Senin, 23 Februari 2009

Teori Social Marketing

Definisi Social Marketing

Berdasarkan definisi dari para ahli, social marketing pada dasarnya merupakan aplikasi strategi pemasaran komersil untuk “menjual” gagasan dalam rangka mengubah sebuah masyarakat, terutama dalam manajemen yang mencakup analisa, perencanaan, implementasi dan pengawasan.

Marketing menurut Hermawan Kertajaya adalah sesuatu yang sederhana. Ia mengumpamakannya sebagai seni “menjual” diri (selling self) atau organisasi. Apabila seseorang atau organisasi mempraktikkan prinsip-prinsip: promosi tanpa memaksa, memahami dan menerapkan positioning secara tepat, memahami branding dan diferensiasi berarti lembaga atau seseorang perusahaan telah menjalankan marketing dengan benar.

Hermawan mengistilahkan dasar-dasar marketing sebagai “3i Marketing Triangle”, yaitu positioning (cara sasaran/publik yang hendak diubah perilakunya mendefinisikan perusahaan/organisasi dengan kompetitor), differentiation (perbedaan ) dan brand (keunikan, ketajaman, dan fokus sebuah produk dibandingkan dengan produk lainnya, bisa berupa logo dan bentuk unik). Telah dikenal 9 elemen marketing (segmentasi pasar, target, positioning, diferensiasi, marketing mix, selling, brand, service dan process).

Proses Social Marketing:

1. Terapkan SWOT (Strenght Weakness Opportunity Threat) pada analisa kondisi awal

2. Pilih kelompok sasaran yang perilakunya hendak diubah

3. Tetapkan perubahan perilaku yang diinginkan

4. Identifikasi manfaat atau hambatan dalam mengubah perilaku

5. Terapkan strategi social marketing yang beranekaragam untuk mengelakkan hambatan dan mengejar manfaat

6. Perubahan perilaku memakan waktu sehingga strategi social marketing harus diusahakan secara gigih dalam waktu lama dengan indikator prestasi yang terukur

Penerapan social marketing merupakan salah satu bagian dari sebuah framework yang disebut “doing great by doing good” (Philip Kotler & Nancy Lee, “Corporate Social”). 6 pilihan untuk berbuat baik tersebut adalah cause promotions, cause related marketing, social marketing, corporate philantropy, community volunteering. Social marketing merupakan upaya untuk mendukung implementasi dan/atau mengubah perilaku masyarakat.

Hermawan berpendapat bahwa pemasaran di masa kini menjadi lebih berhasil apabila memperbanyak strategi marketing horisontal (dari individu ke individu). Misalnya, dengan membuat situs web. Cara-cara vertikal seperti menggunakan metode komunikasi satu arah kini kurang efektif. Hal serupa menurut, Hermawan berlaku untuk social marketing. Marketing seharusnya tidak dipandang hanya sebagai sebuah alat atau seolah anggota tubuh. Pandanglah marketing sebagai sebuah keseluruhan (the whole), sesuatu yang menyeluruh. Menurut Hermawan, di masa kini visi, misi dan nilai-nilai organisasi tidak hanya melibatkan intelektualitas (mind) dan hati (heart),melainkan juga ruh (spirit). Penjabaran dapat dilihat pada bagan “3² Values-BasedMatrix”.

Praktik pemasaran sosial tak ada artinya apabila kemitraan tidak dijadikan tujuan organisasi. Menurut Andreason, penekanannya adalah padamasyarakat luas, langsung mempengaruhi perilaku dan kebutuhan atau kepentingan target sasaran sebagai dasar pertimbangan. Demikian pula, social marketing tak ada artinya apabila tidak diikuti atau dilanjutkan dengan upaya mendorong tersusunnyasebuah kebijakan. Salah satu contoh pembentukan sistem kebijakan adalah adanya tax eduction (pemotongan pajak) bagi lembaga atau korproasi yang menyumbang. Pajak yang jumlahnya reduksi ini bisa menjadi bagian dari advokasi organisasi nirlaba sehingga pada akhirnya organisasi tidak tergantung semata-mata kepada donor.

Sumber :luzman-interisti.blogspot.com


Minggu, 22 Februari 2009

Sistem jalur karier majemuk

Perusahaan yang bergerak dibidang teknologi tinggi umumnya senantiasa mengusahakan perubahan teknologi tinggi dan peningkatan kompetnsi yang membutuhkan motivasi, pengembangan serta mempertahankan teknisi terbaiknya. Namun teknisi terampilnya yang kebingungan dalam meniti kariernya, sebab organisasi perusahaan mereka umnya nyaris tidak memberi peluang karyawan untuk memperoleh kemajuan, penghargaan dan pengaruh. Untuk mencari hal tersebut terpaksa para teknisi itu menyeberang ke manajemen sekedar untuk mencari-cari pengalaman dan menghindari konflik. Sistem jenjang karier ganda ternyata tidak efektif dalam proses seleksi peningkatan karier karyawan. Bahkan Zandy Leibowitz, Beverly Kaye dan Caela Farreb dalam bukunya "the multiple career-path solution" mencap sistem itu gagal dalam menyediakan cara-cara agar para teknisi ikut andil dalam pengambilan keputusan. dan sekarang sistem ini banyak ditinggalkan perusahaan yang bergeak dalam teknologi tinggi. Mereka menggunakan jurus : "Sistem jalur karier majemuk (SJKM)"

Kendala utama Ada tiga kendala saat perusahaan menerapkan SJKM yaitu kendala teknis dapat diatasi dengan penyediaan jalur karier yang menawarkan imbalan yang berarti. kendala politis, harus mengubah kekuatan dasar yang mengijinkan para teknisi ikut andil dalam pengambilan keputusan. dan untuk menyelesaikan kendala kultural, perusahaan harus megdakan sistem sistem baru yakni sebuah jenjang karier yang prestisius.


Senin, 16 Februari 2009

Pasar perantara pers : Superagen dan subagen, penentu dan pemacu (1)

Agen surat kabar dan sekaligus majalah atau produk sejenis, mungkin sekali bentuk usaha yang sulit diacari tandingannya. dilihat dari mata rantau, agen menempati posisi penting. mereka adalah perantara produk dari penerbit sebelum sampai ke pembeli. apalagi untuk kodindisi di indonesia, dimana lebih banyak pembeli eceran dibandingkan yang berlangganan.

Dilihat dari bidang usaha, bisnis ini lumayan menyenangkan. Untuk setiap produk yang lewat tangannya, ada komisi 20 persen hingga 40 persen dari harga jual. Tinggal mengalikan berapa ribu eksemplar, kali berapa jenis produk. Beban ongkos produksi tiak menjadi tanggunganya. Materi isi yang jungkir balik diperatruhkan idenya oleh redaksi, bukan urusannya dalam proses. modal disetor, boleh dikatakan nanti-nanti, karena bayar belakangan. Pengeluaran untuk promosi pun ditanggung penerbit. Tinggal duduk menunggu.

Resiko rugi sangat kecil sekali untuk tidak mengatakan tidak ada. toh kalau barang dagangan tidak terjual, tinggal menumpuk dan akan dimabil oleh pemilik. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa dalam bisnis pers yang pertama-tama memperoleh keuntungan secara jelas adalah agen :perantara dalam bisnis pers. Itu teorinya. Kenyataannya juga tak jauh berbeda. Seorang agen, memperoleh komisi lumayan besar diadingkan yang lain. Komisi ini diistilahkan sebagai "potongan agen". lumayan besar bahkan dibandingkan dengan biro iklan sekalipun. Karena biro iklan punya semacam kode etik tidak akan mengiklankan produk sejenis. sedangkan agen lebih leluasa berhubngan dengan para penerbit yang mempunyai produk hampir sama, mirip atau berbeda.

Sebagai mata rantai pengantar yang diakui secara resmi, para agenlah yang berperanan besar dalam berbagai hal. Sebagai contoh, agen menguasai daerah penyebaran lapangan banteng, Jakarta, pusat penyebaran produk pers di jakarta pusat.

Agen disini sedikitnya menguasai sepersekian dari semua surat kabar dan majalah yang beredar di Jakarta- atau bahkan seluruh Indonesia. Hanya tiga nama, agen yang sebesar dia di Jakarta. dari tiga agen ini saja, ratusan juta rupiah setiap bulannya melalui tangan dan saku bajunya. Dari receh atau ratusan perak "merah" akhirnya menumpuk mendekati angka milyar. Ini uniknya. Agen demikian besar kekuasanya kadang tak perlu papan namanya, bukan nama PT.

Gambaran keagenan ini juga terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Posisi mereka ini bukan hanya dalam jumlah rupiah yang besar saja, bahkan mereka ini bisa menentukan jumlah peredaran sampai dengan saran menentukan dalam hal isi, termasuk jadwal edar. Itu sebabnya pada penerbitan majalah terdapat perbedaan hari terbit dan hari edar. Pada agen, hari edar adalah yang diperhitungkan. Boleh saja namanya mingguan tapi beredarnya bisa selasa, kamis, jumat atau sabtu. Dalam banyak hal, peranan agen tampak kuat disini. Bukan hanya karena menumpuknya barang akan membingungkan bagaimana membagi dan menjajakan, melainkan terutama karena pada sehari sebelumnya, agen harus menyetor duit. sehingga pilihan pada produk tertentu, menyebabkan produk lain terabaikan. Secara tidak langsung, hari edar produk dipaksa berbeda.

Tidak berlebihan kalau kelompok mereka ini bisa mendapat sebutan "Superagen", karena berbeda dengan keagenan dalam pengertian umum. Agen atau superagen menjadi penyalur resmi yang diakui dan ditunjuk oleh penerbit. Tak ada persyaratan umum atau khusus tentang siapa yang perlu diangkat sebagai agen atau bukan. Tak ada persyaratan khusus yang berlaku dari grup penerbitan yang satu dengan yang lainya. Mereka yang menjadi agen, lebih karena dari kepercayaan dan bberapa karena hubungan historis.

Kepercayaan karena selama ini hubungan pembayaran dengan penerbit termasuk bagus. historis, karena sudah berhubungan sejak lama. Grup-grup penerbitan yang berjaya sekarang ini mempunyai sejarah yang panjang. Begitulah pada mulanya.

Mula-mulanya agen menerima barang dari penerbit. Jangkauan pertama ialah menyerahkan kepada subagen - istilah yang sebenarnya tidak menunjukan lebih kecil. Kalau agen menerima komisi resmi 20 sampai 40 persen, subagen menrima harga diatasnya. baerapa aturan mainnya? tak pernah jelas. kadang hanya dibedakan lima rupiah atau sepuluh rupiah per eksemplar. K
edengarannya tak masuk akal, akan tetapi subagen memang hanya mendapatkan beda harga sedikit.

Dari sisimusaha bentuk bisnis ini juga sedikit ganjil. Apalagi kalau dilihat dalam hubungan kerja. agen membawahi bberapa subagen. dalam hubngan kerja dan komando, sub agen tidak punya tanggungjawab kepada penrbit. segala macam perhitungan bisnis, laporan keuangan subagen ditujuan kepada agen. uniknya agen tidak bisa memonopoli subagen. karena sub agen ini bisa saja berinduyk kesatu atau lebih agen yang ada. ia langsung memberikan barang daganganha kepada pengecer yang jumlahnya ratusan. jatah yang beredar lewat tangannya bisa lebih tinggi dari salah satu yang diageni, sebab ia mengambil hampir separuh dari tiga agen besar dikotanya.

Timbul pertanyaan, kenapa subagen ini tidak menjadi agen saja? bukankah ia akan menerima rupiah lebih banyak? bukankah ia menguasai pasar secara langsung, yang memimpin ujung tombak dijalanan samapai kerumah pelanggan. Jawabannya tidak sederhana. Seorang subagen terlihat terlibat hubungan dengan agen untuk jangka waktu yang panjang. sebagaimana huungan agen dengan penerbit, hubngan subagen denga agen pun menyangkut yang namanya piutang. jumlah ratusan juta rupiahpun, bukan angka yang terbesar. sehingga seorang subagen yang akan memproklamasikan diri sebagai agen, hubungan yang selama ini denga agen harus bisa selesai lebih dahulu. baik hubungan baik maupun hubungan yang sifatnya administratif, masalah keuangan.

samapi disi agak jelas keterkaitan antara penrbit-agen-subagen. penerbit tak bisa semena-mena putus hubungan dengan agen, karena menyangkut soal yang sama. piutang yang lama yharus diselesaika dulu. dan ini semua tak ada berhentinya, karena barang dagangan terus menrus mengalir. Pola yang sama sampai ke pengecer. baik pengecer yang beraddda dijalanan atau pengecer meja - sebutan untuk mereka yang memiliki tempat dimana ada meja untuk menaruh dagangnnya. pengecer ini mengambil dagangan, menyetor kembali sambil mengambil dagangan berikut. istilah dagangnya, sistem ini disebut kiyak-kiyuk. cara pembayaran dua-satu. mengambil dua kali, membayar satu kali.

kalau pengecer pergi atau melarikan diri ? Sub agen yang harus menanggung resiko. kalau subagen mogok membayar akrena pengecer melarikan diri? agen yang harus menangung resiko. kalau agennya menunggak makin lama makin penajnang? pnerbit yang menanggung resiko. (Bersambung)