharusnya” dengan menambahkan ide atau solusi baru terhadap peta “apa adanya”.
  2. FMEA, Failure Modes & Effects Analysis, metode untuk menilai dan merencanakan tindakan terhadapa masalah yang dapat mempengaruhi keselamatan, kepuasan customer, dan keuntungan.

Agar seluruh improvement dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan proses “andal”. Langka-langkah untuk membuat proses yang andal :

  • Menyederhanakan rancangan proses.
  • Mengenali dan mempersiapkan kemungkinan perubahan.

Pemilihan ide solusi terbaik

Setelah membuat ide solusi untuk perbaikan langkah selanjutnya adalah memilih solusi yang terbaik. Pemilihan Ide Solusi Terbaik ini bertujuan untuk :

  • Solusi terbaik memiliki beberapa kriteria dan pertimbangan untuk memaksimalkan keberhasilan, antar lain :
  1. Apakah akan memenuhi target ?
  2. Perolehan terukur di tingkat “lokal” atau “makro”.
  3. Apakah dapat dilakukan ?
  4. Apakah terdapat risiko atau ketidakpastian ?
  5. Apakah akan berkelanjutan ?
  • Penting untuk memperoleh persetujuan.
  • “Solusi” ini masih belum selesai, karena perubahan dan perbaikan masih akan berlanjut.

Pelaksanaan pilot

Pilot adalah percobaan penerapan sebagian atau seluruh solusi dalam skala kecil. Tujuannya untuk memastikan efektivitas dan menguji pengaruh solusi tersebut.

Berikut ini adalh beberapa manfaat dalam melakukan pilot :

  • Validasi efektivitas solusi.
  • Mengurangi biaya.
  • Memberikan hasil lebih cepat.
  • Dapat melakukan fine-tune.
  • Mengurangi risiko kegagalan.
  • Memperoleh persetujuan dan komitmen.

Konfirmasi hasil project improvement

Langkah ini merupakan langkah terakhir dari tahap improvement. Berikut ini adalah tujuan konfirmasi terhadap hasil proyek :

  • Mengevaluasi perubahan kinerja terhadap “baseline”.
  • Memastikan pengaruh di proses lintas unit/sistem.
  • Mereview kesiapan untuk diterapkan secara lebih luas.
  • Mereview apa yang dapat dipelajari dari proses perbaikan yang telah dilakukan (lesson learned) dan merencanakan “fine-tune”.
  • Mengevaluasi risiko operasional sebagi dampak dari solusi yang diterapkan.
  • Menghitung dampak keuangan.
  • Memperbaiki pengukuran dan pemantauan untuk menuju ke tahap “control”.

Control

Tahap Control memiliki fungsi antar lain,

  • Menyusun rencana pengukuran dan reaksi yang berkelanjutan.
  • Membuat sistem dan melakukan monitoring untuk mempertahankan hasil.

Aktivitas dan teknik control bervariasi dari pengukuran dan peninjauan sederhana sampai ke control plan teknis yang sangat terperinci. Berikut ini empat elemen control yang dipergunakan :

  • Pengukuran dan Monitoring

Menggunakan metode :

  1. Dashboards : Penunjuk indikator kinerja proses, seperti kecepatan (waktu proses), jumlah input yang digunakan, jumlah komplain yang diterima, tingkat efisiensi, dll.
  2. VOC Feedback : Voice of Customer terhadap proses dan output baru yang dinikmati.
  3. Process & Performance Audits : Review kinerja dan proses berdasarkan indikator kinerja dan VOC.
  4. Test & Inspection : Inspeksi terhadap proses untuk memastikan hasil sesuai dengan persyaratan customer dan kepentingan bisnis.
  • Dokumentasi

Menggunakan metode :

  1. Process Map : Peta proses baru yang menggambarkan alur kegiatan hasil perbaikan.
  2. Gambar, Diagram, Video : Ilustrasi yang menjelaskan proses/kegiatan baru untuk memudahkan komunikasi.
  3. Buku Pedoman : Panduan/pedoman formal dalam mengelola proses.
  4. Portal : Informasi on-line yang dapat diakses oleh pegawai.
  • Revisi dan Rencana Respons

Menggunakan metode :

  1. Process Control Plans : Memberi tahu pelaku bagaimana bereaksi terhadap masalah proses ketika terjadi dengan fokus deteksi dini dan pencegahan masalah proses sebelum terjadi.
  2. FMEA Assestment : Failure mode and effect analysis, suatu tool untuk memperkirakan dampak risiko kegagalan dari solusi/proses baru yang mencakup aspek detectability (tingkat kemudahan dideteksi), severity ( tingkat keparahan kegagalan), dan occurrence (frekuensi kejadian).
  3. Corrective Action : Tindakan untuk memperbaiki suatu kegagalan sebelum sampai ke customer.
  • Mempertahankan & Meningkatkan Hasil

Menggunakan metode :

  1. Performance Management : Pengelolaan kinerja agar dapat bertahan lama.
  2. Training dan recertification : Meningkatkan pemahaman dan skill pelaku proses.
  3. DMAIC Improvement dan Design Projects : Perbaikan proses dan perancangan proses yang benar-benar baru.
  4. Reward dan Recognition : Pemberian reward terhadap orang-orang, unit yang terlibat dalam suatu proyek yang sukses, misalnya Six Sigma Award, training ke luar negeri, dll.

MANFAAT SIX SIGMA

Pelaksanaan Six Sigma yang berhasil akan memberikan beberapa manfaat bagi organisasi atau perusahaan, antara lain

1. Meningkatkan pemahaman terhadap konsumen.

  • Memahami perilaku konsumen.
  • Memicu kepuasan dan kesetian konsumen.

2. Meningkatkan hasil guna (efektivitas)

  • Memenuhi persyaratan konsumen secara konsisten.
  • Mengurangi waktu, variasi, dan kesalahan (zero defect).
  • Meningkatkan produktivitas, laba dan pangsa pasar.

3. Memperbaiki efisiensi

  • Mengurangi biaya karena kesalahan, re-work, inventory, dan waktu tunggu.

4. Transformasi Manajemen

  • Membuat keputusan lebih baik dan kolaborasi lebih fokus.
  • Memberikan manfaat kepada konsumen dan shareholder.

Sistem Manajemen yang diterapkan disetiap perusahaan berbeda-beda, adapun manajemen mutu terdiri dari beberapa sistem antara lain :

  • Total Quality Manajemen ( TQM )
  • Just In Time ( JIT )
  • Seiri, Seiton, Seiso, Shitsuke, Seiketsu ( 5S)
  • Six Sigma

Berikut ini merupakan salah satu contoh perbedaan antara Six Sigma dan Total Quality Manajemen.

Perbedaan

Six Sigma

TQM

Metodologi

DMAIC

( Define, Measure, Analyze, Improve, Control )

PDCA

( Plan, Do, Check, Act )

Pelatihan

Pelatihan dan sertifikasi yang formal :

o Yellow Belts

o Black Belts

o Green Belts

o Master Black Belts

Disiplin pelatihan terstruktur dan formal.

Area Perbaikan

Perhatian pada Semua Proses Bisnis maupun produk termasuk layanan, logistik, dan pemasaran.

Fokus pada proses produksi dan kualitas produk.

Sistem manajemen yang diterapkan setiap perusahaan bertujuan untuk peningkatan kualitas manajemen dan pencapaian tujuan perusahaan. Dalam hal ini PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menerapkan sistem manajemen SIX SIGMA. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa apapun sistem yang diterapkan akan memberikan akhir maksimal terhadap mutu dari manajemen perusahaan dan menciptakan kinerja yang berkualitas handal.

Sumber :

  • http://aster.bni.co.id ( BNI Oracle Human Capital Management Systems,
  • e-Learning Courseware Six Sigma Awareness, BNI, 2007 ).

Jumat, 23 Mei 2008

MOCHTAR RIADY : "seorang konglomerat yang visioner"


Orang banyak mengenal Mochtar Riady sebagai seorang praktisi perbankan jempolan dan seorang konglomerat yang visioner, pandangannya yang jauh ke depan dan sarat dengan filosofi menjadi panutan banyak para pengusaha dan para pelaku pasar. Kali ini kita akan menyoroti jalannya meniti sukses,yang tentu saja tidak semudah dibayangkan oleh banyak orang.

LECTURE RESUME - Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk. Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking .Namun, karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia.
Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal jember, oleh mertuanya, Riady diserahi tanggungjawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di kota Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang bankir membuatnya untuk memutuskan pergi ke Jakarta pada tahun 1954, walaupun saat itu dia tidak memiliki seorang kenalan pun di sana dan ditentang oleh keluarganya. Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas.

Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil. Sampai saat itu,Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, di setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut,namun sia sia, lalu dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti.

Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Pak Andi Gappa, tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi. Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat. Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Mochtar Riady hampir selalu sukses dalam mengembangkan sebuah bank, dia memiliki filosofi tersendiri yang ia sebut sebagai Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter yang baik, Lian adalah kejujuran sedangkan Dje adalah memiliki rasa malu. Visi dan pandangan Riady yang jauh ke depan seringkali membuat orang kagum, dia dapat dengan cepat membaca situasi pasar dan dengan segera pula menyikapinya.

Salah satu contohnya ketika dia berhasil menyelamatkan Bank Buana tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis karena Indonesia berada pada masa perubahan ekonomi secara makro, ketika itu Riady sedang berkuliah malam di UI, disitu dia dikenalkan dengan beberapa pakar ekonomi seperti Emil Salim, Ali Wardhana,dkk. Riady segera sadar dan segera mengubah arah kebijakan Bank Buana.

Pertama, dia menurunkan suku bunga dari 20 % menjadi 12 %, padahal pada waktu itu semua bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut maka para nasabah yang memiliki kredit yang belum lunas segera membayar kewajibannya. Sedangkan para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat khususnya dalam hal jaminan, namun karena bunga yang ditawarkan Bank Buana sangat rendah dibanding yang lain maka banyak debitur yang masuk dan tak ragu untuk memberikan jaminan. Dengan cara itu Bank Buana menjadi sehat padahal pada waktu itu banyak klien dan bank yang bangkrut. Dengan otomatis orang mengenal siapa Mochtar Riady.

Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin.

Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni :

1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas

2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.

3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi.

4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.

5. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektronik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.

Data diri :

Nama
Dr. Mochtar Riady (Lie Mo Tie)

Lahir
Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929

Jabatan:
Pendiri Grup Lippo dan Universitas Pelita Harapan

Pendidikan
=
The Eastern College, Chung Yang University, Nanking, RRC
= Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
= Doctor of Laws dari Golden Gate University, San Francisco, Amerika Serikat

Hobi
Baca Buku (al buku Peter Drucker dan Prof Freeman)

Kegiatan lain:
- Pembicara tamu di Universitas Harvard pertengahan 1984
- Wali Amanah Universitas Indonesia

Sumber:
Berbagai sumber, antara lain, Sinar Harapan 11 April 2003 dan entrepreneur-university.com/new/tokoh. php?tokohID=6&aksi=detail




SUKAMDANI SAHID G : "SI RAJA HOTEL YANG AMBISIUS"

Siapakah raja properti sektor perhotelan di Indonesia? Secara spontan niscaya orang akan menjawab: Sukamdani Sahid Gitosardjono. Ya, meskipun Sukamdani baru saja melepaskan jabatan sebagai direktur utama PT Hotel Sahid Jaya Internasional (HSJI) dan mempercayakan jabatan itu kini kepada mantan Dirut PT Telkom Setyanto P. Santosa, namun tak pantas disangkal Sukamdani tetap pantas dijuluki raja hotel di negeri ini. Lelaki berperawakan tegap dan murah senyum ini kini mempunyai 2.350 kamar hotel. Jaringan hotelnya berjejer mulai dari Lampung sampai Sorong di Irian Jaya. Dan, setelah dua hotelnya yang baru di Senggigi Lombok dan Ujung Pandang selesai, lengkap sudah 2.750 kamar jaringan bisnis hotel Sukamdani. Jumlahnya menjadi 14 hotel, mulai dari bintang tiga sampai bintang lima berlian.

LECTURE RESUME - Tak hanya itu. Masih banyak ambisi pengusaha nasional itu di bidang properti. Berdekatan dengan markas besar bisnisnya di Hotel Sahid Jaya & Tower sekarang, segera pula dibangun Grand Sahid Plaza. Hotel bertaraf internasional dengan jumlah lantai 50 itu akan menjadi hotel tertinggi di Indonesia. Belum lagi dua menara Apartemen Istana Sahid, 26 lantai, yang tampak makin mentereng. Hotel dan apartemen itu adalah tiang dari suatu proyek raksasa yang lebih besar: Superblok Sahid. Tak hanya di Jakarta di Ujung Pandang pun Sukamdani tengah menyiapkan superblok pertama di luar Jawa. Di kota ini ia bekerja sama dengan konglomerat Yusuf Kalla.

Begitu proyek-proyek besar Grup Sahid terselesaikan semuanya, akan mengukuhkan Sukamdani sebagai salah seorang raja properti negeri ini. Apalagi, khusus di bidang manajemen hotel, Sukamdani berambisi merambah pasar manajamen hotel di luar negeri. Adalah Sukamdani juga yang gusar, hotel-hotel di Indonesia dikelola oleh manajemen asing, padahal hotel itu dibangun dengan dana dari dalam negeri. Lebih dari 30 hotel ditangani oleh manajemen asing. Kita ini sebagai bangsa bagaimana? Ungkap Sukamdani dengan nada tinggi.

Kita mempunyai modal. Pertama, semangat sebagai bangsa. Kedua, kita sudah punya aset milik sendiri 14 hotel (dari hotel bintang 3 sampai 5 berlian). Ketiga, kita sudah punya organisasi dan pengalaman dalam me-manage hotel. Keempat, kita punya kepercayaan dari masyarakat. Kelima, kita punya akses pasar baik di dalam maupun luar negeri. Kita sudah 30 tahun me-mange- hotel. Dengan pengalaman itu kan kita sudah punya akses pasar.

Untuk itu, kita juga punya orang-orang yang mampu me-manage hotel. Dari 12 hotel yang sekarang ada, yang menyewa tenaga asing hanya Sahid Jaya Hotel. Hotel kita yang lainnya adalah orang Indonesia. Mereka memulai karier, bahkan ada yang dari doorman, office boy dan room boy, kini banyak yang sudah jadi general manager.

Sukamdani lahir di Solo, 14 Maret 1928. Masa kecilnya dijalani di Sukohardjo, Solo, Ketika Sukamdanii kecil, kehidupan orangtuanya prihatin. Bapaknya R. Sahid Djogosentono membuka usaha jahitan. Sedang ibunya membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan kecil. Dalam usia 8 tahun, Sukamdani sudah membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Selain membantu bapaknya, ia juga membantu ibunya berjualan. “Untuk menyiapkan keperluan barang dagangan, saya ke pasar berbelanja membeli sabun, teh, rokok, pisang dan kelapa,” cerita Sukamdani. Tiap kali dagangan laku, ibunya memberi persenan. Uang itu ditabung. Kalau sudah banyak Sukamdani membeli ayam. “Kalau ayam sudah banyak, saya jual lalu dibelikan kambing. Setelah kambing saya banyak, saya jual untuk beli kerbau,” kenangnya. Di saat liburan Sekolah Sukamdani membantu menuai padi di sawah.

Tahun 1952, Sukamdani muda merantau ke Jakarta untuk memperbaiki nasib, Waktu turun dari kereta api di Stasiun Gambir, modalnya hanyalah sebuah kopor dan sebuah sepeda. Ia sempat bekerja di Depdagri. Tapi dengan pertimbangan penghasilan, lalu keluar dan bekerja di percetakan NV Harapan Masa. Dengan penghasilan yang pas-pasan, Sukamdani berani menikah dengan Juliah, kekasihnya waktu di Solo. Pasangan itu menyewa rumah berdinding gedeg. Kamarnya hanya satu berukuran 3 x 3.

Karena keuletannya, apalagi setelah membuka usaha percetakan sendiri, Sukamdani berhasil membeli tanah di tempat ia menyewa rumah itu. Dan, tanah itu, tak lain adalah tempat berdirinya Hotel Sahid Jaya sekarang di Jalan Sudirman. “Dulu rumah saya di sini,” kenang Sukamdani.

Kerja keras dan keuletan akhirnya mengantarkannya sebagai raja properti perhotelan. Selain bisnis, Sukamdani aktif di berbagai organisasi. Ia juga penerima 15 tanda jasa dan bintang kehormatan, dari pemerintah RI maupun dari negara sahabat.





MOORYATI SOEDIBYO : "KETEKUNAN KERJA PENJUAL JAMU"

Soedibyo, kelahiran Sleman. Yogyakarta, sarjana tekstil pensiunan pejabat tinggi departemen perindustrian. Sedang istrinya, yang mungkin lebih banyak diketahui, cucu Raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X. Pribadi mandiri yang sejak usia tiga tahun telah digembleng neneknya, tinggal bersama di Keputren Keraton. Sebagai wanita pengusaha, Mooryati adalah produsen berbagai ragam jamu dan kosmetika tradisonal, plus sekian banyak usaha bisnis lainnya.

Mooryati sangat bersemangat dalam memajukan usahanya. Sesuatu yang wajar. Bahkan sesungguhnya harus menjadi jati diri setiap pengusaha. Apalagi karena sifat bisnisnya sebuah produk, menjadi tidak relevan tuduhan menerima fasilitas. Sebab dalam hal ini, tingkat keberhasilan justru akan tergantung kepada penerimaan masyarakat pengguna produknya. Sekalipun menikmati fasilitas berlimpah, banyak produk sejenis juga bertebaran di masyarakat. Pandangan masyarakat menjadi batu ujian, kualitas produknya baik atau jelek, punya daya saing atau tidak.

Ada ungkapan klasik. Nabi tidak dikenal di kampungnya sendiri. Tahun lalu. Mooryati meraih penghargaan dari The Asian Institute of Management (AIM) di Manila. Philipina. Mooryati terpilih selaku seorang wanita pengusaha. Asia yang berhasil menerapkan prinsip manajemen modern (meski produknya tradisonal) dalam bisnis. Penghargaan ini membuktikan, sebagai wanita pengusaha, lewat penilaian para ahli manajemen Asia, Mooryati terbukti telah berada di jalur yang benar.”

Mooryati sekarang ini paling tidak tercatat sebagai direktur utama dari empat perusahaan raksasa. Bisnis utamanya, produsen jamu dan kosmetika tradional, tetap menjadi andalan. Alumni jurusan bahasa Inggris. Universitas Saraswati Solo dan pemilik ijazah tingkat V Aliance Francaise ini, pada kenyataannya juga memimpin perusahaan yang bergerak dalam bidang gedung perkantoran serta hotel berbintang. Malahan bulan lalu, di tengah kinerja berbagai bank merosot, Mooryati malahan menguasai sebuah bank papan atas. “Ah…tapi bank tersebut tidak saya beli sendirian. Saya tetap hanya dodol jamu, berjualan jamu saja,” katanya berkilah.

Roma memang tidak dibangun dalam sehari. Demikian pula kerajaan bisnis Mooryati tidak tercipta dalam sekejap. Segala macam sukses pada hari ini, bertolak belakang dengan suasana ketika pertengahan tahun 1973 Mooryati dengan modal Rp. 25.000,- merintis bisnis dengan meramu sendiri minuman beras kencur di garasi rumah, bersama dua orang pembantunya. “Saya sengaja membikin beras kencur, karena paling gampang. Bisa dikerjakan malam hari, paginya langsung saya bawa ke arisan atau ditawarkan dari rumah ke rumah…”.

Untuk menjamin mutu, bahan bakunya dibeli dari Solo, Jawa Tengah. Masa itu Mooryati harus pulang balik Jakarta-Solo sekali seminggu naik bis malam, karena modal terbatas. Dia juga harus membawa uang kontan, karena para penjual bahan (jamu) belum mengenalnya. “Semuanya saya jalani dengan ikhlas…”.

Ketekunannya berusaha bisa menjadi teladan. Tanpa menyerah, Mooryati secara cermat terus mengembangkan industrinya, terus memperluas pasar dan menapak ke atas. Dua tahun setelah produk beras kencurnya dimasyarakatkan, dengan pembantu berkembang menjadi sepuluh orang, produknya berjumlah enam macam. Tetapi baru setelah lima tahun berjalan, dengan karyawan sekitar 50 orang, produksinya mulai masuk ke salon-salon kecantikan.

Berkembangnya produksi penyebab munculnya konflik situasi. Para karyawannya harus bekerja sampai malam, mereka ikut tidur di rumah pribadinya yang sempit di Jalan Sawo. “Privacy keluarga mulai terganggu.” Di setiap tempat banyak tumpukan botol atau bahan mentah jamu berserakan, di segala sudut rumah ada orang bekerja. Maka saya segera putuskan, membikin pabrik di Ciracas. Diresmikan pada tanggal 8 April 1987 oleh Menteri Kesehatan Soewardjono Soeryaningrat..”

Berbareng dengan tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke alam, jamu dan kosmetika tradisional buatan Mooryati mulai berkembang pesat. Produksinya tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, namun juga telah diterima luas sejak dari Jepang sampai negara-negara di Timur Tengah. Jamu tradisional tidak lagi sekedar hanya merupakan industri rumah tangga, melainkan sudah tumbuh menjadi industri sekaligus eksportir raksasa.

Lahir di Solo pada tanggal 5 Januari 1928, usianya yang sudah mulai senja sama sekali tidak pernah menyurutkan langkahnya. Mooryati masih selalu tangkas, setangkas tokoh wayang Srikandi idamannya. Apa resepnya meraih keberhasilan?

Matanya langsung bersinar. Cepat sekali jawaban Mooryati, “Singkat saja, tekun dan sabar. Kalau itu bisa dihayati, semua impian akhirnya pasti terwujudkan…”.





ALIM MARKUS : "PENEMBAK BURUNG GRUP MASPION"


Maspion dan Alim Markus adalah dua nama yang tak terpisahkan. Di Jawa Timur, orang mengenal nama Maspion sebagai kelompok usaha besar, yang menjamah berbagai bidang usaha: industri peralatan rumah tanga, elektronik, perbankan, real estate hingga perbisida. Sedangkan Alim Markus dikenal sebagai Presiden Direktur Grup Maspion, yang mampu melambungkan nama Maspion sebagai salah satu kelompok usaha yang paling bersinar di Jawa Timur.

LECTURE RESUME - Perkembangan Grup Maspion yang makin pesat belakangan ini memang tidak lepas dari sentuhan tangan dan kegigihan Alim Markus. Pria berperawakan sedang ini rela mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya untuk mulai berkiprah di dunia bisnis. “Saya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMP karena keburu membantu usaha orang tua,” menurut Markus. Ya, pada usia 15 tahun, sebagai anak tertua Alim Markus, lelaki yang kini berusia 44 tahun itu diminta untuk membantu bisnis keluarganya, PT Logam Djawa – produsen peralatan rumah tangga sederhana yang terbuat dari alumunium, seperti panci dan wajan. Mulailah Remaja cilik Markus meninggalkan pendidikan formal di Sekolah, dan memasuki ajang pendidikan yang lebih luas: dunia bisnis. Ia keluar masuk pasar dan toko untuk menjajakan barangnya. Bertemu dengan berbagai macam orang, dengan karakternya yang beragam. Dari pergaulan itulah ia menimbah ilmu yang tidak pernah diajarkan di Sekolah. Selain itu, karena merasa pendidikan formalnya kurang, Markus pun mau bersusah payah menambah ilmu di sela-sela kesibukannya menjalankan roda usaha. Ia mengambil berbagai kursus. “Pengetahuan saya dari Sekolah kan sangat minim, mau nggak mau saya harus belajar sendiri,” ujarnya. Maka, ia pun sibuk belajar akuntansi, bahasa Inggris dan Jepang – belakangan ia juga belajar bahasa Korea dan Jerman. Karena perusahaannya masih kecil, Markus pun kemudian menjelajah berbagai aspek dalam pengelolaan usaha. Selain menangani pemasaran dan distribusi, ia pernah menjadi kasir, pemegang buku, dan pekerjaan lainnya. “Karena saya membantu perusahaan sejak kecil sampai besar, maka saya mengalami semua seluk beluk perusahaan,” kata Markus. Berkat gemblengan masa lalunya, hingga kini Markus selalu ingin mengetahui bagaimana perkembangan bisnisnya. Jadi, misalnya, ketika berjalan-jalan di pabrik, ia bisa tahu berbagai proses produksi yang dijalani. Ia memang ingin mengetahui segala sesuatunya secara rinci. “Kita harus mengetahui dan menguasai semua bidang pekerjaan,” kata Markus. Tapi, itu tidak berarti dengan mengetahui secara mendalam semuanya lalu Markus mengerjakan sendiri. “Sebagai pimpinan kita harus bisa Mendelegasikan wewenang,” tuturnya. Cuma ia punya sikap yang jelas, Mendelegasikan wewenang adalah suatu keharusan, tapi dia tetap harus tahu secara rinci. “Kan banyak pengusaha yang bersikap, ‘Ngapain saya tahu secara detail, saya serahkan saja kepada orang sudah cukup.’ Nah, yang seperti itu bukan pengusaha betul. Kita boleh mengetahui, tapi jangan dikerjakan sendiri. Kalau dikerjakan sendiri, kapan selesainya dan kapan memimpin orang lain.” Agaknya, keterlibatan total Markus dalam pekerjaannya itulah yang membuat perusahaan keluarga Alim terus berkembang. Keinginan Markus untuk maju juga kian menggebu-gebu. Seiring dengan perkembangan usaha, Markus makin rajin menimbah ilmu dari berbagai sumber: mulai dari kursus-kursus (kalau perlu ke luar negeri) hingga berbagai seminar, dan pergaulan dengan kalangan bisnis. Ia pun kerap menyerap gagasan dari berbagai buku yang dibacanya. Kenapa Markus demikian bersemangat menempah diri? “Orang yang tanpa pengetahuan tidak akan menjadi profesional,” kata Markus. Tapi, pengetahuan saja dianggap tidak cukup. Profesional saja masih kurang. Harus ada faktor lain, yakni punya kemauan keras, disiplin, dan ketekunan. “Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan (leadership),” kata Markus, membeberkan kiatnya memimpin Maspion. Belajar sambil berbisnis itulah yang menempahnya hingga cepat matang. Tak heran jika dalam usia yang masih cukup muda, 30 tahun, Alim Markus pun tampil sebagai Presdir Grup Maspion, menggantikan posisi ayahnya pada 1980. Ketika itu, nama Logam Djawa tidak lagi “berbunyi”, karena sejak 1971 Markus bersama ayahnya mendirikan PT Maspion Plastic & Metal Manufacturing. Sejak itu nama Maspion berkibar, dikenal sebagai produsen alat-alat rumah tangga yang terbuat dari plastik dan alumunium. Di industri plastik, yang dihasilkan Maspion bukan Cuma rantang atau termos dan berbagai macam peralatan rumah tangga lainnya, tapi juga pipa PVC. Bahkan lebih ke hulu lagi, masuk ke produk bijih plastik. Demikian pula di alumunium, yang dihasilkan bukan lagi panci-panci sederhana, tapi dengan bahan yang lebih baik, stainless steel dan peralatan rumah tangga berlapis Teflon, serta aluminium untuk konstruksi. Kini, puluhan perusahaan bernaung di bawah bendera Maspion – kepanjangan nama Mas Pionir. Karyawannya yang tersebar di tiga lokasi pabrik (Maspion Unit I, II dan III) ada 20.000 orang. Untuk memimpin perusahaan sebesar itu, Markus dibantu adik-adiknya: Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa. Seperti diketahui, Grup Maspion dibagi dalam beberapa divisi. Dan di setiap divisi, Markus berduet dengan salah satu adiknya. Misalnya, di Indal Alumunium Industry, penghasil peralatan rumah tangga dan berbagai jenis produk alimunium lainnya, Markus bersama Prakasa tampil sebagai pemimpin. “Kalau saya tidak ada, misalnya sedang keluar negeri, maka yang menangani perusahaan ya Pak Markus,” kata Prakasa. Saudaranya yang lain hanya sebatas pemegang saham. “Saham yang dimiliki sama besarnya, hanya saya yang lebih tinggi 5% di bandingkan adik-adik saya untuk setiap perusahaan Grup Maspion,” kata Markus. Dengan pembagian wewenang seperti itu, proses pengambilan keputusan bisa cepat. Misalnya, kalau ada usul untuk mengembangkan usaha di Indal, maka yang berbicara cukup Markus dengan Prakasa. Jika keduanya sepakat, rencana pun dijalankan. Jika tidak, maka perbedaan yang muncul di bawa ke rapat setiap Senin. Rapat yang diselenggarakan di kantor pusat Grup Maspion ini – di Jalan Kembang Jepun, Surabaya – juga dihadiri oleh pemegang saham mayoritas (50%) Grup Maspion, Alim Husein. Di situlah keluarga Alim (Alim Husein, Alim Markus, Alim Mulia Sastra, Alim Satria, Alim puspita dan Alim Prakasa) membicarakan berbagai hal penting yang menyangkut perkembangan Maspion. Bagi Prakasa, peran paling penting dari Markus dalam pengembangan bisnis Maspion adalah penataan sistem manajemennya yang dilakukan pada tahun 1980-an. “Pak Markus sangat memperhatikan penataan ini, mulai dari sistemnya hingga pengadaan perangkat komputer pada tahap awal pengembangan perusahaan,” kata Prakasa, yang baru terjun ke bisnis setelah meraih gelar MBA dari Kanada. Dalam mengembangkan usaha, Markus sangat selektif memilih mitra bisnis. “Kami selalu memilih mitra bisnis yang terbaik di bidangnya,” kata Markus. Umpamanya, Maspion menggandeng Du Pont (Amerika Serikat) yang memiliki teknologi Teflon – kemudian melebar ke industri agrokimia. Dan bermitra dengan Samsung (Korea Selatan) Maspion masuk ke industri elektronik dan electric home appliance, seperti kipas angin dan Setrika. Contoh lain, Raksasa Marubeni diajak bermitra untuk menghasilkan produk antikarat. Ketika membidik industri melamin, Maspion memilih mitra dari Thailand. “Peralatan makan melamin yang dihasilkan perusahaan Thailand itu paling tinggi mutunya di dunia,” kata Markus. Dengan memilih mitra yang paling menonjol prestasi teknologi atau penguasaan pasarnya, Maspion akhirnya mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Itu sebabnya, pesanan dari mancanegara mengalir ke Maspion. Sebuah jaringan toserba di AS, misalnya, memesan peralatan masak yang khusus dipasarkan di Negara Paman Sam itu – Master Cuisine 9000.

Maspion kini sudah besar. Dan itu terjadi karena strategi ekspansi yang diterapkan Markus cukup mengena. “Kami menganut falsafah kalau kami menanam padi, hasilnya pun padi. Kalau kami menanamnya banyak, hasilnya juga banyak,” kata Markus. Jelas, bahwa di bawah kepemimpinan Markus, Maspion akan terus melakukan ekspansi, baik yang masih berkaitan dengan bisnis yang kini ditangani, atau sama sekali bidang usaha baru. Jangan tanyakan apa bisnis inti Grup Maspion. Sebab, bagi Markus, “Core business adalah bisnis yang bisa dikuasai.” Jadi, semua usaha yang dimasuki Maspion adalah bisnis inti. “Konsep saya lain. Kalau kami bisa bersaing dengan orang lain, itulah bisnis inti kami. Jadi, tak berarti saya hanya terjun ke satu industri, tanpa mengembangkan yang lain,” tuturnya serius. “Namanya usaha, ya segala bidang kami masuki,” ujarnya lagi. Bagi Markus, pengembangan usaha adalah hal yang perlu terus menerus dilakukan. Ibarat menanam pohon, kalau hanya bisa menanam lima pohon, lima itulah yang dipelihara sehingga manjadi besar. Setelah berbuah, tanam lagi pohon lain agar pohon yang ada di lahan usahanya bisa berkembang terus. “Dan di bidang itu kami harus menjadi market leader,” katanya. Itu dibuktikan dengan penguasaan pasar plastik peralatan rumah tangga nasional sebesar 30%, pipa PVC 40%, dan alumunium sheet 80%. Namun Markus juga sangat menekankan bahwa dalam pengembangan bisnis tidak perlu serakah. Sebab, kalau serakah, bisa diibaratkan, “Kita ingin menanam pohon sebanyak-banyaknya, tapi kewalahan menyirami dan memupuknya, sehingga hasilnya menjadi jelek.” Dalam menangkap peluang bisnis. Markus mengumpamakan seperti memburuk burung. Dan sebagai pemburu peluang, senjata utama pengusaha adalah permodalan. “Tanpa modal, kan tidak mungkin menjalankan usaha. Modal ini pun harus diakumulasikan, karena dengan modal kecil, usaha yang bisa dimasuki juga kecil,” kata Markus. Sedangkan kemampuan manajemen diibaratkan sebagai kemahiran menembak. “Kita harus aktif. Peluang usaha adalah burung yang harus dikejar,” ujarnya. Nah, dalam memburu peluang itu, ketepatan waktu juga penting. Sebab, kalau tidak tepat, misalnya membidik terlalu lama, bisa saja tiba-tiba burung tersebut terbang dan kesempatan pun menghilang. “Harus punya keberanian untuk menembak pada saat yang tepat,” kata Markus. Dalam bekerja, semangat efisiensi sangat mewarnai gaya kerja dan penampilan Markus. Ruang kerjanya, misalnya, tidak terlalu besar dan transparan dengan dinding dari kaca tebal. Orang yang lalu lalang di depanya akan mengetahui apakah Markus ada di ruangan atau tidak. Apalagi pintu ruang kerjanya selalu terbuka. Semangat keterbukaan? Tidak persis dimaksudkan begitu. Yang diutamakan efisiensi. “You buka pintu saja sudah kehilangan waktu sekian detik. Kan sayang. Biarkan saja pintu terbuka, toh tidak ada nyamuknya,” kata Markus. Ia pun tidak khawatir gerak-geriknya terlihat oleh bawahannya. “Kalau sama karyawan tidak apa-apa. Tamu kan tidak akan nyelonong begitu saja karena sudah sering di bawah. Sekretaris saya pun bisa menghadap orang sembarangan,” kata Markus. Kepercayaan Markus pada “filternya” memang tidak belebihan. Begitu masuk ke kantor pusatnya di lantai pertama, orang akan segera berhadapan dengan petugas yang akan menanyakan maksud kedatangan orang itu. Jika diizinkan bertemu dengan bos Maspion, tinggal naik tangga ke lantai dua, dan akan berhadapan dengan empat, ya empat sekretaris Alim Markus. “Sekretaris saya memang empat. Tapi semuanya efisien, bekerja penuh. Coba you lihat kalau masuk ke kantor saya, tidak ada orang yang membaca koran. Semua bekerja,” kata Markus. Tidakkah pekerjaan para sekretaris itu bertabrakan satu sama lain? “Tidak. Pekerjaan kami terbagi dalam beberapa masalah. Apalagi Maspion kan perusahaan besar, ada puluhan perusahaan, sehingga permasalahan pun banyak,” kata Wati, yang mengurus bidang umum. Sedangkan untuk urusan jadwal kegiatan Markus, Catherine yang mengatur. Begitulah, jika di luar kantor, atau sedang melaju di atas mobilnya, Markus tinggal mengecek kepada Catherine, apakah ada orang yang mencarinya. Jika ada, ia tinggal menghubunginya. Atau menanyakan persoalan yang mesti diselesaikan pada sekretaris lain jika menyangkut bidang usaha yang dibawahinya. Soal real estate, misalnya, akan langsung berhubungan dengan Setyowati.

Markus, efisien menggunakan waktunya. Setiap hari, bangun pukul 5.00, lalu segera meluncur ke lapangan golf. Dari tempat olah raga, ia tidak balik ke rumah. “Saya mandi dan sarapan di tempat golf, dan langsung ke kantor,” kata Markus. Sebelum pukul 08.00 Markus sudah tenggelam dalam urusan kantor hingga sore hari. Karena itu, sepulang kerja, waktunya dicurahkan untuk keluarga. Markus pantang membawa pekerjaan ke rumah. Demikian pula isterinya, Srijanti, sama sekali tidak pernah menjamah atau merecoki pekerjaan suaminya atau urusan kantor. Jadi, setelah pulang dari kantor, di rumah waktu Markus dihabiskan untuk keluarga, dengan sang isteri dan dua anaknya yang masih kecil. Lima anaknya yang lain bersekolah di Singapura. Praktis rumah di atas lahan seluas 1.800 meter persegi luas bangunannya sekitar 250 meter persegi yang ditata apik itu terasa lengang. Dengan 47 pabrik dan 20.000 karyawan, sebenarnya Maspion dan keluarga alim sudah boleh disebut sukses. Toh, Alim Markus masih merasa bisa mengembangkan kelompok usahanya untuk menjadi lebih besar lagi. Di benaknya sudah tergambar “peta” perkembangan yang akan ditempuh dalam 5 – 10 tahun mendatang. “Jika disituasi ekonomi dan politik tetap stabil seperti sekarang, kami bisa terus berkembang dan menampung tenaga kerja sampai 50.000,” ujarnya. Impian yang cukup “berani”. Soalnya, jangankan mengurus karyawan puluhan ribu, mengelola karyawan yang jumlahnya ratusan saja bisa bikin kelenger.- apalagi kalau muncul aksi mogok. Maspion pun pernah merasakan bagaimana kacaunya situasi ketika para pekerja mogok pada tahun 1993 lalu.

Jika di perusahaan lain tuntutan utama pemogokan biasanya menyangkut penyesuaian upah atau gaji, di Maspion lain, karena tingkat upah di kelompok perusahaan ini memang selalu di atas upah minimal yang ditetapkan Pemerintah. Justru karena upahnya yang sudah lumayan itulah, Maspion terhindar dari pemogokan. Ketika aksi mogok merebak di Surabaya, seorang pejabat di sana menunjuk Maspion sebagai contoh perusahaan besar yang tak pernah dilanda pemogokan, dan meminta pengusaha di Surabaya mencontoh Maspion. Markus ingat persis omongan pejabat itu diucapkan pada bulan Juni 1993. “Eh, tak tahunya pada bulan Juli karyawan Maspion mulai mogok,” kata Markus. Yang menyulut pemogokan, menurut Markus, karena persoalan normatif. Para karyawan meminta agar pimpinan pabrik salah satu unit usahanya dipecat. Alasannya, kepala pabrik tersebut terlalu singkat memberi waktu istirahat, Cuma 39 menit, yang dinilai para karyawan tidak cukup untuk dipakai makan siang dan sembahyang. Apalagi jika hari Jum’at, karyawan harus pontang-panting makan dan sholat Jum’at. Telat sedikit, mereka disemprot pimpinan, lengkap dengan ancaman pemecatan. Situasi itulah yang membuat karyawan mangkir kerja. Markus akhirnya mencopot pimpinan pabrik yang sok kuasa itu, dan memutasikannya ke bagian lain. Ternyata kejadian itu diikuti oleh karyawan bagian lain. Mereka merasa mendapat angin mogok dan meminta pimpinan yang tidak disukai dipecat. Sialnya, ketika aksi mogok digelar terjadi kebakaran di tiga pabrik, “Di Maspion unit 1 kan ada 15 pabrik, yang mogok itu empat pabrik,” kata Markus. Permintaan para karyawan untuk memecat atasannya masing-masing di pabrik kedua, ketiga, dan keempat, ditampik Markus. Ia meminta supaya perselisihkan antara karyawan dan pimpinannya diselesaikan secara hukum. “Siapa yang merasa dirugikan, silakan melapor ke Depnaker atau melalui kepolisian dan ke pengadilan,” kata Markus. Kejadian itu memberi hikmat kepada Markus untuk lebih memperhatikan aspek nongaji karyawannya. Markus, kini setiap Sabtu sore 200 – 300 karyawan Maspion Unit 1 diangkut untuk berolahraga; senam atau lari atau pertandingan antarpabrik. “Mereka berolahraga dan kami menghitung waktu olahraga itu sebagai lembur,” kata Markus. Saat berolahraga itulah, kebersamaan karyawan dengan pimpinannya digalang. Energi para karyawan yang masih muda-muda pun tersalur secara positif.





Selasa, 13 Mei 2008

Menang Dalam Persaingan Kompetitif


Sebuah perusahaan yang ingin maju, tentu saja sebuah perusahaan yang dapat memenangkan persaingan bisnis secara sehat. Menurut saya ada 4 hal yang perlu diperhatikan manajemen untuk dapat memenangkan persaingan bisnis, yaitu.

1. Sistem Konseptual yang baik
Untuk pengambilan keputusan yang cerdas perlu dibangun sistem konseptual yang baik., selain sistem fisik yang harus ditingkatkan.Dalam sistem konseptual segala informasi tentang sistem fisik dapat dengan mudah dan cepat diketahui manajemen sehingga tepat dalam pengambilan keputusan. Sistem Informasi yang dibangun Bayangkan jika Anda bekerja dibidang penjualan dan Anda tidak segera tahu berapa jumlah barang yang sisa di gudang untuk jenis tertentu, jenis barang apa saja pada setiap hari Lebaran atau hari Natal pada tahun kemarin yang paling digemari konsumen? Dapatkah Anda memperkirakan jumlah stok yang harus disiapkan pada even yang sama?

2. Rantai Nilai Perusahaan harus kuat
Terdapat dua hal penting dalam sistem Rantai Nilai Perusahaan ini. Yaitu Bagaimana Aktifitas Utama dijalankan dan Bagaimana Aktifitas Pendukung melakukan tugasnya?

Aktifitas utama adalah mencakup: logistik masuk, pemrosesan, logistik keluar, marketing,pelayanan konsumen purna jual.
Kalau kita melihat bahwa aktifitas utama pada Yayasan Pendidikan ini adalah: Bidang Administrasi, Kelompok Pengajar/Dosen/Instruktur, Asisten Lab, Marketing dll. Pada bagian aktifitas utama ini, saya melihat bahwa bagian marketing adalah sebuah prioritas jika produk atau layanan belum dikenal konsumen secara luas, sebelum membenahi bidang-bidang lainnya.

Aktifitas Pendukung mencakup kekuatan insfrastrukur, sdm, pengembangan IT dan Bidang Keuangan (perolehan).
Contoh Aktifitas Pendukung dalam sebuah Perguruan Tinggi misalnya dimana:
Ketua Yayasan sebagai kekuatan untuk membangun infrastuktur dan pengawasan
Bidang SDM sebagai kekuatan dalam hal penyediaan SDM yang bermutu
Bidang IT sebagai kekuatan dalam pengembangan sistem informasi/IT.
Bidang Keuangan sebagai kekuatan dalam penyediaan logistik

Kedua aktifitas diatas mutlak harus diperhatikan.

3. Membangun Sitem Nilai
Sistem Nilai adalah segala upaya untuk mempermudah aktifitas sistem sehingga keuntungan dapat segera diperoleh. Baik itu keuntungan dari segi marketing atapun keuntungan dari segi finansial.
Ada banyak Sistem Nilai yang dapat dibangun dengan Sistem Perusahaan Lain sepanjang ada kaitannya dengan sistem perusahaan. Semakin banyak sistem Nilai yang dibangun akan semakin baik, dan sangat bermanfaat untuk kepuasan Konsumen.
Sistem Komputer Online antara Perusahaan Penerbangan dengan Jasa Travel dalam penjualan Ticket (Namun akhir-akhir ini saya lihat Perusahaan Penerbangan mulai cenderung memanfaatkan Handphone yang dimiliki konsumen untuk pemesanan Ticket secara langsung lewat SMS, hal ini nantinya akan mematikan bisnis Jasa Travel dalam menjual Ticket). Sistem Pembayaran Uang Kuliah lewat ATM (kerja sama dengan Bank) adalah sebuah contoh Sistem Nilai yang baik.

4. Memiliki Data Intelijen yang baik
Adalah data/informasi yang menjelaskan segala elemen yang ada di sekitar perusahaan. (Elemen Lingkungan). Masih banyak perusahaan yang mengabaikan hal ini. Padahal Perusahaan sangat perlu untuk memiliki data Vendor yang lengkap misalnya, Data Pesaing, Masyarakat Keuangan, Masyarakat Global, Pemerintah, Konsumen dll. Dengan tersedianya data intelijen mengenai Pesaing maka dapat ditentukan sebuah harga lebih murah dari harga yang dimiliki pesaing. Hal merupakan salah satu strategi untuk merebut minat konsumen dan tentu saja untuk menang dalam persaingan bisnis.berbagai sumber



Sukses Berinvestasi ala Buffet

Kesuksesan seseorang dalam berinvestasi tidak harus mengandalkan kepandaian atau staf ahli. Namun kesuksesan seperti kata Warren Buffet dalam bukunya yang berjudul 24 Strategi Investasi Sederhana dari Investor Nilai Terbaik Dunia karya James Pardoe, terletak pada diri sendiri. Dalam buku ini Buffet menguraikan kiat-kiat sukses berinvestasi di pasar saham, yang dinilai banyak orang merupakan bisnis rumit dan penuh resiko.

Buffet menjungkirbalikkan pendapat kebanyakan orang dimana pasar saham diisi oleh orang-orang profesional yang mengerti tentang dunia saham. Pendapat tersebut dianggap mitos oleh Buffet. Semua orang dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menjadi investor sukses tanpa bantuan dari profesional. Buffet telah menemukan cara sukses untuk berinvestasi dalam pasar saham yang tidak rumit. Buffet hanya akan berinvestasi pada bisnis-bisnis yang mudah dipahami, solid, dan bertahan lama.

Buku yang diterbitkan PT Erlangga ini menulis bagaimana esensi dan keindahan filosofi investasi Buffet yang terletak pada kesederhanaan. Filosofi Buffet itu tidak memerlukan kemampuan matematis yang rumit, latar belakang pendidikan finansial, atau pengetahuan mengenai bagaimana perekonomian. Buffet yakin bahwa investor tidak melakukan usaha yang cukup berarti saat mereka mengandalkan hal-hal seperti rumus matematika.

Pada bisnis saham ini Buffet menekankan prinsip kesederhanaan. Prinsip ini harus dipertahankan oleh para pelaku bisnis yang ingin sukses. Dengan menggunakan prinsip kesederhanaan ini maka Anda tidak akan terjebak oleh iming-iming saham yang menggiurkan. Buffet menyarankan agar pelaku bisnis membeli saham dari perusahaan yang dikelola oleh orang-orang jujur dan kompeten. Kemudian pertahankan saham tersebut untuk masa datang. Janganlah membuat investasi menjadi sesuatu yang sulit. Tetaplah berpedoman pada apa yang Anda ketahui. Dengan prinsip yang diuraikan Buffet tersebut maka setidaknya Anda tidak memerlukan para profesional di pasar saham. Anda dapat membuat keputusan investasi sendiri.

Sekilas prinsip kesederhanaan Buffet ini nampak sederhana. Namun, seperti yang tertulis dalam buku ini, prinsip ini tidaklah mudah dilaksanakan. Hal terpenting disini adalah Anda harus memiliki temperamen yang tepat untuk menjadi investor andal. Temperamen yang dimaksud Buffet tidak lain adalah mempertahankan akal sehat Anda setiap saat. Maksudnya, memiliki pola pikir yang tepat saat Anda harus menghadapi berita buruk yang mengancam saham Anda. Dalam keadaan demikian, Buffet menyarankan agar bersikap tenang meskipun dalam situasi buruk sekalipun. Begitu juga dengan pikiran jernih tetap diperlukan.

Jika Anda termasuk orang yang cenderung frustasi maka Anda tidak seharusnya berada di dunia saham. Anda harus mempunyai keterampilan untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang sehat. Yang tidak kalah pentingnya dan harus dimiliki pelaku bisnis saham adalah kesabaran. Faktor kesabaran ini juga menjadi filosofi Buffet selama menjalankan bisnisnya. Buffet dikenal sebagai pelaku transaksi perdekade bukan pelaku transaksi harian.

Kesabaran ini diperlukan untuk meraih sukses dalam berinvestasi nilai. Faktor ini pernah menjadi pelajaran Buffet ketika ia merasa tidak sabar saat membeli saham Disney seharga 31 sen per lembar dan menjualnya setahun kemudian. Selama perjalanan bisnisnya Buffet telah memiliki sejumlah saham besar di Berkshire Hathaway selama 40 tahun. Dia tidak pernah menjual selembar pun.

Keberhasilan Buffet tidak lain karena kesabarannya. Lihat saja bagaimana dia memegang saham Washington Post tersebut dalam jangka waktu yang lama. Meskipun saat itu Washington Post mengalami situasi buruk, namun Buffet tetap tidak menjual sahamnya selembarpun. Pasalnya, dia memiliki gambaran besar yang ada dalam pikirannya. Kesabarannya benar-benar berbuah manis, dimana modal awalnya kembali setiap tahun melalui dividen tahunan dari Washington Post senilai 10 juta dolar.

Belilah Bisnis, Bukan Saham

Buffet berpendapat salah satu faktor penting dalam sukses berinvestasi adalah mengingatkan diri bahwa Anda membeli sebagian andil dari bisnis yang benar-benar ada. Menurut Buffet, lembaran saham itu tidak ada artinya. Saham hanya representasi dari perusahaan yang riil. Dengan kata lain, membeli saham bukan berarti “menggoreng pasar”, tapi membeli bisnis yang tepat.

Karena itu hal terpenting untuk dilakukan sebelum membeli saham adalah berpikir matang-matang mengenai bisnis yang mendasarinya juga masa depannya. Dalam hal investasi ini, Buffet menekankan pentingnya kinerja dari bisnis di balik investasi. Karenanya Buffet menganjurkan Anda hendaknya melakukan bisnis yang mudah dipahami dengan alasan bisnis tersebut lebih pasti dan arus kasnya mudah diprediksi. Buffet selalu menghindari perusahaan yang kompleks yang sekiranya akan mengalami perubahan dramatis karena masa depannya tidak pasti.

Buku yang diterbitkan oleh PT Erlangga ini merupakan terjemahan dari buku aslinya yang berjudul How Buffet Does It 24 Simple Investing Strategies from the World’s Greatest Value Investor sangat menarik dan menjadi salah satu bacaan terlaris di dunia. Bagi para pemula bisnis saham, tentunya buku ini sangat layak dibaca dan dapat menjadi panduan dalam berbisnis. SAW

Sumber : Satria Ari Wibowo,http://majalahimagine.com/content/view/56/55/





Meraih kebebasan Finansial ala Robert T. Kiyosaki

Meraih kebebasan finansial tentu dambaan setiap orang. Kebebasan waktu dan kebebasan bekerja inilah yang menjadi sorotan utama Robert T. Kiyosaki pengarang buku Cashflow Quadrant. Meraih kebebasan finansial yang dimaksud Robert adalah menjadi seorang entrepreneur sejati dengan mengandalkan otak kanan.


Dalam buku Cashflow Quadrant, Robert mengulas bagaimana seseorang memanfaatkan otak kanannya untuk meraih kebebasan finansial yang diwujudkan dalam empat pilihan. Pertama, employee (pegawai), self employed (pekerja lepas), business owner (pemilik usaha, dan investor (penanam modal). Selanjutnya tinggal Anda yang memilihnya. Menurut Robert, terdapat metode yang berbeda dalam memperoleh finansial. Dimana dibutuhkan kerangka berpikir, keterampilan teknis, jalur pendidikan, dan jenis orang yang berbeda. Nah, masing-masing orang yang berbeda ini tentunya tertarik pada kuadran yang berbeda pula.
Perbedaan inti dari masing-masing orang terletak pada nilai, kekuatan, kelemahan, dan minat inti kita. Selain itu dalam memperoleh penghasilan juga tidak ditentukan pada tingkat pendidikan, melainkan lebih tergantung pada siapa diri kita. Hal-hal inilah yang menentukan kita dalam memilih kuadran yang menjadi sumber penghasilan.

Robert menegaskan kita bisa kaya atau miskin di keempat kuadran yang sudah disebutkan diatas. Ada orang yang menghasilkan jutaan dan orang yang bangkrut di masing-masing kuadran. Berada di salah satu kuadran tidak menjamin keberhasilan Anda. Dengan mengetahui ciri berbeda dari masing-masing kuadran, kita akan mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang kuadran mana yang paling cocok dengan kita.

Ada orang yang senang menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan, sementara yang lain tidak. Sebenarnya menjadi sukses dalam keempat kuadran berarti kita menata ulang nilai-nilai inti yang terdapat pada diri sendiri. Banyak orang cenderung yakin bahwa cara mencapai keamanan finansial dan kebahagiaan adalah dengan melakukan keinginan sendiri atau mengembangkan sebuah produk baru yang tak dimiliki siapapun.

Cashflow Quadran yang ditulis Robert T. Kiyosaki sebenarnya memaparkan perbedaan tentang bagaimana memperoleh penghasilan, apakah sebagai karyawan, pekerja lepas, atau pemilik usaha. Tidak hanya itu, ia juga menjadi pedoman bagi siapa saja yang ingin menggunakannya.

Dengan membaca buku ini maka setidaknya kita dibimbing dari perjuangan finansial ke arah keamanan finansial kemudian kearah kebebasan finansial. Artinya, bila kita memiliki modal maka bagaimana agar modal tersebut menjadi aset yang semakin hari akan bertambah menjadi cash flow.

Satu hal lagi yang harus diingat, bahwa upaya meraih kebebasan finansial haruslah berani mengambil resiko, baik besar maupun kecil. Sebab, menjadi seorang entrepreneur tidaklah sama dengan menjadi karyawan. Karena itu ia harus belajar bagaimana menangani resiko yang bakal dihadapinya. Masalahnya, sisi kiri Cashflow Quadrant adalah sebagian besar orang berusaha menghindari resiko finansial. Langkah ini, menurut Robert, tentu saja salah. Justru kita harus berani belajar menangani resiko tersebut. Jajat



Mengilaukan Pesona Perbankan Syariah

Bendera perbankan syariah makin berkibar. Meski begitu, posisinya masih jauh di bawah potensinya. Hati-hati terhadap nasabah kutu loncat ketika suku bunga tinggi!

*Karnoto Mohamad

Konsep syariah kini kian populer. Penganutnya terus bertambah. Masyarakat keuangan banyak meliriknya. Bank-bank konvensional ramai-ramai membuka unit syariah. Bahkan, ada bank yang semula beroperasi secara konvensional hijrah menuju bank umum yang sepenuhnya menerapkan konsep syariah secara penuh atau full platform.

Perbankan syariah makin menunjukkan eksistensinya di industri perbankan Indonesia. Berubahnya Bank Tugu menjadi Bank Syariah Mega Indonesia menambah jumlah bank umum syariah di Indonesia menjadi tiga buah. Sebelumnya sudah ada Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM).

Tidak ketinggalan, Bank Tabungan Negara (BTN) tertarik keunggulan sistem syariah. Bank milik negara yang piawai membiayai sektor properti ini akan memilih berubah menjadi bank umum syariah ketimbang dicaplok Bank Negara Indonesia (BNI) atau Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Konsep syariah memang mampu menebar pesona. Itu tak terlepas dari keunggulan yang dimiliki konsep ini. Sistem syariah tidak mengenal adanya bunga, tapi sistem bagi-hasil antara bank dan nasabahnya. Itu sebabnya, dalam bank syariah tidak dikenal istilah negative spread.

Menurut sejumlah praktisi perbankan syariah yang dihubungi InfoBank, konsep syariah juga mampu melenyapkan unsur saling menindas. Ia sangat mengedepankan nilai-nilai yang sangat positif, seperti keadilan, kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab. Sehingga, secara alamiah, konsep syariah diyakini akan lebih mengacu pada tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau GCG).

Tak heran, kendati konsep syariah identik dengan Islam, masyarakat yang datang memanfaatkan layanan jasa perbankan syariah bukan saja mereka yang menganut ajaran Islam. Tak heran pula bila sistem ini telah merambah ke 15 negara bukan Islam, seperti Amerika Serikat, Kanada, Swiss, Inggris, dan Australia, selain 27 negara Islam itu sendiri. Samuel L. Hayes dari Harvard University menegaskan, sistem syariah ini sudah mendunia dan bisa menjadi milik semua bangsa.

Pendapat yang sama juga dilontarkan banyak praktisi perbankan di Indonesia. Agus D.W. Martowardojo, Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) mengungkapkan, “Sistem syariah bukan dominasi kelompok agama, tapi sebagai alternatif sistem perbankan yang, kami lihat, potensi pasarnya besar sekali. Apalagi, mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistem konvesional.”

Perbankan syariah menawarkan sistem bagi-hasil (mudharabah) sebagai alternatif dari sistem bunga. Selain itu, dalam skema pembiayaannya dikenal pula sistem jual-beli (murabahah). Kedua sistem yang menghilangkan unsur bunga ini dinilai sebagai sistem yang bersifat universal dan dapat diterima masyarakat karena sifatnya yang menguntungkan baik bagi bank maupun bagi nasabah.

Menurut Rizqullah, Pemimpin Usaha Divisi Syariah BNI, hubungan bank dengan nasabahnya diikat perjanjian di muka untuk membagi rasio keuntungan sesuai dengan diperjanjian. Sistem ini tentu sangat menarik bagi pengusaha peminjam. Ketika keuntungan besar, bagi-hasilnya juga besar dan demikian pula sebaliknya.

Dana yang dikucurkan pun akan terhindar dari kegiatan-kegiatan spekulatif dan praktik curang model mark up. “Dengan menerapkan sistem ini, ekonomi akan berkembang dan akan tercipta struktur ekonomi yang lebih berkeadilan. Lalu, inflasi juga bisa nol,” ujar Rizqullah kepada Tofik Iskandar dari InfoBank pada sebuah kesempatan.

Konsep yang menarik ditambah pasarnya yang luas membuat peminat sistem syariah makin bertambah. Sudah banyak argumentasi bahwa perbankan syariah akan cerah pada masa datang. Terutama bila menyimak komposisi 220 juta jiwa populasi Indonesia, yang 80%-nya merupakan penganut Islam.

Di sisi lain, riset Bank Indonesia (BI) pernah mengungkapkan, 40% responden mengatakan, bunga bank itu haram. Keyakinan tersebut diperkuat fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada akhir 2003 bahwa bunga bank itu riba dan riba itu haram hukumnya.

Latar seperti itu turut memengaruhi perkembangan perbankan syariah dari tahun ke tahun. Menurut catatan BI, pangsa aset perbankan syariah yang 0,36% pada 2002 meningkat menjadi 0,67% pada 2003. Fatwa MUI tadi kemudian juga memberikan berkah bagi perbankan syariah. Salah satu buktinya, pangsa aset perbankan syariah pada Desember 2004 mencapai 1,3% atau Rp15,31 triliun dibandingkan dengan total aset perbankan nasional.

Pada 2005, pangsa aset perbankan syariah diprediksi meningkat lagi menjadi 1,85%. BI memproyeksikan aset total perbankan syariah akan mencapai Rp171,35 triliun pada 2011 atau 9,10% dari aset total perbankan nasional. “Ini proyeksi konservatif. Dihitung menggunakan asumsi data terakhir tahun 2003 dengan posisi aset Rp7,4 triliun. Bisa saja, nanti, melebihi proyeksi ini,” kata Edi Setiadi, Deputi Direktur Perbankan Syariah BI, kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Bahkan, Karim Business Consultant (KBC) memrediksi lebih dari itu. KBC menggunakan asumsi dasar aset total masing-masing bank umum syariah atau unit syariah pada Desember 2004 dan memperhitungkan perkembangannya yang akan lebih pesat. Itu seiring dengan rencana sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) dan 19 dari 20 besar bank konvensional papan atas yang akan membuka unit syariah.

“Dengan asumsi itu, kami memroyeksikan, pada 2011, aset total perbankan syariah di Indonesia berkisar pada posisi rendah Rp300 triliun dan posisi tinggi Rp360 triliun atau porsinya dalam industri perbankan nasional 16,7% hingga 20%,” ujar Adiwarman A. Karim, Presiden Direktur KBC.

Makin baiknya perkembangan perbankan syariah didukung kondisi pemahaman dan keinginan sebagian masyarakat yang makin baik pula untuk menggunakan jasa perbankan syariah. Volume usaha perbankan syariah akan terus meningkat didukung perluasan jaringan kantor dan produk bank syariah yang makin lengkap pula.

Bendera perbankan syariah di Indonesia makin berkibar. Industri perbankan Indonesia seperti memiliki wilayah baru untuk menatap masa depan. Ketika persaingan perbankan konvensional makin tak kenal ampun, perbankan syariah menjadi alternatif lain. Bahkan, sejumlah praktisi bank syariah yakin, konsep syariah mampu menjadi solusi yang mendukung perekonomian bangsa. Bermunculannya kantor-kantor perbankan syariah turut meramaikan kancah perbankan nasional. Masyarakat yang selama ini tak terjangkau kini bisa mengaksesnya.

Namun, hal itu bukan berarti bahwa pasar perbankan syariah tak mengenal kompetisi. Banyaknya bendera syariah yang dikibarkan bank-bank umum konvensional menciptakan medan pertempuran baru. Menurut catatan Biro Riset InfoBank (birI), di luar tiga bank umum syariah, ada sekitar 13 bank konvesional yang telah memiliki unit syariah. Misalnya, BNI, BRI, Bank Bukopin, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC), serta sejumlah bank pembangunan daerah (BPD), seperti Bank Jabar (Jawa Barat), Bank DKI (Daerah Khusus Ibu Kota), dan Bank Riau. Jumlah jaringan kantor perbankan syariah pada 2004 sudah mencapai 355 unit ditambah 88 kantor bank perkreditan rakyat syariah (BPRS).

Sejumlah bank konvesional lain siap membuka kantor syariahnya. Salah satunya adalah PermataBank. Bank Persyarikatan Indonesia (BPI), yang terseok kekurangan modal, dikabarkan akan dijadikan unit bisnis syariah Bank Bukopin, salah satu investor baru bank tersebut. Bank-bank lain yang belum membuka unit bisnis syariah pun tak menutup mata terhadap pasar syariah ini.

Kendati makin dipadati pemain, para praktisi perbankan syariah optimistis bahwa pasar masih terlalu luas untuk diperebutkan. Bila dalam persaingan ada kalah cepat, itu pun bukan berarti karena pasarnya digerogoti kompetitor. “Kalau kita nggak mampu berkembang lebih cepat, itu karena kita sendiri. Bukan karena pasarnya diambil orang. Pasar masih banyak,” ujar A. Riawan Amin, Direktur Utama BMI, kepada InfoBank, bulan lalu.
Menurut Riawan, kunci pengembangan perbankan syariah adalah jaringan. Sebab, pasar potensial perbankan syariah itu tidak berada di satu tempat, tapi menyebar ke seluruh daerah di Indonesia. Sehingga, semangat bank-bank mendirikan kantor cabang yang melayani jasa keuangan syariah patut dihargai. Sebab, selain sosialisasi dan edukasi sistem syariah terhadap masyarakat makin cepat, perbankan syariah juga mendorong perubahan paradigma dalam kegiatan ekonomi. Artinya, sebagian pengusaha mulai beralih melakukan kegiatan usaha dengan menggunakan prinsip bagi-hasil.

Perbankan syariah kini makin memperluas jaringan. Produknya pun kian inovatif dalam penghimpunan dana ataupun pembiayaan. Dan, yang patut dihargai adalah fungsi intermediasi dijalankannya dengan baik. Dari posisi dana pihak ketiga (DPK) yang Rp11,67 triliun pada tahun lalu, perbankan syariah menyalurkan pembiayaannya hingga Rp11,48 triliun. Artinya, financing deposit ratio (FDR) mencapai 98,3%, jauh melebihi loan to deposit ratio (LDR) perbankan nasional yang hanya sekitar 50%.

Pertumbuhan perbankan syariah yang fantastis pantas diperhitungkan. Tapi, perbankan syariah pun tak boleh cepat berpuas diri melihat keberadaannya yang makin dilirik orang. Selain giat melakukan ekstensifikasi pasar dengan membuka outlet-outlet baru, mereka harus melakukan intensifikasi pasar yang ada agar outlet-nya bisa tumbuh terus. Paradigma pemasaran get, keep, grow perlu dipegang agar nasabah mengambang berubah menjadi nasabah loyal.

Nasabah syariah yang loyal bukan hanya menempatkan dananya. Dia juga bersedia menjalin hubungan baik serta mau menggunakan produk dan jasa lain. Bahkan, lebih dari itu, nasabah tersebut rela merekomendasikan produk dan jasa di perbankan syariah kepada rekan atau orang lain.

Perbankan syariah memang dituntut memperbaiki diri terus-menerus. Inovasi produk yang tiada henti, dukungan infrastruktur dan teknologi yang baik, sumber daya manusia (SDM) yang andal, serta pelayanan prima harus dimiliki agar daya saingnya terus meningkat.

Perbankan syariah yang hanya giat mencari nasabah baru tanpa menjaga nasabah yang sudah ada perlu berhati-hati. Sebab, tak semua nasabah syariah berkategori pasar emosional (emotional market). Nasabah emosional mungkin tak mempan digoda hasutan hadiah dan bunga menggiurkan. Tapi, nasabah kutu loncat ada di mana-mana dan mereka mudah mengalihkan dananya ke bank konvesional ketika suku bunga lebih tinggi.

Sumber : InfoBankNews.com

Jumat, 09 Mei 2008

Lokasi Usaha yang Potensial

PADA awal penulisan artikel ini beberapa teman yang saya perlihatkan versi rough atau mentahnya sempat mengajukan "protes" kepada saya. Mereka mempertanyakan apakah saya sedang ingin mencari gara-gara dengan mencoba menghubungkan antara analisis Feng Shui dengan konsep-konsep marketing dan temuan research.

Wah, kenapa jadi Feng Shui rupanya? ternyata karena topik yang ingin saya diskusikan dengan Anda semua pada kesempatan kali ini adalah tentang lokasi usaha. Yah, pada umumnya topik lokasi usaha memang menjadi topik yang sering dibahas oleh para ahli Feng Shui.

Lokasi usaha yang dimaksudkan di sini lebih menitikberatkan kepada lokasi-lokasi di mana terjadi penjualan secara eceran (retail). Jadi dengan batasan tersebut, pembahasan kita akan fokus kepada outlet-outlet yang melayani penjualan secara retail, dan bukan gudang ataupun kantor korporat. Namun kantor marketing representative office atau perwakilan penjualan seperti agen properti juga dapat dianggap sebagai bagian dari diskusi kita.

Dalam memilih lokasi outlet, di luar dari pertimbangan Feng Shui, faktor apa saja yang menjadi bahan pertimbangan bagi kita? tentunya yang utama lokasi tersebut harus ramai kan. Kalau bisa malah lokasi tersebut harus hidup 24 jam dalam bayangan kita. Kemudian, lokasi yang dipilih pastinya harus kita anggap strategis. Mudah dicapai dari segala arah. Lalu apa lagi yang kita anggap penting, bagaimana dengan saingan? nah di sini rupanya faktor yang menarik.

Ternyata ada dua macam pandangan saingan bisnis yang menempati satu lokasi tertentu. Tipe yang pertama, boleh dibilang lebih bersifat egosentris. Yaitu memandang saingan dari sudut pandang kepentingan pengusaha atau penjual. Yah kalau dari sudut pandang ini pasti kita semua sepakat bahwa kalau bisa sih, di lokasi tempat kita akan membuka outlet dan sudah ramai tersebut (ditambah strategis pula, duh!) TIDAK ADA SATUPUN SAINGAN yang barang dagangannya sama seperti kita. Sampai di sini pasti Anda tidak akan mempertanyakannya, karena pasti kita semua mahfum bahwa keberadaan saingan pasti akan mengurangi omzet kita.

Apa yang salah dari pandangan seperti ini? sepertinya tidak ada. Karena semua orang normal pasti akan berpikir demikian ... tetapi dari sudut pandangan pengusaha atau pedagang. Sementara itu bagaimana dari sudut pandang konsumen? sebaliknya pasti. Konsumen tentu lebih senang berbelanja di tempat atau lokasi yang bisa memberikan banyak pilihan. Baik dari segi jenis barang atau jasa, dan juga dari segi harga. Buntut-buntutnya, di mana ada satu sentra pembelanjaan, maka konsumen akan beramai-ramai datang ke tempat itu.

Beberapa survei yang kami lakukan di sentra perbelanjaan, baik itu berupa hipermarket maupun sentra komoditi seperti pakaian, elektronik maupun handphone menunjukan fakta bahwa konsumen justru lebih mengenal lokasi perbelanjaan di mana terdapat sentra belanja yang diisi oleh puluhan atau bahkan ratusan penjual produk sejenis, atau sentra perbelanjaan yang dipersepsikan sebagai terlengkap.

Pandangan yang kedua lebih memahami fenomena seperti ini. Dalam pandangan ini, keberadaan beberapa atau banyak kompetitor di sekitar outlet kita justru lebih menguntungkan. Karena dengan sendirinya (atau sudah dirancang sedemikian rupa) lokasi tempat kita berjualan akan menjadi sentra belanja yang memiliki daya tarik yang lebih kuat kepada lebih banyak konsumen untuk berbelanja. Pikir-pikir kan betul juga ya, buat apa kita buka di lokasi yang ramai tetapa sebagian besar orang hanya numpang lewat saja dan tidak berniat untuk berbelanja.

Tetapi dari sisi pengusaha atau penjual, bagaimana dapat bertahan dalam kondisi persaingan yang tampaknya sangat keras, karena saingan kita bisa berjumlah puluhan atau bahkan ratusan. Ternyata jawabannya sederhana, dalam persaingan usaha ternyata juga harus mengedepankan kepentingan bersama. Dan hal yang dapat dijadikan kepentingan bersama dalam situasi seperti ini adalah: semua harus dapat bertahan hidup! Karena bila semua usaha dalam lokasi tersebut hidup, maka lokasi tersebut akan tetap ramai dikunjungi konsumen. Bila satu demi satu mati, maka cepat atau lambat konsumen pun akan meninggalkan tempat tersebut. Bila semua bisa hidup, maka barulah semua dapat bersaing dengan sehat.

Oleh karena itu, mulai sekarang apabila kita masih enggan untuk menempati satu lokasi karena kita anggap sudah banyak kompetitor, atau saat ini kita mulai gelisah karena bermunculan kompetitor-kompetitor baru di sekitar tempat usaha kita, berhentilah dan buanglah semua pikiran negatif tersebut. Karena ternyata kompetitor, terlebih yang bertetangga dengan kita, adalah partner kita untuk melayani dan menarik konsumen yang lebih banyak lagi dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Inu Machfud R
BMI Research Jakarta

Sumber : www.okezone.com

Fighting Brand, Strategi Perang Antarproduk

Konon kabarnya, dari awal asal-usulnya manusia memang "disetel" untuk tidak pernah puas. Naluri dasar manusia memang akan selalu mencari sesuatu yang lebih dari yang sekarang pernah dicapai atau dimiliki. Tetapi ketidakpuasan tersebut sebenarnya merupakan motivator bagi kita untuk terus berkarya dan menghasilkan pencapaian-pencapaian yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Jamaknya, jika orang sudah punya mobil Toyota Avanza umpamanya, maka sedikit banyak pasti kepingin punya Innova atau Altis. Sudah punya rumah seharga Rp500 juta, pasti ada rasa ingin memiliki rumah yang berharga Rp1 miliar. Itu semua normal kan. Begitu juga yang berlaku dalam konteks marketing, kalau brand kita sudah berhasil menjadi leader di kota utama, kita ingin juga melakukan ekspansi ke kota lainnya. Kalau kita sudah punya produk untuk segmen menengah, kita jadi tergoda untuk coba-coba masuk ke segmen upper class.

Namun dalam dunia pemasaran atau marketing, konsepnya bisa terbalik. Jika konsumen selalu menginginkan produk di atas kelas dari barang yang sudah dimilikinya, maka produsen bisa sebaliknya, ingin menggarap pasar yang lebih rendah dibanding pasar yang kini tengah digarapnya.

Banyak kasus terjadi justru pemasar kelas premium melakukan ekspansi dengan meluncurkan produk dan merek kelas menengah. Heran? Tidak perlu! Paling tidak ada dua faktor yang menyebabkan fenomena ini. Pertama adalah keinginan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas.

Seperti yang telah dijelaskan dalam diskusi kita minggu lalu, ada kalanya para pemasar tergoda untuk menjual sebanyak-banyaknya. Repotnya jika produknya adalah produk premium, tentu jumlah segmen pelanggannya relatif kecil bukan. Meraih segmen pelanggan di bawahnya atau kelas menengah adalah cara yang kerap dilakukan dengan memberikan berbagai insentif seperti potongan harga atau bonus agar produknya dapat terserap. Tapi cara ini kurang sehat bagi kelangsungan merek premium dalam jangka panjang.

Faktor yang kedua adalah penetrasi produk subtitusi yang gencar. Bila produk kita pada awalnya begitu dicari karena keistimewaannya walaupun harganya mahal, maka kemunculan produk subtitusi yang memiliki ciri dan karakter yang mirip dengan harga yang berbeda dapat mengganggu penjualan kita. Selain itu, faktor lain yang mendorong munculnya produk subtitusi adalah menurunnya daya beli konsumen.

Maka itu harus dicari semacam alternatif, agar produsen tetap bisa mendapatkan yang terbaik dari semua segmen pasar. Misalnya, dia tetap bisa menjual produk eksklusifnya kepada pasar menengah ke atas, namun sementara itu tetap bisa menjangkau jumlah pelanggan yang sangat banyak dari kalangan menengah ke bawah, tanpa harus membuat produk eksklusifnya kehilangan image istimewa tersebut. Di sinilah fighting brand bisa berperan.

Sesuai dengan namanya, fighting brand memang diciptakan untuk "berantem" dengan produk-produk subtitusi. Selain itu, fighting brand juga dapat digunakan untuk meraih segmen sekunder diluar segmen utama kita (yang jumlahnya dapat saja jauh lebih banyak) selama segmen tersebut dinilai dapat menguntungkan.

salah satu kendala terhadap fighting brand yaitu adanya anggapan bahwa memiliki 2 brand berarti memiliki pengeluaran tambahan, karena biar bagaimana pun setiap brand memerlukan treatment agar dapat diterima oleh konsumen. Tapi dari sisi lain, pengeluaran tambahan itu menjadi tidak seberapa dibandingkan bila kita harus melakukan recovery terhadap merosotnya brand image merek utama kita akibat ikut-ikutan berperang pada segmen di bawahnya. Ingatlah, bahwa selalu lebih sulit untuk mengembalikan kepercayaan dibandingkan dengan meraih atau mempertahankannya.

Ingatkah Anda terhadap Citilink dari Garuda Indonesia? Ya, sejak tahun 2002 Garuda yang saat ini masih dipersepsikan sebagai airline kelas premium untuk level domestik memiliki fighting brand Citilink sebagai fighting brand untuk menghadapi perang harga. Alat-alat musik terkenal juga memainkan strategi ini. Gibson dan Fender, merek gitar elektrik legendaris, saat ini masing-masing memiliki fighting brand Epiphone dan Squire. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi pasar pengguna elektrik gitar pemula, yaitu anak muda yang sedang keranjingan rock n' roll.

Jadi yakinlah, bahwa yang terbaik adalah selalu fokus kepada inti bisnis Anda, termasuk juga fokus kepada segmen pasar yang Anda tuju. Fighting brand adalah alat yang dapat kita manfaatkan untuk mengantisipasi perkembangan yang ada di pasar. Dengan fighting brand, inti bisnis Anda tidak akan terganggu sementara Anda mengantisipasi perubahan.

Inu Machfud
BMI Research Jakarta




Sekuat Apa Pengaruh Influencer Terhadap Pembelian?

Kita semua tentu tidak asing dengan istilah influencer. Ya, influencer adalah pihak yang turut berperan untuk mempengaruhi konsumen dalam membeli produk.

Pengaruh yang diberikan oleh influencer terhadap pengambil keputusan ada bersifat rasional, dan ada pula yang bersifat emosional. Contoh, dalam membeli peralatan elektronik yang berharga cukup mahal dan memiliki kompleksitas cukup tinggi seperti sebuah komputer notebook, seorang pembeli akan cenderung meminta referensi kepada kerabat, rekan kerja dan bahkan penjual yang dinilai lebih berpengalaman dalam seluk beluk produk yang diinginkannya.

Dalam hal ini, influencer cenderung memberikan pengaruh yang bersifat rasional berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis seperti spesifikasi, kemudahan servis dan keterdapatan suku cadang. Sedangkan contoh influencer yang memberikan pengaruh yang lebih bersifat emosional adalah seperti saat seorang anak merengek untuk minta dibelikan makanan kesukaannya kepada sang ibu.

Dari contoh yang kita lihat di atas, tampak bahwa influencer dapat kita bedakan atas dua kategori. Yaitu influencer yang juga merupakan konsumen produk yang dibeli, baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya seperti anak yang minta dibelikan makanan tadi. Kategori yang kedua, influencer adalah penjual produk yang bersangkutan. Seperti penjual komputer yang kita mintakan saran tadi.

Pengaruh influencer berbeda-beda terhadap berbagai macam jenis produk. Secara umum ada pola-pola tertentu di mana pengaruh influencer terhadap sebuah produk lebih besar daripada produk yang lain. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas pengaruh dari influencer penjual terhadap produk.

Dari beberapa hasil riset didapatkan pola pada beberapa jenis produk di mana pengaruh influencer penjual sangat kuat terhadap pilihan pembelian konsumen. Produk-produk tersebut adalah kategori jenis produk suku cadang kendaraan bermotor (otomotif, termasuk minyak pelumas), bahan bangunan serta komputer/peralatan IT.

Untuk suku cadang kendaraan bermotor, kondisi pasarnya memang berbeda atara Indonesia dengan beberapa Negara lainnya, katakanlah seperti Singapura. Di Indonesia, konsumen cenderung mempertahankan kendaraan bermotor untuk dapat digunakan dalam jangka waktu selama mungkin. Kondisi ini memunculkan permintaan yang tinggi terhadap suku cadang kendaraan. Secara umum, konsumen Indonesia hanya mengenal 2 kategori suku cadang. Yaitu kualitas orisinil (suku cadang asli/OEM) dan kualitas nomor 2,3 dan seterusnya.

Pertimbangan utama pembelian suku cadang adalah harga dan daya tahan, bukan kepada mereknya. Konsumen tidak perduli apakah saat, misalnya, dia membeli shock absorber si penjual memberinya merek Kayaba atau Tokico. Selama kualitas dan harganya sesuai dengan rekomendasi penjual, konsumen tidak akan ambil pusing. Di sinilah peran penjual sangat vital dalam merekomendasikan merek. Dalam kasus ini terlihat bahwa ketergantungan produsen terhadap pedagang pengecer sangat tinggi.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, beberapa produsen pemilik merek, seperti busi Nippondenso dan ban Bridgestone atau pemegang homologasi merek suku cadang seperti Aspira, berinisiatif melakukan campaign agar konsumen aware terhadap merek mereka. Namun tetap sulit bagi sebagian besar konsumen untuk memahami spesifikasi teknik produk yang tepat bagi kebutuhan mereka.

Sebagai contoh, dari hasil survei kami terhadap pemilik kendaraan bermotor, hanya kurang dari 20 persen responden yang mengetahui arti dan manfaat dari standar SAE (tingkat kekentalan oli) dan standar API (tingkat kualitas oli, disesuaikan dengan spesifikasi mesin yang akan menggunakan). Selebihnya cenderung mempercayakan kepada toko suku cadang atau mekanik bengkel yang melakukan penggantian olinya untuk memilihkan merek yang terbaik.
Melanjutkan perbincangan kita terdahulu mengenai influencer. Ada beberapa jenis produk di mana peran pedagang sangat kuat sebagai inluencer, bahkan sangat menentukan dalam pembelian dan pemilihan merek. Jenis produk tersebut adalah suku cadang kendaraan bermotor (automotif, termasuk minyak pelumas), bahan bangunan, komputer/peralatan IT. Suku cadang kendaraan bermotor telah kita bahas sebelumnya, dan kali ini kita akan membahas 2 produk berikut.

Setelah suku cadang, jenis produk di mana influence pedagang sangat kuat adalah bahan bangunan. Apakah Anda memperhatikan merek pipa PVC apa yang digunakan dalam instalasi air bersih maupun pembuangan di rumah Anda? atau apakah Anda benar-benar memilih salah satu merek saat membeli perangkat handle pintu sekaliguus kunci pada pintu-pintu rumah Anda? kondisi inilah yang kami ungkap dalam beberapa penelitian kami.

Hampir sama seperti pada suku cadang kendaraan, dalam membeli bahan bangunan konsumen cenderung tidak meminta merek. Tetapi lebih kepada spesifikasi teknis yang dibutuhkan dan kualitas produk yang diinginkan. Misalnya saat membeli pipa PVC, konsumen biasanya akan meminta kepada penjual seperti ini, ".. minta pipa PVC ukuran ....inci, minta yang bagus dan nggak cepat pecah ya". Masalah apakah dia diberi produk dengan merek Maspion atau Wavin tidak akan dipersoalkan olehnya. Selama ukurannya tepat dan terbukti tidak cepat pecah.

Dalam hal ini, instalatur bangunan atau di Indonesia disebut sebagai ?tukang' justru lebih aware terhadap merek. Seperti halnya mekanik atau montir kendaraan bermotor, instalatur justru cenderung telah memiliki preferensi terhadap merek yang akan digunakan olehnya. Oleh karena itu, seringkali instalatur juga berperan sebagai influencer yang menentukan pembelian merek, atau bahkan instalatur adalah penentu pembelian itu sendiri.

Akan halnya dalam kategori produk computer atau peralatan IT, peran pedagang dan instalatur dalam merekomendasikan produk juga sangat kuat. Bahkan dalam kelas instalatur yang cukup besar, seperti untuk konsumen korporat, instalatur juga berperan sebagai konsultan yang menentukan jenis produk dan merek yang sebaiknya digunakan.

Beberapa produsen produk-produk ini juga memiliki kesadaran untuk mengurangi ketergantungan terhadap pedagang atau konsultan dengan malakukan campaign atau beriklan. Walaupun tidak secara serta merta berhasil menanamkan pemahaman dan menciptakan interest terhadap merek, minimal iklan tersebut ternyata berguna untuk memperkenalkan merek dan membentuk image terhadap kualitas produk. Dari kualitas inilah sebenarnya kunci yang dapat mengarahkan preferensi konsumen terhadap merek.

Namun yang patut dicatat adalah, kategori produk-produk ini memang lebih mengutamakan aspek fungsi (rasional) daripada gaya hidup (emosional). Oleh karena itu wajar apabila konsumen tidak memiliki preferensi berlebih terhadap merek disamping preferensi terhadap aspek fungsional.

Nah saudara, setelah kita mengetahui pemetaan antara influencer dan decision maker dalam pembelian produk, kita tentu dapat menentukan strategi targeting dan komunikasi yang lebih tajam, agar produk yang kita miliki dapat diterima oleh konsumen. (Tim BMI Research Jakarta)

Sumber :
www.okezone.com




Rabu, 07 Mei 2008

Desain dan manajemen kualitas

Keputusan penting dalam manajemen operasional adalah menentukan desain produk seperti apa yang akan dihasilkan perusahaan. Mengapa demikian ? Hal ini dikarenakan kegiatan dari manajemn operasional adalah melakukan transformasi input menjadi output, sehingga apa saja tindakan transformasi yang akan dilakukan mencacu pada output yang seperti apa atau bagaiman yang akan dihasilkan perusahaan. Berkaitan dengan keputusan desain adalah keputusan dalam menentukan kualitas seperti apa yang akan diwujudkan oleh perusahaan.

Hal ini merupakan konsekuensi logis bagi perusahaan yang ada, mengapa demikian ? Jawabannya cukup sederhana yaitu pada kenyataan dalam dunia bisnis terjadi persaingan artinya setiap perusahaan yang menghasilkan produk baik berupa barang maupun jasa hamper selalu menghadapi persaingan dari perusahaan lain. Sehingga agar dapat mempertahankan diri dalm dunia persaingan secara jangka panjang maka kualitas merupakan konsep penting yang harus dipahami oleh manajer operasional dalam menjalankan aktifitasnya . Konsep desain produk dan berbagi hal mengenai kualitas akan secara singkat dipaparkan dalam modul ini.

Desain Produk TOPIK5

APA YANG DIMAKSUDKAN DENGAN PRODUK ?

Perusahaan menghasilkan output untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen akan kepuasan, sehingga output yang dihasilkan seharusnya dapat memuaskan konsumen.

Oleh karena itu produk bisa diartikan sebagai kepuasan yang ditawarkan produsen (perusahaan) kepada konsumen. Untuk dapat mencapai maksud tersebuty maka sudah selayaknya perusahaan memfokuskan diri pada pengembangan keunggulan bersaing melalui strategi bisnis, diantaranya pembedaan (diferensiasi), biaya rendah (kepemimpinan biaya) , respon cepat (rapid respon) atau konmbinasi diantaranya ketiga strategi tersebut.

Suatu produk yang diciptakan baik berupa barang atau jasa bpad umumnya mengalami tahapan kehidupan produk (PLC = Product Life Cycle) melalui empat tahapan seperti yang terlihat dalam gambar berikut: Gambar Produk Life Cycle Penjualan Biaya Arua Kas Penjualan I G M D

Keterangan: I (Introduction) = tahap perkenalan G (growth) = tahap pertumbuhan M (Maturity) = tahap kedewasaan D (Decline) = tahap penurunan

1. PLC (Product Life Cycle) dan Pilihan Strategi Tahapan PLC Pilihan Strategi Perkenalan (Introduction) Masih menyesuaikan pasar dan banyak biaya untuk:

1) Riset, 2) Pengembangan produk, 3) Modifikasi proses, dan 4) Pengembangan pemasok.

Pertumbuhan (Growth) Desain produk sudah stabil sehingga perlu peramal- an kebutuhan kapasitas yang efektif dan perlu pening- katan kapasitas agar dapat memenuhi permintaan Kematangan

(Maturity) Pesaing sedah dapat dipastikan dan memerlukan ino- vasi, pengendalian biayaharus lebih baik, meningkat- kan keuntungan dengan pembatasan lini produk. Penurunan

(Decline) Produk hamper matimaka mungkin perlu menghenti- kan produk tersebut dan menggantinya dengan desain produk baru.

2. Analisa Produk berdasarkan nilai (Product by value analysis)

Berdasarkan prinsip pareto yaitu focus pada permasalahan yang sedikit tetapi penting ) maka memilih desain produk yang cocok seharusnya mengacu pada prinsip tersebut. Sehingga perlu menerapkan analisa produk berdasarkan nilai (product by value analysis) yaitu mengurutkan produk dari yang tertinggi ke yang terendah berdasarkan kontribusi niali uang dari masing-masing produk bagi perusahaan. Analisis tersebut juga mengurutkan kontribusi pendapatan total tahiunan dari tiap produk, sehingga apabila kontribusi per unit rendah mungkin akan terlihat berbeda jika tingkat penjualannya tinggi.

B. PENCIPTAAN PRODUK BARU

Produk yang dihasilkan perusahaan, dalam perjalanannya tentunya mengalami tahapan seperti yang sesuai siklus hidupnya, sehingga pemilihan produk, pendefinisian produk maupun desain produk perlu secara terus menerus diperbaharui . Oleh karenanya mengetahui bagaimana menciptakan dan mengembangkan produk baru dengan berhasil sudah merupakan suatu kewajiban perusahaan yang ingin terus hidup.

1. Peluang Penciptaan Produk Baru Keadaan yang memberikan peluang munculnya produk baru diantaranya adalah: 1. Pemahaman Konsumen 2. Perubahan Ekonomi 3. Perubahan Sosiologis dan demografis 4. Perubahan Teknologi 5. Perubahan Politik/Peraturan 6. Perubahan yang lain seperti: a. Praktek di pasar b. Standar profesi c. Supplier d. Distributor

2. Pentingnya Produk Baru Perusahana perliu terus menerus melakukan upaya penciptaan produk baru atau pembaharuan produk karena untuk dapat mengimbangi persaingan yang dihadapi diantaranya produk substitusi maupun perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen. Walaupun pada kenyataannya seringkali produk baru banyak yang gagal untuk dapat dipasarkan akan tetapi usaha yang terus-menerus untuk memperkenalkan produk baru harus tetap dilakukan . Oleh karenanya seleksi produk, pendefinisian produk maupun desain produk sangat penting dilakukan terus menerus sehingga manajer operasi dan organisasinya harus memahami resiko kegagalan yang mungkin terjadi. Dan harus menampung banyak produk baru sementara aktifitas yang dijalankan tetap dilakukan

C. SISTEM PENGEMBANGAN PRODUK

Sistim pengembangan produk bukan hanya demi keberhasilan produk tetapi juga untuk kepentingan masa depan perusahaan. Oleh karena itu melakukan pengembangan produk memerlukan tahapan sebagai berikut:

1.Tahapan Pengembangan Produk

a. Ide yang bisa berasal dari berbagai sumber dari dalam perusahaan misalnya bagian Riset dan Pengembangan dan dari luar melalui pemahaman perilaku konsumen, persaingan, teknologi, pekerja, persediaan. Tahapan ini menjadi dasar untuk memasuki pasar dan biasanya mengikuti strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan.

b. Kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk merealisasikan ide. Dengan melakukan koordinasi dari berbagai bagian yang terkait di perusahaan yang bersangkutan.

c. Permintaan konsumen untuk menang dalam bersaing dengan cara mengidentifikasi posisi dan manfaat produk yang diinginkan konsumen melaului atribut tentang produk.

d. Spesifikasi fungsional :Bagaimana suatu produk bisa berfungsi? Dengan melalui identifikasi karakteristik engineering produk, kemungkinan dibandingkan dengan produk dari pesaing.

e. Spesifikasi produk : Bagaimana produk dibuat? Melaui spesifikasi fisik seperti ukuran, dimensi.

f. Review desain: Apakah spesifikasi produk sudah yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan konsumen ?

g. Tes pasar: Apakah produk memenuhi harapan konsumen ? Untuk memastikan prospek ke depannya melalui perjualan dalam jumlah besar.

h. Perkenalan di pasar dengan memproduksi secara masal untuk dipasarkan.

i. Evaluasi: untuk mengukur sukses atau gagal, karena apabila gagal secara cepat bisa diganti produk lain.yang lebih menguntungkan.

2. Quality Function Deployment (QFD)

Adalah suatu proses menetapkan keinginan pelanggan tentang “apa yang diinginkan konsumen” dan menterjemahkannya menjadi atribut “bagaimana agar tiap area fungsional dapat memahami dan melaksanakannya. Alat yang digunakan dalam QFD adalah rumah kualitas (house of quality) yaitu merupakan teknik grafis untuk menjelaskan hubungan antara keinginan konsumen dan produk (barang atau jasa). Ada enam langkah dasar untuk membuat rumah kualitas yaitu: a. Identifikasi keinginan konsumen. b. Identifikasi bagaimana produk akan memuaskan keinginan konsumen. c. Hubungkan langkah 1 dan 2. d. Identifikasi hubungan diantara sejumlah hal dalam perusahaan pada konsep bagaimana pada perusahaan. e. Kembangkan tingkatan kepentingan. f. Evaluasi produk pesaing.

3. Pengorganisasian Pengembangan Produk Banyak perusahaan yang membuat departemen tersendiri untuk bagian penelitian dan pengembangan produk, kemudian departemen rekayasa manuifaktur untuk merancang produk, dilanjutkan departemen produksi yang memproduksi secara masal produk tersebut. Cara seperti itu mempunyai kelebihan yaitu adanya tugas dan tanggung jawab yang tetap tetapi mempunyai kelemahan yaitu kekurangan pemikiran ke masa depan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menugaskan seorang manajer prodyk untuk “memenangkan” produk melalui system pengembangan produk dan organisasi terkait. Ada juga pendekatan yang terbaru yaitu dengan menggunakan tim yang dikenal sebagai:

a. Tim Pengembangan Produk yang bertanggung ajawab untuk menerjewmahkan permintaan pasar menjadi sebuah produk yang dapat memnacapi keberhasilan produk dalam arti dapat dipasarkan, dapat diproduksi dan mampu memberikan pelayanan.

b. Tim Desain yang bertanggung jawab dalam membuat desain produk sesuai keinginan konsumen dan sesuai dengan kemampuan perusahaan untuk memproduksinya.

c. Tim Rekayasa Nilai yang biasanya terbentuk dari gabungan semua unsure yang terpengaruh yang dikenal dengan lintas fungsional sehingga pengembangan produk yang lebih cepat dilakukan melalui kinerja simultan dari aspek yang beragam.

4. Manufacturability dan Value Engineering Adalah aktifitas yang menolong memperbaiki desain, produksi, pemeliharaan dan penggunaan sebuah produk. Hal ini dilakukan dengan tujuan antara lain: a. Mengurangi kompleksitas produk. b. Standardisasi tambahan dari komponen. c. Perbaikan aspek fungsional produk. d. Memperbaiki desain pekerjaan dan keamanan pekerjaan. e. Memperbaiki kemudahan pemeliharaan produk. f. Desain yang tangguh

D. ISU-ISU YANG BERKAITAN DENGAN DESAIN PRODUK

Untuk mengembangkan system dan struktur organisasi yang efektif, maka ada beberapa isu penting yang harus dipahami yaitu antara lain: 1. Desain yang tangguh (Robust Design) Adalah sebuah desain yang dapat diproduksi sesuai dengan permintaan walaupun pad kondisi yang tidak memadai pada proses produksi. 2. Desain Modular (Modular Design) Adalah bagian atau komponen sebuah produk dibagi menjadi komponen yang dengan mudah dapat ditukar atau digantikan. 3. Computer Aided Design (CAD)

Adalah penggunaan sebuah computer secara interaktif untuk mengembangkan dan mendokumentasikan sebuah produk. 4. Computer Aided Manufacturing (CAM) Adalah penggunaan teknologi informasi untuk mengendalikan mesin. 5. Teknologi Virtual Realitas (Realty Virtual Technology) Adalah bentuk komunikasi secara tampilan dimana gambar menggantikan kenyataan dan biasanya pengguna dapt menanggapi secara interaktif. 6. Analisis Nilai (Value Analysis) Merupakan kajian dari produk sukses yang dilakukan selama proses produksi. 7. Desain yang ramah lingkungan (Environtmentally Friendly Design) Merupakan perancanagn produk yang telah memasukkan unsure kepekaan terhadap permasalan lingkungan yang sangat luas pada proses produksi. Cara yang bisa dilakukan antara lain dengan: a. Membuat produk yang dapat didaur ulang b. Menggunakan bahan baku yang dapt di daur ulang. c. Menggunakan komponen yang tidak membahayakan. d. Menggunakan komponen yang lebih ringan. e. Menggunakan energi yang lebih sedikit. f. Menggunakan bahan baku yang lebih sedikit.

E. PERSAINGAN BERDASAR WAKTU (TIME-BASED COMPETITION)

Manajer operasi yang menguasai seni pengembangan produk secara bertahap akan memenangkan persaingandari para pesaingnya yang le\bih lambat berarti bisa desebut manajer yang menguasai konsep persaingan berdasarkan waktu Adapun Pengembangan Produk secara Kontinyu dapat digambarkan sebagai berikut:

F. DOKUMENTASI PRODUKSI

Aktifitas dalam perusahaan diusahaan agar dapat terjadi kesinambungan maka perlu dokumentasi yangmemadai, oleh karena itu dokumentasi produksi perlu sekali dilakukan dalam program pengembangan produk. Adapun dokumentasi yang lazim dilakukan antara lain: 1. Gambar Perakitan (Assembly Drawing) yaitu pandangan produk yang dilepas masing-masing komponenya biasanya melalui gambar tiga dimensi atau isometris.

2. Diagram Perakitan (Assembly Chart) yaitu sebuah grafik sebagai jalan untuk menerangkan bagaimana komponen mengalir menjadi sub perakitan dan akhirnya menjadi produk jadi. 3. Lembar Rute (Route Sheet) yaitu merupakan daftar operasi yang dibutuhkan untuk memproduksi komponen dengan bahan yang dirinci dalam bill of material. 4. Perintah Kerja (Work Order) yaitu sebuah instruksi untuk membuat sejumlah kuantitas produk tertentu biasanya untuk jadwal tertentu. 5. Engineering Change Notices (ECN) yaitu sebuah perbaikan atau perubahan dari gambar teknik atau bill of material. 6. Manajemen Konfigurasi (Configuration Management) yaitu suatu system dimana sebuah produk direncanakan dan perubahan konfigurasi diidentifikasi secara akurat sementara pengendalian dan pertanggung jawaban suatu perubahan tetap terjaga.

G. DESAIN JASA

Situasi dan kondisi yang ada selamanya tidak selalu sama, demikian pula yang terjadi dalam duania bisnis. Sehingga konsep manajemen operasional juga harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dunia bisnis yang menghasilkan barang dan jasa. Untuk produk jasa seperti perbankan, keuangan, asuransi, transportasi, komunikasi, kesehatan dan berbagai jasa lainnya pada tahap perancangan mempunyai tantangan tersendiri karena karakteristiknya unik. Salah satu alasan produktifitas jasa susah diperbaiki adalah karena desain produk jasa memasukkan unsure interaksi konsumen. Dalam hal ini konsumen dapat berpartisipasi dalam : 1. Desain jasa, misalnya dengan spesifikasi desain dapat berupa kontrak atau penjelasan tertulis dengan foto (seperti operasi plastik atau tata rambut). 2. Pengantaran jasa seperti uji tekanan jantung atau proses melahirkan bayi. 3. Desain dan pengantaran jasa seperti konseling, pendidikan tinggi, manajemen kauangan pribadi atau menata interior.

Ada berbagai teknik yang dapat diterapkan pada produk jasa untuk mengefisienkan biaya dan meningkatkan produk diantaranya: 1. Penyelarasan selera (customization) yang ditunda sedapat mungkin. 2. Modulirize dengan menyediakan paket-paket. 3. Automatisasi atau mengurangi interaksi konsumen dengan menggunakan mesin untuk mengganti tenaga manusia. 4. Moment of Truthadalah saat penting antara penyedia jasa dan konsumen yang berkesan meningkatkan atau menurunkan harapan konsumen. Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! 1) Apa yang dimaksudkan dengan produk ? 2) Sebutkan dan jelaskan apa saja kondisi yang dapat memberikan peluang penciptaan produk baru ! 3) Jelaskan bagaimana tahapan pengembangan produk. 4) Apa yang dimaksudkan dengan QFD ? 5) Jelaskan berbagai isu yang berkaitan dengan Desain Produk . 6) Jelaskan apa saja strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam menghadapi persaingan berdasar waktu. 7) Jelaskan apa saja yang termasuk dalam dokumentasi produksi.. 8) Apa saja teknik yang dapat dilakukan dalam mendisain jasa agar biaya efisien dan produk meningkat ?

RANGKUMAN Strategi produk yang efektif memerlukan pemilihan desain produk yang kemudian mengimplementasikannya dalam kegiatan produksi. Apabila strategi ini dijalankan secara efektif maka fuyngsi produksi akan memberikan kontribusi maksimum pada organisasi. Manajer operasional selayaknya membangun system pengembangan produk yang memiliki kemampuan dalam merancang dan memproduksi sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif. Pada saat produk memasuki tahapan sesui PLCnya maka stategi yang harus diambil berubah-ubah. Untuk itu dokumentasi produksi perlu dilakukan, demikian juga untuk produk jasa.

Manajemen Kualitas TOPIK6

  1. PENGERTIAN KUALITAS

Untuk mempertahankan keberadaannya di pasar dalam jangka panjang, maka perusahaan yang bergerak di sektor barang maupun jasa harus berorientasi pada kualitas. Mengapa demikian ? karena kualitas dapat diartikan sebagai kemampuan suatu produk baik barang maupun jasa dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Sehingga dengan demikian perusahaan yang Perusahaan yang bergerak di sektor barang menghasilkan produk nyata yang berwujud sedangkan di sektor jasa menghasilkan produk yang merupakan pelayanan. Dengan demikian kegiatan ekonomi yang biasanya menghasilkan sesuatu yang wujudnya tidak nyata seperti pendidikan, hiburan, transportasi, administrasi, layanan keuangan, kesehatan disebut kegiatan di sektor jasa. Namun sekarang ini kecenderungan banyak produk yang merupakan kombinasi dari barang maupun jasa yang biasanya dikenal dengan istilah mix service. Akan tetapi apapun jenis produk yang dihasilkan perusahaan, sekarang ini harus memfokuskan pada kualitas karena bagi konsumen, produk yang berkualitas akan memberikan kepuasan sehingga kepercayaan untuk mengkonsumsi produk tersebut akan terus menjadikan loyalitas para konsumen akan produk tersebut Kualitas dapat didefinisikan sebagai kecocokan atau melebihi kebutuhan konsumen akan penggunaan produk . Memahami kualitas produk bias dilihat dari empat dimensi , seperti yang digambarkan berikut ini:

Gambar Dimensi kualitas Kualitas riset pasar Kualitas Rancangan Kualitas konsep Kualitas spesifikasi Teknologi Kualitas Kesesuaian Sumber Daya Manusia Manajemen KECOCOKAN PENGGUNA Kehandalan Ketersediaan Kemampuan Perawatan Dukungan Logistik Ketepatan Bidang Pelayananan Kompetensi Integritas Sumber: Scroeder (1993, 94)

Ada tiga alasan kualitas merupakan sesuatu yang penting yaitu: 1. Reputasi perusahaan. 2. Keandalan produk 3. Keterlibatan global Ada empat kategori biaya kualitas yang disebut cost of quality yaitu: 1. Prevention cost

Biaya yang terkait dengan pengurangan komponen atau jasa yang rusak, contoh: peletihan, program peningkatan kualitas. 2. Appraisal cost Biaya yang dikaitkan dengan proses evaluasi produk, proses, komponen dan jasa, contoh: biay apercobaan, laboratorium, pengujian. 3. Internal failure Biaya yang diakibatkan proses produksi yang menyebabkan kerusakan sebelum dikirim ke konsumen, contoh: rework, scrap, downtime. 4. External failure Biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen, contoh: retur, biaya social.

B. ISO (INTERNATIONAL STANDARD ORGANIZATION)

Perusahaan yang telah memutuskan untuk go internasional, lazimnya sudah memahami bahwa produk yang dihasilkan harsu memenuhi standar kualitas internasional. Oleh karena itu dikenal standar kualitas tunggal (Single Quality Standard) nyang mulai diterapkan sejak 1987 oleh ISO (International Standart Organization) yang beranggotakan 91 negara dengan mempublikasikan a series of quality standard. Adapun yang telah ada diantaranya: 1. ISO 9000 yang memfokuskan standar kualitas pada prosedur manajemen, kepemimpinan, dokumentasi secara rinci, instruksi kerja dan pelaporan. 2. ISO 9001 : terdiri dari 2.000 komponen untuk melihat kualitas. 3. ISO 14000 yangg memasukkan unsure standar manajemen lingkungan yang berisi lima elemen dasar yaitu: a. Manajemen lingkungan b. Auditing c. Evaluasi kinerja d. Pelabelan e. Penaksiran siklus hidup Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan standar kualitas tersebut diantaranya adalah: 1. Citra positif dari masyarakat dan mengurangi eksploitasi pada pertanggung jawaban. 2. Pendekatan sistimatis yang bagus pada pencegahan terhadap polusimelalui minimisasi dampak ekologi pada produk dan aktifitas. 3. Memenuhi ketentuan yang berlaku dan kesempatan memeperoleh keunggulan bersaing. 4. Mengurangi kebutuhan audit yang bermacam-macam.

C. TQM (TOTAL QUALITY MANAGEMENT)

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kualitas, maka banyak peryusahaan menerapkan konsep yang dikenal dengan TQM (Total Quality Management) yaitu Manajemen organisasi keseluruhan yang menjadikannya unggul dalam semua aspek produk barang dan jasa yang penting bagi konsumen.

TQM penting karena keputusan kualitas mempengaruhi setiap keputusan utama dalam manajemen operasional yang dibuat. Adapun konsep ini sebetulnya mengacu pada 14 prinsip dari W. Edwards Deming yang kemudian dikembangkan menjadi enam konsep program TQM yang efektif Adapun 14 Poin Deming adalah sbb: 1. Membuat tujuan yang konsisten 2. Memimpin dalam mempromosikan prubhan. 3. Membangun kualitas pda produk, menghentikan ketergantungan pada inspeksi untuk menangkap permasalahan. 4. Membangun hubungan jangka panjangberdasarkan kinerja bukan pada harga. 5. Meningkatkan produk, kualitas, dan jasa secara terus menerus. 6. Memulai pelatihan. 7. Menekankan kepemimpinan. 8. Membuang rasa takut. 9. Mendobrak batasan antar departemen. 10. Menghentikan pidato panjang lebar pada pekerja. 11. Mendukung, membantu, memperbaiki. 12. Mendobrak penghalang untuk bangga atar kinerja masing-masing. 13. Mendidikan program pendidikan yang kuat dan perbaikan mandiri. 14. Menempatkan orang di perusahaan untuk bekerja pada suatu transformasi. Sedangkan eman konsep program TQM yang efektif adalah:

1. Perbaikan terus menerus, menggunakan model diantaranya: a. PDCA (Plan Do Check Act) yaitu model dalam melakukan perbaikan terus menerus dengan merencanakan, melakukan, memeriksa , dan melakukan tindakan. b. Six Sigma atau Kaizen yaitu menjelaskan proses dari suatu perbaikan yang tidak pernah berhenti dengan penetapan pada pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Konsep ini banyak diterapkan di Amerika maupun Jepang. c. Zero defect yaitu prosrsd produk tanpa cacat yang juga digunakan untuk menjelaskan usaha perbaikan yang terus menerus. Konsep ini banyak diterapkan di Amerika Serikat.

2. Pemberdayaan Karyawan Adalah memperluas pekerjaan karyawan sehingga tanggung jawab dan kewenangan tambahan dipindahkan sedapat mungkin pada tingkat terendah dalam organisasi. Teknik yang digunakan termasuk: a. membangun jaringan komunikasi yang melibatkan karyawan. b. Membentuk penyelia yang terbuka dan mendukung. c. Memindahkan tanggung jawab dari manajer dan staf pada karyawan di bagian operasi. d. Membangun organisasi yang memiliki moral yang tinggi. e. Menciptakan struktur organisasi formal sebagai tim dan lingkaran kualitas.

3. Benchmarking Yaitu pemilihan standar kinerja yang mewakili kinerja terbaik sebuah proses atau aktifitas.

4. Just in Time (JIT) JIT berkaitan dengan tiga hal yaitu: a. JIT memangkas biaya kualitas b. JIT meningkatkan kualitas c. Kualitas yang lebih baik berarti persediaan yang lebih sedikit, serta system JIT yang lebih baik dan mudah digunakan. 5. Konsep Taguchi Dalam konsep ini disediakan tiga hal yang bertujuan memperbaikai kualitas produk dan proses yaitu: a. Ketangguhan kualitas (quality robustness) b. Fungsi kerugian kualitas (quality loss function-QLF) c. Kualitas berorientasi target (target oriented quality) 6. Pengetahuan mengenai Alat-alat TQM , yang paling umum ada tujuh macam yaitu: a. Lembar Pengecekan (Check Sheet) Adalah formulir yang didisain untuk mencatat data. b. Diagram Sebar (Scatter Diagram) Menunjukkan hubungan antar-dua perhitungan c. Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram) atau diagram ishikawa aytau diagram tulang ikan (Fish Bone Diagram) Adalah teknik skematis yang digunakan untuk menemukan lokasi yang mungkin pada permasalahan kualitas. d. Diagram Pareto (Pareto Chart) Adalah sebuah cara menggunakan diagram untuk mengidentifikasi masalah yang sedikit tetapi kritis tertentu dibandingkan dengan masalah yang banyak tetapi tidak penting. e. Diagram Alir (Flow Chart) Adalah diagram balok yang secara grafis menerangkan sebuah proses atau system. f. Histogram Menunjukkan cakupan nilai sebuah perhitungan dan frekuensi dari setiap nilai yang terjadi. g. Statistical Process Control (SPC) Adalah sebuah proses yang digunakan untuk mengawasi standar, membuat pengukuran dan mengambil tindakan perbaikan selagi sebuah produk atau jasa sedang diproduksi.

D. PENGAWASAN/INSPEKSI

Untuk memastikan bahwa sitem menghasilkan kualitas yang diharapkan maka perlu dilakukan pengendalian proses yang seringkali dengan cara pengawasan atau inspeksi yaitu jalan untuk memastikan bahwa sebuah operasi menghasilkan tingkat kualitas yang diharapkan. Dua masalah dasar yang berkaitan dengan inspeksi adalah Kapan dan dimana inspeksi dilakukan, biasanya terjadi pada salah satu titik berikut: 1. Pada pabrik supplier saat sedang meproduksi 2. Di tempat penerimaan produk dari supplier 3. Sebelum dilakukan proses yang mahal dan tidak dapat dirubah. 4. Selama tahap proses produksi. 5. Saat proses akhir atau selesai. 6. Sebelum produk diantar 7. Pada titik kontak konsumen. Inspeksi terbaik selalu dilakukan pada sumbernya sehingga dikenal Inspeksi Sumber yaitu pengendalian atau pengawasan pada titik produksi atau pada pembelian pada sumbernya. Adapun alat sederhana yang sering digunakan untuk melakukan inspeksi adalah Poka Yoke yaitu “ bebas dari kesalahan” berate teknik yang dapat memastikan produksi sebuah produk yang baik setiap saat.

Atribut Inspeksi

Pada saat melakukan inspeksi karakteristik kualitas dibagi dalam dua hal yaitu: 1. Inspeksi Atribut : menggolongkan barang baik dan barang cacat.

2. Inspeksi variabel : menghitung dimensi seperti berat, kecepatan, tinggi, kekuatan untuk melihat apakah produk masuk kriteria batas yang dapat diterima.

E. TQM DI SEKTOR JASA

Kualitas jasa susah untuk diukur dan tergantung pada persepsi pada ekspektasi dibandingkan kenyataan serta persepsi pada proses dan outputnya. Adapun kualitas jasa digolongkan dalam dua hal yaitu: 1. Normal yaitu pengantarabn jasa secara rutin. 2. Eksepsional yaitu bagaiman dapat mengatasi permasalahan. Manajer operasional; memainkan peranan penting dalam mengatasi beberapa aspek utama kualitas jasa yaitu: 1. Komponen terukur dari banyak jasa yang penting. 2. Proses jasa. 3. Manajer dapat mempengaruhi harapan jasa. 4. Manajer harus dapat mengharapkan pengecualian. Keempat aspek utama tersebut merupakan kunci jasa yang berkualitas. Adapun yang menentukan Kualitas Jasa adalah: 1. Reliabilitas berhubungan dengan konsistensi kinerja dan ketergantungan. 2. Daya saing berhubungan dengan kesiapan karyawan menyediakan layanan jasa. 3. Kompetensi berarti kepemilikan kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan jasa 4. Akses mengandung arti mudah didekati dan kemudahan kontak. 5. Kesopanan berhubungan dengan saling menghormati, keramahan. 6. Komunikasi berarti dapat menggunakan bahasa yang mudah dimengerti konsumen. 7. Kredibilitas mengandubng arti dapat dipercaya jujur. 8. Keamanan adalah bebas dari ketakutan dan keraguan. 9. Memahami berhubungan dengan mengenal kebutuhan konsumen. 10. Nyata termasuk bukti fisik dari jasa.

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini ! LATIHANa. Apa yang dimaksudkan dengan Kualitas ? b. Bagaimana cara kualitas meningkatkan keuntungan? c. Mengapa kualitas penting bagi perusahaan ? d. Sebut dan jelaskan berbagai biaya kualitas. e. Jelaskan apa yang dimaksudkan dengan ISO (International Standard Organization). f. Kapan dan dimana pengawasan / inspeksi dilakukan ? g. Jelaskan berbagai jenis inspeksi . h. Jelaskan mengenai TQM di sektor jasa.

Kualitas adalah istilah yang memiliki arti yang berbeda bagi orang yang brebeda. Kualitas merupakan fitur atau karakteristik total dari sebuah produk barang atau jasa yang dikaitkan dengan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang terlihat maupun tersirat. Menetapkan harapan kualitas sangat penting bagi operasi yang efisien dan efektif. Untuk mencapai kualitas perlu penerappan konsep TQM karena kualitas tidak dapat diperikasa pad asebuah produk. Topik ini membahas enam konsep TQM agar efektif serta berbagai hal berkaitan dengan kualitas jasa.

TES FORMATIF


Sikap yang Benar untuk Memulai Bisnis

Oleh : Pri Notowidigdo

Memulai bisnis pribadi merupakan hal yang menakutkan sekaligus menarik. Mengapa? Di satu sisi, ini dapat menimbulkan risiko besar. Di sisi lain, kesempatan besar dalam kehidupan juga menanti. Alhasil, masuk akal bila orang -- katakanlah Anda -? menjadi ingin tahu, apa saja sih yang melibatkan diri kita ketika memulai bisnis, dan apa saja yang bisa membuat langkah ini sukses.

Saya punya jawaban untuk hal tersebut: carilah jalan dari beberapa cara konvensional, tidak perlu langsung melakukan cara yang benar. Jadilah orang yang kreatif, fleksibel dan cepat tanggap terhadap perubahan yang terjadi dengan mendapatkan informasi tentang pangsa pasar dan peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi.

Bila diamati, orang-orang yang menjalankan bisnis pribadi kerap membicarakan beberapa hal penting. Yang paling sering: Apa tujuan pribadi mereka? Ya, apa sebenarnya tujuan pribadi melakukan hal ini? Mereka juga bertanya, apakah yang saya kehendaki dalam hidup? Di manakah saya berada 10 tahun mendatang? Jenis penghasilan seperti apa yang saya ingini?

Di sini, hasur saya nyatakan, tujuan pribadi bukanlah hal sepele. Anda harus memiliki atau mengetahui tujuan pribadi yang benar-benar penting bagi Anda. Ini penting, karena bukankah bisnis itu sesuatu yang menuntut?

Jadi, tanyakan pada diri sendiri, apakah sedang melakukan sesuatu yang ingin dilakukan. Tanya juga, apakah Anda bekerja dengan orang-orang yang Anda ingin bekerja sama untuk melakukannya? Apakah pengembalian investasi sudah seperti yang diharapkan? Bila muncul perasaan tidak senang, Anda tidak akan menjadi pengusaha yang baik.

Setelah tujuan pribadi, ide bisnis Anda haruslah disertai hasrat pribadi untuk memulai dan mengoperasikannya. Hasrat pribadi mesti menjadi bagian dari apa yang Anda kehendaki dalam hidup. Bila tidak, percayalah, semua ide yang Anda keluarkan tidak berarti sama sekali, dan jangan berharap bisa mengubah bisnis yang ada menjadi bisnis yang sukses.

Sekarang, katakanlah Anda tahu tujuan pribadi dan sangat berhasrat. Lantas, dari mana harus memulainya?

Jangan pusing. Pengalaman kerja adalah bagian dari ide bisnis. Sebagai contoh, bila Anda ingin membuka restoran dan belum pernah berkecimpung di dunia ini sebelumnya, masuk akal bila Anda bekerja terlebih dulu pada orang lain. Dengan cara ini, Anda akan terhindar dari kesalahan dalam membuat perhitungan biaya. Atau, bahkan tak jadi membuat bisnis resto karena setelah bekerja di situ dan mengerti pengoperasiannya, Anda jadi mengetahui resto bukan jenis usaha yang ingin Anda jalankan sebagai bisnis pribadi.

Selain pengalaman, pengetahuan dasar juga salah satu pintu masuk untuk memulai bisnis Anda. Di sini, Anda haruslah memiliki ide atau konsep yang lebih banyak Anda ketahui ketimbang orang lain. Insting atau perasaan bukanlah pengganti untuk pengetahuan. Anda bisa memperoleh pengetahuan dasar ini secara natural dengan memiliki pekerjaan yang relevan atau pengalaman berbisnis. Bisa juga diperoleh dengan banyak bertanya, mendengar, membaca, atau melakukan penelitian.

Terlepas dari apakah itu pengalaman atau pengetahuan dasar, yang pasti, pada kebanyakan orang, melimpahnya ide untuk memulai bisnis baru kerap bersumber pada keinginan yang sama: menjadi kaya dengan cepat. Benarkah hal ini?

Saya cenderung menyatakan bahwa memulai bisnis dengan sikap seperti itu bukan hal yang benar. Memang uang itu penting. Dan uang akan datang kemudian seperti yang kita ingini setelah melalui usaha yang keras. Namun, bertanyalah pada nurani kita, sebetulnya, penghargaan intrinsik seperti apakah yang akan Anda terima untuk semua usaha Anda?

Menurut saya, langkah pertama ketika memulai bisnis pribadi adalah: lakukanlah semua dengan sebaik-sebaiknya! Berikan sesuatu yang dibutuhkan orang. Dengan cara ini, yakinlah Anda akan dihargai terus-menerus meskipun barangkali Anda tidak menghasilkan uang banyak pada awalnya. Saya pikir hal ini merupakan inner vision. Dan, bukankah Anda sendiri tidak bisa selalu dimotivasi untuk menghasilkan profit?

Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan bersikap melakukan semua dengan sebaik-baiknya. Sikap ini akan menjadikan Anda memiliki komitmen sukses. Sikap ini juga membuat Anda terus melangkah dari keadaan sekarang untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari sehingga Anda pun bakal menjadi seseorang yang kaya ide, bervisi, dan sanggup menerapkan sesuatu yang lebih baik ketimbang orang yang mungkin Anda lihat merupakan sosok terbaik pada saat ini. Pendek kata, sikap ini menjadikan Anda orang yang tidak puas dengan pekerjaan yang average (rata-rata), melainkan orang yang puas dengan melakukan sesuatu yang besar (superior).

Inilah sikap yang penting ketika memulai bisnis pribadi. Dan, kalau Anda merasa memilikinya, Anda pantas memulai bisnis pribadi. Jadi, tunggu apa lagi?


Sumber: http://www.swa.co.id/swamajalah/periskop/details.php?cid=1&id=287



Ketika Brand adalah Segalanya

Oleh : Teguh Poeradisastra

Di era ekonomi citra sekarang ini, brand menjadi aset terpenting yang memukau konsumen dan menentukan sukses atau gagalnya perusahaan. Tak heran, brand-brand kuat menjadi rebutan pebisnis dan diperjualbelikan sebagai jalan pintas meraih sukses. Namun, mengapa banyak perusahaan kita yang masih setengah hati membangun brand-nya?

”What is in a name?” begitu penggalan ucapan William Shakespeare yang paling banyak dikutip. ”Mawar tetaplah harum meski namanya diganti dengan apa pun,” lanjut pujangga Inggris ini. William keliru besar. Mawar memang tetap harum seandainya namanya diganti. Namun, yang dicari orang adalah mawar – bukan bunga yang beraroma harum, berwarna indah, dan memiliki kelopak berlapis-lapis. Mawar sudah menjadi representasi dan asosiasi dari keharuman dan keindahan itu sendiri. Jika namanya diganti, para pecintanya akan menampik dan berpaling darinya.

Nama, brand atau merek adalah representasi dan asosiasi sebuah produk – baik mutu, harga, nilai, maupun gengsinya. Sepotong nama ini bisa berarti banyak. Brand adalah pukau, daya pikat, pesona sekaligus pembeda produk yang satu dari yang lain. Brand inilah yang memikat orang hingga mengagumi, memburu dan membeli sebuah produk atau karya. Tanpa brand yang menancap kuat di benak konsumen, sebuah produk hanyalah komoditas yang dihargai rendah meski mungkin dari sisi fungsional manfaatnya sama. Namun dengan brand yang kuat, harga produk yang sama tadi bisa menjadi berlipat ganda – bahkan priceless. Inilah yang membuat Kent Wertime dalam buku larisnya Building Brands & Believers menyebut di era ekonomi citra (the image economy) kini, peranan brand sebagai aset terpenting perusahaan akan kian berlipat ganda.

Stephen King, CEO WPP Group, London, mendefinisikan produk sebagai barang yang dihasilkan pabrik, sementara merek adalah sesuatu yang dicari pembeli. “Produk amat mudah ditiru, sementara merek selalu memiliki keunikan dan nilai tambah yang sangat signifikan. Produk cepat usang, sementara merek yang sukses akan bertahan sepanjang zaman,” katanya.

Simak saja brand GE (General Electric) dan Coca-Cola. Kedua merek ini bisa bertahan hingga ratusan tahun. Bahkan ketika tulang-belulang Dr. Thomas Alva Edison (pendiri GE) dan Dr. John S. Pemberton (pendiri Coca-Cola), telah memutih bahkan menyatu dengan tanah, kedua brand ini justru makin belia dan menguasai dunia.

Toh, untuk membangun brand yang kokoh dan mampu menggerakkan pembeli dengan suka rela mengeluarkan uangnya tidak mudah. Perlu usaha keras dan waktu relatif panjang untuk membuktikan keperkasaan merek, dan menjadikannya sebagai itik bertelur emas, yang terus-menerus menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Alhasil, untuk memperoleh merek yang bagus, orang tak ragu membeli merek itu; mengakuisisi seluruh atau sebagian besar saham perusahaan; atau menjalin kemitraan dengan pemilik merek cemerlang tadi. Ketiga pola ini banyak diterapkan perusahaan yang ingin menguasai atau turut merasakan sawab merek ini.

Pola pertama dilakukan The Coca-Cola Company ketika membeli brand AdeS, air minum dalam kemasan (AMDK) yang saat itu (tahun 2000) menduduki peringkat kedua pangsa pasar AMDK. Perusahaan ini rela menggerojokkan dana US$ 19,9 juta untuk mengambil alih brand AdeS dan beberapa merek lainnya (Desca, Desta dan Vica) di bawah PT Ades Alfindo Putra Setia. Pola ini juga dilakukan Unilever pada Sariwangi.

Pola kedua dilakukan Danone ketika mengakuisisi sebagian saham PT Aqua Golden Mississippi. Ketika itu, tahun 1999, produsen AMDK bermerek Aqua ini sedang kesulitan keuangan akibat krisis moneter yang melambungkan harga patokan eceran tertinggi kemasan AMDK, yang harus diimpor.

Pola ketiga juga bisa kita lihat pada kasus Aqua-Danone. Bermitra dengan perusahaan asal Prancis ini, merek Aqua ikut terkatrol. Danone adalah pemilik merek Evian, Ferarele, Volvic; Danone menguasai pasar lapisan atas, tengah hingga bawah; serta menjadi penguasa pasar di banyak belahan dunia. Evian, Ferarele dan Danone berjaya di pasar Eropa. Adapun di Amerika Serikat ia berkibar dengan bendera Danon (bukan Danone). Dengan menggandeng Danone dan melakukan co-branding, Aqua bisa lebih mudah menembus pasar ekspor. Sebaliknya, dengan bendera Aqua, Danone bisa menembus pasar Indonesia (yang sangat besar dan potensial), serta negara jiran seperti Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura. Berkat gandengan ini Aqua menjadi merek tunggal terbesar dengan volume penjualan terbesar di seluruh dunia.

Akuisisi merek – atau perusahaan pemilik merek – memang merupakan jalan pintas dalam strategi pertumbuhan anorganik. Ketimbang harus menunggu bagian riset dan pengembangan mengembangkan produk baru, meluncurkannya ke pasar, menggadang-gadangnya hingga kinclong dan menjadi jagoan, akan jauh lebih cepat dan kurang berisiko jika mengakuisisi merek yang telah mumpuni dan memiliki pasar yang loyal. Apalagi kita masih ingat sejumlah kegagalan meluncurkan merek. Bahkan raksasa sekaliber Unilever yang begitu berpengalaman dan tebal koceknya pun pernah tersandung ketika meluncurkan Tara Nasiku (1999)

Maka, logislah bila yang diakuisisi adalah merek-merek yang berkibar, seperti: Aqua oleh Danone; AdeS oleh Coca-Cola; kecap Bango, teh Sariwangi, snack Taro, jus Buavita dan Go-Go oleh Unilever; ABC oleh Heinz; kopi Tugu Luwak dan kecap Piring Lombok oleh Indofood; dan sebagainya. Konsekuensinya, tentu harganya tinggi. Pasalnya, ke dalam perhitungan harga ini termasuk pula nilai merek di mata konsumen, pangsa pasar, loyalitas konsumen, dan potensinya merebut konsumen masa depan, serta tentu saja goodwill-nya.

Pertanyaannya, jika memang merek itu kinclong dan merupakan itik bertelur emas yang terus-menerus menghasilkan untung, mengapa sang pemilik merek mau menjualnya. Ada banyak alasan. Mulai yang karena terjadi konflik di dalam keluarga pemilik merek seperti kasus kecap Bango; kekurangan modal atau terjepit posisi keuangannya (Aqua); membutuhkan mitra strategis (ABC, dan Aqua); hingga yang pemiliknya ingin beralih ke bisnis yang sama sekali berbeda (Sampoerna).

Apa pun alasannya, kita tentunya berharap agar akuisisi brand ini bersifat win-win, kedua pihak sama-sama puas dan meraih untung. Untuk itu kedua pihak harus terbuka dan memikirkannya masak-masak. Pemilik brand harus mengalkulasi apakah imbalan yang diterima cukup layak sebagai pengganti itik bertelur emasnya, dan apakah ia telah siap dengan bisnis penggantinya – baik dari sisi dana maupun kompetensi. Jika harus bermitra, harus ditelisik apakah mitra yang bakal disanding itu memang strategis untuk memperkuat bisnisnya, serta mampu menyumbang lebih banyak manfaat ketimbang mudarat. Begitu pula, pembeli merek pun perlu berhitung agar tak menyesal karena merasa membeli kucing dalam karung, bukan itik bertelur emas.



Sumber : http://www.swa.co.id/sekunder/kolom/pemasaran/branding/details.php?cid=2&id=252



Direct Selling: Fluktuatif, Tapi Tetap Menjanjikan


Oleh : Taufik Hidayat

Sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional, bisnis penjualan langsung di Indonesia pun mengalami pasang-surut. Persaingan yang kian ketat membuat para pelaku harus lebih kreatif menggarap pasar.

Sejak diperkenalkan di Indonesia pada 1990-an, bisnis direct selling – di Tanah Air lebih populer dengan sebutan bisnis multilevel marketing (MLM) – terus mengalami pertumbuhan. Dari tahun ke tahun omset yang dibukukan oleh perusahaan yang menganut sistem penjualan langsung ini terus meningkat.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI), dalam lima tahun terakhir pangsa pasar bisnis direct selling meningkat secara signifikan. Jika pada 2001 total pasar bisnis ini baru Rp 2,9 triliun, tahun 2005 total pasarnya meningkat dua kali lipat lebih, yaitu sebesar Rp 6,9 triliun. Jumlah tersebut hanya berdasarkan penjualan anggota APLI yang jumlahnya cuma 56 perusahaan. Padahal, jumlah perusahaan direct selling di Indonesia mencapai 130-an. Jadi, sebenarnya total pasar bisnis direct selling di Indonesia lebih besar lagi.

Toh, secara persentase, pertumbuhan bisnis direct selling di Indonesia sangat fluktuatif. Dari 2000 ke 2001, pertumbuhannya 15,3%. Akan tetapi, dari 2001 ke 2002, pertumbuhannya sangat fantastis: 52%. Dari 2004 ke 2005, bisnis ini hanya tumbuh 9,9%. Adapun dari 2005 ke 2006, bisnis direct selling di Indonesia menurun 4%. Hal ini merupakan dampak kenaikan harga BBM yang sangat besar pada akhir 2005. “Tahun 2007 diperkirakan kembali naik,” ungkap seorang pelaku bisnis yang enggan disebut jati dirinya.

Namun, sumber SWA di APLI mengklaim bahwa dari 2005 ke 2006, bisnis direct selling tetap tumbuh, walau cuma 5,13%. Dia mengatakan, market size bisnis ini pada 2006 sudah menembus angka Rp 7 triliun, tepatnya Rp 7,2 triliun.

Walau jumlah rupiah yang dikumpulkan dari bisnis ini tergolong cukup besar, kontribusinya terhadap total penjualan ritel masih di bawah 5%. “Tidak hanya di Indonesia, di tingkat dunia pun trennya seperti itu,” ungkap Helmy Attamimi, Ketua Umum APLI. Menurut Helmy, kontribusi direct selling terhadap total bisnis ritel memang tergolong kecil, tapi bisnis ini cukup dinamis. Setiap tahun selalu muncul perusahaan-perusahaan baru – meski ada juga yang mati. Ada pula perusahaan yang membentuk anak usaha atau mengembangkan pasar yang baru. “Banyak faktor yang membuat bisnis ini dapat terus tumbuh,” ujarnya. Meski menolak menyebut nama perusahaan, Helmy menuturkan, ada perusahaan yang berkembang karena berekspansi ke daerah, ada juga yang berkembang karena menambah jaringan.

Terus bertambahnya perusahaan direct selling berdampak pada meningkatnya jumlah mitra usaha (member) bisnis ini. Jika pada 2001 mitra usaha di perusahaan anggota APLI berjumlah 4.277.186 orang. Hingga 2005, jumlah mitra usaha bisnis direct selling di Indonesia melonjak menjadi 6.769.523 orang.

Mitra usaha memang menjadi salah satu faktor terpenting di bisnis direct selling. Bagaimana tidak, di tangan mitra usahalah nasib perusahaan direct selling digantungkan. Karena itu, belakangan muncul tren baru di bisnis ini: bajak-membajak leader. “Ada leader yang beralih dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Biasanya, leader tersebut juga membawa pindah semua downliner-nya,” jelas Helmy.

Ungkapan Helmy diamini Pongky Rivawanto, Manajer Dukungan Pemasaran dan Komunikasi PT Amway Indonesia. “Tingkat loyalitas di bisnis ini belum terlalu tinggi,” ujar Pongky. Meski begitu, ia mengatakan, bisnis ini berprospek bagus. “Jumlah distributor kami yang masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk membuat kami percaya bahwa bisnis ini akan lebih berkembang.”

Ketatnya persaingan di bisnis direct selling memaksa para pelakunya melakukan berbagai terobosan baru. Capriasi, misalnya. Perusahaan direct selling yang dikenal sebagai penjual tas, sepatu dan aksesori ini, sejak tiga tahun lalu gencar membangun merek. Menurut Andry A. Tardjono, Presdir PT Capriasi Multinasional Sejahtera, kondisi saat ini sangat berbeda dari kondisi awal 2000-an. Menurutnya, saat ini bukan eranya lagi bagi perusahaan direct selling mengandalkan sistem bonus, jalan-jalan dengan kapal pesiar, atau insentif lainnya.

Andry menyebutkan, sejak Capriasi memberi perhatian kepada merek dan produk, pertumbuhan penjualannya melonjak cukup signifikan. Pasalnya, awareness masyarakat terhadap merek Capriasi meningkat tajam, sehingga permintaan pun turut meningkat. Namun, bermain di merek dan produk, menurutnya, tentu memerlukan biaya yang tidak murah dan hal ini adalah risiko yang harus dijalankan. “Tapi dengan brand dan produk yang lebih dikenal, akan lebih mudah dijual dan lebih menarik.”

Selain membangun merek, perusahaan yang memiliki 160-an anggota ini juga mengembangkan sistem teknologi informasi yang lebih maju. Hal ini dilakukan untuk mendukung pergerakan bisnis internal dan transparansi sistem internal perusahaan. “Informasi adalah bagian penting untuk menimbulkan loyalitas pelanggan,” kata Andry.

Lain lagi dengan Amway. Salah satu pelopor direct selling di Indonesia ini membangun Experience Center, di Aldiron Plaza, Jakarta. Pongky menuturkan, selain untuk memajang produk-produk Amway, juga menonjolkan konsep pengalaman. “Konsep Experience Center ini adalah memperkenalkan para distributor supaya mengerti sejarah Amway internasional dan juga Indonesia,” ujarnya. Selain itu, distributor pun bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya, seperti tes darah, timbang berat badan, dan konsultasi kesehatan. “Itulah experience yang ingin diberikan oleh Amway Indonesia terhadap distributornya.“

Selain menggarap pasar dalam negeri, beberapa perusahaan direct selling nasional mulai pula mengembangkan sayapnya ke luar negeri. “Tapi biasanya ini hanya inisiatif dari leader (lokal) yang mencari downliner di luar negeri,” ungkap Helmy. Saat ini, menurutnya, belum bisa dikatakan ada perusahaan direct selling yang sudah melakukan ekspor.

Andry membenarkan ucapan Helmy. Menurutnya, meski pasar dalam negeri masih sangat menarik, Capriasi berniat mengembangkan usahanya ke luar negeri. Kendati demikian, mengembangkan pasar ke luar negeri membutuhkan konsep yang matang dan waktu yang tepat. “Perlu dipertimbangkan lebih jauh,” ujar Andry.

Ke depan, Helmy menyebutkan bahwa bisnis direct selling di Indonesia masih menjanjikan potensi yang sangat besar. Market size bisnis ini di Malaysia, dikatakannya, jauh lebih besar ketimbang di Tanah Air. Penyebabnya, bisnis ini lebih dulu populer di negeri jiran itu ketimbang di Indonesia. “Jumlah penduduk Indonesia jauh lebih banyak dari Malaysia, jadi prospeknya masih sangat besar,” katanya tandas. Selain itu, berkat edukasi yang dilakukan para pemain di bisnis ini, pengetahuan masyarakat akan bisnis direct selling pun terus meningkat. “Makin hari makin banyak (yang tertarik), setelah orang mulai mengerti apa itu direct selling.”


Reportase: Andry Mahyudi, Eddy Dwinanto Iskandar, S. Ruslina, Rias Andriati dan Wini Angraeni
Riset: Sarah Ratna


BOKS

Kenali Perbedaannya Agar Tidak Tertipu


Kisah Robert Angkasa yang menjadi miliarwan berkat bisnis direct selling sudah banyak diketahui masyarakat. Robert bisa mengubah hidupnya dari orang biasa menjadi luar biasa. Cerita tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk bergabung dengan perusahaan direct selling.

Namun, menurut pengamat bisnis direct selling Nur Kuncoro, masyarakat harus sangat hati-hati sebelum bergabung dengan salah satu perusahaan direct selling. Nur mengatakan, saat ini banyak perusahaan yang menjadikan pola direct selling sebagai kedok semata. Padahal, apa yang dilakukan perusahaan tersebut dapat dikategorikan sebagai money game. “Biasanya harga produk yang dijual oleh perusahaan jenis ini tidak masuk akal.”

Nur mencontohkan. Ada perusahaan yang menjual kaus kaki seharga Rp 6 juta. Member yang membeli produk tersebut diminta untuk merekrut member lain dengan cara yang sama, yaitu membeli produk dari bandar. ”Setiap berhasil mendapat member baru, akan mendapat sepersekian dari harga barang. Demikian seterusnya,” katanya menjelaskan.

Menurut Nur, money game sudah di luar batasan direct selling. “Tapi mau dibilang penipuan, yang ditipu kok sadar. Makanya, banyak yang bilang kepada korban, Anda tertipu atau serakah,” katanya.

Direct selling, menurut Nur, terbagi atas tiga jenis, yaitu single level marketing (SLM), limited level marketing (LLM) dan MLM. Secara garis besar, perbedaan SLM/LLM dari MLM adalah pada terbatasnya jenjang penjualan. SLM dan LLM sistem penjualannya hanya melalui satu tingkat yang disebut franchise dealer. ”Contohnya, Avon yang sudah almarhum. Jenjangnya adalah Avon, franchise dealer dan konsumen. Franchise dealer membeli dari perusahaan dan menjual kepada konsumen,” ujarnya seraya menyebutkan, fokus SLM dan LLM memang selain mengonsumsi sendiri juga menjual, tidak seperti MLM yang kebanyakan untuk dikonsumsi sendiri.

Dalam SLM juga terdapat sistem rekrutmen. “Namun, perusahaan merekrut konsumen yang penjualannya sudah banyak untuk dijadikan dealer,” ujarnya. Akan tetapi, tidak seperti MLM, dealer dalam SLM tidak menjadi member dari dealer yang sebelumnya merekrut dirinya, melainkan berdiri sendiri dan berhubungan langsung dengan perusahaan.

LLM tidak jauh berbeda dari SLM, hanya saja jenjangnya 1-2 tingkat lebih panjang. Biasanya perusahaan LLM memiliki distributor, dealer dan selanjutnya member atau konsumen akhir.

Yang sangat berbeda adalah MLM. Perusahaan MLM akan merekrut first line leader yang disebut sebagai leader jaringan. Selanjutnya, leader ini akan merekrut second line, lalu second line merekrut third line dan seterusnya. “Umumnya perusahaan membatasi sampai 12 jenjang,” ujarnya. Berbeda dari SLM atau MLM yang setelah menjadi dealer atau distributor akan membeli langsung dari perusahaan, ”Di MLM downliner (bawahan) dari seorang upliner sampai mati akan terus menjadi downliner-nya meski sudah besar,” ujarnya.

Dari sisi insentif, semua perusahaan -- baik SLM, LLM ataupun MLM -- biasanya menawarkan insentif berupa uang, perjalanan ke berbagai tempat wisata dunia atau barang-barang berharga. “Atau, bisa juga kombinasi ketiganya,” ujar Nur. Sistem insentif dalam SLM dan LLM tidak jauh berbeda. Adapun dalam sistem MLM, seorang upliner akan terus mendapat insentif dari downliner-nya seiring dengan pertumbuhan jaringan di bawahnya.


URL : http://www.swa.co.id/sekunder/kolom/pemasaran/strategi/details.php?cid=2&id=253

Sabtu, 03 Mei 2008

MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN ETIKA BISNIS DALAM PERUSAHAAN

.... being ethically literate is not just about giving large sums of money for charity. It is about recognizing and acting on potential ethical
issues before they become legal problem ( Berenheim).


Kalimat pembuka yang disampaikan oleh Ronald E. Berenheim dari New York University (2001) tampaknya sangat relevan dengan topik kita saat ini. Karena semenjak terjadinya kasus Enron (2001) dan Worldcom (2002) perhatian perusahaan-perusahaan besar kelas dunia terhadap upaya melakukan revitalisasi penerapan etika bisnis dalam perusahaan makin berkembang. Hal ini terutama didesak oleh kepentingan para pemegang saham agar Direksi lebih mendasarkan pengelolaan perusahaan pada etika bisnis, karena pemegang saham tidak ingin kehancuran yang terjadi pada Enron dan Worldcom terulang pada perusahaan mereka. Demikian pula stakeholders (pemangku kepentingan) lainnya pun tidak ingin tertipu dan ditipu oleh pengelola perusahaan. Walaupun sebelumnya telah diperingatkan pula dengan kasus Baring dengan aktornya Nicholas Leeson (1995).

Di Indonesia tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata. Pada umumnya baru sampai tahap pernyataan-pernyaaatn atau sekedar “lips-service” belaka. Karena memang enforcement dari pemerintah pun belum tampak secara jelas.

Sesungguhnya Indonesia harus lebih awal menggerakan penerapan etika bisnis secara intensif terutama setelah tragedi krisis ekonomi tahun 1998. Sayangnya bangsa ini mudah lupa dan mudah pula memberikan maaf kepada suatu kesalahan yang menyebabkan bencana nasional sehingga penyebab krisis tidak diselesaikan secara tuntas dan tidak berdasarkan suatu pola yang mendasar. Sesungguhnya penyebab utama krisis ini, dari sisi korporasi, adalah tidak berfungsinya praktek etika bisnis secara benar, konsisten dan konsekwen. Demikian pula penyebab terjadinya kasus Pertamina tahun (1975), Bank Duta (1990) adalah serupa.

Praktek penerapan etika bisnis yang paling sering kita jumpai pada umunya diwujudkan dalam bentuk buku saku “code of conducts” atau kode etik dimasing-masing perusahaan. Hal ini barulah merupakan tahap awal dari praktek etika bisnis yakni mengkodifikasi-kan nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis bersama-sama corporate-culture atau budaya perusahaan, kedalam suatu bentuk pernyataan tertulis dari perusahaan untuk dilakukan dan tidak dilakukan oleh manajemen dan karyawan dalam melakukan kegiatan bisnis.

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil (fairness), sesuai dengan hukum yang berlaku (legal) tidak tergantung pada kedudukani individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan “grey-area” yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.

Menurut Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988) yang berjudul Managerial Ethics Hard Decisions on Soft Criteria, membedakan antara ethics, morality dan law sebagai berikut :
  • • Ethics is defined as the consensually accepted standards of behavior for an occupation, trade and profession
  • • Morality is the precepts of personal behavior based on religious or philosophical grounds
  • • Law refers to formal codes that permit or forbid certain behaviors and may or may not enforce ethics or morality.

Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika kita :
  1. Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensi nya. Oleh karena itu dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
  2. Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuan nya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
  3. Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.
Dari pengelompokan tersebut Cavanagh (1990) memberikan cara menjawab permasalahan etika dengan merangkum dalam 3 bentuk pertanyaan sederhana yakni :
  • Utility : Does it optimize the satisfactions of all stakeholders ?
  • Rights : Does it respect the rights of the individuals involved ?
  • Justice : Is it consistent with the canons oif justice ?

Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini? Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.
Contoh kasus Enron yang selain menhancurkan dirinya telah pula menghancurkan Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen yang memiliki reputasi internasional, dan telah dibangun lebih dari 80 tahun, menunjukan bahwa penyebab utamanya adalah praktek etika perusahaan tidak dilaksanakan dengan baik dan tentunya karena lemahnya kepemimpinan para pengelolanya. Dari pengalaman berbagai kegagalan tersebut, kita harus makin waspada dan tidak terpana oleh cahaya dan kilatan suatu perusahaan hanya semata-mata dari penampilan saja, karena berkilat belum tentu emas.

Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena :
  • • Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
  • • Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
  • • Akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga
  • • Akan meningkatkan keunggulan bersaing.

Tindakan yang tidak etis, bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yany tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier. Karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan oleh karena itu semaksimal mungkin harus tetap dipertahankan.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
  • • Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
  • • Memperkuat sistem pengawasan
  • • Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.

Ketentuan tersebut seharusnya diwajibkan untuk dilaksanakan, minimal oleh para pemegang saham, sebagaimana dilakukan oleh perusahaan yang tercatat di NYSE ( antara lain PT. TELKOM dan PT. INDOSAT) dimana diwajibkan untuk membuat berbagai peraturan perusahaan yang sangat ketat sesuai dengan ketentuan dari Sarbannes Oxley yang diterbitkan dengan maksud untuk mencegah terulangnya kasus Enron dan Worldcom.
Kesemuanya itu adalah dari segi korporasi, bagaimana penerapan untuk individu dalam korporasi tersebut ? Anjuran dari filosuf Immanual Kant yang dikenal dengan Golden Rule bisa sebagai jawabannya, yakni :
  • • Treat others as you would like them to treat you
  • • An action is morally wrong for a person if that person uses others, merely as means for advancing his own interests.

Apakah untuk masa depan etika perusahaan ini masih diperlukan ? Bennis, Spreitzer dan Cummings (2001) menjawab “ Young leaders place great value on ethics. Ethical behavior was identified as a key characteristic of the leader of the future and was thought to be sorely lacking in current leaders.”
Dan kasus Enron pun merupakan pukulan berat bagi sekolah-sekolah bisnis karena ternyata etika belum masuk dalam kurikulum misalnya di Harvard Business School. Sebelumnya mahasiswa hanya beranggapan bahwa “ethics as being about not getting caught rather than how to do the right thing in the first place”.

Yogyakarta, 13 April 2006



DAFTAR PUSTAKA
1. Bennis Warren, Spreitzer Gretchen M, Cummings Thomas, The Future of Leadership, Jossey-Bass, San Fransisco (2001).
2. Berenheim Ronald, The Enron Ethics Breakdown, The Conference Board Inc., New York (2001).
3. Cavanagh, G.F. , American Business Values, 3rd Edition, Prentice Hall, New Jersey ( 1990).
4. Fusaro Peter C., and Miller Ross M., What Went Wrong at Enron, John Willey & Sons, New Jersey, 2002.
5. Von der Embse and Wagley R.A.., Managerial Ethics Hard Decisions on Soft Criteria, SAM Advanced Management Journal (1994).
6. Zhang Peter G., Baring Bankruptcy and Financial Derivatives, World Scientific, Singapore (1995)

(Disampaikan oleh : Setyanto P. Santosa pada acara Seminar Nasional Audit Internal YPIA, Yogyakarta, 12 – 13 April 2006)


Seni Propaganda: 7 Taktik Untuk Mempengaruhi Perilaku

Propaganda diciptakan untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku orang, dengan tujuan menghasilkan respon yang memenuhi sasaran pelaku propaganda. Politikus, media, dan pemerintah sering menggunakan propaganda untuk memperoleh dukungan atas kebijakan yang dikeluarkan.

LECTURE RESUME'S - Propaganda memiliki banyak kesamaan dengan pemasaran (marketing) atau periklanan (advertising), terutama dalam hal pesan yang dibuat secara khusus dan selektif untuk mendorong/menggugah emosi penerima pesan (recipient).

Cara ini juga dapat anda terapkan untuk kepentingan promosional.

Bukan berarti bahwa anda menipu konsumen atau pembaca dengan memberikan fakta dan informasi palsu yang menyesatkan, namun metode propaganda ini berguna untuk mengkondisikan kampanye pemasaran dalam frame yang menarik minat audien anda.

Pada tahun 1939, Institute for Propaganda Analysis di New York menerbitkan artikel tentang tujuh alat propaganda.

Propaganda dan Masalah Atensi

Internet adalah jaringan informasi yang sangat besar. Terlalu banyak informasi untuk dikonsumsi, sementara terlalu sedikit waktu yang tersedia. Pengguna internet belajar untuk menyaring pengalaman berinternet mereka dengan menggunakan mesin pencari (search engine), RSS feed, dan situs-situs social media. Mencari informasi atau hiburan dengan memonitor berbagai saluran.

Anda mungkin sudah berlangganan sejumlah blog dan pengumpan (feed) informasi dengan topik tertentu. Jumlah konten yang sedemikian banyak berujung pada terpecahnya perhatian (atensi). Publisher blog dan marketer serta pelaku e-business harus mengatasi masalah information overload ini.

Although few studies have looked at this topic, it seems fair to suggest that many people respond to this pressure [of information overload] by processing messages more quickly and, when possible, by taking mental short-cuts.

Propagandists love short-cuts — particularly those which short-circuit rational thought. They encourage this by agitating emotions, by exploiting insecurities, by capitalizing on the ambiguity of language, and by bending the rules of logic.

Dari tujuh teknik yang akan dijelaskan di bawah, kebanyakan menekankan penggunaan picu emosi (emotional triggers) untuk mendorong dilakukannya tindakan segera. Tujuannya untuk menghubungkan audien dengan pesan dalam waktu yang singkat secara mendalam, yaitu dengan cara mengasosiasikan pesan tersebut dengan nilai-nilai (values) dan konsep yang dimiliki audien.

Bernice Fitz-Gibbon, seorang pionir dalam dunia retail advertising mengatakan; «A good ad should be like a good sermon: It must not only comfort the afflicted, it also must afflict the comfortable.»

Tujuh Teknik Propaganda

Studi propaganda telah mengalami perkembangan pesat sejak awal abad ke-20. Ketujuh teknik propaganda ini adalah model awal propaganda dan tidak terlalu komprehensif, meski demikian model awal ini akan memberi anda pengenalan tentang bagaimana propaganda dapat berperan dalam lingkungan sosial.

Saya tuliskan deskripsi singkat untuk masing-masing teknik tapi sengaja tidak mencantumkan tentang bagaimana anda dapat menggunakannya untuk kampanye pemasaran/branding yang anda upayakan, karena sebetulnya tidak sulit untuk mengadopsi taktik ini dan menerapkannya sendiri.

Beberapa metode seperti name-calling kurang cocok untuk tujuan pemasaran, kecuali tujuan anda adalah untuk mendapat publisitas dengan membangitkan kontroversi. Namun mungkin anda bisa memanfaatkan teknik tersebut (dan semua teknik propaganda lainnya) secara lebih cerdas.

1. Name-calling

Teknik ini menggunakan kata-kata yang menghubungkan seseorang atau ide dengan konsep yang negatif. Tujuannya untuk membuat orang menolak sesuatu karena asosiasi negatif yang melekat pada orang atau ide tersebut tanpa melihat kenyataannya.

Contoh kata yang digunakan ; 'Teroris', 'Nazi', 'Rasis', 'Homo'.

Name Calling is used as a substitute for arguing the merits of an idea, belief, or proposal. It is often employed using sarcasm and ridicule in political cartoons and writing.

2. Glittering Generalities

Kebalikan dari name-calling, taktik ini menggunakan highly valued concepts dan beliefs yang membuat audien merasa positif dan mengundang tepuk tangan meriah bila di-orasikan di depan massa. Kata-kata yang digunakan biasanya bermakna rancu, namun atraktif seperti ; 'Freedom', 'Honor', 'Love'.

Arti kata di atas bisa berbeda untuk tiap pendengar, namun teknik ini dapat berfungsi karena secara umum mempunyai konotasi positif.

When someone talks to us about democracy, we immediately think of our own definite ideas about democracy, the ideas we learned at home, at school, and in church.

Our first and natural reaction is to assume that the speaker is using the word in our sense, that he believes as we do on this important subject. This lowers our 'sales resistance' and makes us far less suspicious..

3. Transfer

Ini adalah teknik yang digunakan oleh pelaku propaganda untuk «memindahkan» otoritas dan penerimaan atas sesuatu yang anda hormati atau puja menjadi sesuatu yang ingin anda miliki. Cara yang digunakan yaitu dengan memproyeksikan sifat-sifat entitas, orang, atau simbol ke dalam wujud lainnya melalui asosiasi/penghubungan visual atau mental.

Hal ini menstimulasi penerima pesan/resipien untuk mengidentifikasikan dirinya dengan otoritas tersebut.

In the Transfer device, symbols are constantly used. The cross represents the Christian Church. The flag represents the nation. Cartoons like Uncle Sam represent a consensus of public opinion. Those symbols stir emotions. At their very sight, with the speed of light, is aroused the whole complex of feelings we have with respect to church or nation.

4. Testimonial

Tujuan testimonial adalah untuk menguatkan pengalaman, otoritas dan rasa hormat seseorang dan menggunakannya untuk mempromosikan sebuah produk atau hal. Testimonial memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat terhadap emosi daripada terhadap logika, karena testimonial sejatinya memberikan pembenaran yang lemah atas suatu produk atau tindakan.

'The Times said,' 'John L. Lewis said…,' 'Herbert Hoover said…', 'The President said…', 'My doctor said…,' 'Our minister said…' Some of these Testimonials may merely give greater emphasis to a legitimate and accurate idea, a fair use of the device; others, however, may represent the sugar-coating of a distortion, a falsehood, a misunderstood notion, an anti-social suggestion…»

5. Plain Folks

Teknik di mana pelaku propaganda menempatkan dirinya sebagai orang biasa seperti halnya target audience, untuk menunjukkan kemampuannya ber-empati dan memahami kepedulian/perasaaan massa.

Pelaku menunjukkan perilaku atau menggunakan bahasa dan sikap yang menyatu dengan sudut pandang audien.

We are all familiar with candidates who campaign as political outsiders, promising to «clean out the barn» and set things straight in Washington. The political landscape is dotted with politicians who challenge a mythical «cultural elite,» presumably aligning themselves with «ordinary Americans.» As baby boomers approach their sixth decade, we are no longer shocked by the sight of politicians in denim who listen to rock n roll.

6. Card Stacking

Sebuah cara yang memanipulasi persepsi audien dengan menekankan satu sisi argumen yang memperkuat posisi anda, sambil di sisi lain menekan/meminimalisir opini yang bertentangan. Contohnya memperbandingkan best possible scenarios dengan worse examples.

Assume a newspaper editor were in favor of the non-enforcement of immigration laws. Should the issue of immigration law enforcement ever be debated among legislators, the editor might publish articles and editorials that ignore all mention of illegal alien criminals, gang members, and prisoners and report only on decent, hard-working foreigners instead. This sort of card stacking could go on for weeks and influence public opinion on the issue.

7. Bandwagon

Dalil dasar teknik bandwagon adalah 'since everyone is doing it, you should too'. Tujuannya mem-persuasi orang lain untuk mengikuti trend umum dengan cara memperkuat keinginan manusia untuk berada pada sisi yang menang. Pelaku 'mengompori' audien bahwa mereka akan kehilangan atau ketinggalan sesuatu bila tidak ikut bergerak dengan massa lainnya. Memanipulasi rasa takut dan rasa tidak aman.

With the aid of all the other propaganda devices, all of the artifices of flattery are used to harness the fears and hatreds, prejudices and biases, convictions and ideals common to a group. Thus is emotion made to push and pull us as members of a group onto a Band Wagon.

Sumber berasal dari Propaganda Critic. Lebih lengkapnya ada di sana. Tujuh teknik propaganda umum yang mungkin sudah sering anda alami dari media massa.